
Kemudian mereka mengobrol yang ringan soal yang tadi mereka alihkan ke topik yang lain. Tentunya sambil mengobrol, Rita membalas chat dari Alex.
"Done?" Tanya Alex yang pastinya tidak sabar untuk cerita dari Rita.
"Kita sedang mengobrol. Nanti sore kita akan datang ke rumah paman kamu. Oh iya Ney meminta nomor paman kamu, dikasih jangan?" Tanya Rita. Alex tidak membalas beberapa menit.
"Tidak perlu biar Ney yang memintanya sendiri kepada pamanku, itu biar paman yang atasi. Mood kamu terasa sedang sangat menyebalkan. Ada apa?"
Rita lalu menceritakan garis besarnya pada Alex. "Oh, soal itu. Coba kamu bicarakan berdua dengan Ney lagi tanpa ada Arnila. Saranku setelah deal apa kamu masih mau berteman dengan Ney?"
"Meski dia begitu?" Tanya Rita yang sudah mulai kesal dengan keinginan Alex yang sama sekali tidak pernah memikirkan kondisi Rita.
"Ya," jawabnya singkat.
"Kamu ikhlas dan senang aku dipojokkan oleh dia tapi kamu tidak ikhlas kalau aku memojokkan dia. WHAT DO YOU WANT!?" Teriak Rita dalam ketikkannya. Jelas sudah Rita kesal double.
Alex sesaat tidak membalas pasti dia terkejut dengan apa yang Rita katakan. Rita akan membuatnya kembali koma kalau sudah mulai meledak. Makanya dia harus hati - hati.
"Maaf!! Maafkan aku! Aku menyesal seharusnya dari awal aku tidak mempermainkan kalian semua aku hanya ingin melihat keaslian warna kalian bertiga tapi hasilnya malah membuat kalian hancur," kata Alex berusaha menenangkan Rita. Karena jantungnya mulai berdebar karena kaget akan kalimat Rita yang berkapital.
"MIKIR DONG YANG HANCUR ITU AKU! BUKAN MEREKA!" Teriak Rita dalam ketikannya. Dan lagi - lagi Alex harus membacanya dalam keadaan tenang. Karena merasa Rita sudah mulai dalam kondisi memanas.
"Oke oke aku juga hanya ingin kamu melihat seperti apa Ney sebenarnya. Dia punya niat aneh ke kamu dan aku. Maaf kalau jadinya dia malah menyerang kamu," kata Alex yang sudah menyiapkan obat jantungnya. Dia takut kembali pingsan dan koma lagi dengan satu hentakkan aura kemarahan Rita. Wajahnya terlihat ketakutan dan seperti ingin menangis.
__ADS_1
"Ingat ya. Kamu juga menyerang aku dengan brutal dengan kata - kata buruk kamu. Dan menjudge aku dengan kalimat yang sangat buruk yang pernah aku baca dari seorang asing! Kalau kamu percaya diri dengan permainan kamu, tanggung jawab kalau hasilnya tidak sesuai dugaan. Jangan ditinggalkan berantakan begitu saja! Sekarang malah aku yang harus membereskan hasil permainan kamu. **** banget ya! Kamu ini anak kecil yang membongkar mainan tapi tidak bisa membereskannya kembali dengan rapi," kata Rita mengetik dengan cepat. Arnila dan Ney masih saja berbincang dengan obrolan mereka soal kabar di kampus mereka.
Alex tidak membalas, dia sangat sepenuh hatinya menyesali semua perbuatannya yang ternyata membuat Rita sangat menderita apalagi dia lupa kalau terlalu banyak memihak pada Ney dan tidak memikirkan perasaan Rita yang menjadi korbannya. Dan dia juga memang kabur dari mainannya yang sudah hancur berantakan tanpa tanggung jawab karena bingung bagaimana membereskannya. Apa yang dikatakan oleh Rita itu langsung mencap menuju hatinya dengan keakuratan yang sangat tepat mengenai sasaran. Bodoh kan?
"Sekarang, kamu tidak ada hak untuk mengendalikan apapun dalam permainan kamu, semuanya sudah hancur! Kamu tidak bisa dan tidak punya kemampuan mengembalikan semuanya ke sedia kala. Saat kamu tahu seperti apa Ney, apa kamu pernah memberikan dia ceramah soal perbuatannya itu seharusnya tidak dia lakukan? Ada? Ada?? JAWAB!! Kamu hanya lakukan itu padaku, seolah - olah dari awal memang aku yang salah. Tahu yang salah? Aku yang menerima pertemanan dari kamu! Sekarang, jangan mulai sok paling tahu ya siapa yang salah, siapa yang benar. Realnya, siapa yang jadi korbannya!" Kata Rita panjang lebar. Alex yang membacanya sedang memegang tempat dimana jantungnya berdebar keras dan dia takut bisa pingsan membaca kemarahan Rita. Lebay eeeh 😑😑😑..
Rita kemudian menarik nafas panjang dan beberapa kali mengeluarkannya dan terus dia lakukan. Ney dan Arnila memandanginya dan tertawa. Mereka menyangka Rita sedang berusaha membuatnya tenang dengan keheningan desir angin dari pepohanan yang memang sangat sejuk. Rita sadar kalau sudah melenceng dan berusaha menenangkan diri, sadar juga kalau Alex pasti bisa koma atas kemarahannya.
"Tapi berkat permainan kamu, aku bisa melihat warna asli dari Ney. Dan meski aku sendiri yang harus membereskan dan merapihkan mainan kamu, tapi aku bersyukur kamu sudah mempermainkan kita bertiga. Entah Arnila atau Ney menyadarinya tapi aku benar - benar beruntung bisa kenal kamu," ketik Rita dengan nada yang biasa lagi.
