ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
426


__ADS_3

"Biasanya datang setahun sekali kan itu juga kalau mau datang," kata Ayahnya Ratih.


"Biasanya kalau begitu Bibi tahu ada yang butuh bantuan tapi tidak sembarangan. Sudah biasa sih kan Bibi juga tahu kalau kamu takdir aku hehehe," kata Ryan colek Ratih.


"Kalau benar, akhirnya Rita giliran menikah nih," kata Tante Winan.


"Saudara kamu itu jodohnya parah," kata Koko dari ruang belakang.


Mereka semua berpandangan.


"Parah bagaimana? Nakal anaknya, Ko?" Tanya Ayah Ratih.


"Ya dulunya nakal sama seperti saya. Parah itu karena usia 17 tahun sudah menjadi pengusaha sukses. Keren sih orangnya saya saja salut," kata Koko lalu menyimpang tirai.


"Wah!" Kata Ratih bengong begitu juga orang tuanya.


"Apa Bibi kamu tahu kalau Rita butuh bantuan?" Tanya Tante Winan yang agak mleyot mengetahui calon Rita ternyata lebih sukses dari anaknya.


"Bisa jadi. Aku juga jadi penasaran seperti apa sosoknya. Kang, usianya sama, diatas atau dibawah?" Tanya Ryan pada Koko.


"Dibawah," kata Koko dengan santuy.


"HAAAAH!? BERONDONG!?" Tanya mereka semua kaget.


Koko tertawa. "Iya. Dia suka Teteh itu karena si Tetehnya tidak pernah berpikiran macam-macam, polos saja sudah tahu siapa dia juga ya bodoh amat," kata Koko lalu merapihkan gulungan tirai dengan temannya.


"Bodor oge sih si Tetehna jadi laki-lakinya nyaman. Tukang bodor meren nya ( Lucu juga si Tetehnya jadi laki-lakinya nyaman. Tukang Bercanda mungkin ya )," kata temannya yang lain.


"Iya Teh Rita memang suka bercanda. Teman-temannya juga banyak, Ko," kata Ratih yang pernah melihat ke dalam akun Pacebuk nya.


"Iya, makanya aku agak aneh. Yah nanti saja deh kalau sudah ada orangnya sekalian mau aku tanya juga," kata Koko.


Malam harinya Bibi Ryan akhirnya datang serombongan. Karena ada pasien juga yang ingin diruqyah oleh Koko. Padahal Bibinya kan bisa ya tapi sepertinya Bibinya ingin menyimpan tenaganya untuk mengusir jin kampret yang ada di Rita.


"Assalamualaikuuum!" Kata Bibinya dengan suara yang ceria.


"Walaikumsalam. Akhirnyaaa datang juga," kata Tante Winan menyambut semuanya.


Koko juga beserta temannya masih ada karena kelihatannya akan lembur juga dan memang menantikan kedatangan Bibinya Ryan.


"Koko masih ada?" Tanya Bibi membuat semuanya merasa aneh.


"Koko siapa, Bi?" Tanya Ryan.


"Ada kan orangnya disini. Tah nu ieu ( Nah yang ini )," kata Bibi menatap Koko.


Koko berdiri bersalaman, ada perasaan yang tidak bisa dibayangkan. Namun Aura Bibi Ryan sangat menderang silau membuat Koko agak segan.


"Kalian bicarakan saya?" Tanya Koko agak aneh.


"Tidak kok, kan baru ketemu Koko hari ini mana sempat cerita banyak," kata Ratih bingung.


"Tahu dong. Saya juga punya alasan kenapa hari ini datang lalu mendadak mau menginap. Kebetulan keponakan ada yang butuh bantuan koko," kata Bibinya menatap hangat Koko.


Koko agak malu karena Bibi Ryan tengah menganalisa dirinya. Bibinya senyum dan menepuk bahu Koko dengan bangga.


"Ada apa sih,Bi?" Tanya Ryan yang ingin tahu.


"Sama dengan Koko. Keponakan kamu ada yang butuh bantuan ya, anak itu menangis kasihan. Kamu harus ada yang membantu," kata Bibi.


"Kalau saya sendiri memangnya tidak akan bisa?" Tanya Koko bengong.


"Sulit sekali. Levelnya tingkat tinggi kalau salah langkah, Teteh nya bisa lepas kendali sama kamu terus yang lainnya akan menyerang. Kasihan nanti kamunya terpelanting," jelas Bibi tertawa.


