ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
415


__ADS_3

"Ya Allaaah si Ney buat apa chat sahabat kamu segala sih?" Tanya Arnila menghela nafas tapi masih tertawa membaca kalau Ney diancam di jotos.


"Yaaa jangan tanyalah. Kamu pasti tahu kan, sepertinya bukan aku saja deh," kata Rita tertawa.


"Tidak Rita, itu hanya kamu saja. Teman aku tidak ada kok yang dia add," kata Arnila.


"Serius? Coba deh kamu cari tahu dulu di akunnya, soalnya dia juga tidak ada pemberitahuan," kata Rita.


Arnila lalu mencoba mencari teman-temannya di akun Ney. Tapi memang tidak ada temannya atau teman yang lain. "Tidak ada. Hanya kamu saja deh," kata Arnila heran.


"Lah, kenapa ya?" Tanya Rita.


"Iri bisa jadi terus kamu pernah cerita soal menolak dan ditolak kan. Dia add mereka kan? Kalau kamu punya foto mantan teman kamu,coba kirim sini. Tenang ini murni aku yang ingin tahu supaya bisa beri kamu alasannya dia begitu," kata Arnila.


"Ada sih sebentar," kata Rita lalu mengirimkan 4 foto lelaki dan teman lainnya.


Arnila memperhatikannya. "Ya pantaslaaah dia kepo add mereka. Kamu pasti tahu banget soal 2 lelaki ini," kata Arnila menepuk jidatnya.


"Tahu karena paras mereka yang Arab kan? Yang satu ini tinggi dan badannya tegap, yang satunya tinggi agak kurus," kata Rita.


"Mereka ganteng tapi kalau disetarakan dengan Alex sih ya kalah telak. Tapi yang aku lihat memang kamu tidak memprioritaskan fisik sih, wajah ganteng juga bukan yang kamu cari. Mereka sudah kerja?" Tanya Arnila mengacung jempol kan ke ponselnya pada Rita.


"Sudah. Yang satu itu direktur perusahaan di Swiss, yang satunya lagi sebagai desainer sesuatu begitulah," kata Rita dengan biasa.


Arnila kaget padahal mereka bonafit sekaleeee.. pantas saja si Ney mengejar mereka berdua. "Ya elah, kenapa kamu tolak?" Tanya Arnila


"Mereka kalau bercanda garing. Malas aku," kata Rita membuat kedua mata Arnila mengecil kerikil.


"Oh, begitu ya," kata Arnila lalu tertawa keras.


"Aku lebih suka orang yang bisa bercanda membuat aku banyak ketawa. Supaya awet muda, Nila tanpa perlu obat. Aneh?" Tanya Rita.


"Tidak, tidak ya sudah kalau kamu tidak suka atau karena mereka tidak bisa bercanda. Tapi mereka menerima?" Tanya Arnila belum bisa berhenti tertawa.


"Ya makanya aku blok. Mereka memaksa banyak bicara," kata Rita mengingat kejadian itu. Ibunya langsung marah besar saat tahu mereka berdua Rita tolak begitu saja. Itulah alasannya juga ibunya agak nyelekit kepadanya sampai sekarang.


"Terus dua perempuan ini kenapa kamu blokir?" Tanya Arnila keheranan.


"Teman mereka berdua. Aku suruh mereka saja yang jadi kekasih tuh orang. Eh malah akhirnya berantem katanya mereka bukan tipe lelaki itu. Yo wes aku blokir juga. Malas ah!" Jawab Rita membuat Arnila lebih banyak ketawa.


"Yah hahahahaha aduuuhhh sakit perut. Ney berusaha mendekati mereka tapi ya aku setuju sih dia kurang sadar diri. Di blokir karena alasannya ya kamu juga tahu kan," kata Arnila masih tertawa geli.


"Berkali-kali kan aku bilang ke dia "Lu sadar diri dong lihat dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki, sadar kenapa mereka banyak menolak dan hanya Dins yang oke." Ya itu masa aku harus nyeplos nyablak kasih tahu secara fisik?" Tanya Rita.


