ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
475


__ADS_3

"Kamu tahu tidak sih kalau kata-kata kamu itu membuat aku sakit, Rita. Kamu jahat," kata Ney sengaja membuat Rita merasa bersalah karena Ney tahu kalau Rita lemah dengan kalimat seperti itu.


"Sudahlah Ney, jangan suka melempar kesalahan lagi. Sudah cukup pokoknya kita bertiga eh berempat sudah salah! Tidak ada yang benar kenapa? Kita sama-sama keukeuh dengan ego masing-masing," jelas Arnila.


"Pantas ya peruqyah itu bilang aku harus jauh-jauh dari kamu. Kalau jelas seperti ini sih memang harus," kata Rita.


"Kamu kayanya percaya sekali ya sama itu orang. Dia itu kurang ajar tahu tidak? Sok tahu," kata Ney yang panas dan berusaha mencari tahu soal Koko ini.


"Kamu kali yang kurang ajar. Dia memberitahukan kebenaran dan maksud kamu, lalu kamu apa? Kebohongan yang kamu buat untuk buka tutup lubang lain," kata Rita.


Arnila tahu mereka berdua sulit dibuat tenang. Karena kompornya yang paling utama adalah mulut dari Ney. Pikiran dengan Rita sama sekali tidak sesuai dan mereka juga bukan seorang teman yang baik untuk sesamanya.


"Menurut aku ya karena aku yang paling tahu kamu, jangan percaya sama dia deh Rita. Aku bisa kok kamu percayai," kata Ney berusaha menarik Rita kembali.


"Hah? Percaya diri sekali sih kamu," kata Arnila.


Ney memang selalu begitu, seolah-olah lupa dengan apa yang telah diperbuatnya, seolah-olah mereka akan cepat lupa dan tidak memikirkan soal kelakuannya. Tapi tidak juga.


"Ooogah! Rugi sekali percaya sama yang tukang bohong. Aku sudah tidak mau lagi percaya perkataan kamu. Masih banyak tuh ya orang di luar sana yang lebih bisa aku percaya," kata Rita.


"Apa coba ya salah aku sama kamu?" Tanya Ney yang penyakit amnesianya mulai kambuh. Amnesia bohongan tapinya.


"Banyak!" Balas Rita yang sudah terbiasa dengan kepura-puraan Ney.


"Tapi aku merasa yang aku lakukan benar kok," kata Ney.


"Kalau iya seharusnya kamu banyak teman Ney. Coba lihat sekeliling kamu, ada yang sampai sekarang mengobrol akrab sama kamu?" Tanya Rita ingin tahu.


"Ada kok. Weeee!" Jawab Ney.


"Grup sosialita kamu pasti kan. Selain itu aku yakin tidak ada kecuali Arnila," tebak Rita.

__ADS_1


Ney tidak bisa berkata apapun lagi. Dia melihat ponselnya dan hanya ada notif yang isinya sedang diskusi, grup sosialitanya. Di dalamnya juga mereka tidak ada yang menanyakan kabarnya.


"Coba deh kamu tanya ke orang-orang tapi jangan memutarbalikkan fakta. Tanya kesan mereka soal kamu bagaimana dengan jujur, tanya juga ibu kamu. Berani?" Tantang Rita.


Ney dan Alex sama tidak menyukai kekalahan tapi kalau dengan Ney, karena dia terlalu sering meremehkan kemampuan Rita. Akhirnya tanpa disadari Rita sering memasang jebakan untuknya.


"Kalau kata aku sih ibunya tidak perlu ditanya pun pasti sudah tahu, Rita. Kan ibunya juga yang sering menasehati dia untuk tidak berpura-pura dalam berteman, terbuka dan jangan banyak bohong," kata Arnila menjelaskan membuat Ney agak malu.


"Buat apa sih lu bicara begitu?" Tanya Ney dalam grupnya.


"Kamu pernah dengar ibunya bilang begitu? Aku waktu SMA juga pernah lho dengar kalimat itu," kata Rita bengong.


Oh, berarti memang benar dugaannya.


"Iya, suaranya keras sih meski mereka bicara di ruangan lain. Wah! Mereka tahu kalau kamu dengar?" Tanya Arnila.


"Kapan? Perasaan kamu tidak ada deh," kata Ney agak berdebar.


Ney membelalakkan kedua matanya. "Oh jadi memang itu Rita? AAAAA!! Sekarang kebongkar semuanya," kata Ney memukul wajahnya dengan bantal.


"Terus?" Tanya Arnila.


