
"Harusnya mereka tidak bisa dengar, harusnya itu tidak terdengar," kata Ney terus berulang - ulang mengucapkan kalimat itu meski berbisik. Mereka berdua saling berpandangan dan memandangi Ney lagi. Serius lah, ada yang tidak beres dengan Ney. Ney terus berbicara begitu berulang kali dan menggoyangkan badannya meski pelan, tapi sangat jelas dia mengatakannya.
Rita menyenggol Arnila, "Itu," katanya sambil menunjuk ke arah Ney yang terus mengatakannya.
"Ney? Ney? Woyyy!" Teriak Arnila, Ney langsung kalap tapi bersikap tidak ada apa - apa.
"Eh? Iya apa?" Tanyanya kebingungan. Kedua matanya memerah sedikit seperti yang kelelahan. Sepertinya sudah cukup Rita memojokkannya dengan semua dugaannya. Sudah cukup buktinya yang secara nyata soal Ney. Rita masih dengan pemikirannya. Berpikir semuanya yang dikatakan oleh Ney di bulan lalu jangan - jangan .... sebenarnya itu bukan untuk dirinya tapi ....
"Kita makan yuk! Aku mau traktir kalian deh di foodcourt BIP," ajak Arnila yang juga sudah pusing mendengar semuanya. Mereka harus rehat sejenak apalagi Rita. Arnila melirik Rita yang tampaknya sudah mulai lelah juga. Rita masih belum bisa sadar tapi kalau soal kemampuan detektifnya memang hebat banget sampai Rita saja tidak bergeming, pasti Alex sering banget menghadapi intuisi detektifnya Rita. Bagaimana kalau Rita sampai tahu Alex yang sebenarnya ya?
"Eh, ayok! Sebentar aku mau kembalikan buku dulu. Kamu jadi beli komik?" Tanya Ney dengan nada yang biasa maksudnya bukan nada yang memulai emosi orang. Tapi yang biasa datar.
Rita membalasnya dengan nada biasa juga, riang seperti biasanya. "Jadilah! Ini episode terbarunya," kata Rita memperlihatkan komik yang masih dia pegang. Ney kemudian berjalan sendirian ke depan ke tempat dia mengambil buku itu. Arnila memperhatikan Rita lagi, menurutnya Rita bergantung pada lawan bicaranya. Kalau lawannya memakai nada tinggi, Rita akan tinggi juga. Tapi kalau biasa atau kalem, Rita akan lebih kalem atau lebih cuek.
"Kamu sudah sering lihat dia begitu?" Tanya Rita sambil melihat Ney berjalan, mereka menyusulnya dengan berjalan pelan. Sebenarnya Ney itu sangat manis kalau dia tenang dan tidak mulai dengan nada menjengkelkannya tapi sayang, pribadinya yang lain akan cepat berganti. Dan Rita penasaran kenapa dia begitu?
"Belum pernah banget! Kamu dengar dia bilang begitu?" Tanya Arnila yang berhadapan dengan Rita.
"Kamu?" Balas Rita bertanya. Takutnya hanya dia sendiri yang mendengarnya.
Mereka saling berpandangan dan melihat ke depan. Cara jalan Ney pun terkesan aneh kadang seperti kepiting, zig zag.
"Cara jalannya yang aku anehkan," kata Arnila.
Rita memperhatikannya juga sebenarnya dia mulai aneh saat mereka duduk di bangku SMP. "Dari SMP dia memang begitu jalannya. Kita lurus, dia zig zag makanya aku sering bilang jalan kepiting. Kenapa ya?"
__ADS_1
"Bukannya kelainan pada kaki, Ri. Kurang zat apa gitu," kata Arnila memulai observasi.
"Tidak tahu deh kalau soal itu. Bisa jadi apa Skoliosis ( tulang belakang melengkung ) ya? Mata kanannya juga kamu tahu kan," Rita memperhatikan Arnila. Sambil berjalan mereka berhati - hati agar tidak terlalu dekat.
"Iya juling. Jadi, sebenarnya dia malu dengan kondisinya seperti itu makanya menyembunyikan segalanya," tebak Arnila dengan diiringi anggukkan kepala Rita.
"Membuat dia sangat kuat padahal rapuh?" Mereka berdua saling berpandangan, selintas mereka merasa kasihan pada kondisi Ney. Tapi dengan kepribadiannya yang terus seperti itu, malah membuat Rita kesal dan ingin menjauh saja. Dan meskipun banyak orang yang tahu tetap saja karakter dan kepribadian seseorang yang menentukan semuanya.
"Kamu pernah cerita soal tadi?" Tanya Arnila.
"Pernah. Kamu sama sekali baru sekarang lihat dia seperti itu? Kamu kan paling banyak waktu sama dia," jawab Rita pada Arnila.
"Tidak ada. Dia rapi sih kalau soal begituan terus dia kan yah, sama seperti kamu. Aku juga lebih malas banget menghadapi dia. Tapi kamu hebat ya,"
"Apanya?" Tanya Rita tidak mengerti.
"Oooh itu lah semua orang bisa kali bukan aku saja," jawab Rita tertawa keras. Apanya yang hebat? Itu kan sudah biasa.
"Tidak mungkin. Kalau ada juga, dia harus belajar lebih banyak tapi kamu tidak kan. Rita, itu adalah kemampuan yang kamu miliki mungkin juga dari Seventh Sense meski kamu tidak suka," Rita memikirkan apa yang Arnila ucapkan.
