
"Nah ya itu. Mereka tidak nyaman dengan orang yang mengaku-aku setara, yah karena krang seperti mereka sih sudah tahu pasti orang-orang yang bermuka dua. Maksudku lihat deh orang kaya adli saja tidak pernah menyombongkan diri mereka punya banyak uang. Berbeda dengan orang yang kayanya bohongan," sindir Rita kepada seseorang.
"Memangnya kamu tidak? Aku selalu merasa ya kalau kamu itu sejak SMP selalu unjuk pamer," kata Ney yang agak kesal. Dirinya tentu saja tersindir karena selalu memamerkan keadaannya yang beruntung.
"Kalau aku depan belakang ya sama, kalau cerita tidak pernah diputar balikkan dari halusinasi menjadi kenyataan. Dan selama aku berteman mau dengan yang kelas atas atau bawah tidak pernah melihat dari barang yang mereka punya," kata Rita memberitahukan.
Ney yang membacanya hanya mendelik kesal, nyatanya hanya dia seorang yang selalu membuat orang lain iri dengan barang yang dia miliki. handphone, tas, baju, apapun.
"Aku ya kalau beli barang itu tidak pernah lho yang harganya murah. Nih seperti jam tangan aku ini, lebih bermerk dan harganya kamu mau tahu tidak?" Tanya Ney yang berusaha mengalihkan topik.
Lagi-lagi deh keluar kebiasaannya tapi Rita tidak memperdulikannya, dia juga terus dengan pendapatnya mau Ney baca atau tidak.
"Mereka mau punya barang semahal sekalipun, aku tidak masalah asalkan mereka tidak menyuruh aku membeli yang mereka punya saja. Mereka juga tidak pernah meracuni pikiran aku mengenai uang yang mereka punya," kata Rita yang memakan keripik kentang.
"Hei, aku tanya kamu mau tahu tidak berapa harga jam tanganku ini?" Tanya Ney berusaha membuat Rita terpesona.
"Aku tidak tertarik paling juga merk KW alias palsu. Seperti tas yang kamu beli dulu katanya dari Amerika eh ternyata beli di Tokopedia," kata Rita ketawa menyindir.
Ney ingat soal tas itu dan memang salah dia juga mengambil paket saat Rita ada di rumahnya. Jadinya dia tidak bisa menyombongkan kalau tas itu dia beli dari Amerika.
"Kok aku merasa seperti yang paling jahat ya?" Tanya Ney tidak enak.
"Lah memang kamu jahat kan, kamu membantu aku dengan Alex tapi juga memiliki niat jelek," kata Rita yang membuka kepingan cokelat yang dia punya.
"Ya apa salahnya sih aku kan mau dapat untung juga," kata Ney membalas chatnya lalu dihapus sebelum Rita benar membacanya.
Memang belum sempat Rita membacanya paling juga komennya yang kelepasan. "Kamu begitu karena mungkin terlalu lama hidup sendirian. Sampai Arnila yang juga rela jadi teman kamu, tidak pernah dihargai. Padahal kalau saja kamu sedikitnya menyadari kehadirannya," kata Rita merasa kasihan pada Arnila.
Ney merasa jenuh sekali Rita sering merasa kasihan pada Arnila bukan dirinya. Seakan-akan dari awal dia yang selalu salah, memang sih seharusnya dia bisa lebih "Baik" lagi kepada Rita. Tapi memang sudah karakternya yang tidak sabaran membuat Rita juga kelelahan bersama dengannya.
"Sudah sudah! Kamu tidak perlu deh apa-apa dikaitkan dengan Arnila terus. Aku muak sekali ya disini Arnila, di grup mana-mana Arnila juga," kata Ney yang jangar.
__ADS_1
"Ya urusan aku juga lah orang kenal dia," kata Rita yang merasa aneh.
"Tapi dia bukan teman kamu, dia itu teman aku," kata Ney yang sebal sekali. Dalam pikirannya dia kesal berpikir Rita ingin merebut Arnila darinya.
"Yang kenalin dia ke aku siapa? Yang berharap jadi teman aku juga siapa? Kalau memang kamu merasa takut kehilangan Arnila, kenapa dari awal kamu maksa dia kenalan sama aku?" Tanya Rita.
Kejadian itu saat dirinya tengah mau mendaftar perkuliahan. Rita dikenalkan secara terpaksa oleh Ney, saat itu tidak ada perasaan yang terjadi karena memang kemana-mana Arnila selalu ada. Ney juga mengingatnya karena dia sendiri yang memang selalu mengajak Arnila.
"Maksudku bukan berarti kamu bisa lebih dekat dengan Arnila ya hanya agar kamu tahu saja kalau aku juga punya teman," kata Ney yang kesulitan menjelaskan maksudnya.
"Ya sudah bagus dong, aku bingung ya sama kamu entah maksudnya apa kalau bukan kamu kenalkan agar aku juga kenal dia. Kalau hanya sekedar tahu namanya ya okelah tapi kan kamu sendiri yang selalu ajak dia kemana-mana, sampai aku ingat kamu meninggalkan aku dengan Arnila supaya bisa lebih akrab. Maksudnya kamu apa sih?" Tanya Rita yang pusing.
"Duh, jadi maksud aku tuh selain kamu, aku juga punya teman lain, Rita. Jadi menurutku kamu memang bukan teman prioritas aku," kata Ney yang akhirnya menerangkannya.
