
Pas sekali waktunya saat itu Syakieb meminta permisi untuk ke toilet sambil memberikan sekotak cokelat kepada Ney. Ney menerimanya dengan senyum sumringah lalu memasukkannya ke dalam tasnya. Sebenarnya dia sudah sangat bosan dengan cokelat tapi karena diberi oleh lelaki ganteng yah, dia senang saja. Setelah Syakieb masuk ke toilet pelayan itu lalu buru - buru menyerahkan tatakan kertas berpesan itu kepada Ney, lalu pergi mengantarkan pesanan orang lain.
Penasaran Ney mengambil kertas itu lalu membacanya, "Menjauh lah dari orang itu. Kamu dalam bahaya!" Ney kaget lalu mencari - cari pelayan yang tadi, namun pelayan itu tampak sibuk mencatat pesanan dan membereskan meja dan kursi lantas Ney memasukkan kertas itu kedalam saku bajunya. Ney nampak mulai merasa ada yang tidak beres apalagi dengan firasat dari ibunya yang kurang merasa benar serta kakaknya. Saat pelayan itu berjalan kembali menuju dapur, Ney sudah setengah berdiri mau bertanya tapi Syakieb kemudian keluar dari toilet.
Mereka berbincang - bincang lalu Syakieb mengeluarkan sesuatu dari dalam jasnya, sebuah surat kontrak. Ney penasaran apa itu lalu Syakieb menyerahkan ke hadapannya dan Ney membacanya. Ney kebingungan dan sedikit terkejut dia sama sekali tidak mengerti apa maksudnya.
"Ini apa? Surat adopsi? Kita sudah dekat sampai 3 bulan aku pikir kamu menyukai aku dan akhirnya memutuskan mau menikah denganku. Tapi ini apa maksudnya?" Tanya Ney yang membuat Syakieb tertawa besar sampai semua orang dalam cafe itu memperhatikan mereka.
"Kamu terlalu percaya diri, saya tidak suka dan maaf aku tidak punya niat untuk menikah dengan kamu. Aku sudah punya istri, aku ingin mengadopsi kamu sebagai anakku. Bagaimana?" Tanya Syakieb sambil duduk dengan santai.
Ney melongo mendengarnya. "Kamu sudah menikah? Meminta aku jadi anak kamu apa jangan - jangan istri kamu mandul?" Tanya Ney dengan suara keras. Tertangkaplah kesan bahwa Syakieb tidak menyukai Ney, dan Ney merasa begitu.
"Aku sudah punya 4 orang anak salah satunya yang sudah pernah kamu lihat tempo lalu, dia anakku yang nomor tiga,"
Ney tidak percaya sama sekali tapi kalau benar saja apa yang pernah Arnila dan Rita katakan waktu itu, berarti mereka sudah tahu dari awal. Itulah kenapa dia memberitahukan Ney tapi sayang dia terlalu tenggelam dengan mudahnya. Tapi bagaimana mereka bisa tahu? "Kamu tidak pakai cincin nikah,"
Syakieb lalu membuka 1 - 2 kancingnya dan memperlihatkan sesuatu pada Ney. Ternyata cincinnya dia gantung dalam kalung rantainya, Ney semakin kaget bukan main.
"Surat kontrak ini kamu mau aku menjadi anak perempuan kamu? Adopsi? Kenapa tidak sekalian saja kamu melamar aku menjadi istri kedua? Aku masih bisa menerima kok," kata Ney dengan yang dugaan masih percaya kalau Syakieb hanya gengsi berkata tidak menyukainya. Ney agak kurang bisa menerima.
"Tidak. Aku hanya butuh satu orang perempuan yang menjadi istriku. Kamu mau menerima semua hadiah mewah saya, itu artinya kamu setuju. Kamu hanya perlu menandatangani saja disini. Dan kamu bisa menikmati banyak kemewahan denganku dan istriku," Syakieb mendorong kan kertas itu ke hadapan Ney yang masih kaget.
__ADS_1
Ternyata selama ini semua hadiah yang aku terima itu hadiah? Pikir Ney. "Tapi ada juga kan barang yang aku inginkan dan kamu belikan. Itu bukan termasuk hadiah kan," kata Ney merasa lebih lega.
"Tetap itu hadiah karena aku membelikannya kan," kata Syakieb yang senyumannya mengembang.
Ney sontak salah tingkah, dia sudah membanggakan lelaki tampan itu sebagai pacarnya dan menganggap semua barang adalah pemberiannya. Kedua tangannya mulai gemetaran dan dia merasa benar - benar tidak beres. "Tapi bagaimana dengan orang tuaku?"
"Tidak apa - apa orang tua kamu tetap milik kamu kalau kamu mau, aku akan membeli kamu dari mereka. Bagaimana? Sepertinya orang tua kamu juga tidak ada komentar apapun setelah selama ini aku banyak membelikan kamu banyak barang," kata Syakieb dengan senyuman yang penuh makna.
Ney menutup kedua matanya dan menahan kepalanya yang ternyata selama Syakieb memberi barang, Ney selalu berkata kepada ibu dan adik kakaknya kalau itu adalah pemberian dari pacar barunya. Meski kakaknya tidak percaya sama sekali kalau ada lelaki tampan plus kaya yang mau mengeluarkan uang untuk membelikan Ney barang. Karena selama kakaknya tahu, Ney saat dulu pacaran dengan Dins pun selalu membuat repot Dins dengan permintaan barang mewah. Dins sering kali juga cerita dan mengeluh pada ibunya soal kelakuan Ney. Dia sama sekali tidak bisa menghargai apa yang diberikan orang lain kepadanya, kalau ada orang yang memberinya barang murah Ney akan langsung membuangnya. Itulah yang membuat ibunya naik pitam melihat kelakuannya, tidak heran juga semua temannya memilih menjauhinya.
