ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(182)


__ADS_3

Saat itu Rita masih sibuk dengan tugasnya di sekolah dan berlatih untuk kegiatan senam minggu depan. Ponselnya berdering di kelasnya tapi Rita tidak mendengarnya karena memang sangat sibuk. Ney di sisi lain marah karena Rita tidak mengangkat teleponnya. Ney melihat jam di tangannya menunjukkan jam 3 sore. "Masa dia masih di sekolahnya sih?"


Setelah itu Ney yakin, Ritalah pelaku orang yang memberikan wejangan kepada Arnila. Dia kesal sejadi - jadinya dan kemudian tersenyum licik. Dia akan menyuruh beberapa suruhannya untuk mengerjai Rita, padahal Arnila sudah memperingatinya agar tidak melakukannya. Ney ingat tapi tidak peduli, dia tetap melancarkan aksinya itu. Di tempat lain, Alex merasakan pertanda bahaya untuk Rita. Dia pun menghubungi Rita lewat Pacebuknya tapi sama sekali tidak ada jawaban. Rita harus diperingati tapi ponselnya ternyata Rita simpan di atas mejanya dan dia masih berlatih senam.


"Kita latihan sampai jam berapa nih?" Tanya Rita kepada salah seorang rekan gurunya.


"Sampai jam 4 saja ya, sekalian sholat Ashar," jawab rekannya.


Setelah Ney memerintahkan suruhannya untuk mengusili Rita, berangkatlah makhluk itu ke tempat Rita. Di tempat Rita, suruhannya itu menyeringai dan sontak Rita merasakan ancaman sesuatu. Dia memandangi ke sekeliling membuat beberapa guru dan kepala sekolah memandanginya dengan aneh.


"Ada apa, Bu Rita?" Tanya Kepala Sekolahnya.


"Tidak tahu. Aku merasa ada yang memperhatikan," katanya sambil kebingungan.


"Duh, Bu Rita jangan menakuti dong. Saya kan paling takut sama yang begituan," salah satu guru langsung memeluk guru lain.


Rita pun kebingungan tapi dia merasa lonceng Bahayanya berdering. Kepala sekolah lalu merasa sepertinya Rita bisa merasakan adanya bahaya, lalu segera menghentikan kegiatan dan mengajak guru yang lain untuk membacakan doa bersama - sama.


"Sepertinya ada yang mau membawa bencana sama Bu Rita nih. Tapi siapa ya? Terus apa salah Ibu?" Tanya guru lain yaitu Kodarsih.


"Saya juga heran bu. Semakin tidak enak. Baiknya bagaimana?" Tanya Rita sambil terus mencari sumbernya.


"Ini. Buka surat Al Falaq, An Nas, lalu Ayat Kursi, sesudahnya kita baca surat Al Anfal ayat 9 - 10 sebanyak 3x. Kita doakan agar Bu Rita maupun kita semua diselamatkan oleh Allah SWT entah siapa yang mengirimkan tenung pada Bu Rita." Kata Bu Kepala Sekolah. Lalu semua guru membagikan buku Al Qur'an dan mulai membaca bersama - sama termasuk Rita.


Makhluk itu lalu menemukan Rita dan dengan cepat menghampirinya tapi saat makhluk itu hendak menyentuhnya, dia melihat aura mengerikan yang keluar dari tubuh Rita. Lalu melihat ada banyak sesosok putih yang bersinar berjaga di belakang para guru. Entah itu apa tapi sosok itu kemudian mengusir makhluk jahat itu bahkan ada yang menghantamnya dengan tongkat runcing. Makhluk itu semakin ketakutan saat para guru mulai membacakan ayat kursi, tubuhnya mulai mengeluarkan api. Lalu sampailah pada surat terakhir. Sosok putih itu semakin banyak dan akhirnya mengelilingi jin jahat dan menghunuskan pedang dan tongkat kepadanya. Meskipun jeritannya tidak terdengar, jin kampret itu sempat melihat aura yang berputar di samping Rita. Membentuk orang tetapi tidak ada mata atau pun anggota badan, hanya siluet tetapi hidup. Menampakkan gambaran galaksi besar dengan hiasan bintang dan planet yang ada.


Dia bergidik ketakutan teramat, mau kembali pun sudah terlambat. Kemudian salah satu sosok putih yang paling besar menerjang badannya menusuk dengan pedang besar dan matilah jin itu dalam kesia - siaan. Entah apa itu malaikat ataukah sosok khodam? Wallahu alam.


"Bagaimana, Bu Rita? Masih tidak enak?" Tanya Ibu Kepala sekolah.

__ADS_1


"Hmmm... sudah enak bu. Terasa biasa saja hehehe." Jawab Rita sambil menegakkan punggungnya dan menggeliat pegal.


"Bagaimana kalau kita sudahi dulu saja? Kita terlalu semangat sampai lupa ini sudah sore. Alhamdulillah pengganggunya sudah tidak ada ya. Mungkin pertanda juga nanti lagi kita jadwalkan seminggu dua kali saja ya," mereka pun setuju lalu merapihkan semuanya.


Rita kembali ke kelasnya, perasaannya saat itu sangat ringan sambil berjalan, Rita menari lalu membereskan bukunya. Dan memeriksa ponselnya. Tampak ada panggilan tidak terjawab daei Ney sebanyak 15x. Lalu Alex yang memanggilnya dalam inbox. Rita bingung ada apa nih? Tampak Ramai.


"Kamu telepon? Ada apa?" Tanya Rita membalas chat ke Ney. Begitu juga Alex.


"Are you okay?" Tanya Alex yang nampak khawatir.


"Ya baik - baik saja. Kenapa sih?" Tanyanya lagi.