"Iya sih dia tuh terlalu over kepedean, Rita. Tidak menyadari ya sisi itu," Kata Arnila masih tertawa pedas.


"Tidak akan ada akur deh Nila. Karena kelakuan teman kamu nih memang minus jauh hari. Aku jadi menyesal sekarang yang sudah banyak belain dia di keluarga dan orang lain. Tahu seperti ini ujungnya mah dari dulu sudah aku tendang," kata Rita membalas di grup. Bodoh amat kalau Ney menangis atau apapun!


"Iya ya kalian memang tidak ada chemistry yang sama sih. Yah yang penting kita bisa mengobrol meski saling tegang. Jangan soal Alex lagi deh, soal lain saja," kata Arnila berharap penuh meski kesempatannya 1%.


"Aku sih oke," kata Rita.


"Aku juga oke," jawab Ney akhirnya.


"Memang bagusnya begitu memangnya hanya ada judul soal Alex saja," kata Rita memang paling setuju.


"Oke deh sekalian aku mau bicarakan nih aku dapat bingkisan lhoooo," kata Ney gembira apalagi saat tahu dengan nama pengirimnya Alex. Dia memfoto semuanya dengan bungkusan hitam.


Rita sudah tahu bingkisan itu dan pura-pura kaget dan penasaran.


"Wah, asik tuh paket apa?" Tanya Arnila penasaran.


"DARI ALEX LHOOOO," balas Ney kegirangan dan tentu saja berharap Rita cemburu.


"Eh, serius?" Tanya Arnila kebingungan.


"Selamat yaaa," kata Rita mengirimkan tepuk tangan.


"Kok? Kenapa dia kirim ke kamu bukannya Rita?" Tanya Arnila aneh.


"Ya mana aku tahu mungkin dia sudah bosan kali sama Rita jadinya kirim COKELAT ke aku deh. Aku kan lebih berkualitas ya dan PENGERTIAN," kata Ney dalam chatnya sambil dengan gembira membuka paketnya itu.


Lalu Ney membaca surat kecilnya yang entah itu tulisan Alex atau dituliskan seseorang.


"Sebagai permintaan maaf telah membawa kamu ke dalam masalah yang cukup sulit. Saya salah membuat kamu ikut saran saya, dan Rita juga menjadi menderita. Saya sudah meminta maaf ke Rita, kamu kapan? Karena seharusnya kamu lebih dulu meminta maaf karena kamu temannya kan? Ataukah saya salah? Ke depannya jangan menyusahkan lagi dia, dia sudah mau ikhlas menjadi teman kamu meski saya tahu dalam hati kamu, kamu tidak pernah memerlukannya sejak kenal dengan Rita. Jangan memanfaatkannya lagi kalau kamu memang tidak ada niat baik dengannya. ~Syakieb~


Ney membacanya dan terdiam ternyata Syakieb lah yang menulisnya bukan Alex. Ney terdiam lagi pada kalimat yang ditulis itu, seharusnya sebelum Alex meminta maaf dia duluan yang maju. Kalau memang teman harusnya sadar kalau memang salah tapi sampai Arnila pun, tidak ada rasa bersalah pada Ney.


Tetap saja Ney merasa dia tidak bersalah Dan membuang kertas tulisan itu ke tempat sampah. Lalu dia buka kotak kecil dan terdapat beberapa cokelat, dia kecewa isinya tidak seperti yang pernah dia lihat pada Rita.


"Kamu tidak bertanya pada Alex?" Tanya Arnila dalam grup.


"Tidak usah. Cerita dong cokelatnya," kata Rita.


"Dia kirim cokelat dooong so sweet kamu tidak iri nih? Tanya dong ke Alex apa maksudnya gitu. Gih," kata Ney sengaja memancing.


"Tidak apa-apa kan hak dia mau kirim cokelat ke siapa saja. Kamu dapat Arnila?" Tanya Rita.


"Alex kirim cokelat juga buat kamu?" Tanya Ney yang terhenti. Dia agak kecewa ternyata cokelatnya bukan termasuk istimewa.


