ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(144)


__ADS_3

"Nah soal punggung ini kamu sekali - kali perhatikan deh atau iseng cubit pinggangnya. Kalau pas kamu cubit, pinggangnya kenyal itu sudah jebol tapi kalau seperti Arnila nih, masih tegang lurus nah itu masih terkunci baik,"


"Wah! Nanti aku mau coba deh," kata Rita dengan gaya Detective Conan yang sedang berpikir tanpa tahu kalau Arnila iseng mencubit pinggangnya. "OOOWH!" teriak Rita sambil mengelus pinggangnya. "Sakit woy!"


"Bahahaha maaf aku juga jadi penasaran jadi aku cubit pinggang kamu! Oh, sakit ya? Pinggang kanu keras, lulus!"


"Sial kecolongan," kata Rita dengan wajah datar. Mereka berdua tertawa dengan puas. "Aku pernah lho cubit pinggang Ney dan itu kenyal terus dia goyah lho kalau jalan waktu dicubit seperti mau potong jadi aku langsung bengong pas tahu dia sudah tidak suci,"


Rita menganga lagi tidak tahu harus berkomentar apa. Mana mungkin Arnila berbohong. Dan memang hanya dia seorang yang lebih tahu mengenai Ney.


"Lanjut! Mata. Nah ini nih.. tapi beda ya sama perempuan yang kelopak bawahnya bergelayut karena suka begadang nonton drakor. Yang masih suci tuh lihat ya dari kedua matanya juga pasti berseri - seri macam ada pantulan kaca. Nah warna kelopak bawah mata itu tidak ada warna hitam lebam, beda ya kalau sama yang suka nahan kantuk. Perhatikan deh garis - garis halusnya berkeriput atau tidak, kalau yang masih suci kelopak matanya bergelayut pun kalau masih dipakaikan ketimun, atau dikompres es pasti kembali semula kan. Nah kalau yang sudah jebol, tidak akan bisa," jelas Imron secara panjang lebar.


"Benar - benar ilmunya hebat ya. Sebelum kamu nanya, Ney keriput nanti kamu lihat saja deh matanya dengan baik terus lihat bola matanya. Berkaca tuh seperti cemerlang gitu, Ri kalau yang tidak suci agak kusam," kata Arnila.


"Perempuan kalau yang suci sedang bahagia, ceria dari bola matanya tuh kelihatan bersinar seperti sedang bernyanyi tapi kalau yang sudah jebol, itu tidak ada nada dalam bola matanya. Semua orang dia kampus sudah hapal dan dia sering banget pura - pura tidak tahu," kata Imron.


Rita hanya mendengar obrolan Arnila dan Imron karena memang tidak tahu harus berkomentar apa. Mereka berdua lebih banyak melihat dan bergaul dengan Ney apalagi dengan kebiasaannya yang senang Plagiat karya atau tugas orang.


"Yang paling menonjol diantara banyak ciri itu Bibir. Ini yang paling mudah, kalau kamu sulit melihat ciri yang diatas, yang paling mudah itu dari bibir. Bibir kalian berdua tanpa memakai lipstik juga aku yakin masih bersih kok, aku sama Arnila sih sudah pernah ya ciuman hehehe," yang langsung dipukul keras oleh Arnila karena malu.


"HAHAHAHA!!" Rita hanya tertawa keras mendengarnya.


"Aduh kenapa kamu tertawa? Aku malu tahu!" Jawab Arnila yang dia berpikir karena Imron mengatakannya kepada Rita yang seorang hijaber.

__ADS_1


"Aih! Tidak apa - apalah jangan lihat aku karena pakai jilbab, semua orang tidak ada yang sempurna. Yah, meskipun tidak boleh tapi bagaimana ya hahahaha!" Rita tertawa lagi dan kali ini lebih keras. Beberapa orang memperhatikan mereka bertiga yang sudah berdiri lama


"Kita sambil duduk dulu yuk. Dilihatin terus dari tadi," kata Arnila yang berjalan duluan, menarik Rita yang masih tertawa.


"Tapi sekali kok.. bibir ayangku masih menarik. Bibir perempuan yang masih suci itu beda banget yang belum pernah tersentuh model kamu ya warnanya pasti merah jambu lalu tidak ada garis lebam atau hitam di sekitar bibir dan kalau dicium tuh ada beda rasa bibirnya," kata Imron.


"Nanti kamu sama Alex deh, Ri," kata Arnila sambil cekikikan.


"Asyik banget ya dia," jawab Rita yang menyilangkan kedua tangannya.


"Nikmati sajalah! HAHAHAHA!"


"Tapi bibirku tanpa lipstik itu pucat makanya dari SMA aku memang suka pakai lipgloss karena selalu dikira lagi sakit," kata Rita. Dia sekarang memakai lip matte berwarna pink karena memang warna pink lah yang paling cocok.


