
"Aduuuh tapi ini panjang sekali kamu masih belum bisa menghentikan kebiasaan kamu ya Ri," protes Ney kepadanya.
"Kamu sudah kenal aku sejak lama ya tidak usah protes deh. Pokoknya baca!" Kata Rita yang tidak mau tahu lagi.
Dengan terpaksa Ney membacanya juga tapi dengan anggapan bahwa dia sebenarnya tidak ada yang salah soal perundungan itu juga. "Aku ini tetap lho sebenarnya orang yang lebih pantas menjadi sahabat kamu. Hanya kamu ini malu mengakuinya kan? Aku tahu itu," kata Ney bangga kalau dirinya benar
"WAHAHAHA kebanyakan mimpi kamu nih. Aslinya. Itu menurut pandangan kamu ya, kalau kata aku sih tidak justru jauh kualitas kamu sebagai Sahabat. Status itu bukan kamu acungkan saat tahu aku kenal Alex tapi saat aku punya masalah dari nol. Apalagi kamu merundung aku, tanya orang apa pantas sahabat memperlakukan begitu kepada sahabatnya sendiri?" Tanya Rita mengeluarkan rasa unek-uneknya.
Daripada harus membalas itu, Ney tetap keukeuh dengan pendiriannya kadang dia juga chat Rita dengan persoalan yang tidak nyambung. Sangat sering sampai Rita meng inisiatifkan dirinya untuk diperiksa ke dokter bagian syaraf. Tentu saja kalian tahu selanjutnya Ney berteriak seperti orang gila.
Karena itulah Rita pun menjaga jarak karena takutnya memang Ney agak.... kurang. Orangnya sendiri entah menyadari keanehannya ataukah tidak agak sangsi juga. Kalau memang benar berdasarkan pemikiran Rita, tidak mengherankan sampai dia kuliah pun temannya hanya Arnila saja.
"Teman yang kamu kenal itu semuanya palsu! Aku yang asli," kata Ney yang seperti mendramatisir kan dirinya sendiri. Entah sedang latihan akting untuk drama kampusnya atau apa ini.
"Sudahlah, kamu aneh. Justru kamu yang palsu bukan mereka. Mereka tak pernah pergi sehancurnya keadaan aku tidak seperti kamu," kata-kata Rita ini membuat Ney terdiam.
Ney ingat seperti apa saat benar Rita memiliki masalah, dia lebih memilih menjauh. Bahkan dirinya juga tahu saat Rita menangis karena perilaku ibunya yang selalu mempercayai kakaknya. Seringkali dipersalahkan tapi Ney sama sekali tidak pernah menenangkan temannya itu satu kalipun.
"Stop kebiasaan kamu menyalahkan kekurangan diri kepada orang lain. Kamu sendiri yang gengsi selama ini tidak pernah mau mengaku salah padahal perbuatan kamu terlihat. Diana tidak suka dengan tipe seperti kamu," kata Rita.
Ney diam tidak membalas, dia sadar yang tahu segalanya mengenai Diana serta sahabat lainnya memang hanya Rita sendiri. Dia hanya tahu kalau Diana memakai barang merk dan terkejut sendiri. Sedangkan Rita cuek saja tidak pernah membahas itu.
"Jangan berharap deh apalagi setelah kamu kena tabok dia, mustahil sekali kamu bisa lebih dekat. Kamu itu sombong cari orang lain saja deh daripada berusaha merebut teman orang lain," kata Rita.
"Kamu bukannya punya niat merebut Arnila ya dari aku. Itu disebut apa dong," kata Ney yang kedua matanya bersikap angkuh.
"Hah? Untuk apa? Teman aku banyak. Rakus sekali aku ya sudah punya teman dekat yang berkualitas dan sahabat masih mau nyomot punya kamu. Maaf ya, sepertinya itu lagi-lagi delusi kamu deh," kata Rita agak aneh.
Merebut segala memangnya yang hidup di bumi ada 10 orang? Aneh sekali! Rita cengengesan menggelengkan kepalanya.
"Oh. Aku kira. Benar nih kami tidak memakai Gift untuk mendapatkan teman?" Tanya Ney tidak yakin.
__ADS_1
"Terserahlah. Wajar kamu tak percaya wong kamu kan orangnya jauh dari agama, yang kamu anut ya perdukunan. Makanya paling tahu soal santet dan "kiriman" kan heran apa gunanya kamu hidup kalau hanya mempelajari hal mistik," kata Rita.
"Ya kali saja kan. Aku tidak belajar kok hanya ayahku yang memberikan ilmu begitu," kata Ney yang sudah kehabisan kata-kata.
"Menyedihkan sekali kalau ada orang tua yang mengajarkan anaknya ilmu dukun selain mengajarinya ilmu agama, kejujuran dan berperilaku sopan," kata Rita menyilangkan kedua tangannya. Dunia ini sudah gila!
"Itu bukan ilmu hitam kok," kata Ney membela ayahnya karena ayahnya yang paling dia sayangi.
"Dimana-mana ilmu yang mengajarkan dunia kegelapan itu ilmu hitam, neng. Begini nih kalau yang sok tahu," kata Rita.
"Kamu sendiri kok tahu? Jangan-jangan..." kata Ney.
Rita mengirimkan foto artikel. "Aku cari di Gugel lah memangnya aku dukun kayak kamu. IQRA!" Seru Rita yang sudah mulai kesal.