"Tidak ada tuh. Aku kan tidak kenal dekat, Rita. Menurutku kamu harus terima kasih deh ke Rita, kan Alex kenal kamu ya dari Rita," kata Arnila. Tapi tidak dibalas oleh Ney.


Dia membaca tapi rasa gengsinya terlalu tinggi sehingga melewatkan itu. Arnila bete. "Toh cokelat yang aku terima dulu itu kan lebih banyak dan lebih enak kan," kata Rita mengingat yang dulu.

__ADS_1


"Iya ya aku juga kan dapat. Terus kamu dapat apa sekarang?" Tanya Arnila penasaran.


"Nih, aku lagi buka. Jadi deg-degan, aku kan suka sekali sama cokelat," katanya membuka bungkusan plastik pink lalu melihat 4 silverqueen ukuran kecil, hanya itu.


"Pasti cokelat mewah tuh," celetuk Arnila.


"Ah! Apaan! Norak sekali sih masa hanya segini?" Tanya Ney lalu mengirimkan isinya.


"Kenapa sih kamu? Bersyukur kek mau cokelatnya sedikit atau yang biasa," kata Arnila.


"Ya habis hanya begini saja? Tadi siang aku terima paket, ya ampun ini sih aku sendiri juga bosa beli kali! Beda sekali dengan yang Rita dapatkan," kata Ney melempar cokelat itu ke sembarang arah.


"Ya terima saja kenapa sih?" Tanya Rita menyebalkan. "Kalai tidak suka buat kita saja sini," katanya.


"Iya nih. Malah mengeluh kurang bersyukur sekali sih," kata Arnila.


"Ya pelit sekali sih ke gue. Memang sih makanan buatan aku tidak seenak kamu atau Rita, jadi wajar dapat warisan cokelat yang enak. Tapi ini kan tidak adiiiiil. Apalagi dia kan anak tajir masa beli cokelatnya yang biasa sih," kata Ney mengomel panjang.


"Ya kamu juga memangnya siapa? Pacar? Selingkuh juga coba dulu kamu setia sama dia mungkin akan dapat cokelat berkualitas MEWAH," kata Arnila membuat Ney menangis.


"Mau protes kan dia tidak aktifkan lagi dong inboxnya. Rita, kasih protes dong ke dia," kata Ney.


"Amit-amit," balas Rita yang tidak mau membantunya. Dia sih mau dikasih seberapa murah juga sudah alhamdulillah.


"Ya wajarlah. Yang Alex mau kan dari awal ya masakannya Rita, kita ikut hanya agar ada variasi. Kamu juga kan dapat bagian warisan, Lupa? Berhenti mengeluh deh Ney, aku sudah bosan dan muak! Coba deh kamu bersyukur sekali-kali ya dalam hidup segitu Alex masih mau kirim buat kamu," kata Arnila.


"Ya tapi kan..." kata Ney kemudian tertahan. Arnila tampaknya memang sudah stres menghadapi dia juga.


"Kan kamu sudah banyak terima dari Syakieb dulu terus untuk apa kamu mengomel segala? Kamu juga tidak ada bagi-bagi kan. Aki yakin cokelat itu juga ada campur tangan dari Rita. Benar?" Tanya Arnila karena Rita sampai saat ini cuek saja.


"Maksud kamu Rita yang suruh?" Tanya Ney.


"Tepat! Iya, kan aku cerita ke Alex kamu mengomel jadi ya sudah aku sarankan saja ke Alex untuk kirim cokelat ke kamu. Senang kan," kata Rita senyum jahil.


"Tuh kan benar. Tidak mungkin juga Alex mau kirim barang atau makanan untuk orang yang dia tidak kenal," kata Arnila menebak dengan tepat.


Ney diam membacanya jadi cokelat ini dari saran Rita? Ney menatap cokelat itu dan mengambilnya kembali. Dari situ jelas terlihat Alex lebih patuh pada Rita bukan dirinya. Meski kesal, dia memakan satu dengan mulut yang kesal. Dua lagi dia berikan pada kakak dan adiknya yang disambut senang.