"Aku lihat kamu lebih senang hidup mewah daripada menuruti apa kata orang tua kamu ya. Aku bisa jadi orang tua kamu yang ideal. Trust me," Syakieb mengedipkan salah satu matanya.
"Tapi selama ini aku selalu menganggap kamu sebagai pacar aku," kata Ney dengan suara yang ditahannya bergetar.
Syakieb menangkap Ney yang ketakutan tapi dia tidak peduli, menurutnya itu seimbang dengan apa yang dia lakukan seenaknya. "Karena aku selalu membelikan apa yang kamu mau? Kenapa kamu bisa berpikir begitu? Jangan pernah menganggap berlebihan orang yang mudah memberi kamu barang atau berbicara lembut karena kadang beberapa orang memiliki niat jahat. Aku tidak ada niat mendekati kamu untuk menjadi pacar aku, aku tidak akan berani menduakan istriku dengan perempuan yang bukan tipeku. Aku hanya mencari seorang gadis yang rela hidup selamanya bersama aku dan istri, dia menemani istriku mengajaknya bermain dan bersenang - senang,"
"Tapi aku juga punya teman - teman. Mana mungkin aku tinggalkan mereka!" Ney terus beralasan agar Syakieb tidak terus menawarinya menjadi putrinya. Yang Ney mau ternyata tidak bisa dia dapatkan semudah itu apalagi ternyata dia sudah menikah.
Syakieb tertawa mendengus. "Kenapa baru sekarang kamu bilang begitu? Awal bertemu kesannya kamu tidak peduli dengan kedua teman kamu dan lebih ingin dekat denganku. Kamu sudah meninggalkan mereka dari awal saya yakin, kalau kamu menemukan sesuatu yang lebih dari mereka, kamu akan meninggalkan begitu saja. Kamu yakin mereka anggap teman kamu?" Tanya Syakieb.
"Yakinlah! Kalau aku tidak ada, mereka pasti ribut karena aku kan kan pencair suasana," kata Ney berkilah.
__ADS_1
"Menurutku tidak. Kalau begitu kenapa sedari tadi aku tidak mendengar notif WA masuk?" Tanya Syakieb yang menunjuk ke ponsel Ney di sampingnya.
Ney mencari alasan, "Oh, aku mematikan suaranya sekalian dengan notifnya. Soalnya mengganggu sih," kata Ney yang memegang ponselnya.
"Kamu tidak pernah memerlukan seorang teman buktinya, kamu menganggap chat mereka mengganggu. Kalau teman yang baik, akan selalu menanggapi apa yang mereka kirim. Meskipun kita berbicara, kamu tinggal katakan saja sedang berbicara dengan siapa tapi tidak ada kamu lakukan begitu,"
Ney menggigit bibir bawahnya dia mulai merasa malas mendengarkan topik yang sama sekali dia hindari. Entahlah dia tahu apa saja salahnya. Tidak ada kata yang sanggup keluar dari mulutnya karena memang terbukti benar semua yang Syakieb katakan.
"Sudahlah, kamu bisa jadi teman istri saya dan hidup kamu serba berkecukupan. Kamu lebih memilih aku daripada kedua temanmu,"
"Ya soalnya..." kata Ney akhirnya ada yang keluar. Awal dia mendekati Syakieb bertujuan untuk mencari tahu mengenai Alex tapi malah menjadi dia yang terciduk menyukai Syakieb dan melupakan soal Alex. Dan Ney selalu berharap berdoa agar Syakieb tiba - tiba menyatakan rasa sukanya kepada Ney tapi....
"Kamu orangnya tidak setia pada pertemanan atau hubungan apapun! Tapi tidak apa, aku bisa mendisiplinkan kamu, aku akan mengirimkan kamu ke sekolah terbagus di luar negeri. Ayolah, kapan lagi ada kesempatan emas seperti ini. Kamu bisa mendapatkan apapun yang kamu mau, hanya kamu harus selalu mematuhi perintahku," katanya yang lagi - lagi mendorong kertas itu pada Ney.
Ney berpikir memang benar sih selama ini dia berpikir hidupnya selalu penuh penderitaan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Dengan menerima kontrak itu, dia bisa mengalahkan Rita dan Arnila mengalahkan siapapun tapi efeknya... dia bisa kehilangan kedua orang tuanya, kedua adik dan kakaknya yang menurutnya pada awalnya mereka tidak penting. "Aku butuh waktu."
"Saya tidak punya banyak waktu. Saya ingin keputusan kamu sekarang! Ini alamat saya, datang dan kemas barang - barang kamu dari rumah kamu yang asli. Biar aku gantikan dengan yang lebih tipe kamu."
Syakieb lalu beranjak pergi keluar dan Ney bernafas lega tapi kedua tangannya gemetar hebat. Ney memang ingin segala sesuatunya yang berkelas bersama Syakieb dia berpikir bisa mencapai segalanya tapi... sama sekali tidak menyangka kalau Syakieb sudah punya keluarga besar dan mulailah Ney menyadari kalau Syakieb memiliki obsesi besar.
BERSAMBUNG...
__ADS_1