
Hari demi hari berlalu, untungnya Rita sudah kembali fit semua tugas kuliah pun tepat waktu dia kerjakan, ujian tertulis pun akhirnya selesai juga. Meski dirinya sibuk bekerja, tapi tidak sampai mengganggu dimana ada waktu luang, Rita selalu sempatkan untuk belajar. Dirinya juga mulai sering berkumpul dengan teman - teman kuliahnya dan membicarakan banyak hal terutama tentang praktek mengajar nanti.
Ney juga mulai sibuk lagi mengikuti kuliah susulannya kali ini dia sedang sibuk mencari judul untuk skripsinya. Kali ini juga mau tidak mau dia harus mencarinya seorang diri, Arnila tentu saja sudah tidak mau membantu lagi karena sudah jenuh. Jadi orang terakhir ya Rita lagi. Dulu ada Dins yang selalu membantunya mencarikan banyak judul untuknya tapi sama sekali tidak pernah dilirik oleh Ney dan sekarang dia menyesal. Sudah putus masa iya berani minta tolong?
"Rita, Bantu aku dong!" Kata Ney mengirimkan chat WA di grup. Entah kenapa juga dia chat di grup.
Rita berada di warung Daarut Tauhid bersama beberapa teman - temannya, mereka berencana mau jalan - jalan karena 1 dosen tidak bisa masuk. Sedang menikmati Baso Krucil bersama Diana, Komariah, Annisa dan Siti.
"Bantu apaan?" Tanya Rita. 'Mulai lagi deh nih minta tolong tapi tidak ada kata "Tolong" hah, sudahlah!' Pikir Rita keki.
"Cariin judul dong buat skripsi gue," balas Ney. Dia heran kok agak lama ya biasanya Rita suka cepat membalasnya. "Lama amat sih balasnya,"
"Sabar nape! Lagi makan bakso nih. Bukannya dulu Dins pernah kasih kamu banyak judul ya?" Tanya Rita, dia juga ingat karena Dins memberikan beberapa lembar isi judul di hadapan Rita. Yang saat Rita ingin lihat, Ney langsung merebutnya katanya takut ada yang Rita ambil. Lah yaa beda jurusan.
Ney membaca balasan chat dari Rita ya itulah masalahnya dia tidak tahu ditaruh dimana saat itu. Melihat keadaan kamarnya yang mirip kapal Titanic tenggelam karena tsunami, Ney menggaruk - garukan kepalanya.
"Masalahnya aku lupa dimana disimpannya, Rita," kata Ney membalas sambil manyun.
Rita sedang tertawa saat dirinya meminta nambah bakso krucilnya pada tukang bakso. Karena memang sangat enak, dan mereka juga melakukan hal yang sama. "Aku yang traktir deh. Mau nambah lagi silakan!" Rita lalu duduk dan melihat ponselnya.
Ney mengirimkan keadaan kamarnya yang lebih hancur dari Rita. Rita menggelengkan kepalanya, "Ya ampun! Lebih parah kamar lu. Beresin dulu makanya, aku yakin itu lembaran pasti ada di antara tumpukan entah apa itu,"
"Huh! Kamar kamu juga sama hancurnya dengan kamar aku," kata Ney membalas. Waktu SMP Ney pernah datang ke rumah Rita lalu waktu SMA juga, dia kaget ternyata keadaan kamar Rita sama dengannya. Bedanya kalau Rita di atas karpetnya penuh buku - buku sekolah, sedangkan Ney buku komik.
"Hohohoho beda doong. Coba kamar kamu dibersihkan dalam seminggu berapa kali?" Tanya Rita ingin tahu.
Ney bengong lalu menghitung kira - kira berapa ya? Lalu berhenti dia ingat kalau yang membersihkan kamarnya adalah pembantu neneknya. Dia langsung menanyakan hal itu pada pembantunya, ternyata sebulan sekali.
"Sebulan sekali dong," katanya yang membuat Rita tertawa untungnya Rita sudah menelan baksonya duluan.