"Hah!? Selain ada jin memangnya ada yang lain?" Tanya Ratih dan Ryan bersamaan.


"Koko tidak bisa lihat ya?" Tanya Bibi memandang Koko.


Koko diam dan bengong. "Kalau boleh tahu, Bibi ini melihat apa?" Tanya Koko penasaran.


Bibi menghela nafas membuat semuanya menatap dengan heran dan agak waspada. "Ada yang lebih gawat dari yang menempel, makanya Bibi secara sukarela membantu. Neng ini sensitif sekali dengan ucapan. Koko ini Logika ya orangnya, kalau Neng Feeling sejati jadi kalau dia sampai benci Koko, efeknya besar lho," jelas Bibi.


"Lah, kok jadi seram ya?" Tanya Ratih.


"Si Teteh kalau marah meledak memang menyeramkan soalnya "Itu" bisa keluar berbarengan bukan si Nenek peyot ya," kata Bibi agak merinding.


"Waduh!" Kata Koko menepuk dahinya. Memang yang mau ditanyakan adalah soal itu tapi harus bertemu dulu apa Rita sadar atau tidak.


"Hahaha jadi kamu butuh bantuan Bibi. Kamu tidak bisa bicara dari hati ke hati nanti kamu diserang sama orang yang suka sama dia," kata Bibi tertawa.


"Memangnya yang suka Rita orangnya parah bagaimana sih?" Tanya Tante Winan.


"Posesif habis, cemburuan parah. Keponakan kamu bakalan banyak marah-marah hahahaha!" Kata Bibi memberitahu.


"HAAAAAH!? Wah, gawat dong," kata Ratih.


"Tapi tidak akan bisa apa-apa soalnya si Neng galak pisan bakalan kalah sama galaknya. Jadi tenang saja," kata Bibi masih tertawa.

__ADS_1


"Bi, kamarnya mau di atas atau bawah?" Tanya Ryan.


"Atas saja. Keponakan kamu di bawah supaya tidak susah kemana-mana. Dia menginap tidak?" Tanya Bibinya.


"Yang mau diruqyah siapa, Bi? Lama tidak? Kalau sampai seharian paling disuruh besok saja datangnya supaya leluasa," kata Ryan.


"Ya bolehlah," kata Bibi lalu rebahan di sofa.


"Bi, memangnya jodohnya Rita keren?" Tanya Ratih penasaran.


"Bawa saja dulu dia kesini kita libas habis jinnya urusan jodoh dia lebih baik Rita yang tahu," kata Bibinya melihat paras mimik muka mereka yang berubah.


Pastilah Bibinya bisa tahu ada apa di balik wajah biasa mereka. Takutnya malah memanaskan keadaan jadi lebih baik nanti sejelasnya kalau Rita datang.


Ratih kemudian mencoba lagi menghubungi ibunya Rita dan tersambung!


"Assalamualaikum, Ua! Apa kabar?" Tanya Ratih lega akhirnya diangkat.


"Walaikumsalam, Ratih. Alhamdulillah baik keluarga sehat?" Tanya Ibunya Rita.


"Sehat, Ua alhamdulillah juga. Oh iya Ua, bagaimana kabar Teh Rita? Sudah ada kabar calonnya?" Tanya Ratih tidak punya ide.


"Wah, hahahaha tidak tahulah dia mah kan Ratih juga tahu suka menyembunyikan soal begituan. Kalau sudah ada pasti ada selebaran. Ada apa nih tumben menelepon," kata Ibunya Rita tertawa.


"Oh iya juga ya kelihatannya Teh Rita tidak suka gembar gembor identitas orang. Teh Rita sekarang sibuk apa, Ua?" Tanya Ratih mencari info.


Suami serta keluarganya sedang makan malam saat itu bersama Bibinya yang sedang rebahan.


"Yah, sibuk kerja tapi ada masalah juga sih," kata Ibunya Rita agak cemas.


"Wah, kenapa tuh Ua?" Tanya Ratih menatap keluarganya. Memberikan isyarat kalau ada sesuatu yang terjadi.


"Si Rita setiap Maghrib suka meledak marah tidak jelas. Kita semua kena, Ua heran. Rita juga masih sering cari tempat ruqyah tapi semuanya angkat tangan. Ratih tolong dong carikan orang yang bisa cabut apapun dari Rita. Ua sudah pusing," kata Ibunya Rita lelah.


