
"Eh, jangan sebar fitnah ya," kata Ney.
"Fitnah? Ini lebih kejam dari fitnah! Dan ini semua yang aku alami sangat nyata ya. Aku beritahu saja sekalian sama Rita soal kemarin. Ney beri aku cokelat tahu tidak itu isinya banyak debu. Heran aku lihatnya kamu taruh di jalanan atau bagaimana sih?" Tanya Arnila yang marah.
"Busuk mungkin itu bukan debu," kata Rita yang juga ikut aneh.
"Ya mana aku tahu, Rita kalau busuk kan berjamur. Ini asli debu semua keterlaluan sekali kamu jadi orang, sampai kapanpun Rita tidak akan jadi orang yang sekat sama kamu!" Kata Arnila dengan ketus.
Ney tidak bisa menjelaskan apapun dan Rita juga tidak bisa berkata yang lain. Toh sangat aneh bisa berdebu padahal kemasannya masih tersegel.
Tiba-tiba chat itu terhapus begitu saja siapa lagi kalau bukan oleh Arnila sendiri mungkin dia menyadari sesuatu lalu dihapusnya. Tapi bagian dia menyumpahi Ney.
"Itu asli, Arnila? Yang tadi kamu bilang soal cokelatnya?" Tanya Rita yang tidak mau menjapri lagi.
Arnila berpikir biasanya Rita suka japri lalu Arnila juga mengikutinya. "Iya Rita, jadi minggu kemarin tuh dia ada kasih aku cokelat kan tumben ya. Toblerone yang kecil tapi waktu aku buka itu aku aneh kok bisa berdebu," jelas Arnila.
Ney juga ada disitu hanya membaca saja. ternyata kenapa dia tidak bisa melihat keberadaan Arnila karena cokelat pemberiannya itu dibuang begitu saja. Apalagi sampai berdebu banyak apa semua yang dia pegang akan menjadi busuk?
"Tapi masih tersegel?" Tanya Rita keheranan.
"Masih. Aneh kan," kata Arnila.
"Ada bukti fotonya?" Tanya Rita. Takutnya Arnila sama dengan Ney suka mengada-ada.
"Ada doong Nih. Benar kan berdebu. Aku juga sudah periksa ke sekelilingnya," kata Arnila melampirkan foto tiap sudut.
"Sebentar kebetulan aku membeli toblerone juga nih," kata Rita yang tersadar Prita mengambilnya. "Pri, ambil toblerone ya?" Tanya Rita.
Prita yang ditanya tertawa.
"Pinjam dulu dong," katanya. Lalu Prita memberikannya dan untung masih belum dimakan.
Lalu Rita kembali ke kamarnya dan membandingkan toblerone miliknya dengan yang dimiliki Arnila. Dan memang iya sama-sama tersegel, aneh juga kalau sampai berdebu atau busuk.
Dengan teliti Rita menyamakannya dan... Rita menemukan sesuatu. "Di foto kamu bagian ini apa?" Tanya Rita menambahkan lingkaran tepi bungkus. Yang ada di Rita mulus sedangkan di foto Arnila seperti ada lem sesuatu.
"Yang mana?" Tanya Arnila, tahu kalau Rita menyadari sesuatu yang sudah lama dia tahu juga.
Rita lalu mengirimkan perbandingan foto dan dengan jelas diberitahukan. "Yang ini aneh seperti ada lem, lalu kalau yang punya aku tidak ada. Mulus kan," kata Rita sambil melingkari fotonya.
Ney memegang kepalanya dan berteriak bodoh pada dirinya sendiri. Entah apa yang dia lakukan saat itu.
"Itu kan lem, Nil," kata Rita langsung.
Arnila terdiam ternyata Rita juga menangkap pemandangan itu. Ney mengutuk dirinya ternyata hal sekecil itu terbongkar dengan kemampuan Rita yang memang teliti.
"Ah, serius," kata Arnila lalu diperjelas ke dalam laptopnya. Memang iya semacam kertas lem. Arnila memejamkan matanya dia marah dan kesal ternyata sudah berusaha dibodohi.
"Eh kita bicarakan soal lain yuk. Soal begitu saja dipertanyakan malah kalian yang rusuh," kata Ney membalas komen.
"Double tip. Ada kemungkinan pelakunya memang sudah membuka cokelat itu mungkin dijampi-jampi supaya berdebu. Wallahu alam deh," kata Rita menyindir.