"Masa sebulan sekali sih. Sepertinya yang membersihkan bukan kamu ya pasti pembantu atau ibu kamu. Kalau sampai sebulan sekali ada kemungkinan kamu sering ada di dalam kamar kan, ibu atau pembantu mau membersihkan pasti kamu selalu usir mereka. Jadi mereka membersihkan kamar kamu saat kamu tidak ada. Ya Allah parah banget! Aku yakin debunya tebal seperti tanah!" Kata Rita yang tertawa geli.
"Huh! Iya iya nanti aku bersihkan kamarku sendiri! Tapi itu carikan ya judulnya aky perlu banget!" Kata Ney kesal lalu dia mulai membereskan.
"Seberantakannya kamarku, aku selalu cari waktu untuk membersihkannya. Merapihkan juga meski 2 minggu sekali itu juga kalau ada waktu. Iya lebih baik sambil beres - beres deh! Aku cari sudah dapat aku kirim langsung ke sini," kata Rita yang melanjutkan lagi makan baksonya.
Ney kemudian mulai mencari lembaran itu bukannya Rita tidak ingin membantu tapi lebih baik dicari dulu kan sebelum mencari yang lain. Dia pindahkan semua buku komik lalu dirapihkan, buku - buku kuliahnya, tas tapi tetap saja tidak ditemukan.
__ADS_1
"Tidak ada! Sudah deh carikan sajalah. Ingat ya jurusan aku kan Manajemen ya jadi carinya yang berhubungan dengan ini jangan dengan keguruan. Beda sama kamu," kata Ney mengingatkan tapi lebih ke bertindak seperti memerintah.
"Biasa saja kali minta tolongnya memangnya aku selemot itu apa!?" Kata Rita sebal. Sudah minta bantuan ngoceh tidak tentu.
"Aku tunggu sekarang!" Kata Ney memberi perintah lagi setelahnya dia santai rebahan di kasurnya.
Dengan kesal Rita sengajalah saja agak dilamakan karena Ney yang memerintah seenaknya. Dia makan cemilan yang lain sambil mengobrol dengan Siti. Lalu Komariah bertanya,
"Siapa, Ri?" Tanyanya penasaran.
Rita berikan ponselnya agar dia membaca saja langsung. "Si Ney minta dicarikan judul buat skripsinya. Nyebelin banget!"
"Kok kamu mau sih bantu dia segala? Heran segitu dianya bikin kamu bete," kata Komariah menaruh ponsel Rita di meja.
"Bilang 'Tolong', tidak?" Tanya Annisa yang selesai makan bakso duluan.
"Mana ada. Anti dia mah tapi kalau orang lain, harus. Sudah nih aku dapat, aku kirim saja," kata Rita langsung ke dalam grupnya.
Ney menunggu jawaban dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 2 tapi masih belum ada balasan dari Rita. Saat mau menagih, masuklah data yang Rita kirimkan. Sambil mengomel, "Lama banget sih!" Tapi Rita tidak menjawab. "Gila! Banyak banget!"
"Tak apalah supaya kamu bisa milih mau yang mana, oh iya setiap 5 menit di refresh kalau tulisannya ada yang berwarna merah, berarti sudah ada yang ngambil. Jadi kamu harus cepat," Kata Rita mengakhiri chatnya. Ya boro - boro Ney bilang 'Terima kasih' pun sama sekali tidak ada, Rita tunjukkan pada semuanya.
Ney mencoba refresh setelah membuka data itu sudah ada 20 judul yang sudah berwarna merah ternyata. Akhirnya di roll ke bawah Nomor 50 sampai 100. Saat dia mau klik sebuah judul, ternyata sudah keduluan orang lain yang mengambil. Lalu dia berhenti dan memilih mencoba mencari lagi lembaran itu. 5 menit kemudian akhirnya ketemu juga ternyata ada dengan buku Manajemennya.
"Rita, tidak usah! Sudah ketemu!" Kata Ney kemudian.
Rita membacanya hanya manyun saja. "Terima kasih ya sudah dibantu. Iya sama - sama," kata Rita sengaja.
Ney membacanya dan malah tertawa, dia tidak sadar kalau itu adalah sindiran buat dirinya. "Kamu kenapa bilang begitu? Aneh banget 🤣🤣🤣"
Rita nyengir membacanya memang siapa yang lemot coba? "Itu sengaja buat sindir orang yang meminta bantuan yang tanpa bilang Tolong dan sesudah dibantu tidak ada Terima kasih. Siapa ya?"
