
Menjelang malam, Rita sedikit berbincang dengan Alex dan sekitar jam 10 malam, Rita pamit untum beristirahat begitu juga dengan Alex yang harus segera tidur. Mereka berjanji sepulang Rita dari keperluannya, Rita akan mengontak Alex lagi. Rita kemudian mulai menggelar selimut bersiap untuk tidur dan tentu saja berdoa sebelum tidur. Lalu Rita mendengar ketukan pintu kamarnya dan ibunya masuk.
"Besok kamu mau pergi?" Tanya ibunya yang bersandar di tembok.
"Iya mau pinjam buku ke Unpad. Kenapa?"
"Ibu lihat kamu sering banget chat di hp. Jangan terlalu fokus ke sana, jangan lupa juga besok sebelum pergi kamu beres rumah dan kamar," kata ibunya.
"Selama ini Rita tidak pernah chat lagi sama teman yang lain kan karena mereka juga sibuk. Aku lakukan ini salah, lakukan itu salah. Ibu maunya apa sih?" Tanya Rita yang kesal. Ibunya memang kepo sekali dengan apa yang Rita lakukan.
"Kapan ibu melarang ini itu?" Selalu begitu ibunya selalu lupa dengan apa yang dikatakan. Sering sekali Rita disalahkan untuk sesuatu yang tidak dia lakukan.
"Sering. Setidaknya senang dong anaknya chat dengan teman - teman. Bukannya diomelin terus,"
"Ya bukan begitu kamu seperti 24 jam full sampai malam chat entah dengan siapa," kata ibunya.
"Ada deh. Dapat kenalan orang Malay," jawab Rita.
"Kenalin dong ke ibu masa kamu sembunyikan saja? Nanti ibu coba tahajud-in orangnya siapa tahu jodoh kamu," mulai deh yang seperti ini.
"Ah ngapain sih? Nanti ibu lebay sendiri, rese sendiri. Orang cuma temanan dianggapnya berlebihan. Berhentilah mengacaukan semua yang Rita punya. Seperti dulu - dulu juga kan akhirnya malah jadi kacau!" Balas Rita kesal. Dulu pernah ada yang sudah dekat tiba - tiba waktu dia bertandang ke rumah langsung oleh ibu ditanya macam - macam. Yang akhirnya dia tidak mau datang lagi ke rumah. "Tidak perlu ikut campur lagi. Rita sudah kapok!"
"Ya sudah ibu hanya ingin membantu saja, tidak tahu kalau sampai kamu sama yang dulu hubungannya malah hancur. Jangan terlalu malam lagi kalau chat terus jaga jarak juga, jangan lupa makan dan minum. Kasih tahu teman baru kamu itu, kalau chat malam jangan suka maksa kamunya terus on!" Kata ibu tegas. Tahu sih demi kebaikan tapi mbok ya jaman sekarang sudah berubah! Apalagi Rita sudah berusia 22 tahun buat apa ikut campur segala? Rita juga selalu berhati - hati pada siapapun.
"Iya iya! Ini juga sudah mau tidur," kata Rita sambil bersiap - siap berbaring.
"Oke!" Ibunya lalu menutup pintu kamarnya. Tumben perhatian biasanya mau dengan siapa Rita kenalan atau bertemu, ibu tidak pernah peduli. Rita memandangi tasnya dan berpikir apa saja yang sudah dia masukkan ke dalamnya. Rencana mendatangkan Ney ke Unpad berjalan lancar toh, Anggara juga penasaran dengan penampilan Ney. Kejadian ini terjadi beberapa hari lalu, saat itu Rita tengah sibuk membuat tugas untuk pekerjaannya yang tiba - tiba Anggara menchatnya.
"Kamu sibuk?" Tanya Anggara pada chat WA.
"Lumayan. Kenapa?" Tanya Rita tumben biasanya juga Rita dulu yang chat dia kalau butuh bantuan.
"Aku mau sedikit bertanya tentang yang namanya Ney itu,"
"Oh, ada apa?" Tanya Rita yang mulai penasaran.
"Kamu bisa tidak mendatangkan dia ke kampusku?" Wah!
__ADS_1
"Wah, kamu tertarik? Hahahaha Merlin mau dikemanain?" Merlin itu perempuan ya nama lengkapnya Merylissin hanya karena bagi Rita namanya susah diingat, dia dan Anggara menyingkatnya menjadi Merlin.
"Merlin juga penasaran karena kan itu teman kamu cukup terkenal,"
"Terkenal negatif?" Tanya Rita.
"Hahahaha banyak teman aku yang ingin lihat, kalau berkenalan tidak deh. Ada yang bilang lebih baik jangan terlalu dekat dengan itu anak. Apa iya?" Tanya Anggara.
"Ya tergantung niat kamu saja. Serius tidak sama Merlin? Kalau hanya main - main kamu pasti cinlok sama Ney," kata Rita sambil tertawa membayangkan.
"Ah! Serius!? Jadi?"
"Kebetulan ya aku juga ada tugas kuliah, Psikologi Anak. Aku mau pinjam lagi beberapa buku dari kampus kamu. Nanti kan aku chat dengan dia di grup sekalian aku mau uji kesetiaan dia juga. Kira - kira tertarik sama kamu atau tidak,"
"Wah, boleh. Aku akan janjian dengan beberapa teman deh, Merlin mungkin agak terlambat datang dia ada janji dengan dosennya. Mau bertemu dimana? Langsung ke perpustakaan saja?"