"Iya sih bisa jadi tapi untuk apa? Kalau memang tidak niat, untuk apa dia kasih aku cokelat?" Tanya Arnila tidak menggubris Ney.
"Eh, Alex ajak aku mengobrol nih," kata Ney mencari alasan.
"Tanda perang kali. Aku saja tas baru dipakai sudah langsung rusak. Pelakunya kurang waras, heran aku. Sepertinya tangannya mengeluarkan aura negatif deh apapun yang dia pegang, beri ke orang jadi busuk semua," kata Rita.
"Ada kemungkinan sih, Ri. Baru tahu ada yang seperti itu. Biasanya kenapa ya?" Tanya Arnila.
"Wah, aku kurang tahu juga sih. Ya tidak jauh dari rasa iri yang pekat kali. Nih aku baru gugling ternyata di tangan kita itu terdapat bakteri dan kuman penyakit, jadi kalau kita sentuh makanan tanpa perantara ya akan jadi basi," kata Rita membaca keterangan.
"Tuh kan bukan karena aku," kata Ney ikut nimbrung karena tampaknya mereka sama sekali tidak berhasil dia bawa pindah topik.
"Ya jelaslah tapi itu kalai kasus makanannya tidak ada plastik. Tapi ini kan dibungkus karton lalu disegel," kata Arnila.
"Ingat ya Nila, itu di double tip segelnya pun sudah lepas kalau itu beda lagi, hati-hati. Aku setuju lebih baik dibuang saja takutnya ada mantra sesat yang masuk ke badan kamu. Sekarang kan lagi hot juga ya orang kerasukan," kata Rita.
"Aahhh aku baca! Yang pas di ruqyah keluar paku, macam-macam itu kan? Seram ya. Iya Rita, aku buang kok buat apa memakan makanan yang berdebu," kata Arnila menyetujui.
"Mistis memang itu. Lebih mengerikan lagi buka cokelatnya terus ditutup pakai double tip, Terlalu mistis untuk dilihat," kata Rita menertawakan seseorang.
Arnila juga tertawa tidak dengan Ney. Dia ketawa tapi karena tindakan bodohnya ketahuan, dia lebih memilih diam saja. Apalagi memang seingatnya Ney tidak pernah memberikan makanan pada Rita katena dalam pikirannya toh Rita dibawah dia untuk apa juga
"Kalau ini disangkut pautkan dengan mistis aku tahu deh apa maksudnya cokelat kamu dibuat berdebu," kata Rita.
"Kenapa tuh?" Tanya Arnila.
Ney juga penasaran.
"Dia mau kamu menunduk kepadanya. Tahu kan? Banyak orang dikirim "Sesuatu" agar ke depannya terus bergantung pada orang tertentu. Mungkin ya ini melihat keluarga kamu yang terpandang, kaya, rumah besar apalah. Terlintas tidak kalau orang tersebut ingin kamu terus bergantung sama dia?" Tanya Rita.
"Bisa jadi. Terus?" Tanya Arnila.
"Eh, kapan-kapan kita jalan lagi yuk. Sudah lama juga kan kita masak lagi," kata Ney berusaha mengalihkan perhatian.
__ADS_1
"Kalau tidak, dia ingin perang sama kamu. Karena kan makanan yang sudah basi lalu diberikan ke orang lain itu kesannya sudah jelek. Bisa jadi sebenarnya dia ada rasa tidak suka jadinya mengejek kamu lewat makanan. Ya itu pendapat aku sih," kata Rita membuat Ney terdiam.
"Intinya itu perilaku tidak biasa ya kalau begitu kenapa juga dia terus datang? Kalau tidak suka ya cari saja teman lain toh dia selalu bicara banyak orang yang mau jadi teman dia," kata Arnila.
Ney merasa mereka membicarakannya. "Ya kalau dia masih datang lagi ingin temenan dong," kata Ney.
"Karena bisa jadi sebenarnya tidak ada yang mau jadi temannya. Makanya dia datang terus ke kamu, Arnila. Kalau teman yang sebenarnya tidak akan pergi datang pergi datang mau kamu dalam keadaan ekonomi sulit atau sukses. Teman seperti itu sekarang mulai langka jadi kamu harus bisa pilah pilih tipe begitu," kata Rita.
"Iya tenang saja aku punya kok teman seperti itu dari bisnis ayahku nyungsep, dia yang selalu ada menemaniku," kata Arnila tersenyum.
"Aku teaa memang selalu untuk kamu Arnila. Aku ada di sisi kamu kok," kata Ney bangga.