"Ya aku pulang saja apalagi setelah mendengar dengan jelas ya apa kata Ney. "Biarkan saja dia itu lugu, Ma. Lagipula aku juga tidak ADA NIAT berteman sama orang kaya gitu." Coba. Sekarang tidak salah kan kalau aku menolak kamu?" Tanya Rita yang memang masih ingat.


Ney langsung lemas saat itu juga. Dulu dia berpikir orang yang datang ke rumahnya bukan Rita makanya dia tenang saja.


"Tunggu itu kan dulu Rita. Tapi aku sempat deh tanya dan kamu bilang tidak datang. Berarti kamu bohong!" Kata Ney.


"Memang sengaja. Karena aku ingin tahu kamu itu teman macam apa. Selama ini banyak ya kejanggalan sama kamu, jalan-jalan sama kamu, omongan kamu. Ya sudah lama kok aku tahu kamu seperti apa bukan hanya saat ada Alex saja," balas Rita membuat Ney terdiam.


"Jadi intinya kamu memang tidak menyukai aku?" Tanya Ney.

__ADS_1


"KAMU YANG PERTAMA TIDAK MENYUKAI AKU. Lalu untuk apa sekarang aku masih suka berteman sama yang toxic? Untungnya Allah menggantikan kamu dengan mempertemukan aku banyak orang baik," kata Rita.


"Iya Ney, harusnya dari saat itu kamu mulai memperbaiki diri bukannya malah separah ini. Sadar dong masih banyak orang luar yang bisa menggantikan posisi kamu di aku atau Rita," jelas Arnila.


"Aku asliiii sekali ya. Sejak kejadian tahun lalu, soal kamu dari diri aku itu mengubah semuanya. Sewaktu aku kenal kamu, sejelek apapun orang menghina kamu, aku bela. Karena aku yang kenal kamu tidak percaya apa kata mereka. Termasuk keluarga," kata Rita.


"Oh keluarga kamu tidak suka dengan Ney?" Tanya Arnila.


"Tidak ada yang suka. Aku berpegang kepada keyakinan di diri aku sendiri sampai akhirnya kamu sendiri yang membuat aku hancur. Sehancurnya! Asal kamu tahu saja ya Ney, tidak ada di dunia ini yang mau menerima orang merundung untuk alasan kebaikan. Merundung itu dimana-mana salah dan kamu tidak mengerti," jelas Rita.


Ney menarik nafas dan memejamkan kedua matanya. Dia tidak tahu kalau untuk alasan kebaikan, merundung tetaplah merundung. Apalagi dia sudah lakukan itu sejak duduk di SMP dan yah, sama seperti Rita. Banyak yang menghujatnya, dia dan kelompoknya.


Ney selalu sendirian karena orang berpendapat dekat dengannya hanya akan membawa pada masalah. Sekarang Arnila lalu Rita mereka berdua


terlalu dekat, akhirnya masalah terus ada.


"Aku lakukan itu untuk yang terbaik bagi kamu, Rita menurut aku ya kamu itu harus diubah deh perilakunya supaya keluarga Alex menerima kamu," kata Ney kembali ke intinya lagi.


"Aku tidak butuh ya saran dari kamu. Yang terbaik? Itu bukan untuk aku tapi diri kamu. Dan kamu bukan orang tua aku, adik atau kakak juga bukan. Jangan sok dewasa deh kamu sudah menikah, tapi masih bisa melirik fisik orang," kata Rita.


"Sudah Rita kalau soal Ney," kata Arnila.


"Dewasa itu tidak memandang usia. Dewasa itu seperti Arnila lihat deh bagaimana dia aslinya memperlakukan orang tidak dengan paksaan," kata Rita.


Ney kalah telak. Skak mat dia tidak bisa berkata atau membalas apapun lagi. Semua semua semua sudah terbongkar seperti apa dirinya, yang sudah lama sekali Rita sembunyikan.


Sekarang kesempatan untuk baikan dengan Rita semakin menurun drastis. Ney merasakan hal itu dan untuk menaikkannya lagi, sudah tidak akan ada kesempatan. Mau Ney memaksa juga Rita sendiri tidak ada minat.


Rita sudah lama berpaling pada teman-temannya yang selalu ada, Ney pun berusaha menempatkan diri namun gagal. Keluarlah kebiasaan buruk pada mulutnya.


Ney kembali ke ruang televisi dimana suaminya dengan santai menonton. Ney ingat pada kata suaminya bahwa kepercayaan adalah hal yang tidak bisa dibeli oleh uang. Dan Ney masih berpikir Rita bisa luluh kalau dibelikan sesuatu.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2