ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
491


__ADS_3

"Ya intinya aura Teteh itu... hmmm bagaimana ya? Agak dekat dengan itu," kata Koko sulit menjelaskan.


"Ya?" Tanya Rita tidak mengerti.


"Ya dekat... sama... ituuuuu," kata Koko memberikan tanda.


"Ya apaaaa," kata Rita agak sebal karena tidak jelas.


"Dekat dengan pencipta," kata Ua akhirnya.


"Hah? Tidak mengerti," kata Rita garuk kepala. Semua manusia dekat dengan Allah kan?


"Ya itu. Dekat begitu lho," kata Koko mencari sebuah kalimat.


"Sudahlah nanti Rita cari tahu sendiri saja," kata Rita menyerah.


Kedua teman Koko bengong mendengarnya tentu mereka juga tahu maksudnya dan menatap Rita yang berkali-kali menguap.


"Pokoknya, saran Ua jaga terus aura kamu tetap bersinar cukup segini jangan sampai kamu ikut masuk ke hal mistis. Sayang sama auranya nanti berubah, kalau kamu bertemu dengan orang-orang toxic. Ua sarankan bersikap bodo amat saja. Jadi diri kamu sendiri.


...~ Lagu Kim Seokjin - Ephipany ~...


"Oke," kata Rita.


"Lalu Teteh kenal Alex dari mana sih?" Tanya Koko agak penasaran. Masalahnya, kok bisa ada hubungan ya? Karena Alex sendiri latarnya sangat jauh dengan Rita.


"Dari media sosial itu Pacebuk. Orang itu..." tiba-tiba Rita terbatuk-batuk.


"Koko!" Kata Ua dengan cepat memegang bahu Rita.


"Tahan ya Teh, jin nya datang kembali!" Kata Koko.


Rita agak sesak napas. Tampaknya jin itu malah menyerang Rita karena sudah berani menentang dan mengusirnya.


"Hufff," kata Rita kembali pulih.


"Sudah beres! Itu jin nya agresif sekali ya sama Teteh," kata Koko menggelengkan kepalanya.


"Ih, semua laki-laki yang kenal dan dekat sama Teteh akan berubah jadi posesif. Kamu juga hati-hati, Ko," kata Ua.


"Wah!" Kata Koko tertawa.


Beberapa menit kemudian akhirnya ruqyah pun selesai pada pukul 3 sore, energi Koko sudah full kembali karena di transfer dengan Ua. Tanpa Rita sadari kenapa sedari tadi kehausan, Koko mengambil sedikit energinya dan benar saja energinya setengah terisi.


Lalu perkara Inner akhirnya juga terselesaikan, aura Rita yang asli kini berkobar dengan semestinya. Meskipun tampaknya Ua dan Koko agak takut mungkin penampakannya bagaikan api ya. 🙄🙄


"Naaah ini Teteh yang biasanya. Selalu kalem, kalau orang lain memberi saran pasti akan selalu Teteh terima," kata Ua mengacungkan jempolnya.


"Yang sebelumnya itu bukan punya Teteh karena setiap ada orang yang berbicara sesuatu, Teteh pasti marah sekarang sudah bisa berpikir jernih," lanjut Koko.


"Hmm iya juga ya saya suka aneh sendiri padahal maksudnya mau bicara A tapi kenapa orang lain melihat saya marah-marah?" Tanya Rita.


"Itu efek dari ketempelan Casper Teh. Cirinya sama yang dialami oleh Teteh, dari perilaku yang berbeda dengan aslinya. Lalu tiba-tiba bisa melihat masa lalu, masa depan ini berbeda ya dengan ketempelan sama yang memang sudah punya kemampuan sejak lahir," kata Koko.


Rita tertawa. Karena tahu pasti mikirnya mereka juga harus di ruqyah.


"Yang paling kelihatan ya suka murung,super sensitif, mudah marah, cepat tersinggung nah yang paling tidak aman suka melamun. Teteh jangan sering melamun ya," kata Koko.


"Teteh kalau melamun suka mikir apa sih?" Tanya Ua. Kadang Ua juga tidak bisa membaca apa yang dipikirkan oleh Rita.