"Tapi kan kurang Rita, kamu minta lagi deh Alex buat kirim cokelat yang lebih enak," kata Ney.


"Yeeeh dasar manusia kurang syukur lu! Makanya dikasih rejekinya sesuka Allah, lah yaa beginian saja masih ngomel. Jangan Rita, lebih baik kamu yang dapat," kata Arnila kesal.


"Ya mana mau lah, Nil. Ogah sekali apa urusannya juga," kata Rita menggelengkan kepalanya.


Ney sebal alhasil dia harus menghabiskan cokelatnya satu. Ya lumayan juga sih kapan lagi dapat beginian?


"Idih kok kamu marah sih Nil? Oh iya ya kamu kan lebih parah lagi sama sekali tidak ada yang beri cokelat hahaha kasihan," kata Ney mengejek.


"Heee kata siapa? Aku selalu dikasih dong sama suami. Setiap dia pulang kerja selalu saja ada oleh-oleh," kata Arnila membanggakan.


"Mana buktinya?" Tanya Ney, dia menyesal sudah membuat tantangan pada Arnila. Toh dengannya kehidupan Arnila juga termasuk mewah.


Arnila mengirimkan sekotak cokelat besar yang harganya fantastis saat Ney mencari tahu. Dia panik sendiri sedangkan Rita lebih melihat cokelat yang tampak lezat itu.


"Itu kan mahal sekali! Kok kamu tidak bagi ke aku sih?" Tanya Ney kesal.


"Mana sempat ini kan saat aku di tempatnya Imron. Sudah habis sih mau aku bagi sudah keduluan diambil banyak oleh keponakan. Maaf ya, Rita," kata Arnila.


"Aku sih tidak apa-apa," kata Rita.


"Ihhh aku kan belum pernah makan cokelat seperti itu, Nil. Jahat!" Kata Ney cemberut.


"Ya mau bagaimana lagi kalau aku bawa juga sudah tidak enak rasanya. Keponakanku yang laki kan penggemar cokelat jadi ya sudah," kata Arnila.


"Ya sudah hukumannya kamu kasih aku cokelat lain saja. Cokelat silverqueen ini tidak enak tapi aku terpaksa menghabiskannya," kata Ney.


"Oh, tidak enak ya karena aku yang minta ke Alex?" Tanya Rita tapi tidak digubris oleh Ney. "Aku sudah kirim kata kamu ke Alex," kata Rita.


Ney kaget. "Dia jawab?" Tanya Ney penasaran.


Rita kirim chat dari Alex isinya : "Dasar kurang bersyukur. Jangan sarankan aku lagi untuk memberinya cokelat lebih baik aku berikan untuk kamu saja. Mau murah atau mahal, kamu pasti makan tanpa protes!"


"Hahaha Alex saja bilang begitu," kata Rita.


"Tampaknya Alex malah menyesal ya," kata Arnila.


"Oh iya kamu makan kan cokelat dari aku waktu itu?" Tanya Ney tiba-tiba.


Rita baru tahu kalau Ney pernah memberikan makanan pada Arnila. Sejak lama mereka berteman, Rita tidak pernah diberikan makanan olehnya. Eh ya ada sih sebuah tas tapi saat dipakai sehari, besoknya tas itu langsung rusak. Tas yang Ney beli di Bali tas yang sama dengan yang sia beli juga tapi entah kenapa, tas yang untuknya langsung rusak.


Lalu Prita mendapati suatu sobekan dan memberitahukan kepadanya kalau sudah ada sobekan melintang dalam tasnya. Jadi... apakah Ney yang melakukannya? Tapi kenapa?


"Oh, kamu dikasih cokelat dari Ney?" Tanya Rita.


"Iya tapi aneh. Kamu niat memberi itu ke aku tanpa ada mantra lain kan, Ney?" Tanya Arnila curiga.


"Oh iya, kan aku juga kasih kamu tas kan Rita. Lihat kan aku ini baik, Rita. Tasnya masih ada kan?" Tanya Ney.


"Nah itu masalahnya, tiba-tiba saja hilang," kata Rita agak aneh.