"Iya, langsung saja. Aku sebentar, aku mau cepat membereskan tugas kuliah karena aku harus menyiapkan pembelajaran untuk di sekolah," kata Rita memeriksa jadwal sekolahnya.
"Jam berapa kira - kira kamu janjiannya?" Tanya Anggara.
"Oke." Selesai.
Seperti itulah jadi tidak sabar menunggu datangnya hari esok. Sebelum ini, Rita menceritakan apa saja yang mereka bicarakan dalam grup pada Alex. Dan Alex tertawa mendengar soal Ney yang mantannya ternyata Biseksual!
"HAH!? BISEKSUAL!? Lalu bagaimana reaksi Ney?" Tanyanya dengan antusias. Tidak terbayangkan dalam pikiran Alex saat tahu kalau pacarnya punya kelainan.
"Yah, dia menangislah. Kecewa berat! Dia mulai nakalnya ya dari situ mungkin trauma," kata Rita menebak.
"Tidak. Menurutku dia memang sudah nakal, Ri jauh sebelum kamu kenal dia,"
"Eh?" Rita terhenti pikirannya. 'Sebelum kenal aku sudah nakal?' Pikir Rita.
"Kamu memang tidak kenal dia betul seperti apa, tapi aku tahu,"
"Kamu bisa melihat masa lalu orang ya? Jangan! Itu tidak sopan! Bisa tidak kamu hentikan? Karena saat kamu tahu, kamu pasti akan mulai ember mulutnya. Itu bisa jadi bagian rasa tidak enak untuk orangnya tapi kamu tidak bisa merasakan. Kamu juga kan tidak suka kalau ada orang yang tahu masa lalu kamu," kata Rita.
"Aku bisa. Tapi teman kamu?"
__ADS_1
"Jangan ikut - ikutan seperti anak kecil! Sudah tahu salah, kamu mau teruskan? Ney sih aku beritahu juga tidak akan didengar," Rita sangat membenci Alex yang kalau dia sudah mulai melihat sesuatu yang privasi pada orang itu. Seperti saat dirinya dengan seenaknya membuka - buka 'kotak' yang ada dalam diri Rita. Dan tanpa ada rasa bersalah Alex membuka semuanya rasanya sangat mengecewakan dan rasa itu akan selalu ada. Tapi Rita mampu menahannya, mungkin.
"Ya sudah. Lalu ada berita apa lagi? Sepertinya kamu sedang gembira,"
"Iya dong. Dia cerita kalau selingkuh bila dia punya pacar ya, giginya akan copot!" kata Rita tertawa keras.
"What!?" Teriak Alex dalam Paceboknya.
"Mana dia banyak selingkuh," kata Rita.
"Giginya sekarang banyak yang ompong dong?" Entah Alex tertawa atau tidak.
"Iya. Bagian belakangnya katanya sudah habis, kebayang kalau punya suami terus dia selingkuh. Tua sebelum waktunya,"
"Dia sudah terbiasa sih. Nanti kalau sudah menikah juga tidak jauh," benar juga ga kalau dari pacarannya sudah terbiasa selingkuh, mau nikah juga pasti akan selalu begitu.
"Kalau diteruskan hubungan kamu dengan dia bagaimana ya?" Tanya Rita menggoda Alex.
"Aku tidak mau! Aku sudah tahu akan seperti apa. Lalu?"
"Dia kembali lagi dengan pacarnya yang dulu dan berjanji akan setia,"
"Aku yakin kamu tidak percaya kan," tebak Alex.
"Nope at all ( sama sekali tidak ). Jadi aku mau mengujinya,"
"Dengan apa? Janganlah kasihan," Tanya Alex penasaran karena dia tidak bisa mengetahuinya lewat pikiran Rita.
"Kamu bisa kasihan sama dia, waktu kamu merundung aku, apa pernah terpikir kamu kasihan sama aku? Kamu mengedepankan ego kamu sendiri lalu mengajak Ney dan Arnila sesuka hati kamu. Apa menurutmu itu adil? Kenapa tidak kamu sendiri yang lakukan? Pengecutkah kamu sebenarnya?" Tanya Rita yang masih saja mengingat kejadian terburuk itu.
"............" jawab Alex.
"Aku membalasnya dengan niat baik bukan buruk, seperti yang kalian semua lakukan. Aku tidak berharap rasa kasihan kamu ke aku karena aku sadar selalu sendiri, kalau aku mau pun kamu memperhatikan aku, yang aku dapati hanya kekecewaan. Jadi aku tidak mau terlalu banyak berharap sama kamu atau siapapun,"
"Im so sorry. Aku sangat bodoh sekali waktu itu! Aku sadar kalau itu semua salah, tidak seharusnya aku seperti itu. Seharusnya aku percaya," kata Alex yang berusaha membuat Rita tegar. Mengakui kesalahannya tidak lantas membuat Rita langsung memaafkannya. Hal itu masih membuat luka di hatinya.
BERSAMBUNG ....
__ADS_1