"Mikir kapan aku bisa punya uang banyak," jawab Rita.


"Yeee itu mah semua orang juga pasti mikir," kata Koko tertawa keras.


"Ua lihat sekarang Teteh lagi dekat dengan seseorang ya? Dari negara sebelah. Malaysia?" Tanya Ua membidik dengan tepat.


"Ehehehe. Ua bisa lihat orangnya? Bagaimana?" Tanya Rita.


"Orangnya hebat dan keren sekali hanya sulit orangnya. Orangnya merepotkan kalau dia macam-macam istigfar saja," kata Ua menghela nafas.


Kemudian Rita, Koko dan Ua banyak memberikan nasehat terutama untuk kedua orang yang berusaha menghancurkannya. Ua lebih banyak mengobrol soal Alex, ada hubungan aneh yang berasal dari neneknya Rita.


"Memangnya aku jadinya sama dia?" Tanya Rita.


"Iya. Memang dia ada penyakit sejak lahir ya tapi kalau nanti kamu jadi sama dia, penyakitnya perlahan sembuh. Ajaib deh pokoknya, semua orang tidak akan ada yang percaya. Dia jatuh atau terluka bagaimanapun akan cepat proses penyembuhannya kalau dekat sama kamu," kata Ua.


Jadi ingat film Anime yang berjudul Kakuriyo no Yadomeshi : Bed And Breakfast For Spirit deh. Si tokoh utama perempuannya pintar memasakkan sesuatu dengan keahliannya, setiap masak energinya mengalir dan membuat para roh tertarik untuk mencoba makanannya.


...~ Ini keren sekali harus kalian tonton juga. Nasib energi Rita sama dengan pemeran tokoh perempuan dalam Anime tersebut ~...


"Ajaib dong aku," kata Rita tertawa. "Tapi apa gunanya?" Tanya Rita


Mereka berdua tahu Rita tidak mengerti soal energi itu.


"Ya bagi yang bisa melihat dan memerlukan energi, sangat bermanfaat, Teh. Apalagi kalau Teteh masak, energi Teteh berkumpul di masakan itu dan kalau yang menyantapnya membutuhkan energi, langsung full!" Kata Ua.


"Teteh bisa masak?" Tanya Koko.


"Bisa asalkan ada resepnya," kata Rita.


"Coba dong," kata Koko.


Alex tahu dan dia tidak akan pernah berharap Rita memasakkan untuk orang tersebut.


"Boleh boleh," kata Rita senang.


"NOOOOO!" Teriak Alex tiba-tiba.


Beberapa orang mencolek Fernando. "Kenapa sih Tuan kamu?" Tanyanya.


Sudah jadi makanan sehari-hari melihat Tuan Mudanya bertingkah layaknya orang gila.


"Sedang meditasi," kata Fernando membalas.


"Dengan semua kumpulan kertas itu?" Tanyanya kembali. Mereka berdua menatap Alex yang kerjaannya terus mengomel, marah lalu memukul tembok.


"Harap maklum ya," kata Fernando ke semua orang. Mereka maklum karena sudah terbiasa melihat Tuan mereka marah tidak jelas.


Kembali ke Bandung.


"Wah, Ua juga mau dong. Teteh kalau masak, apa saja jadi enak lho. Yang orang buat jadinya tidak nafsu kalau Teteh beda. Pintar masak nanti yang jadi suaminya bakalan betah," kata Ua.


Rita malu mendengarnya ada untungnya juga dia belajar masak sejak SMP.


"Nah iya juga Ua. Aku belajar masak di kelas 2 SMP padahal baru lho tapi waktu buat roti isi, burger, roti isi goreng itu langsung enak," kata Rita agak bingung.


"Ya karena Teteh kalau masak sepenuh hati kan. Masak dengan berbagai bumbu sayang, jadi masakannya selalu enak. Nanti buat makanan ya, terserah Teteh mau buat apa," kata Ua mengusap kedua tangannya.

__ADS_1


"Boleh, Ua. Ua di sini sampai kapan?" Tanya Rita.


"Seminggu lagi deh," kata Ua tidak sabar.


