ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
6


__ADS_3

"Ya maksud aku bukan begitu," ketik Ney membela diri.


"Berhentilah melemparkan kesalahan kamu sendiri ke semua orang. Bukan salah Alex, tapi kamu sendiri yang tidak menolak. Kalau kamu benar-benar peduli, benar-benar sayang Rita seharusnya kamu galak sama Alex. Bukan malah ikut menyerang. Biarkan Rita hidup bahagia dengan siapapun!" Kata Arnila dengan tegas.


Ney membaca, memang ada rasa kesal karena Arnila tidak mau sependapat dengannya. Apalagi sekarang jalan mereka sangat berbeda. Kemudian Ney mencoba taktik lain lebih membuatnya merendahkan diri.


Ney :


"Oke Rita aku hargai keputusan kamu. Tapi kalau kamu sudah memaafkan aku, kita bisa seperti dulu lagi kan? Kamu masih ingat tidak kalau kita pernah makan bersama di restoran Cina? Itu kan kocak banget ya. Padahal aku kan sudah beritahu kalau itu resto untuk orang Cina."


Rita yang membacanya keheranan. Restoran Cina? Lah, kan dia sendiri yang maksa ke sana. Benar-benar deh nih anak otaknya harus diperiksa.


Rita :


"*Hah? Bukannya ketukar ya jangan mulai lagi deh penyakit halu kamu, Ney. Itu kamu sendiri yang maksa, bukan aku.


Jelas-jelas ya aku bilang sama kamu kalau itu untuk orang Cina saja. Tapi apa kata kamu? Kamu memaksa karena ada waiters yang ganteng dan memaksa kita bertiga masuk.


Tolong ya kamu periksakan deh isi kepala kamu supaya tidak tertukar yang mana kenyataan dan yang ilusi. Memang sangat lelah ya berteman sama kamu! Baru sadar aku*."


Rita mendengus. Sebal sekali! Bisa-bisanya dia mengaku-ngaku! Kebiasaannya begitu, entah kenapa dia baru sadar kalau Ney selalu menempatkan dirinya pada cerita yang dia dengar.


Sedang kesal, datanglah beberapa teman kerja Rita sambil membawa mangkok yang lain.


"Bu Rita masih lapar kan? Aku cari-cari lho, nih Bu kepsek belikan kita baso tahu. Makan ya, ada kol juga kesukaan Bu Rita," kata Bu Anas meletakkan mangkok.


Rita membelalakkan kedua matanya dan menganga. "Bu, memangnya aku Doraemon perutnya bisa dimasukkin apa saja? Buuu!!" Teriak Rita, mereka cepat-cepat kabur.


Ney membacanya, dia agak kaget apa yang Rita katakan. Tentu tidak percaya dalam otaknya memang dia yang menolak. Lalu dia mencoba bertanya pada Arnila karena membaca 'Mereka Bertiga', seingat dia hanya berdua dengan Rita.


"Nil, aneh deh si Rita. Ih, kenapa ya itu anak?" Tanya Ney dalam chat.


"Hm? Ada apa lagi sih? Kenapa lagi si Rita?" Tanya Arnila sebal.


"Iya masa dia bilang soal masuk resto Cina itu aku yang memaksa? Lah aku ingat banget kok justru si Rita yang ingin coba makan disana," kata Ney sambil tertawa.


"Resto Cina? Oooh!" Arnila ingat! Dia kan memang ada bersama mereka juga dan memang benar apa kata Rita.


"Iya memang benar kamu yang memaksa masuk. Kan Aku sama Rita cari tahu lalu menolak hanya kamu melihat waitres disana ganteng-ganteng. Kamu tidak ingat kalau orang Cina sama sampai memandangi kita? Ya kalau Rita sih tidak aneh karena mata memang sipit kan," jelas Arnila.


Ney menganga dan dia memijat kepalanya. "Serius? Rita kok yang maksa," tetap keukeuh kata Ney.

__ADS_1


"Makanannya juga kebanyakan Harom, Ney mereka kan sampai nanya kita mau apa disana. Aku sama Rita hanya pesan jus buah karena masih halal. Ya kamu dengan tenangnya makan makanan mereka. Kenapa? Kamu delusi ya mengingat yang sebaliknya?" Tanya Arnila membuat Ney terdiam.


"Kamu juga beneran ada? Bukannya hanya ada aku dan Rita?" Tanya Ney sebal. Nih anak memang agak-agak deh, heran juga Rita bertahan sama orang aneh seperti dia.


"Yah, aku sudah biasa kok kalau kamu sering tidak menganggap aku ada. Yang aku curiga itu setiap ada Rita, kamu tidak anggap aku ada disitu. Tapi kalau kamu kecewa sama Rita, kamu biarkan dia sendiri dan pindah ke aku. Ney, orang seperti itu memang tidak aneh kalau akhirnya tidak punya teman," jelas Arnila lagi.


"Aku kan hanya bertanya," kara Ney agak panik.


"Sudahlah Ney, kamu perlu pergi ke dokter mereka yang bisa menolong. Bukan aku atau Rita, kalau semakin lama kamu seperti ini kasihan anak kamu dan suami," kata Arnila yang sudah lebih tahu penyakit soal Ney.


Ney mendengus, kesal dan enggan membalas chat Arnila lagi. Sekarang yang paling penting adalah agar dia bisa menjadi teman dekat Rita, atau yah, teman biasa saja deh tidak apa-apa.


Rita :


"*Seperti dulu? Berteman seperti aku masih bego lalu kamu injak-injak? Kamu pintar bercanda ya, tidak ada alasan bagi kamu untuk kembali berteman dengan aku seperti dulu kala. Kenapa?