"Kok bisa?" Tanya Arnila kaget.


"Terus anehnya lagi kamu kasih tas itu ke aku, baru aku pakai sekali langsung rusak. Seperti karetnya tiba-tiba putus, banyak benang yang keluar. Padahal itu kan tas baru yang kamu beli kan," kata Rita. Namun tidak ada jawaban dari Ney.

__ADS_1


"Hah? Kok bisa begitu? Ah, kamu saja kali kalau menyimpan barang tidak rapih," kata Arnila.


"Aku simpan menggantung kok belakang pintu. Terus yang paling aneh lagi, adikku kan memakai tas itu dan menemukan sayatan dalam tas. Alhasil kata adikku pantas tasnya langsung rusak," kata Rita.


Arnila kaget bukan main. Dia juga pernah mengalaminya dan satu-satunya pelaku tentu saja Ney. Kalau Rita sampai mengalaminya juga memang tidak mungkin lagi kalau Ney menginginkan sesuatu yang jelek pada Rita.


"Ney, bukan kamu kan yang menyayat tasnya Rita?" Tanya Arnila japri Ney.


Tidak ada jawaban.


"Ney, aku tidak men judge kamu tapi kalau memang tidak menyukai aku sejak lama, kenapa kamu tidak pergi saja sampai harus berbuat begitu? Aku memang meminta oleh-oleh dulu sama kamu itu bukan wajib. Kamu bisa menolak tapi kalau kamu mau memberi, oke aku terima tapi tidak dengan jalan menyayat tas yang kamu kasih. Itu tandanya kamu mau perang dengan aku," kata Rita membeberkan semuanya.


Tentu saja Alex juga membaca dan dia terkejut lalu mencari tahu soal ingatan. Memang benar tas itu terdapat sayatan. Sangat rapi memang seperti sengaja di iris, berbeda kalau memang karena kecelakaan terkait. Alex menganggap Ney sangat berbahaya meski sedikitnya dia melihat Ney baik.


Tidak ada jawaban apapun, Ney hanya menggigiti kuku jempolnya karena sudah ketahuan dan entah kenapa Rita beberkan itu sekarang.


"Oke, itu urusan dulu kan Rita. Jangan cemas kamu tidak sendiri karena aku juga begitu," balas Arnila dalam grup.


"Heran aku baru kali ini gitu Nil, mengalami samapi sebegitunya terlihat jelas ya niat kamu," kata Rita.


"Itu tuh sebenarnya sayatan dari kayu waktu itu aku kan sempat pakai tasnya untuk memasukkan barang-barang juga. Soalnya tidak ada kantung lain," kata Ney membeberkan kisahnya.


"Wah! Kacau berarti itu sudah kamu pakai dong pantas saja sekali dipakai sudah dol ternyata BEKAS!" Kata Rita kesal sekali.


Arnila juga sama kejadiannya juga sama. "Maklumi saja Rita, orangnya memang jorok," kata Arnila.


"Hahahaha dol itu sekali kamu pakai? Hahahaha," kata Ney tertawa.


"TIDAK LUCU," Balas Rita. Ney lalu terdiam.


"Lalu tasnya hilang kan? Ketemu lagi?" Tanya Arnila penasaran.


"Ada ternyata digusur sama tikus dong," kata Rita puas sekali menceritakannya. Tikus saja tahu kalau itu tas tidak dari niat yang baik.


"SERIUS!?" Tanya Ney kaget.


"Yah tikus saja tahu ya tas dari orang yang tidak niat memang pantas dijadikan tempat tidur mereka dong. Itu sampai bolong," cerita Rita.


~Aslinya sih Author pernah mendapatkan oleh-oleh tas dari teman yang model Ney. Dan aslinya itu sekali pakai langsung meral alias longgar. Lalu dipakai oleh adik Author itu langsung lebih panjang lagi untungnya, Adiknya membawa kantung jinjing jadi dimasukkan. Dan memang ada sayatan yang menyebabkan kalau dipakai semakin lebar. Akhirnya ya dibuang deh.~


Ney diam memang tidak ada niat membelikan Rita tas, dia pilih yang paling murah sewaktu dulu RIta bilang tasnya berbeda, dia memakai yang sama berbeda dengan yang awalnya. Dan saat Rita memeriksa, ada perbedaan karet. Yang dalam tas Ney, karetnya itu tebal sedangkan miliknya tampak sudah terpakai.