Alex frustasi malahan Ua perempuannya juga meminta dibuatkan. Alex menggigit jarinya dia menuntut Rita membuatkan untuknya juga. Dia mondar mandir bagaimana caranya supaya Rita juga mau membuatkan untuknya.


Rita berpikir banyak waktu deh karena liburnya kini bertambah dari hari Jumat sampai Minggu. Pekerjaannya di sekolah sedikit lagi dan kepala sekolah menambahkan waktu liburan untuk pekerja Administrasi.


"Apa saja ya," kata Rita senang.


"Iya, sok. Nanti hubungi Ratih saja ya," kata Ua tidak sabar dan semangat. Bagi mereka energi Rita adalah sumber energi terbesar macam listrik. Itulah kenapa banyak makhluk ghaib yang ingin mendekatinya.


"Kamu juga pernah bicara langsung dengan khodamnya, kok bisa sih?" Tanya Koko agak aneh.


"Oh jadi benar itu khodam?" Tanya Rita. Dia pikir Alex memainkan dua peran.


"Iya itu khodam chat ya? Itu khodamnya juga aneh kok bisa kamu menarik dia dari Alex. Kamu ada caranya ya?" Tanya Ua.


"Eh? Tidak pakai cara apapun kok. Ya bicara biasa saja seperti saya ke Koko sama Ua. Memangnya ada kiat khusus?" Tanya Rita yang memang sama sekali tidak tahu apa-apa.


"Iyalah, Teh tidak semua orang bisa berbicara dengan mereka apalagi level khodam yang Bicara sama Teteh itu tinggi sekali. Tapi melihat kemampuan yang Teteh punya sih ya tidak heran," kata Ua.


"Tapi kan Ua dan Koko punya khodam, itu lancar komunikasi," kata Rita kebingungan.


Mereka terdiam memang Rita tidak tahu apapun soal khodam. Mereka sulit menjelaskannya apalagi Rita sulit menerima soal pengetahuan mistis, baginya itu tidak penting.


"Apa karena Teteh polos ya?" Tanya Koko menatap Ua di sampingnya.


"Bisa jadi memang tidak tahu apa-apa. Bukan pura-pura. Punya Ua juga merasa aneh kok bisa?" Kata Ua pada Koko.


"Kamu perlihatkan chat itu sama mereka berdua? Yang toxic," kata Koko.


"Iya," jawab Rita langsung.


"Lalu?" Tanya Koko.


"Yang A ini bisa baca secara keseluruhan sedangkan yang N sama sekali tidak bisa," kata Rita.


"Hmmm kamu sengaja ya? Mengukur seberapa tingginya level mereka? Untuk apa?" Tanya Ua penuh selidik.


"Karena dari situlah aku bisa tahu apa si N ini berbohong atau tidak. Dia bisa lihat khodam si Malay?" Tanya Rita ke Koko dan Ua.


"Iya bisa tapi hanya sekedar melihat kalau diajak bicara tidak. Mereka juga pilih-pilih orang sih," kata Koko.


"Lalu hasilnya bagaimana?" Tanya Ua yang ternyata tidak sesuai dugaannya.


"Ya aku bilang saja kalau dia sampai bisa melihat ketikan khodam, berarti memang benar kekuatan mistisnya tinggi tapi ternyata hanya bisa melihat," kata Rita angkat bahu.


"Oooh benar juga ya bisa tuh seperti itu," kata Koko manggut-manggut.


"Pasti N memungkiri. Yakin da," kata Ua.


"Iya, Ua. Tetap saja dia bilang itu tidak bisa dijadikan tolak ukur. Kenapa sih dia itu? Heran," kata Rita.


"Ya itu dia ingin lebih diperhatikan oleh orang sekitar. Dia seperti itu sudah lama lho Teh sudah bukan keanehan lagi," kata Ua.


"Heh?" Tanya Rita.


"Sebenarnya dia selama ini berbuat perkara sama Teteh karena agar Teteh lebih memperhatikan dia. Makanya dia akan selalu berbuat ulah sampai Teteh hanya melihat dia saja. Tapi kalau sebegitu kepribadiannya sih, amit-amit saja kalau Koko jadi Teteh," kata Koko menggelengkan kepalanya.