Rita dan Arnila membuang muka menjulurkan lidah mereka.
"Waktu kamu menikah dia ada?" Tanya Rita ingin tahu apa itu Ney.
"Ada. Tapi yah penampilannya agak mistis juga sih," kata Arnila.
"Hah? Bajuku biasa kok tidak mistis," kata Ney mulai melihat kostumnya waktu itu.
Mereka berdua tidak memperdulikan apa yang Ney katakan meski Rita tertawa.
"Jangan-jangan yang pakaiannya serba hitam itu bukan?" Tanya Rita menebak.
"Iya itu! Namanya Eris Sandowijaya, dia yang selalu ada untuk aku Rita. Orangnya super cuek tapi sangat perhatian. Dia satu-satunya yang berdandan paling berbeda kan," kata Arnila tertawa.
"Ohh yang itu. Aku kira ada cosplayer, tapi keren kostumnya," kata Rita menyadari mana mungkin itu Ney. Toh dia hanya ada kalau senangnya saja.
Ney terdiam, dia terlalu sok tahu disangkanya dirinya yang Arnila sedang puji. Eris Sandowijaya adalah sosok yang Ney kenal juga. Ney dan Eris sangat bertabrakan sama halnya dengan Rita tapi Ney tidak pernah mau dekat meski 5 langkah pun. Ada sesuatu di dirinya yang tidak disukai oleh Khodamnya dan sangat berbahaya.
"Iya kan. Kamu mau aku kenalkan? Kalau sama dia aku yakin kalian bisa adem tidak dengan Ney. Meski nyablak tapi dia bisa menjaga perasaan orang di sekitarnya," kata Arnila.
"Ah, tidak usah. Aku sudah cukup tahu jadi itu orangnya. Orangnya baik karena meski satu-satunya dengan kostum yang berbeda tapi tidak seenaknya dia bersikap," kata Rita memberikan acungan jempol.
"Sepertinya kamu bisa sekeren dia kalau pakai baju gothic. Kamu suka tidak sih?" Tanya Arnila penasaran.
"Suka kalau memang ada asalkan enak. Memangnya kenapa?" Tanya Rita.
"Aku membayangkan kamu cocok karena sifat alami kamu kan sama dengan dia. Super cuek dan tidak pernah peduli dengan apa kata orang. Coba saja beli baju gothic," saran Arnila.
"Mana ada untuk yang berkerudung jadinya aneh tahu nanti disangkanya kamu punya ajaran sesat. Jangan mau deh," kata Ney ikut nimbrung lagi.
"Iya memangnya ada untuk aku yang berkerudung?" Tanya Rita. Agak tertantang juga sih.
"Nanti aku tanyakan, kalau kamu mau bisa ke tokonya saja. Bagaimana? Nanti kalau kamu mau ke Jakarta jalan-jalan, bisa datang ke sana," kata Arnila senang.
Lalu Arnila mengirimkan alamat tokonya uang juga Ney ikut memfotonya. Dia jadi penasaran juga sebesar apa tokonya apalagi sampai selalu ada buat Arnila.
"Tidak apa tuh, pasti Ney juga menyimpannya," kata Rita japri Arnila.
"Tidak apa-apa dia tidak akan bisa melawan Eris," kata Arnila.
"Hah? Kenapa?" Tanya Rita penasaran.
"Lah, masa kamu tidak tahu?" Tanya Arnila.
"Apa? Soal apaaaa," kata Rita bingung.
"Apa yang dimiliki Eris," kata Arnila sekarang mulai keheranan.
"Dia seperti kamu juga?" Tanya Rita menebak.
"Iya iya ituu tapi lebih tinggi lagi," kata Arnila menganggap Rita menyadarinya.
"Jadi karena sahabat kamu itu dari keluarga terkaya juga Ney tidak akan berani," kata Rita.
Arnila menepuk dahinya ternyata Rita tidak bisa melihat apa yang terlihat oleh dirinya dan Khodam atau bisa dibilang jinnya Ney. Arnila merasa aneh Rita mampu berkomunikasi dengan Khodam namun tidak bisa melihatnya.
Hantu bisa dia rasakan tapi tidak bisa melihatnya, bagi Arnila itu sangat aneh tapi mengerti saat mengetahui bahwa Rita sangat takut dengan hal itu.
Khodam. Rita sama sekali tidak mempercayainya sampai dia melihat milik Alex dalam mimpinya nanti. Dan Khodam yang lainnya mengunjunginya. Bahkan sekarang saja Khodam sahabatnya berada dekat dengannya, berusaha berkomunikasi tapi Rita tutup karena tidak tertarik.