"Wah, kebetulan Ua. Suami Ratih punya teman yang ahli ruqyah in sha allah sama dia bisa ditebas. Soalnya dia juga dapat penglihatan katanya Teh Rita butuh bantuan. Ya ini mah kan karena sudah lama tidak ada kabar juga dari Teh Rita. Bagaimana, Ua?" Tanya Ratih menunggu kepastiannya.


"Pasti berhasil, Ratih? Sudah 10x kali soalnya. Ua sudah malas kalau Ratih kambuh," kata Ibunya menghela nafas.


Ratih menahan tawa. "In sha allah bisa Ua, soalnya sudah sering menangani yang terparah. Ruqyah nya tidak sembarangan kok, pakai ayat Al Qur'an terus tidak ada sembur-semburan seperti dukun. Pokoknya aman," jamin Ratih.


"Hahahaha iya iya oke deh Ua percaya semoga kali ini penyakitnya Rita bisa sembuh. Rita kan anaknya kalem tiba-tiba saja jadi senang meledak marah. Apa karena pengaruh teman-temannya?" Tanya Ibunya Rita.


"Bukan itu sih kalau kata Ratih. Memang ada yang menempel dan itu sudah lama. Bagaimana kalau Ua tanya dulu ke Teh Rita nya? Takutnya Teh Rita sudah menyerah," kata Ratih memberikan waktu.


"Iya nanti Ua hubungi Ratih lagi ya. Terus bayarnya berapa?" Tanya Ibunya Rita.


"Berapapun seikhlasnya saja," jawab Koko.


"Nanti dibayarnya seratus ribu mau?" Tanya Ryan cekikikan.


Koko diam lalu, "Satu koma Lima saja," kata Koko.


"Serius nih?" Tanya Ryan.


"Iya segitu saja. Aku ikhlas kok," kata Koko.


"Seikhlasnya saja Ua. Yaa satu koma lima," kata Ratih menyampaikan.


"Oke nanti ya Ratih. Tunggu saja perkembangannya," jawab Ibunya Rita.


Setelah itu percakapan berakhir. Ibunya Rita memanggil Rita ke kamar dan menceritakan semuanya. "Coba saja dulu, ibu capek kalau kamu selalu marah tidak jelas," katanya.


"Berhasil tidak ya? Rita juga lelah mana kalau tidur suka mimpi buruk terus," kata Rita sedih.


"Kata Ratih sudah banyak yang berhasil. Semoga saja kali ini betul kamu bisa lepas. Uangnya nih," kata Ibunya memberikan sejumlah yang Ratih katakan.


"Bismillah," kata Rita sambil memasukkannya ke dalam amplop.


Lalu ibunya Rita menjapri Ratih memberitahukan kalau Rita mau dan dikatakan untuk berkenalan dahulu dengan Koko. Besok datang ke rumahnya Ratih.


Kemudian Rita mengatakan di grupnya bahwa dia akan di ruqyah besok.


"Wah, baguslah. Orang Bandung?" Tanya Arnila antusias.


"Sepertinya begitu," kata Rita.


"Janjian ketemu yuk aku juga mau lihat orangnya," kata Ney penasaran.


"Tidak mau. Ini pribadi kamu kok sepertinya tidak mengerti ya," kata Rita.


"Ya kali kamu mau ditemani," kata Ney.


"Tidak perlu. Soalnya di rumah saudara tidak enak juga kalian suruh datang kesana," kata Rita menolak tegas.


"Oh, dirumah saudara aku kira rumah kamu," kata Arnila.


"Jadi jangan maksa untuk ketemu ya lagipula disuruh perkenalan dulu, besoknya aku datang lagi," kata Rita.

__ADS_1


"Mau nanya soal apa?" Tanya Ney penasaran.


"Ruqyah bukan nanya," kata Rita keheranan.


"Oh iya ya. Aku penasaran sih nanti cerita ya," kata Ney.


"Dimana-mana ruqyah ya buang jin sial kan memangnya ada lagi yang lain?" Tanya Rita merasa aneh.


"Terus kamu tahu orangnya seperti apa?" Tanya Arnila.


"Alex tahu?" Tanya Ney.


"Belum tahu tapi nanti aku tanyakan ke saudara aku. Kata Ibuku sih orangnya itu sahabatnya suami saudara aku," kata Rita tidak menjawab pertanyaan Ney.


"Kalau kamu tidak beritahu Alex, aku yang kasih tahu lhooo," kata Ney.