"Jadi kenapa temannya tidam bertambah ada hubungannya dengan sifat dia begitu?" Tanya Rita.


"Kalau soal kemampuan indera ketujuh, tidak ada sama sekali sih. Dia batasnya hanya bisa melihat hantu atau jin atau khodam orang, sudah begitu saja. Soal penerawangan atau meramal, sama sekali tidak ada kemampuan," kata Ua.


"Meramal saya saja isinya bencana mulu," kata Rita menghela nafas.


"Apa!? Dia bilang begitu?! Dia bilang apa lagi, Teh?" Tanya Ua dan Koko kaget.


"Yaa seperti kalau kamu jadi sama Alex ini, kamu akan ketiban sial. Kamu akan tertabrak mobil jadi saran aku sih jauh-jauh dari sekarang. Begitu," kata Rita.


"Nauzubillah. Jangan dipercaya Teh, ih amit-amit memang. Tidak ada kok mau Teteh dekat dengan siapapun, bencana begitu tidak akan ada. Ada sih Teteh kecelakaan tapi bukan karena laki-laki itu, mereka tidak suka Teteh menguasai sesuatulah," kata Ua menjelaskan.


"Yang mobil aku ditabrak orang bukan?" Tanya Rita.


"WHAAAAAT!?!? Kok?" Tanya mereka berdua kaget.


"Teteh kenapa bisa berpikir begitu?" Tanya Koko agak tegang.


"Hmmm ini aku dapat sejak SMP kelas 3 sih tapi kan aku tidak mengerti. Itu?" Tanya Rita.


"Alamaaakkk ternyata itu sudah bangun toh. Hmm iya Teh, tapi Teteh selamat kok ya. Orang yang tidak menyukai Teteh karena bisa mengambil hati banyak orang penting. Termasuk Raja dan Ratu," kata Ua mengungkapkan.


"Hahaha raja dan ratu apaan?" Tanya Rita tertawa. Orang ndeso seperti ini bagaimana mungkin?


"Lihat saja nanti. Sudah Teh pokoknya jangan dipercaya. Itu mah doa dia sendiri karena iri hati, cemburu sama takdir Teteh," jelas Koko yang kesal mengepalkan kedua tangannya.


"Oooh.. yo wes lah kun fayakun saja kita kan sebagai manusia bisa apa kalau harus terjadi kan. Soal dia bisa lihat khodam, batasnya sampai level apa?" Tanya Rita.


"Yang setara sama khodamnya dia saja. Coba saja tanya apa dia bisa melihat khodam temannya si A? Dari orang dekat dia saja dulu. Sok tanya," kata Ua.


Akhirnya Rita menanyakannya.


"Ney, kamu bisa lihat khodam?" Tanya Rita di chat privasi.


"Bisa doong. Iri kan?" Tanya Ney yang semangat membalas.


"Terus kamu tahu kalau Arnila punya khodam juga?" Tanya Rita tidak memperdulikan tanggapannya tadi.


Di sini agak sedikit lama. "Bisa doong kenapa? Tumben," kata Ney. "Ruqyah sudah selesai?"


"Sudah. Lalu penampakan khodam Arnila seperti apa?" Tanya Rita.


Tidak ada jawaban dari Ney.


"Dia tidak tahu Teh pasti lagi mikir alasan," kata Ua senyum.


"Kita lihat apa jawabannya," kata Rita belum mau menyerah.


"Tinggi, besar, pokoknya seperti khodamnya Alex deh," kata Ney akhirnya.


"Perempuan atau laki-laki?" Tanya Rita.


"Perempuan," jawab Ney sekenanya.


Rita lalu membaca dan mereka tertawa.


"Coba kamu balas begini, "Bukannya khodamnya laki-laki ya? Mana ada perempuan tinggi dan besar? Apa berotot ya?" Kirim kirim," kata Koko.

__ADS_1


Rita mengirimkannya dan mendapatkan jawaban dari Ney.


