
Akhir - akhir ini penyakit jantungnya jarang kambuh mungkin karena banyak lepas tertawa dan mulai bisa tersenyum lagi. Ya, semenjak dirinya kenal Rita hari - harinya menjadi lebih cerah setiap hari pun ibunya selalu melihat ada perubahan. Dalam hatinya, ada keraguan mengenai Rita akankah perempuan itu bisa terus membuat anak kesayangannya bahagia, mengingat semua perempuan yang pernah bersamanya berakhir mengenaskan. Bukan dibunuh atau mereka bunuh diri tapi berkhianat, berselingkuh di belakangnya.
Ibunya tahu benar Alex sudah kepalang sayang pada Rita tapi apakah Rita benar - benar tulus sayang kepada anaknya itu. Semua yang sudah tahu keluarganya seperti apa, sontak berperilaku memuakkan. Ibunya hanya bisa menerima apa yang anaknya sukai termasuk dengan beberapa perempuan yang tal disukai oleh ibunya. Tapi kalau soal Rita, ibunya tidak bisa berbuat banyak benarkah dia berjilbab atau hanya hiasan saja, dulu pun masih ingat di dalam pikirannya. Seorang perempuan yang manis kelakuannya yah didepannya dan berjilbab pula, tapi ibunya mendapat keyakinan dia bukan perempuan baik.
Benar saja setelah jadi dengan anaknya, kekasihnya itu membuka kedoknya. Dia membuka kerudungnya dengan alasan agar Alex tidak menyukai perempuan lain. Dia mulai memoles wajahnya dengan berlebihan, memang sih menjadi cantik dan imut tapi perilakunya semakin menjadi - jadi. Pakaiannya serba terbuka katanya, agar Alex tidak melirik perempuan lain dia mengubah semuanya menjadi seksi. Tapi untungnya Alex menyadari sesuatu, pakaian atasnya berubah menjadi semacam bikini memperlihatkan isi buah dadanya, bukannya Alex semakin sayang malah menjadi muak.
Semasa pacaran pun, Alex tidak diijinkan untuk berkumpul dengan teman - temannya. Kalaupun harus karena ada urusan, saat bertemu mereka Alex mengatakan kalau dia harus berpakaian yang sopan. Kekasihnya menjawab ya, tapi setelah tahu temannya ada beberapa perempuan, kekasihnya terbakar cemburu dan datang dengan tampilan yang lebih mirip seperti wanita jalanan yang biasa melayani pria hidung belang.
Alex pun kaget dan menyuruhnya pulang. Semua temannya kaget termasuk yang perempuan lalu mereka saling berbisik. Ya, tahulah perempuan jalanan yang mencari mangsa seperti apa dan Alex sudah cukup muak dengan kelakuannya. Selama berbicara, dia menyilangkan kedua kakinya menempel kepada Alex. Teman lelaki Alex hanya berdehem kepadanya memberi tanda. Kemanapun Alex pergi, kekasih itu terus mengekorinya dia bahkan tidak bisa berbaur dengan orang lain.
Paling memalukan adalah saat Alex berbicara seru dengan beberapa teman perempuan yang dimana adalah sebagian pacar teman lelaki dan sebagiannya lagi mereka adalah seorang istri. Kekasihnya melabrak mereka begitu saja tanpa ada peringatan.
"Tolong ya tahu diri, Alex ini pacar saya jangan dekat - dekat." Katanya sambil terus memegang tangan Alex.
Tentu saja mereka langsung menjauhi Alex dan Alex sangat kesal. Sampai suatu waktu, teman lelaki yang paling dekat yaitu Ion dan Xia datang menghampirinya setelah melihat kekasihnya tidak ada di sana.
"Bro, pacar lu parah banget!" Kata Ion sambil melihat situasi.
"Ahh aku tidak mengira dia akan begitu," kata Alex sambil mengacak - acak rambutnya.
"Kamu ketemu di mana sih? Meski kamu playboy tapi kebangetan deh dapat mangsa seperti itu," kata Xia yang lihat keadaan juga. "Sekarang dia kemana?"
"Tahu! Sudah bete aku. Kalian lihat kan penampilannya?" Tanya Alex yang menggelengkan kepala.
"Lu bulan depan jadi balik?" Tanya Ion minum alkoholnya.
"Minggu depanlah. Bosan aku di ekori tuh cewe," kata Alex yang minum jus jeruknya.
"Gila itu make up. Mau tampil seperti apa sih? Malah jadi seperti perempuan murahan tahu ga," kata Xia tertawa keras.