"Nnah itu seperti lebam ditonjok jadi beda banget ya sama yang belum pernah ciuman. Seperti karet gelang sekali ditarik okelah masih belum kelihatan melar tapi kalau berkali - kali. Hitam ya bukan pucat, Bu! Terus licin dan basah, beda juga dengan yang bibirnya suka kering. Pokoknya lihat warna dasar saja deh!" Imron menepuk kedua tangannya yang membuat Arnila dan Rita kaget.


"Malas deh kalau sudah soal Ney soalnya memang lebih baik kamu jangan terlalu dekat lagipula memang tidak cocok kan alirannya," kata Arnila.


"Aku beli minum dulu ya. Sekalian buat nanti pas kalian piknik. Imron beranjak pergi ke dalam BIP dan menghilang.


"Wah, tidak menyangka banget. Lah ya dia memang kurang cocok kan dengan aku atau kamu karena dia cocoknya dengan grup dia sendiri,"


"Iya. Soal foto yang selalu dia lampirkan itu mungkin ya menurutnya aku akan yang iri atau bagaimana padahal aku bosan tahu, hampir setiap hari dia kirim foto - foto itu," Arnila menggerutu pastilah sangat mengganggu sekali.

__ADS_1


"Ya sudah diamkan saja kalau dia kirim lagi, hapus langsung daripada ngomel kan sama sekali tidak didengarkan. Kalau dia kirim, sudah jangan di komen kalau dia nanya juga kamu bilang saja "nanti masuk neraka kalau kasih komen ke tukang pamer!" Begitu saja,"


Arnila setuju lalu tertawa. Memang Ney nampak tidak berani kalau sudah berhadapan dengan Rita karena sekali Rita terganggu, dia akan melawan Ney sampai dirinya mati kutu. Dan sudah sangat sering sekali sampai Arnila pun hanya bisa menggelengkan kepala membaca chat mereka berdua.


"Dia juga kenapa lebih memilih grup yang isinya tidak bermanfaat? Buat apa coba?" Tanya Rita yang berpikir dalam.


"Nanti deh aku ceritakan. Imron sudah tahu banget soal Ney jadi jangan diragukan lagi semua info tentang Ney, dia sudah tahu! Hei, sepertinya Ney berpikir Alex benar - benar ada disini," kata Arnila yang memperlihatkan isi chat dia dengan Ney.


"Biarkan sesuka dia teh supaya cepat datang. Menurut kamu Ney pindah lagi hatinya ke Alex?" Tanya Rita.


"Iya karena dia tidak bisa mendapatkan Anggara kalau aku pikir sih sebenarnya dia tersadar sesuatu. Kalau dia benar mau rebut Alex lahi bagaimana?" Arnila memandang Rita yang tentunya Rita sudah mulai membuka hatinya unyuk Alex.


Rita berpikir bisa jadi sih karena lelaki baik manapun tidak ada yang mau dekat dengan dia pasti akan kembali ke Alex lagi. "Menurut kamu Alexnya mau tidak?" Tanya Rita.


Imron kembali dan sudah membeli 4 aqua sedang dan memberikannya kepada Arnila. Imron duduk sebelah Arnila dan minum lalu dia juga membeli kue dan saling berbagi. Hanya Rita yang menolak karena dia sudah cukup kenyang.


"Mana mau Alex sama Ney, dia kan mada remajanya sudah berpengalaman, Ri. Jadi pasti tahu banget perbedaan yang Ney punya. Gila aja kalau dia sama Ney, langsung lengser dia. Ney hanya iri saja kok kamu bisa punya kenalan lelaki super tajir lebih dari Dins kan. Alex suka kamu karena inner kamu bukan luaran, pertahankan Alex deh meski kita tidak pernah tahu ya sampai mana Alex punya hati sama kamu,"


Rita mendengarkan penjelasan Arnila yang menurutnya memang seperti itu. "Ney itu terlalu nakal kalau untuk seukuran tipe yang Alex cari,"


"Senakal - nakalnya lelaki meski tidak adil ya dia pasti mencari perempuan baik - baik untuk menjadi istri dan ibu untuk anaknya kelak. Tidak adil untuk perempuan yang masih suci ternyata takdirnya harus bersatu dengan lelaki kampret yang sudah tidak perjaka. Bukan terkena kutukan tapi pasti ada sesuatu dari kamu yang bisa menerima si Alex itu apa adanya," kata Imron sambil makan. Rita dan Arnila memandangi Imron yang selalu berbicara.


Imron sadar kalau dia sedang diperhatikan, "Ehehehehe.. daripada kita mrnunggu Ney yang entah kapan datangnya. Kita cari tempat saja dulu yuk sebentar lagi makan siang lho nanti tidak kebagian tempat." Akhirnya mereka bertiga mencari tempat yang lebih nyaman dengan peneduh pohon. Dan kemudian menggelar kain untuk mereka duduk.. Jam 11 akhirnyaaa Ney masih belum terlihat.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2