Alex membacanya yang sudah siap sedia dengan yang terburuk. Lalu membaca dengan takut - takut seketika itu juga jantungnya kembali tenang. Alex bernafas lega dan menjatuhkan dirinya sesaat ke atas kasurnya yang besar. "Aku harus berhati - hati. Rita dengan mudah bisa menenangkan dan menjatuhkan aku dalam waktu sedetik. Fuuuh sepertinya dia sudah mulai tenang kembali, aku harus lebih pelan jangan sampai berdebat lagi. Sekarang aku hanya harus menerima apapun yang dia putuskan. Ini hidupnya bukan soal aku lagi,"
Rita menunggu balasan dari Alex tapi menurutnya Alex pasti sedang rehat dulu karena disentak olehnya membuat jantungnya sakit mungkin ya.
"Kamu kenapa, Ri? Seperti habis esmosi," kata Arnila yang tertawa.
"Marah kenapa? Lihat dong!" Pinta Ney yang tentu saja tidak Rita pedulikan dan terus menatap layar hpnya.
"Oh ya? Entah kenapa aku yang tadi merasa akan koma langsung merasa bahagia tapi tenang bukan karena aku senang juga sudah membuat kamu menderita. Maaf aku tidak tahu cara memulihkan segalanya. Kamu benar - benar tidak tahu warna asli Ney?" Tanya Alex yang mengelus - elus jantungnya kembali tenang.
"Kamu cuma tahu cara memberantakan dan menghancurkan tanpa tahu cara membuatnya kembali seperti semula. Makanya jangan sok tahu. Sama sekali tidak tahu. Dia tidak pernah menunjukkan warna aslinya, bukan karena aku tidak peka ya. Selama aku kenal dia, yang dia tampilkan biasa saja. Aku pikir dia akan terus begitu tapi semua berubah saat dia tahu aku kenal kamu," kata Rita dengan menghembuskan nafasnya berkali - kali.
"Dia berusaha menjatuhkan kamu di hadapan aku. Dia banyak cerita soal kamu bilang kalau kamu sangat egois dan tidak cocok berteman dengan orang hebat sepertiku. Yang dia ceritakan padaku soal kamu sama sekali berbalik meskipun dia memuji kamu seperti apa lalu aku melihat yang dia lihat, entah kenapa sangat berbeda. I'm so sorry," kata Alex.
__ADS_1
Rita penasaran apa saja yang Ney katakan tapi Alex menolak. Baginya cukup itu sebagai pelajaran dia juga dan lebih memilih untuk melihat Rita dengan kedua matanya sendiri. Dan Alex juga berkata bahwa Ney sangat memujanya hanya karena dia punya banyak uang dan orang tuanya yang berkuasa di banyak bidang. Dalam pikiran yang terbaca oleh Alex, Ney berharap bisa lebih dekat dan mendapatkan banyak keuntungan darinya. Itulah yang membuatnya kecewa dan tidak perduli saat punya status pacaran dengannya.
"Hal itulah yang membuat aku memiliki keputusan besar meski sulit tapi aku sudah tidak mampu bertahan lagi apalagi dia akan menikah, setelah itu, keputusan besar dariku akan bulat. Dan kamu jangan pernah mencoba untuk mengubahnya. Apa yang harus terjadi pasti akan terjadi,"
"Oke. Aku akan menerima apapun keputusan kamu pada Ney meski aku kurang setuju. Aku sudah tahu seperti apa, aku melihat kilatan memang kamu nanti bukan sama Ney dekatnya," Itulah jawaban Alex yang membuat Rita penasaran. Dia lihat apa lagi nih?
"Kalau begitu, kamu tidak perlu menanyakan apapun soal 'Kamu masih mau kan berteman sama dia?' kamu sudah jelas apa jawabannya kan?" Tanya Rita meyakinkan Alex kalau keputusannya sudah tidak bisa diubah lagi.
"Iya,"
"Meski tidak tahu kapan waktu itu akan datang tapi sekarang sedang mulai proses penghitungan waktu," kata Rita dengan mantap. Di benaknya tergambar dinding jam yang tampak seperti jam batu besar yang ada di Saint Seiya.
"Jam? Kamu sudah punya niat seperti itu aku tidak bisa bertindak apapun asalkan kamu masih punya hati untuk memikirkannya kembali. Kamu tahu dia akan datang lagi berkali - kali berharap kamu sudah melupakan hal itu. Itu kebiasaannya dia, kurangnya dia tidak akan merasa bersalah apapun lalu apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Alex.
"Aku akan masih menerima dia. Hanya 3x, satu kali sudah dia pakai, sisa 2 kesempatan. Itu pun aku yang masih bisa berbaik hati ya setelah ternyata semua terpakai, dan dia masih saja sama. Dia mau datang kembali ribuan kali pun, saat itu aku menghapus dirinya! Bagaimana? Adil kan?" Tanya Rita.
"Good! Kamu akan berubah jadi lebih tegas dan mulai bisa melakukan hal yang terbaik untuk diri kamu sendiri nanti," kata Alex setuju dia senang melihat Rita perlahan membuat bentengnya sendiri.
"Tambah galak juga ke kamu," Rita tertawa tanpa menghiraukan pandangan mereka berdua.
"Itu sih sudah pasti dan aku akan selalu merepotkan kamu tapi aku menjamin kamu bisa bahagia denganku," kata Alex sangat percaya diri sekali. Dia menerima email yang berisikan kalimat dari pamannya juga rekannya yang menuju tempat perjanjian.
__ADS_1
"Percaya diri sekali!" Kata Rita sambil tersenyum senang.
BERSAMBUNG ...