Rita sempat bertanya kenapa berbeda tampak sekali sudah pernah dipakai. Namun Ney hanya diam saja lebih ke panik atau gugup. Dari sana Rita mulai tidak pernah lagi mau menerima barang apapun dari Ney. Bukan soal harga tapi memang orangnya super jorok.


"Trus?" Tanya Arnila kaget sekali.


"Ya aku bakar saja toh kata ibu dan adikku juga itu tasnya seperti bukan baru deh soalnya si karetnya sudah longgar. Tidak tahu ya pelaku yang memberikannya punya niat jahat apa sih. Perasaan aku tidak pernah merundung dia atau berkata kasar. Heran," kata Rita.


"Serius dibakar?" Tanya Arnila lagi.


"Serius lah waktu mau dibetulkan, besoknya entah kenapa ya murudul benang-benangnya kan aneh banget. Karena takut ada jin junnya ya aku bakar saja. Habis deh. Kamu pernah mengalami begitu?" Tanya Rita dalam grupnya.


Ney terus diam segalanya sekarang terbongkar.


"Sering lagi kali Rita. Makanan kebanyakan syukur deh kamu tidak mengalaminya. Dari banyak semut, lalat padahal kemasannya tertutup lho, ih pokoknya jijik deh," Kata Arnila


"Terus soal cokelat itu bagaimana? Aku belinya di Hongkong lho," kata Ney membanggakan diri.


"Hongkong jidatmu? Kamu kan bilang di Malaysia kenapa jadi beda sekarang?" Tanya Arnila.


"Oh iya Malaysia. Ya maaf salah. Kamu makan kan?" Tanya Ney bertanya.


"Yakin kamu salah atau sengaja?" Tanya Rita.


"Tidak," Kata Arnila.


"Kenapa ih? Aku kan beli itu untuk kamu," kata Ney kesal pantas waktu itu dirinya tidak bisa melihat dimana Arnila berada.


"Itu memang kamu baru beli atau sudah kamu potek?" Tanya Arnila.


Rita hanya menyimak saja dan kaget. Beli tapi dipotek?


"Iya itu beli. Potek gimana sih?" Tanya Ney yang kaget. "Bagaimana bisa Arnila tahu? Tapi kan aku sudah rapi membuatnya tampak baru," pikir Ney.


Arnila mengirimkan bukti yang memang kemasan baru dengan yang baru dibuka lalu ditempel lagi. "Jelas kan? Kamu sebenarnya sudah buka ya? Karena aku menemukan rambut lalu ada semacam butiran pasir hitam dan ada semut besar yang mati dan itu bukan satu tapi tiga!" Kata Arnila.


Rita semakin kaget. Idih!!


Ney tidak membalasnya semuanya terbongkar.


"Ih gila ya kamu main dukun atau kamu sebenarnya dukun?" Tanya Rita merinding.


"Ih aslinya aku beli itu tidak ada apapun ko isinya," kata Ney keceplosan


"Kok kamu tahu? Benar ya kamu potek. Syukur tidak kamu makan Nil, takutnya diracun," kata Rita membuat Ney kesal seubun-ubun.


"Alah. Sudah deh sudah banyak kok buktinya Ney, setiap barang seperti yang kamu kasih ke Rita, itu sama dengan aku. Baru sekali pakai sudah rusak, aku juga pernah Rita dikasih tas sama dia. Besoknya rusak tidak berbentuk sepertinya ada mantra," jelas Arnila.


"Masa sih?" Tanya Rita.


"Kamu saja yang tidak tahu. Parah! Untungnya kamu hanya sekali aku puluhan! Termasuk makanan super parah. Joroknya selangit, Rita sana sekali tidak punya rasa jaga kebersihan," kata Arnila.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2