Rita membacanya dengan kepala yang aneh. Ya terus kenapa? Toh Rita juga tidak peduli siapa yang dia prioritaskan.
"Ya memangnya aku peduli. Selama kenal kamu juga, aku sama sekali tidak pernah pikir kamu yang terpenting, orang nomor satu. Kamu punya teman ya bagus, silakan saja," kata Rita merasa aneh dengan penjelasannya.
"Oke, aku tidak akan bersimpati lagi sama kamu. Aku juga punya teman selain kamu, jadi ya sudah kenapa kamu bicara sesuatu yang rumit sih? Dasar Aneh!" Kata Rita menggelengkan kepalanya lagi.
Ney kemudian mengacak-acak kepalanya, susah untuk menjelaskannya pada Rita. Maksudnya dari perkataannya adalah karena dia ingin Rita mempertahankannya sebagai temannya. Tapi yah, Rita tipe yang senang berkenalan dengan banyak orang tidak seperti Ney. Tentu saja maksudnya itu sama sekali tidak akan dimengerti oleh Rita.
"Kamu tahu kalau Arnila sebenarnya tidak mau berteman sama kamu," kata Ney mencari masalah lagi dia ingin memancing Rita, membuatnya di tekan oleh Arnila.
"Oh... ya tidak apa-apa kalau dia tidak mau berteman denganku. Memangnya aku harus memaksa?" Tanya Rita.
"Arnila sebenarnya sama sekali tidak suka kamu hanya dia terpaksa," kata Ney.
Rita mulai malas membalasnya entah ada apa dengan Ney, akhirnya Rita lebih memilih membuat topoki bersama adik dan kakaknya daripada membalas japrinya Ney yang semakin aneh.
Karena tahu tidak dibalas, Ney berpikir ini kesempatan bagus baginya untuk memperlihatkan pada Arnila kalau Rita sebenarnya tidak mau jadi temannya. Dengan senyuman yang licik dia mengkrop tampilan layar lalu mengirimkan pada Arnila. Ney berpura-pura kaget dan juga heboh.
__ADS_1
Kesan picik dan licik memang ada dalam diri Ney sejak lama hanya saja Rita menyembunyikannya kalau dia sudah tahu soal itu. Rita menyadari bahwa Ney sejak awal tidak menyukai dirinya tapi dia lah yang terus datang kepadanya.
"Arnila, si Rita menjelekkan kamu lho tadi," kata Ney yang pura-pura kaget.
Arnila yang membaca pesan dari Ney, kaget juga apa isinya. "Menjelekkan aku bagaimana?" Tanya Arnila yang kaget lalu duduk.
"Nih buktinya kalau Rita itu sebenarnya tidak suka sama kamu, dia juga katanya tidak mau jadi teman kamu," kata Ney memberikan bukti chat tadi yang selesai dia crop.
Arnila mengaku kebingungan kenapa Rita tiba-tiba bilang begitu, melihat isi chatnya Arnila sangsi kalau itu perkataan Rita. Hal ini sama dengan saat Ney melaporkan kalau teman satu gengnya tidak menyukai dirinya. Benar-benar sama dengan waktu itu.
"Kamu ini kenapa sih sebenarnya? Kok sepertinya selalu sengaja ya mencari masalah?" Tanya Arnila yang mulai marah.
"Aku ini sedang membuktikan ya kalau Rita itu sama sekali tidak berminat berteman sama kamu," kata Ney memberikan penjelasan. Dia juga punya niat yang sama pada Arnila tapi entahlah.
"Ya Allah, tapi haruskah dengan semuanya kamu laporkan? Kamu itu punya maksud apa sih ke aku, Ney?" Tanya Arnila sudah mulai melewati batasnya.
"Aku hanya ingin kamu melihat Rita yang asli," kata Ney berusaha menjelaskan.
"SUDAH CUKUP!!! Aku sudah terganggu sama kelakuan kamu selama ini, memangnya aku itu kamu anggap bodoh ya. Buka mata kamu Rita itu baik sekali anaknya, sekarang kamu mulai memfitnah dia dengan bukti begini?" Tanya Arnila mulai memanas.
Ney terdiam, dia takut kalau melihat Arnila sudah meledak karena omongannya selalu menjadi kenyataan. Dia sadar tampaknya salah kalau membuat Arnila dan Rita berkelahi untuk merebutkan dirinya sendiri.
"Sekarang aku tanya lagi sama kamu. Kamu ikhlas tidak sih membantu Rita?" Tanya Arnila.
"Ya aku memang mau membantu dia tapi lihat kan bagaimana dia memperlakukan aku. Dia menjadikan aku korban," kata Ney yang sedih bohongan.
"Yang aku lihat, disini dialah korbannya bukan KAMU. Sadar dong, Ney kamu itu keterlaluan sama dia, selama ini dia selalu memperlakukan kamu dengan baik tapi apa hasilnya?" Tanya Arnila.
"Aku lakukan itu dengan maksud agar..." kata Ney terpotong.
"Yang kamu lakukan adalah kesalahan. Kalau kamu memang temannya, percaya pada Rita. Yang ada malah kamu ikut campur urusan dia, menyalahkan juga melemparkan kesalahan kamu ke dia. Stop kepo, Ney buat apa kamu urusi hidupnya Rita," kata Arnila yang sudah sakit kepala.
__ADS_1
Bersambung ...