ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(157)


__ADS_3

"Jadi tidak perlu kamu cemaskan mereka mau menyerang juga, akan aku ladeni kok. Senang saja siapa takut?" Jawab Rita sambil cengengesan.


"Iya kamu memang menakutkan kalau sudah melawan," kata Arnila sambil tertawa.


"Aku kan lawan kalian berdua dengan Alex saja sendirian. Eh salah. Berdua!" Rita berpikir dan menghitung satu yang lupa dia ingat.


"Berdua? Siapa satu lagi? Seingat aku, kamu sendirian kok. Duh, kamu ini memang sering berhalusinasi ya," Balas Ney. Dia mengira Rita sudah gila mengaku kalau dia ditemani satu lagi.


"Hahaha ya wajarlah kamu tidak tahu. Padahal semua orang pasti tahu dan kenal denganNya. Kamu tidak tahu karena kamu tidak kenal dekat dan kamu kenal hanya untuk kepentingan kamu sendiri. Dia adalah Allah SWT. Dia yang membantu aku mengurus melawan kalian bertiga," kata Rita tersenyum dengan penuh kemenangan.


"Iya juga ya, Alex sampai begitu juga mungkin karena karmanya yang mempermainkan kamu. Aku juga tidak dekat dong ya karena tidak terpikir kesana," kata Arnila sedih.


"Allah SWT selalu hadir untuk membantu umatnya yang teraniaya. Sekali berdoa meminta penghakiman yang adil, yang terjadi pada kalian semua langsung meluncur kan. Tapi anehnya ya Alex sampai tobat lalu kamu juga menyesal, yang lainnya malah kabur," kata Rita melirik Ney yang memalingkan wajahnya.


"Ya sudah deh mudah - mudahan itu yang kirim chat ke kamu orangnya baik - baik saja. Aku doakan yang terbaik deh buat kamu. Semoga saja kamu yang ketiga yang akan menyusul menikah," kata Arnila menepuk bahu Rita.


"Jangan lupa kalau kamu nikah, bayarin kita buat ke Malaysia," Ney langsung saja ikut masuk lagi memang tidak punya rasa malu dia itu.


"Hah? Kenapa di Malaysia?" Tanya Rita yang sudah terbiasa dengan pengalihan topik dari Ney.


"Kamu kenapa sih Ney suka banget mengalihkan topik? Bukan hanya Rita sih tapi aku juga kalau aku bicara apa, kamu tidak jawab lalu tiba - tiba berusaha mengalihkan topik. Jawab saja kenapa sih?" Tanya Arnila yang penasaran mengenai apa yang dia tanyakan soal tadi.


"Kenapa? Kenapa?" Tanya Rita yang kebingungan.


"Kamu merasa tidak sih kalau Ney sering mengalihkan pembicaraan. Pembicaraan soal fans Alex menurut aku agak aneh kenapa kamu terus menerus seperti mempertanyakan sih?"


"Lah, aku pikir cuma aku saja yang merasa begitu, Nila. Aku sering banget merasa aneh justru, kenapa sih kamu tuh? Kalau kita tanya sesuatu daripada mendapat jawaban, kamu lebih sering mengalihkan topik atau tiba - tiba obrolin yang lain. Kamu takut keceplosan bicara jujur yaaa," tebak Rita sangat tepat.


"Idih! Kata siapa?" Tanya Ney yang gelisah menyibak rambutnya ke belakang lalu memeriksa hpnya.


"Hp kamu sama sekali tidak berdering buat apa kamu periksa hp segala? Kebiasaan! Tuman tahu!" Kata Rita menyerangnya.


"Kayanya ada hubungannya dengan orang - orang yang tiba - tiba inbox Rita ya?" Tanya Arnila. Ney kaget dan menyibakkan rambutnya lebih sering.

__ADS_1


"Wah wah ohh sepertinya aku tahu ini. Jadi kerjaan kamu ya? Soalnya aneh juga sih tumben inbox PBku berisik biasanya kan kalem. Paling berisik karena Alex yang chat. Ohohoho sekarang semuanya jelas, mungkin kamu berharap setelah kamu approve semua, mereka menyerang aku ya?" Tanya Rita membuat Ney sama sekali tidak bisa membalas.