"Oh iya! Laki-laki soalnya tadi aku lihat dia lagi membelakangi sih," kata Ney yang menepuk dahinya.


Diperlihatkanlah jawabannya dan mereka tertawa. "Paraaaaahhh!" Kata Koko tertawa keras.


"Warnanya apa?" Tanya Rita.


Ney membaca dan kebingungan. Warna? Akhirnya dia balas seenaknya.


"Putih pokoknya keren deh," jawab Ney yang menggigit bibir bawahnya.


"Putih katanya," kata Rita.


"Kuning langsat yang benar hahahaha," kata Koko kembali tertawa.


*Parah ya Ua. Ini bohong semua?" Tanya Rita.


Ua juga tertawa. "Iya bohong. Memang laki-laki kulitnya kuning langsat. Galak seperti Alex. Yang Rita suka rasai hangat itu lbunya ibunya, sering datang kan kalau kamu bicara sama dia," kata Ua dengan wajah ramah.


"HAH!? Kenapa sering datang? Aku di apain Ua?" Tanya Rita agak ngeri.


"Tenang. Khodam ibunya baiiik sekali, ramah sepertinya khodam ibunya sayang sama kamu ya Teh. Dia suka datang dan membelai Teteh sih. Sepertinya tahu kalau kamu sedang susah, yah seorang ibu sih," kata Ua penuh arti.


Rita tidak mengerti apa maksud dari ucapan Ua Mori.


"Balas saja yang sebenarnya ke teman kamu supaya sadar," kata Koko yang selesai tertawa.


"Wah, kamu pintar bohong ya Ney," kata Rota di ponselnya.


"Eh? Soal khodamnya Arnila? Tidak kok itu yang aku lihat," kata Ney menggigiti kuku jarinya.


"Sudahlah. Kamu itu kekuatan inderanya hanya sebatas lihat per-jurig-an tidak lebih. Ramalan bohong lu!" Kata Rita.


"Kamu sendiri tidak bisa lihat khodam. Bangga ketinggian, jangan sok tahu lah," kata Ney berbalik.


"Kamu hanya bisa melihat. Bisa komunikasi?" Tanya Rita.


Ney terdiam. "Ya bisa dong. Apa? Mau bicara apa lagi?" Tanya Ney.


"Coba kamu bicara dengan khodam Arnila suruh dia datang. Bisa? Kirim buktinya jangan hanya bicara doang," tantang Rita.


Ney kesal bukan main. Dia mencoba berkomunikasi namun nihil yang datang khodam jejadiannya.


Akhirnya dia membuat bukti bahwa telah berbicara dan mengirimkannya. Rita memperlihatkannya pada Koko dan menggelengkan kepala.


"Itu kamu yang buat percakapannya. Payah," balas Rita.


"Ya aku memang tidak bisa komunikasi dengan khodam dia. Khidamnya tuh galak sekali mirip si Alex. Kamu tidak tahu kan?" Tanya Ney akhirnya mengaku.


"Wuuuh! Susah amat ya jujur. Ya memang galak," kata Rita.


Ney membacanya dan kaget. "Kok kamu tahu dia galak? Kamu bisa lihat sebenarnya?" Tanya Ney terdiam.


"Jawab saja Bisa karena memang sebenarnya kamu bisa hanya kamu tidak minat kan," kata Koko.


"Bisa," jawab Rita.


Ney terdiam dia kaget dan tegang. Aha! Ney mendapatkan ide topik. "Kalau begitu kenapa bertanya sih?"


"Ya aku ingin tahu seberapa bulshitnya omongan kamu," kata Rita.


Saat itu Koko dan Ua sedang mengobrol tentang sesuatu bukan soal Rita.


"Kamu pasti tidak tahu kan ada makhluk ghaib yang selalu datang ke rumah setiap kali kamu chat sama Arnila. Seram lho sepertinya kamu perlu di ruqyah beberapa kali deh," kata Ney sambil memainkan rambutnya.


"Oohh itu khodam ibunya Arnila. Seram dari mananya? Orang itu khodamnya baik dan ramah, omongan kamu penuh dengan omong kosong ya. Ingin dilihat banyak orang, dipuji sampai mulut juga yang keluar sampah semua. Kamu tidak malu?" Tanya Rita dalam chatnya.