Rita hanya berpikir itu normal dan semua orang bisa seperti itu tapi ternyata tidak. Entah itu suatu anugerah atau bukan, tapi memang Rita bisa seperti itu sejak dulu mungkin itulah yang membuat sebagian teman - temannya menatap heran padanya. Rita bisa langsung mengetahui bila orang memiliki sisi lain, hanya dia sedangkan orang lain tidak ada yang menyadarinya. Contohnya lagi saat Rita berbicara dengan ibunya Alex, Ney dan Arnila terlebih lagi Ney yang tidak bisa membedakannya. Yang Rita tangkap itu sangat gampang terlihat dari kalimat. Ternyata hanya Rita saja yang bisa! Ney sama sekali tidak bisa makanya terjadi kesalahpahaman.
Tampaknya orang lain hanya menganggap tulisan ya tulisan, soal mood seseorang apalagi nada kalimat yang berbeda pun paling kalau kapital berarti dia sedang marah. Tapi kalau Rita, dia bisa membedakan kalimat bisa langsung kenal bagaimana Alex bahasanya, tatanan kalimatnya dengan ibunya. Sangat berbeda dan Rita juga langsung tahu dari percakapan, seperti apa ibu Alex. Dia sadari itu semenjak masuk ke sekolah SMP, tidak begitu banyak temannya yang menyadari selain kelima sahabatnya yang sampai kini masih terus terhubung.
Karena Rita melihat sisi lain dari mereka semua dan bisa merangkulnya karena itulah mereka yang sangat nyaman dengan Rita. Berbeda dengan Ney, Rita sulit mengerti soal sisi yang sekarang sedang dia hadapi. Dia menyembunyikan semuanya tapi karena Rita gigih, alter egonya yang baik keluar dan rasanya Rita ingin sekali berteriak pada Ney sekarang untuk berhenti egois!
__ADS_1
Rita kemudian menuju bagian kasir dan mbaknya menatap Rita penuh makna. Ney dan Arnila menyusul dirinya di belakang. "Jadi Rp 25.000, uangnya Rp 100.000 ya,"
"Iya," jawab Rita yang masih memikirkan apa kata Arnila.
"Mbaknya bisa mengeluarkan sisi lain orang ya,"
Rita kurang menangkap apa yang dikatakannya, "Eh?"
Kasir itu menundukkan kepala meminta maaf. "Saya tadi secara kebetulan lewat kesana dan maaf ya agak sedikit mendengar obrolan kalian. Saya terkejut mbak bisa mengeluarkan sisi orang lain sangat mudah, kakak saya juga bisa hanya berbeda dengan mbaknya. Dia harus berlatih dulu baru bisa, saya pikir mbaknya punya kemampuan yang besar. Menurut mbak, saya bagaimana?" Rita memandangi kasir itu yang tersenyum kepadanya dan Rita hanya terdiam. Rita sangat malas harus mengeluarkan kemampuannya karena itu akan membuat dia kehilangan berapa persen energinya.
Kasirnya tidak sendiri setelah dia berbicara begitu, dua temannya mendekati. Rita yang sebenarnya tidak mau banget akhirnya dicoba saja deh benar atau tidaknya dugaan dia. Ney dan Arnila melihat Rita tidak beranjak dari sana mereka berpikir apa uangnya kurang? Setelah dekat, Ney bertanya, "Ngapain lu?"
Arnila lalu mendiamkan Ney sebentar karena Rita tampak fokus sejenak memandangi mereka bertiga. Awalnya hanya mbak kasir yang pertama tapi karena mereka berdua ingin tahu, jadi ya sudah terkena area merah Rita. Sudah seperti Sharingan saja yang membuat zona merah. Sayangnya kedua mata Rita tidak berubah hanya dalam dirinya yang keluar. Tapi bukan Jin ya.
"Kenapa si tetehnya?" Tanya mbak kasir sebelah kiri.
"Kamu mengetes? Kris, tidak semua orang bisa seperti itu!" kata mbak yang sebelah kanannya sambil menggelengkan kepalanya. Keduanya tampak merasa tidak enak karena mbak yang pertama menceritakannya pada mereka soal yang dilakukan Rita.
"Nu ieu mah bisa. Serius! Abdi tos ningali di pojok ( yang ini bisa. Serius! Aku sudah lihat di pojok )," kata mbaknya yang sudah tidak bisa dihentikan karena melihat Rita yang sedang berpikir.
"Aduh, maaf ya teh. Teman saya ingin membuktikan benar atau tidak teteh bisa," katanya sambil memukul temannya itu yang lalu meringis.
"Maneh teu sopan ka pembeli. Kumaha mun salah? ( kamu tidak sopan ke pembeli. Bagaimana kalau salah? )" lanjut pukulan keduanya dari yang sebelah lainnya.
Rita masih yang mencoba merangkum apa yang dia rasa dan dia lihat. Hmmmm tertampak sesuatu seperti penampakan motor besar berwarna hitam, lalu makhluk astral yang besar kemudian penampakkan lelaki yang mungkin kekasih salah satu dari mereka dan suatu ketakutan pada hati seseorang. Ketakutan itu menampakkan sebuah gambar hati yang takut hancur. Aneh kan? Begitulah.
__ADS_1
"Ya bagaimana lagi. Aku penasaran saja, anu mbak mungkin apa yang mbak bilang nanti sama dengan Kyai Uje," sebut mbak kasir yang bernama Kris itu. Arnila dan Ney akhirnya sadar bahwa yang sedang terjadi adalah obrolan yang tidak biasa. Langsung Ney tampak tidak senang mengenai itu. Entahlaaah...
BERSAMBUNG ....