"Lu disamperin perempuan murahan. Ada - ada saja, carilah yang lebih bagus lagi maksud gue yang sifatnya lebih terhormat," kata Ion yang menyimpan gelasnya lalu mengambil puding.
"Tapi semua perempuan yang dekat sama dia memang berubah tampilan dan perilaku sih. Coba deh lu cari yang Real berjilbab supaya sifat liar lu bisa berubah jadi lebih adem," kata Xia yang membetulkan kerah baju Alex. Xia memang ada hati untuk Alex tapi dia tahu kalau Alex sebenarnya hanya menganggapnya sebagai seorang adik.
"Iya, dek. Makasih," jawab Alex membuat Xia mengacak rambutnya.
"Ciii asyik banget dimanja sama Xia sayang kamu menganggap Xia sebagai adik," kata teman yang lain datang menghampiri.
Saat tahu kekasihnya tidak ada, mereka mulai mengajaknya berbicara dan bercanda. Suasana pun semakin hangat dan akrab, lalu kekasihnya kembali saat itu ternyata dia membenarkan menambah volume make up-nya dan terkejut Alex sudah banyak dikelilingi oleh teman - temannya apalagi saat melihat tangan Xia yang menggantung di bahu Alex. Kekasihnya marah membara dan menghampiri Alex dengan penuh emosi.
__ADS_1
Salah satu temannya memberi lambaian tangan kalau kekasih Alex kembali dengan wajah yang marah. Beberapa orang lebih memilih langsung mengungsi. Xia melihat ke belakang dan melihat kekasihnya menatapnya dengan sengit.
"Xia, tangan lu," kata Ion. Xia lalu melepaskan tangannya dari bahu Alex.
"Sorry, jangan salah paham dulu ya.. Aku dan Alex hanya..." kata Xia yang ingin menjernihkan kondisi.
Kekasihnya datang lalu mendorong dengan keras sampai Xia jatuh kebelakang untung saja dengan sigap semua temannya menahan tubuh Xia mengenai lantai. "JAUHI ALEX GUE!"
Alex sudah tidak bisa tinggal diam lagi, dia mendorong menyingkirkan kekasihnya itu dan memastikan Xia baik - baik saja. "Lu tidak apa - apa kan? Apa mau kamu sih!?"
"Iya gue tidak apa - apa. Sudah sudah, aku yang salah maaf kita tidak seperti yang kamu pikir kok. Aku adiknya dia. Yuk guys kita tinggalkan mereka supaya bisa selesai," kata Xia menarik tangan teman - temannya.
"Cih, sombong banget baru juga pacarnya. Bro, kalau lu sama dia buat jadi istri lebih baik lu cari lain deh. Perempuan seperti dia ujungnya sama saja hanya harta yang dia bawa," kata beberapa temannya yang kemudian pindah ke tempat lain.
"Apa sih mereka itu. Kamu kenapa sih dekat mereka terus? Aku kan pacar kamu!" Kata kekasihnya dengan wajah yang mau menangis.
Alex lalu menarik tangannya dan berjalan ke luar cafe untuk menjelaskan semua ketidaksukaannya. "Mereka semua teman gue yang selalu ada buat gue di saat gue jatuh. Kamu tidak tahu apa - apa apalagi kamu ini semakin hari semakin buruk sikapnya! Kamu berbohong ya soal kamu ini berjilbab. Sekatang seperti ini kamu yang sesungguhnya. F......!" Kata Alex marah.
Kekasihnya lalu kaget mendengarnya selama ini Alex selalu lembut kepadanya tapi tiba - tiba berubah. "Ya aku sudah sayang banget sama kamu makanya aku menjaga hubungan kita. Aku.... memang berkerudung kok," katanya menundukkan kepalanya.
"Tapi bagi saya kamu tak berkerudung sesuai hati hanya untuk hiasan penampilan saja guna menipu saya dan keluarga. Benar kan? Lalu apa ini? Baju semua terbuka, kamu nih mau jual diri ya. Malu saya!" Kata Alex memandangi dirinya. Memang sih se-playboy dan keparatnya Alex tapi tetap saja dia juga ada ingin dihormati.
"Cukup! Saya sepertinya sudah tertipu dengan tampilan kamu saja. Saya sekarang tahu bagaimana rasanya saat terlalu sayang seseorang. Aku ini benar - benar senang saat kamu memakai kerudung, perilaku manis dengan tutur kata yang lembut. Tapi kenapa kamu sampai berubah sedramatis ini? Dimana sikap lembut kamu yang membuat aku tertarik?" Tanya Alex yang kesal.