Pertama, sudah terlambat kamu mengakui salah setelah 2 TAHUN. Aku heran ya sebesar itu gengsi kamu mengakui kamu yang salah*?


*Atau sebenarnya kamu terpaksa mengaku salah supaya bisa korek info lagi? Misalkan soal Alex. Tidak Ney, kamu tidak pernah tertarik soal aku melainkan Alex. Kenapa?


Aku tahu karakter kamu seperti apa, aku mempelajari Psikologi sewaktu kuliah dan orang seperti kamu itu bukan tipe yang memiliki hati lembut*.


Lembutnya tutur kata dan tingkah kamu itu karena ada sesuatu yang bisa menguntungkan kamu dan aku sangat benci hati orang seperti itu.


Tanya deh ke Arnila, aku yakin dia juga sudah banyak menjelaskan ke kamu soal kesalahan kamu seperti apa. Dari situ perbanyak istigfar dan bercermin.


Selama 2 tahun ini saat kamu tidak berada di sekitarku, aku sangat legaaaaa sekali. Intinya? Aku tidak butuh kamu ada! Jadi jangan cemas, aku tidak pernah merindukan kamu sama sekali. Kamu Toxic."


Ney yang membacanya menampakkan wajah yang sedih lalu menangis. Dia hapus dan menangis lagi, begitu seterusnya. Kemudian dia mengetik.


Ney :


"Tapi kenapa kamu mendekati aku sewaktu SMP? Kalau memang tidak suka aku, ya jangan dong."


Kata Ney mengusap air matanya lagi.


Rita :


"Karena kamu terlihat kesepian, semua orang satu kelas tidak ada yang menyukaimu. Bahkan fisik kamu saja diejek kan soal totol-totol karena campak. Aku juga punya,setelah itu kamu kan menolak dan lama-lama kamu sendiri yang mendekati aku.


Ya aku sambut sebagai teman, apa salah kalau aku berteman dengan siapapun termasuk kamu? Tapi sayang sekali ujungnya harus begini, bahkan kamu juga rebut Alex."

__ADS_1


Ney :


"Rita, kita mengobrol yuk di WA daripada email jadi kita bisa lebih leluasa daripada di email."


Rita menggeleng. "Amit-amit deh chat sama dia lagi," gumamnya menghela nafas.


Rita :


"Aku lebih suka disini."


Ney :


"Itu hanya untuk memanasi kamu saja kok aku tidak bermaksud merebut. Kamu cemburu? Hahaha baru kali ini aku bisa lihat kamu cemburu. Harusnya aku lebih banyak dan lama melakukannya ya."


Rita :


"Kamu yakin? Senang ya? Puas ya mempermainkan orang, tidak seperti kamu yang dipermainkan akan marah-marah. Untuk pengetahuan kamu saja ya yang tampaknya minim ilmu soal Teman. Teman baik itu tidak akan pernah memanasi teman baiknya sendiri. Dia akan bersifat netral karena tidak mau menyakiti temannya dan orang lain.


Mau aku atau Alex, tugasnya menjernihkan masalah, memberikan solusi. Kamu? Memilih merundung aku. Mengerti bedanya kamu dan si teman baik? Kamu merundung hanya karena kepribadianku tidak baik.


Coba kamu pikir ya baik-baik selama ini berapa orang yang jadi sahabat kamu. Ada? 10? 5? Hanya Arnila kan yang mampu bertahan dengan ego besar seperti kamu. Kasihan."


Ney membelalakkan kedua matanya dan memutar ke arah lain. Dia menahan amarah dan kesal dengan yang Rita kirimkan. Memang benar hanya Arnila yang masih bisa tahan tapi kini tidak.


Rita :


"Arnila saja aku yakin masih punya banyak sahabat selain kamu. Aku juga punya, Ney tobat lah kamu ini hentikan kebiasaan kamu yang menempatkan diri sendiri di cerita orang. Memalukan tahu tidak kalau kebenarannya diketahui.


Sadari apa yang membuat banyak orang menjauh dari kamu. Sekarang aku tahu kamu akan berpikir aku sok tahu atau hal lain. Kalau kamu tobat, dan tidak berhubungan dengan ghaib, rasanya legowo dan kamu bisa menerima semua yang terjadi."


Ney masih sebal membacanya, dia mengusap wajahnya. Lagi-lagi Rita mengirimkan email yang isinya panjang. Beberapa kalimat dia lewati karena tidak mau membacanya.


Ney :


"Kamu mau kan jadi teman aku lagi? Aku janji sama kamu, kali ini aku tidak akan pernah kepo lagi soal kamu atau Alex. Aku akan dengarkan apapun masalah kamu, apapun yang kamu ceritakan aku akan dengarkan! Jadi kita teman lagi ya seperti dulu.


Oke? Aku tahu kok kamu sebenarnya masih butuh bantuan aku kan. Hanya kamu malu saja, ya ampun Rita kok seperti yang gengsi sih? Aku sudah tidak apa-apa kok, jadi kamu jangan cemas lagi ya. Aku juga senang bisa kontak sama kamu tapi aku lebih berharap bisa ketemu lagi."


Rita yang membacanya merasa merinding karena dari tadi dia sama sekali belum membalas. Dan sepertinya Ney sedang bicara sendirian dalam pikirannya.


Rita yakin Ney enggan membaca apa yang dikirimnya tadi, SELALUUUU begitu makanya tidak heran Rita sekarang muak. Ney memang sangat malas membaca, alasannya memang dia tidak bisa tahan dengan bacaan yang terlalu panjang.

__ADS_1


Okelah, tapi kalau orang lain pasti melihatnya juga malas jadi lebih baik pergi saja. Seharusnya dia bisa lebih mengubah soal hal itu, membuat dirinya bisa diterima oleh orang lain.


Bersambung ...


__ADS_2