Arnila tertawa keras lalu menceritakan kepada mertuanya, dan mereka takjub dengan Rita. Saat mereka bertanya soal Rita, Arnila memberikan fotonya dan mereka terkejut.
"Pantas saja teman kamu yang error itu tidak berani memberikan apapun kepadanya," jelas mertuanya yang lelaki.
"Kenapa?" Tanya Arnila berhenti tertawa.
"Yah begitulah. Auranya sangat cemerlang dan dia dijaga ketat oleh sesuatu yang lebih besar. Kasihan, dia harus menanggung beban yang sangat besar nantinya," katanya memberikan kembali pada Arnila yang penasaran.
"Apa itu, Abah?" Tanya Arnila tapi mertuanya berjalan ke luar rumah.
Lalu kembali ke grupnya lagi. Membaca apa kata Rita dalam pesannya.
"Biarkan saja Nil kalau ada orang yang memberikan makanan aneh apalagi sampai berdebu, berjamur apalah. Karena itu tanda dirinya tidak disayang Allah, biar dia tidak disukai," kata Rita.
__ADS_1
"Kalau tidak disukai tapi selalu dikasih rejeki bagaimana tuh?" Tanya Ney yang kesal.
"Semua makhluk yang hidup mau dibenci, tak disuka semuanya dapat rejeki yang membedakan itu nanti di akhiratnya. Apakah rejeki di dunia berkurang atau bertambah itu nanti terlihat di akhirat. Sekarang ya terserah mau beri orang makanan bermutu atau tidak, penghitungan kasirnya ya nanti kalau kamu meninggal," jelas Rita sekaligus memberikan penjelasannya.
"Kalau dia masih terus melakukan hal itu bagaimana?" Tanya Arnila.
"Yaaa paling rejekinya dikurangi kali, pahalanya juga kan itu termasuk dosa dan kejahatan ya. Secara tidak sadar sih beda lagi tapi kalau sadar, lebih parah lagi," kata Rita.
"Berkali-kali tidak sadar bagaimana?" Tanya Ney.
"Tidak mungkin kalau sampai berkali-kalibkarena memangnya dia tidak pernah memakan makanan yang sama? Mustahil sekali kalau tidak pernah biasanya tidak sengaja itu cukup sekali dua kali tapi kalau berkali-kali..." kata Rita mencurigakan.
"Ya itu sengaja lah," kata Arnila.
"Kamu berkali-kali atau sering ya memberikan makanan tak bermutu sama Arnila?" Tanya Rita langsung.
Ney tidak membalasnya semua taktiknya terbongkar begitu saja apalagi Rita ungkap sama sekali tidak membuatnya menjadi chat pribadi. Alhasil Arnila juga menunggu jawabannya tapi tidak ada.
"Sudahlah Rita percuma orangnya tidak akan mengaku. Nanti dia pasti datang dengan alasan lain," kata Arnila dalam grup.
Sesuai apa kata Ney sekarang semuanya terbuka saja. Ya sudah Arnila bukakan semuanya yang membuat Ney tidak bisa berkata apapun.
"Ih tapi gila kalau memang iya. Kamu selalu makan? Aku sih syukur alhamdulillah jarang sekali dikasih makanan sama dia. Kalau dikasih juga aku yakin tidak ikhlas," kata Rita. Teringat dulu pernah dirinya ingin dibawakan cemilan Jakarta. Mau sampai kapanpun Ney tidak pernah membawakannya.
"Bukannya kata Ney pernah dibawakan. Lalu?" Tanya Arnila.
"Ah ya pernah dia belikan tapi bukannya mengingatkan aku yang lupa makan, dia sendiri yang memakannya lagi," kata Rita.
"Ya Allaaah hahaha tapi kan bagus "itu" tidak kena ke kamu akibat lupa beda dengan aku, Rita," kata Arnila tertawa.
"Iya kamu juga kan tidak keburu dimakan. Baru dilihat sudah buang. Kita ini masih ditolong sama Allah meski caranya berbeda," kata Rita.
"Benar juga ya. Seram ya," kata Arnila.
"Ho oh tangannya penuh bakteri suka di lingkungan jorok sih. Kebayang apa yang dia makan juga gizinya tidak ada," kata Rita menyindir Ney.
"Biarin yang penting aku tidak racuni orang cuma masalah debu doang jadi heboh," jawab Ney seenaknya.