Kekasihnya menangis mendengar hal itu. Sama sekali tidak menyangka bahwa Alex lebih menyukai kepribadian dirinya yang menurutnya sangat jelek. Beberapa temannya serta Xia memandangi mereka dari jauh tampaknya kekasih Alex menyesal sudah merombak segalanya hanya demi penampilan cantik.
"Dan saya tidak suka riasan wajah kamu. Seperti badut dan saya malu sekali membawa kamu kemari bertemu teman - teman. Padahal saya sudah membanggakan kamu dihadapan mereka," kata Alex yang menutup wajah dengan kedua tangannya.
Kekasihnya menangis terus menerus, riasannya pun rusak saat itu juga memperlihatkan wajah aslinya. "Maaf Alex, aku akan ubah semuanya tapi jangan lirik yang lain. Aku tidak suka,"
"Selama ini kamulah yang menyetir saya. Saya beri kamu apa saja, apa kamu pernah memikirkan diri saya? Mereka teman - teman saya terutama Xia, saya menganggapnya sebagai adik saya. Perilakunya mengingatkan saya pada adik saya yang telah tiada. Apa salah? Saya lama tak bertemu mereka, sedangkan kamu? Selama keluar bersama teman setiap waktu, saya? Kamu kurung saya di rumah!" Teriak Alex yang sudah tidak membendung lagi kekesalannya.
"Tampaknya Alex audah tidak bisa ditahan lagi deh, Xi. Kamu tidak kesana saja?" Kata kekasihnya yang sekaligus tunangannya. Tentunya tunangannya sudah lama kenal Alex.
"Bagaimana ya? Aku takut jadi semakin keruh," kata Xia.
Lalu kembali ke tempat Alex dan kekasihnya. "Baju kamu ini sama sekali tidak aku suka meski ya memang tubuh kamu montok aku agak jadi terbawa tapi bukan soal "kepuasan" yang aku maksud. Karena aku ingin seorang perempuan yang bisa membawaku ke jalan lebih baik. Karena aku mencari seorang CALON ISTRI," kata Alex menebalkan 2 kata terakhir.
Mendengar itu, kekasihnya kaget selama berhubungan dengannya Alex tam pernah mengatakan apapun. "Kamu tidak pernah bilang kalau saja kamu bilang..."
__ADS_1
"Untuk apa saya bilang? Saya ingin tahu kamu yang asli. Kenal kamu, perilakumu yang itu yang saya sukai tapi kenapa hanya beberapa komentar saja kamu jadi mengubah diri kamu seperti ini? Apa ada saya bilang kamu jelek? Meski kamu tak pernah berhias? Saya suka kamu yang biasa. Kalau mau mengubah ya silakan tapi tidak semuanya kamu ubah," kata Alex menyayangkannya.
"Saya hanya ingin kamu tidak kecewa makanya saya pikir saya harus mengubah semuanya. Maafkan aku ya, aku janji akan berubah. Sungguh! Kamu jangan lirik siapapun ya. Janji?" Tanyanya sambil memperlihatkan jari kelingkingnya yang imut pada Alex.
Alex menggenggam tangannya dan memberikannya saputangan yang dia punyai. "Hapus riasan kamu ini dan kita sudahi hubungan kita sampai disini. Soal kamu dan keluarga kamu pun saya lihat kita tidak pernah cocok. Saat kamu cerita soal aku ke mereka mereka memandang aku sebagai lelaki yang sederajat dan mereka bertindak angkuh kepada orang lain sama dengan kamu sebagai anak mereka,"
Kekasihnya kaget lagi, ternyata Alex bisa dengan cepat menyadari semuanya. "I...itu..."
"Kita ini masih pacaran belum jauh. Kita baru berhubungan selama 5 hari tapi Allah langsung memperlihatkan padaku bagaimana sikap kamu dan keluarga. Teman kamu pun banyak yang punya niat buruk sama kamu, teman yang selama ini kamu selalu ajak keluar sebenarnya hanya ingin memanfaatkan. Mereka tahu kamu selalu diberi uang banyak sama aku, apapun kamu minta aku selalu beri. Kamu tahu? Mereka memberikan surat cinta kepadaku. Hanya seorang yang menyalahkan ku menyebabkan keadaan kamu menjadi berubah," kata Alex.
"Siapa yang menyalahkanmu? Aku kok yang mai berubah bukan dia!" Katanya sebal. Masih dengan memegang saputangan Alex yang mahal itu.