"Ibunya Arnila? Hah!? Serius Rita bisa lihat?" Tanya Ney mengusap wajahnya. Dirinya berusaha beberapa kali pun nihil. Sama sekali tidak bisa melihat atau bahkan, memancing khodam lain keluar.


"Untuk apa khodam ibunya datang ke kamu?" Tanya Ney agak gemetaran tangannya.


"Buat apa kamu mau tahu? Tanya saja kalau kamu bisa komunikasi dengan khodam. Katanya kan kamu punya sixth sense, masa begitu saja tidak bisa," kata Rita.


Ney diam lalu mulai chat Arnila dan menanyakannya. Arnila hanya diam sampai ibunya memang sering datang mengunjungi Rita. Yang dia tahu ibunya memang bersimpati pada keadaan Rita. Tidak tahu alasannya karena ibunya juga setara dengan Ua dan Koko, sepertinya tahu sesuatu.


"Gue juga tidak tahu sih. Mama kadang seperti memendam sesuatu begitu," balas Arnila.


"Ya kamu tanya dong kenapa begitu. Nanti kasih tahu aku ya," kata Ney yang memaksa karena kepo.


Akhirnya Arnila bertanya kepada Mamanya yang kebetulan sedang masak di dapur.


"Ma, benar kalau khodam Mama sering ke tempat Rita?" Tanya Arnila.


"Rita? Yang mana?" Tanya Mamanya sambil memotong selada.


Arnila memperlihatkan foto. Mamanya menatap dan ada rasa sedih di wajahnya.


"Kenapa, Ma? Mama lihat apa?" Tanya Arnila.


"Tidak apa-apa. Mama hanya kasihan saja," kata Mamanya senyum.


"Soal apa? Rita kenapa? Menurut Mama, Rita ini bagaimana orangnya?" Tanya Arnila agak takut.


Penilaian mamanya sangat akurat. Penilaian soal Ney pun jangan ditanya.


"Jangan cemas. Rita ini orangnya kocak ya," kata Mamanya memegang bahu Arnila.


"Iya Ma. Kalau dia bicara entah kenapa selalu lucu saja mendengarnya," kata Arnila lega ternyata tidak ada yang jelek soal Rita.


"Kamu jauh-jauh ya dari orang ini," kata Mamanya.


"Hah!? Kenapa!? Rita tidak jahat kok justru dia lebih normal daripada yang satu itu," kata Arnila.


Mamanya menghela nafas. "Jangan salah paham


Mama suka dengan yang ini, ini lebih baik daripada yang satu itu. Mama lebih tahu maksud Mama, kalau kamu dekat dia nanti kasihan. Kamu jadi perantara kejatuhan dari yang itu. Supaya dia aman, kamu harus menjauhinya," kata Mamanya.


"Oohhh iya Ma, aku juga pikir begitu. Kalau... aku bisa jauh dari yang satu itu, kalau dekat sama Rita bagaimana?" Tanya Arnila.


"Ya bagus. Dia tidak ada ancaman lagi dari yang itu, kamu bebas. Lagipula Rita ini lebih mengerti manusia dengan normal. Kamu juga kenapa sih bisa kenal sama yang itu? Mama tidak pernah suka, lihat wajahnya juga agak... tidak nyaman," kata Mamanya merinding.


"Karena tidak secantik aku? Secantik Rita? Secantik Kayla?" Tanya Arnila.


"Aduh, bukan soal wajah juga tapi sinar wajah dan auranya. Sama sekali tidak cocok dengan orang yang penuh energi positif. Kalau kamu bisa menjauh jauuuuh dari yang itu, kamu akan menjadi teman terbaik untuk yang ini. Tapi untuk sekarang, jauhi Rita. Untuk keamanan kamu dan dia juga," kata Mamanya lalu membuat salad.


Setidaknya mamanya menyukai Rita jadi memang masalahnya ada pada kepribadian Ney sendiri. Dan Arnila tidak membalas atau mengirim chat apapun kepada Ney.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2