"Coba kamu tanyakan dong, aku penasaran sama orangnya," kata Arnila.


"Kamu juga kepo ya orangnya," kata Rita.


"Hahahaha," kata Arnila.


Lagi-lagi Ney tidak digubris. Ney hanya bisa menggonggong tapi tidak pernah bisa membuktikan perkataannya karena Alex sama sekali tidak pernah lagi mengobrol dengannya.


"Assalamualaikum, Ratih. Ini sama Rita, yang nanti ruqyah aku namanya siapa?" Tanya Rita dalam WA.


"Walaikumsalam Teh. Namanya Ramadhan Chandra tapi kita sering panggilnya Koko. Kalau Teteh mau lihat orangnya, cek saja di Instagrom ( plesetan ) yoohooitsmerama. Orangnya ganteng lhoo hehehe," jawab Ratih.


Langsuuuung tancap gas Rita buka Instagromnya dan benar saja orang itu sangat ganteng tapi tidak akan Rita beritahukan di grup. Tahulah sudah pasti Ney dan Arnila sibuk buka juga dan komentar banyak. Nanti saja kalau urusannya sudah selesai.


"Sudah ditanya?" Tanya Arnila dan Ney berbarengan.


"Sudah," kata Rita.


"Lalu?" Tanya mereka lagi.


"Namanya Koko," jawab Rita.


"Hanya segitu? Tidak ada alamat ignya atau apa kek," kata Ney kurang seru.


"Hanya segitu," kata Rita tidak memberikan petunjuk.


"Aku tidak percaya. Saudara kamu pasti kasih tahu kan alamat ignya. Kasih tahu dong jangan pelit," kata Ney kesal.


"Iya memang ada tapi tidak akan aku beritahu cukup namanya Koko. Nanti saja kalau urusan aku sudah selesai dan aku tanya orangnya," kata Rita. Saat memandangi fotonya ada perasaan dia harus bilang orangnya dulu.


"Ih tuh kaaan kamu mau berbuat curang ya. Sudah dapat Alex ternyata sama saja dengan aku jadi sebenarnya kita berdua itu cocok, Rita," kata Ney bangga.


"Idih, amit-amit cocok sama tukang selingkuh. Aku merasa harus bertanya dulu sama orangnya. Asli ganteng sekaleeee mirip Alex hahaha," kata Rita.


"Serius!?" Tanya mereka.


"Serius. Nanti deh aku kasih tahu kalau selesai," kata Rita.


"Ih, kok aneh ya semua lelaki yang dekat kamu ganteng-ganteng. Kok beda sama aku sih," kata Ney cemberut.


"Rita orangnya tidak macam-macam sih jadinya semuanya yang tampan malah dikenal sama dia. Kalau kamu kan beda kasusnya pasti kamu ajak macam-macam. Genit juga," kata Arnila menahan tawa.


Lalu Rita pindah dan memberitahukan pada Alex. Dia mengirimkan emoji yang cemburu lalu marah.


"Kenapa sih?" Tanya Rita.


"Yang ruqyahnya laki-laki ya," tebak Alex. Dia memang kesal, marah dan cemberut. Dia membuka ignya dan tampak tampilan Koko yang memang ganteng.


"Maunya perempuan sih," kata Rita.


"Ya sudah cari yang perempuan jangan sama dia!" Kata Alex kesal.


"Kenapa kamu kesal? Ajak berantem?" Tanya Rita.


"😤😤Bukaaaan kamu ini masa tidak mengerti sih?" Tanya Alex mulutnya maju 5 senti.


"Kalau nunggu lagi, lama-lama saya jadi nenek peyot. Aku seminggu tidak bisa tidur enak, sudah kamu tunggu saja hasilnya nanti aku ceritakan," kata Rita.


"Cerita ke aku dulu laaa jangan mereka berdua. Kamu ini pilih kasih," kata Alex masih ngambek.


"Aku off," ancam Rita sambil tertawa.


"Jangaaaaan 😭😭😭," kata Alex yang panik.


"Tidak perlu cemburu segala deh. Kamu ini bukan siapa-siapa juga," kata Rita.


"Mantan laa jadian seminggu kan," kata Alex memukul kepalanya.


Rita tertawa ngakak membacanya. "Akhirnya aku punya mantan! Mirip kamu ya Koko," kata Rita.


"AKU LEBIH TAMPAN TAHU!!" Teriak Alex kesal lalu mematikan laptopnya meninggalkan Rita yang tertawa keras.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2