"Sahabat kamu sendiri, Siska. Hanya dia seorang yang bilang padaku karena aku, dia kehilangan sahabatnya. Dan berpaling ke teman - teman yang menurutnya lebih berstandar daripada dirinya. Kamu tahu, kamu sudah membuang teman yang lebih berharga daripada emas. Ke depannya semoga kamu bisa menjadi diri kamu sendiri tanpa mendengarkan komentar yang tidak penting. Saputangan ku kenang - kenangan buat kamu." Alex menatap saputangannya yang sama sekali tidak bernoda, kekasihnya itu genggam erat kain putih yang Alex miliki.
"Aku akan berubah. Tolong beri aku kesempatan lagi! Alex!" Teriak kekasihnya yang terus mengejar tangannya.
"Alex, kabarnya lu pulang ke Jepang? Bukannya ke Malaysia dulu?" Tanya beberapa teman perempuannya.
"Tidak jadi, aku harus berangkat ke New York minggu depan. Ayahku mengirimkan tiket ke sana untuk urus beberapa urusan tadinya aku mau membelikan oleh - oleh dari sana untuk seseorang tapi sudahlah." Katanya dengan suara parau. Teman - temannya memeluknya, Alex kalau sudah terlalu sayang seperti itulah dia tapi kebanyakan perempuannya yang kemudian lupa diri. Merasa sudah pasti memilikinya padahal Alex pun punya pertimbangan sendiri.
Kekasihnya yang mendengar dari jauh, membulatkan penuh kedua matanya dan berbalik menatap Alex. New York?! Dia menganga kemudian memutuskan sesuatu dia pulang dengan tergesa - gesa. Alex memandanginya dari kejauhan pastilah dia akan mulai merongrong dirinya lagi untuk menjadi pacarnya lagi tapi baginya sudah selesai.
Beberapa hari sebelum keberangkatannya, sekali lagi dia ingin berjalan berkeliling dengan beberapa sahabatnya. Saat dirinya tengah mengobrol dengan Xia dan Ion, dia menerima sms dari mantannya yang ingin bertemu dengannya. Kedua sahabatnya ikut membaca dan memberi saran lebih baik jangan ditanggapi. Tapi Alex ingin tahu apa yang ingin disampaikannya, tentu saja mereka berdua menemaninya.
Mereka bertemu di suatu tempat. Mantannya itu datang dengan Siska tapi wajahnya seperti terpaksa dan Alex tahu Siska tak suka kepadanya. Ion dan Xia menunggu di tempat lain tidak ingin mengganggu. Alex memandang mantannya yang kini sudah berkerudung lagi tapi tetap dengan dandanan wajah tapi tidak tebal.
"Alex, aku berkerudung lagi. Aku sadar aku yang minggu kemarin memang salah. Kamu mau kan menerima aku lagi? Aku tidak akan membuat kamu kecewa lagi. Aku janji," katanya memandang penuh harap pada Alex.
Alex tertawa menatapnya sambil memasukkan kedua tangannya dan menolak disentuh oleh mantannya itu. "Mbak, berubah itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saya antar kamu pulang ya." Kata Alex dan menghubungi temannya.
Kekasihnya itu terdiam lalu tersenyum, Siska mendelik dia sudah malas dengan temannya lalu pergi beranjak dengan temannya sendiri yang sudah menunggu. Tampaknya mereka berdua sudah tidak saling terkoneksi. Terbukti dengan melihat Siska pergi pun mantan Alex tidak peduli, yang penting kini Alex sudah mau menerimanya lagi.
Alex membawa mobilnya yang mantannya tak pernah lihat. Mobil mewahnya yang baru tiba di Indonesia, yah dia memang sengaja sih membuat mantannya menyesali keputusan dia mengubah dirinya menjadi murahan. Mobil W Motors Lykan Hypersport, mobil ini tidak dijual di Indonesia melainkan hanya ada di luar negeri. Kereeeen sumpah deeeh semua orang melihat mobil tersebut dan menahan wajah terpana mereka.
Alex membuka pintu dan mempersilahkan mantannya untuk naik, dia tampak terkesan dengan memegang semuanya. Dia laku menaiki mobilnya dan melambaikan tangan pada keduanya. Xia dan Ion sempat melihat wajah mantannya yang terlihat sangat sombong.
"Tidak tahu dia kalau hari ini adalah hari terakhir melihat Alex dan kemewahannya." Kata Xia sebal. Ion setuju dan mereka menunggu di sebuah restoran.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1