"You don't know?? Ada orang yang mengirimkan makhluk tembus ke kamu. Kamu sedang apa sih? Masih sibuk?" Tanya Alex dengan tidak sabaran.


Ney tidak membalas tapi tidak masalah. "Sudah senam tadi aku dan guru - guru mengaji sebentar karena aku merasa ada yang memperhatikan jarak jauh tapi tidak tahu apa itu," jelas Rita sambil bernyanyi.


"EH!? Kamu merasakan tanda bahaya? Apa perasaan kamu setelah tahu?" Tanya Alex. Dia terkejut ternyata Rita instingnya tajam juga soal bahaya. Alex lega tidak terjadi apa - apa pada Rita, dan dia sangat marah pada Ney. Teganya dia melakukan itu kepada teman yang selalu membelanya di saat semua orang tidak mempercayai mengenai dirinya. Alex mengepalkan tangan tapi tahu kalau jin suruhannya itu sudah dimusnahkan juga.


"I will not tell you," kata Alex. Dia tahu Rita akan bereaksi seperti apa. Jadi lebih baik dirahasiakan.


"Aku sudah dapat kemungkinan pelakunya siapa kok. Aku tidak akan bertanya siapa orangnya 🤪," kata Rita.


"WHAT!? HOW?" Alex kaget kalau Rita sudah bisa menduganya dalam waktu pendek.


"Ney pasti," kata Rita membuat Alex menganga.


"Hooooowww??" Alex kagum pada Rita yang langsung tahu tanpa diberitahu.


"Arnila pernah cerita kalau Ney selalu mengirimkan suruhan jinnya ke dia. Jadi tidak heran kalau dia juga akan berusaha mengirimkannya ke aku. Benar tidak? Meskipun alasannya aku tidak tahu sih, mungkin karena dia kesal aku selalu bisa membalas omongan jahatnya dia," kata Rita.

__ADS_1


"Ah, I see. You believe that?" Tanya Alex. Ternyata daripada Ney, Arnila lebih terbuka pada Rita.


"Soalnya Arnila pernah cerita sampai muncul gambar segitiga gitu terus itu pindah - pindah. Kalau bohong pun tetap saja mengerikan. Oh iya aku mau pulang nih. Kita lanjut nanti ya kalau aku sudah dirumah."


"Sure! 🤗" Jawab Alex.


Rita memeriksa ponselnya dan Ney membalas. "Kamu sedang apa? Aku telepon kok tidak dijawab?"


"Orang lagi senam juga. Kenapa sih sampai 15x?" Tanya Rita pura - pura kebingungan. Sebenarnya Rita tahu Ney pelakunya karena dapat kilatan nama dia yang muncul di benaknya. Itu membuatnya memutuskan harus banyak membuat benteng tinggi agar Ney tidak mengganggunya lagi.


Ney melongo membaca jawaban dari Rita. Dia kebingungan suruhan yang dikirim ke tempat Rita pun sama sekali tidak nampak pulang lagi. Kemana suruhannya pergi? "Kamu tidak merasakan apapun?"


"Hah? Yang aku rasakan sekarang ya kelaparan. Memang kenapa?" Tanya Rita lagi. Dia sengaja untuk memancing Ney mengakui perbuatannya.


"Oh iya ya sudah sore. Kamu tidak merasakan yang lain.. rasa sakit atau bagaimana?" Tanya Ney yang merasa tidak yakin mana mungkin Rita masih baik- baik saja. Sambil menggigit bibir bawahnya memastikan dia memang kesakitan atau apalah.


"Kamu kenapa sih? Aku lagi di jalan mau makan dulu lalu pulang kerumah. Kalau ada keperluan langsung saja deh! Aku kecapean nih terus harus mikir maksud kamu apaan?" Ketik Rita.


"Bu Rita serius sudah enakkan? Kalau mau nanti kita baca suratnya lagi di mesjid bagaimana?" Tanya Bu Kodarsih yang cemas.


"Iyahin aja Bu Rita supaya perjalanan pulang ke rumah lebih aman. Sepertinya ada yang iri sama Ibu makanya kata Bu Kepala Sekolah, ibu dikirim tenung," kata guru yang lainnya.


"Oke deh. Tapi makan dulu ya supaya ada tenaga," kata Rita memegangi perutnya.


"Ayo deeeh," guru lain memeluknya sambil tertawa.


Kemudian mereka semua sampai di sebuah cafe yang sangat nyaman dan memesan minuman dan makanan sambil menunggu, mereka bercanda dan membahas senam. Lalu Ney membalas lagi dengan pertanyaan yang sama karena Rita sudah malas dan enek juga, dibeberkan lah semuanya.


"Ney, jangan pernah main api denganku. Aku tahu kamu pelakunya soal apa yang aku alami sekarang. Kamu berkali - kali mempertanyakan hal yang sama, curiganya kamu kirim tenung ke aku ya. Ada yang bisa melihat kamu yang lakukan. Ingat ya kesabaran aku ke kamu sekarang ada batasnya. Ukuran kepercayaan kamu, mulai menurun aku gambarkan layaknya petasan yang sekarang mulai terbakar perlahan sampai habis. Itulah Ukuran batas kesabaran aku sama kamu! Jangan sampai petasan itu habis karena ulah kamu sendiri. Kamu yang akan menyesal!" Kata Rita lalu mengirimkannya pada Ney melalui grup. Supaya Arnila juga melihatnya.

__ADS_1


ketikannya terkirim dan tercentang biru artinya mereka sudah membacanya. Hanya Arnila yang membalas dengan stiker terkejut setengah mati sedangkan Ney sama sekali tidak membalas. Tapi Rita yakin Ney saat ini sedang gelisah apalagi panik! BODO!


BERSAMBUNG ...


__ADS_2