"Wah ada yang mengaku tuh," kata Rita.
Ney lalu menghapusnya tapi sudah Rita simpan.
"Mana? Siapa yang mengaku? Aku tadi beli keripik dulu," kata Arnila.
"Tahu tuh si Rita mengaku dia yang kirim debu itu ke cokelat kamu pakai jarak jauh. Pakai jinnya coba parah kan," kata Ney sesukanya.
"Idih, lempar kesalahan. Nih orangnya," kata Rita mengirimkan yang dia simpan tadi.
"Yah! Memang kamu ya pelakunya aku juga sudah bisa menebak. Sumpah ya keterlaluan!" Kata Arnila.
Lalu Ney tidak ada chat lagi sampai waktu kapanpun. Tiba-tiba saja ada keterangan dia keluar dari grup tapi Rita masukkan lagi. Berkali-kali dia keluar tapi dimasukkan lagi. Pada akhirnya Arnila japri dirinya.
"Makanya jujur jadi orang jangan suka berbuat jahat. Tidak enak kan? Kamu lempar kesalahan, sekarang masih saja berusaha membuat aku sakit. Otak kamu dimana sih?" Tanya Arnila yang tidak dijawab oleh Ney.
Kemudian Ney tidak mau tahu lagi dan keluar dari grup lagi. Kali ini Rita yang japri dia.
"Bagaimana rasanya? Keluar grup lalu kita masukkan lagi, sebal kan. Ya itu yang terjadi sama aku waktu itu. Terganggu? Iya lah. Ini rasanya apalagi kamu on off karena memang punya salah tapi tidak mau mengaku. Menyalahkan orang lain stres ya kamu nih," kata Rita.
"SUDAH SUDAH BERISIK KAMU! APALAGI KAMU, AKU TIDAK MAU BICARA LAGI TERSERAH HIDUP GUE!!" Teriak Ney dalam chatnya.
"Bodoh amat deh dengan kehidupan kamu. Mengingatkan saja tapi kamu sendiri yang emosi," kata Rita. Sedikit lagi...
"IYA ITU GUE YANG KIRIM MANTRA. KENAPA LU? Aku yang ada urusan sama Arnila, kenapa juga kamu ikut campur!? KAMU URUS SAJA SI ALEX ITU. Aku tidak suka ya kamu bela dia terus. Apa sih salahnya hidup aku?" Tanya Ney dengan marah.
"Oh, kamu tidak suka YA TIDAK USAH NGE GAS DONG BIASA SAJA!" seru Rita tidak mau kalah.
"IHHH, AKU TUH SEBENARNYA STRES YA BICARA SAMA KAMU TUH. Aku sudah sejak lama tahan semuanya sama kamu, tapi kamu sama sekali tidak menghargai keberadaan aku," kata Ney kesal.
"KAPAN HAH KAMU HARGAI AKU JUGA. KAMU YANG PUNYA MASALAH KAPAN AKU TIDAK PERNAH ADA?!" Teriak Rita membuat Ney diam.
"Iya sih dia selalu ada. Tapi..." pikir Ney.
"SAAT AKU ADA MASALAH KAMU ADA TIDAK!?" Teriak Rita lagi.
"Saat Rita ada masalah, aku malas mendengarnya dan lebih memilih mendengar yang lain. Waktu itu juga, hari itu semua," pikir Ney diam.
"Bukan salah hidupmu tapi orangnya yang salah. MAKANYA MIKIR! JANGAN SALAHKAN AKU KALAU AKU MENENDANG KAMU sama seperti yang sering kamu lakukan!" Ketus Rita.
Ney melemparkan ponselnya ke jendela, dia sudah semakin stres dan membiarkannya semalaman. Dia pergi ke luar untuk dugem tanpa mengajak siapapun.
"Tuh kata dia. Sekarang tidak tahu kemana," kata Rita.
"Paling dugem. Aku mau ceritakan sesuatu juga soal hal yang sama, kita harus sama-sama waspada sama apa yang dia berikan. Kalau bisa dia beri sesuatu baca ayat kursi dan tiup kan ke barang atau makanan, Rita. Kita antisipasi saja sih," kata Arnila menatap kiriman itu.
~Author mendapatkan kiriman itu berupa kerudung dari orang yang seperti Ney. Sesuai saran Arnila, Author membacakan ayat kursi dan meniupkan pada barangnya. Dan kalau ada acara Author memakainya dengan aman.~
__ADS_1
Bersambung ...