Ney tidak jadi membalikkan perlawanan, dia membacanya dan menyadari bahwa yang pernah dia lakukan adalah ilmu hitam. Itulah yang ayahnya selalu ajarkan dengan mengatakan hal yang ia ajarkan padanya untuk kebaikan ternyata salah! Masalahnya karena sejak kecil sampai dewasa pun dia masih beranggapan ilmu yang dia pelajari itu ada dalam Al Qur'an.
"Tidak. Aku tidak percaya ya dengan penjelasan ini lalu kenapa ayah aku berbohong? Dia bilang jelas kok tertera dalam Al Qur'an soal ilmu hitam, hayooo," kata Ney mengejek Rita.
Ilmu hitam termasuk ilmu sihir yang dilarang digunakan. Dalam surat Al Baqarah ayat 102, Allah menceritakan perbuatan sihir orang Yahudi di zaman Nabi Sulaiman. Tujuan mereka Memutar balikkan fakta dan Pembangkangan terhadap kitab Taurat yang benar. Dan ilmu sihir yang mereka kembangkan, tidak ada relevansinya dengan ajaran Nabi Sulaiman.
Ney terduduk diam membacanya, pandangan dan pikirannya sama sekali tidak percaya apa yang baru saja dia lihat. Ilmu hitam adalah sihir yang terlaknat karena di dalamnya dipergunakan untuk menyakiti orang lain. Sama yang pernah dirinya lakukan.
"Kalau ayah kamu sampai membohongi kamu dengan bilang ilmu itu ada dalam Al Qur'an,berarti..." kata Rita memotong.
"Apa?" Tanya Ney yang sudah mengusap wajahnya.
"Ayah kamu ilmu agamanya juga kurang berarti karena orang tua normal pada umumnya pasti memilih menghindari atau menolak bukan mengerjakan. Sekarang saja kamu sholat seingat kamu kan, puasa tidak tahu kamu lakukan atau tidak," kata Rita.
Ada perasaan kasihan juga pada Ney tapi yang bermasalah ya orang tuanya. Lalu kemana ibunya? Masa iya sih ibunya juga sama?
"Jelas-jelas ya ayah aku tuh punya kok ayat Al Qur'an, dia juga suka menyembuhkan guna-guna," kata Ney.
__ADS_1
"Yakin menyembuhkan? Sekarang begini deh kalau memang iya ayah kamu menyembuhkan, lalu dari mana kamu bisa belajar perdukunan? Apalagi kamu mengaku ayah kamu yang ajarkan?" Tanya Rita semakin bisa melihat sesuatu dari Ney ini.
Ney tidak menjawab dia terlalu bingung dengan segalanya. Kenapa baru sekarang di usianya yang menginjak 26 tahun, baru ada yang memberitahunya begitu? Dulu jelas sekali tidak ada. Dia juga ingat bagaimana ayahnya menganjurkan untuk meditasi saat tengah malam sendirian di kamar yang tidak ada apapun.
Hanya lilin yang menemani sambil menggumamkan suatu mantra. Dan itu dia lakukan hampir setiap hari, entah untuk apa saat itu usianya menginjak 6 tahun. Sebagai anak dia tidak mengerti bahkan saat usianya 10 tahun dan memiliki teman pun, meski mereka tahu tidak ada yang mau memberitahukan.
"Kamu waktu kecil mungkin bukan perundungan yang kamu alami tapi dijauhkan banyak teman karena mereka tahu kegiatan ayah kamu ya?" Tebak Rita.
Saat itu tiba-tiba tangannya bergetar dan Ney menangis sambil tangannya mengetik. "Dulu waktu kecil setiap bermain, entah kenapa semua anak begitu takut melihat ayah aku. Setiap ada yang tidak sengaja membuat aku terjatuh, ayah selalu menatap semua anak dengan pandangan tajam. Dan beberapa hari kemudian mereka semua sakit bahkan ada yang meninggal," kata Ney dalam keadaan tidak sadar.
Bukan pingsan tapi Rita merasa inilah Ney yang asli. Intinya karena ada "sesuatu" sama dengan dirinya, Ney Asli tersembunyi jauh di kedalaman dirinya yang "Jahat". Rita kemudian buru-buru menyimpan chatnya sebelum Ney menghapusnya.
Benar saja tiba-tiba dia tersadar dan menghapusnya. Kemudian memukuli kepalanya dan mengatakan sesuatu seperti, "Jangan keluar."
"Kamu harus tahu pelaku yang melakukan santet itu dosanya tidak diampuni oleh Allah swt, jadi sudah termasuk dosa besar. Mengancam keselamatan jiwa juga," jelas Rita yang benar saja melihat chatnya dihapus oleh Ney.
"Aku tidak tahu kenapa ayahku melakukan itu tapi sudahlah, Rita. Kamu tidak tahu masalah keluargaku dengan yang begituan itu berat. Padahal mama aku sudah bilang bahaya tapi ayah tidak mau mendengar," kara Ney.
"Kita lewat deh. Ada pertanyaan lagi tidak sebelum aku makan malam nih," kata Rita melihat jam menunjukkan dekat pukul 8 malam.
"Kok bisa dari SMP kamu dikelilingi orang yang berduit?" Tanya Ney.
"Kenyaman. Kamu bisa tidak?" Tanya Rita.
"Maksudnya?" Tanya Ney kebingungan.
"Apa kamu bisa membuat mereka nyaman?" Tanya Rita.
"Ya bisa dong. Aku ini kan setara dengan mereka tapi anehnya kenapa mereka malah menyukai orang yang tidak setara coba," kata Ney lagi-lagi tentang kesetaraan.
Bersambung ...
__ADS_1