Ney langsung menampakkan wajah yang bete, ya tahu itu adalah dia. "Kamu senang sekali dipuji ya?" Tanya Ney dengan wajah angkuh.
"Hanya mengingatkan saja sedikit orang yang bisa menerima perlakuan seperti itu lho dan anehnya orang itu malah sering banget menjudge yang sudah membantunya meski bantuannya tidak seberapa. Bahkan anehnya dia balas ke orang asing dengan bilang kalau aku egois ya, orang sabar disayang Allah kok. Aku sih kalem saja," kata Rita menarik nafas dan mengeluarkannya.
Ney langsung sebal secara tidak langsung memang Rita sengaja menyindir dirinya dan ketahuan juga apa yang dia pernah katakan pada Alex soal Rita. Ney berucap bahwa dirinya tidak akan lagi meminta bantuan Rita karena dia tidak pernah mengatakan kata Tolong dengan mudah. Sedangkan orang lain yang membutuhkan bantuannya diwajibkan mengatakan Tolong. Ya memang jadi aneh kan jadinya.
__ADS_1
Keesokan harinya saat malam Selasa, yang dimana Rita sudah diperkirakan oleh Ney pasti tidak sedang bekerja langsung menjapri nya. Dia penasaran akan pekerjaan sambilannya Rita dan mau menanyakan sesuatu juga.
"Kamu sudah keluar dari Cafe dong sekarang," kata Ney tiba - tiba.
Rita sedang membaca komik serial Detektif di kasurnya. "Belum. Aku kan diperpanjang kontraknya,"
Sedangkan Ney sedang menikmati cemilan di ruang tamu. Kakak dan adiknya sedang menonton, suara televisi lumayan keras, ibunya sedang tidak ada sedang pulang ke Jakarta untuk meminta jatah belanja. Dia kaget ternyata Rita masih bekerja di sana.
"Hah!? Kok bisa!?" Tanya Ney.
"Sambil menunggu asisten baru yang mau gabung disini, baru aku bisa keluar," balas Rita.
"Terus bukannya ada istrinya si bos?" Tanya Ney penasaran.
"Sudah ditendang gara - gara dia, tidak ada pembeli sama sekali yang datang dan semua pegawai termasuk aku mogok kerja," jelas Rita.
"Parah banget! Tahu begitu kan aku bisa dipanggil lagi, Rita. Daripada kamu yang kadi asisten kan tidak sesuai jurusan," kata Ney dia sebal kenapaaaa Rita selalu banyak dapat rejeki dan juga banyak uang.
"Jangan iri deh. Itu bos yang atur lah kamu masih ada keinginan mau kerja disana?" Tanya Rita penasaran juga.
"Ya kalau mereka masih butuh," jawab Neh.
"Tapi sepertinya tidak akan ada lowongan deh, Ney. Teman - teman bos mau gabung soalnya," kata Rita memang itu yang terjadi.
"Oh begitu. Ya sudah deh. Ngomong - ngomong aku mau tanya kamu sesuatu soal yang kamu bilang kemarin tuuuh sadar tidak sih kalau kamu juga orangnya tidak tahu diri?" Tanya Ney dengan gaya sebelnya.
"Karena?" Tanya Rita. 'Tidak tahu diri karena apa ya?' Pikir Rita.
"Aku kan sudah banyak lho beri kamu informasi soal Alex tapi kamu tidak pernah tuh minta Tolong atau Terima kasih setelah tahu. Itu bagaimana?" Tanya Ney yang memang sudah membalikkan fakta.
"Aku kan tidak meminta itu kan hasil kekepoan kamu dari awal juga," kata Rita langsung.
"Minta?" Tanya Ney.
"Yang lemot tuh aku atau kamu ya? Info soal Alex itu kan kamu sendiri yang heboh. Orang aku yang kenal dia cuek saja. Kamu baru kenal sehari sudah heboh cari tahu siapa dia kan makin ke sini makin membludak kepo kamu tuh. Jadi bukan aku yang minta, berbeda dengan kamu yang kemarin minta aku cari judul. Ada tidak kamu minta Tolong dan setelahnya bilang Terimakasih?" Tanya Rita. Kalah dia!
BERSAMBUNG ...
__ADS_1