"Makanya kamu bilang tidak seru karena kamu menyangka mereka akan menanyainya macam - macam. Kamu jahat asli. Buat apa kamu sok tahu approve mereka? Sudahlah kita tidak perlu urus soal Rita apalagi ikut campur. Kamu senang banget ya bikin masalah," Arnila mulai tidak bisa tahan dengan yang dilakukan oleh Ney tapi Rita menahannya.


"Tidak apa - apa, Nil. Dia kalah kok karena ternyata mereka tidak menyerang malah membalas dengan stiker lucu. Biarkan sajalah sepertinya kamu gatal ya sudah lama tidak bertengkar sama aku. Dia itu sama seperti Alex,"


"Kok bisa sama?" Tanya Arnila tidak mengerti. Ney diam tidak merespon tapi dia mendengarkan Rita dengan penasaran. Apanya yang sama? Ney tersenyum dan mereka berdua melihatnya dengan sebal.


"Jangan senang dulu kamu dibilang sama. Samanya juga dalam artian jelek kok. Sama - sama tidak bertanggung jawab. Diversikan dengan anak kecil, mereka berdua bermain memberantakan ruangan dengan mainan tapi selesai bermain, mereka tidak merapihkannya kembali. Paham?" Tanya Rita kepada Arnila yang berpikir lalu mengerti.


"Oh!! Iya ya mereka buat masalah tapi setelah semuanya kacau, bukannya merapihkan kembali malah meninggalkannya. Benar?"


"Tepat! Soal pengalihan topik yang selalu Ney lakukan, itu artinya juga pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Antara ketahuan bohong tapi tidak bisa membantah yang artinya..." kata Rita memberikan pada Arnila.


"Itu adalah benar. Kalau sudah ketahuan berbohong bukannya mengaku tapi dia mengalihkan topik dan terus seperti itu. Kenapa ya?" Tanya Arnila.


"Karena malu sudah ketahuan belangnya. Padahal tinggal jujur dan mengakui jangan karena gengsi mengakui jadinya malah membuat banyak orang menjauhi. Nih pelajaran buat kamu, sudah bukan anak SMP masa kamu mau begitu terus?" Tanya Rita. Arnila menatap Ney dengan menggelengkan kepala.


"Kamu benar - benar jahat," bisik Arnila lagi dan membuat wajah Ney memerah.


"Pembelaannya sendiri," jawab mereka berdua berbarengan. Mereka menatap Ney dengan wajah datar.


"Iya iya aku mengaku. Memang aku yang sengaja approve mereka semua!" Akhirnya keluar dan mengaku juga dia.


"Masa harus lewat 1 episode dulu baru kamu mau mengaku sih!" Kata Arnila dengan galak.


"Rencana Author itu mah. Masa harus kita pojok kamu dulu baru mengaku! Kamu jaga gengsi banget ya. Buat apa kamu aprrove mereka semua? Akun aku itu isinya hanya teman - teman aku saja! Buat apa kamu sok tahu menerima mereka?" Tanya Rita yang memang tidak suka seseorang yang dengan sengaja tanpa tujuan jelas melakukan penerimaan orang lain.


"Ya aku cuma mau menguji kamu saja kalau aku approve mereka terus serang kamu, apa kamu akan kalah atau akan lawan mereka," kata Ney menatap mereka berdua.


Rita mengembuskan nafas keluar. "Aku cape ya sama orang yang hobi banget cari masalah seperti kamu. Kalau aku menguji kamu itu untuk melihat apakah kamu benar - benar pantas disebut sebagai teman dekat ternyata hasilnya nol! Terus kamu sendiri menguji aku hanya untuk melihat mereka serang aku atau aku lawan mereka? Aneh tidak sih?" Tanya Rita pada Arnila.


"Itu alasan dia saja, Ri. Aku tidak percaya alasannya begitu. Kamu punya niat yang lain, seharusnya saat kamu tahu mereka tidak menyerang Rita, wajah kamu senang tapi malah sebaliknya. Aku sama sekali tidak senang dengan perilaku kamu yang saat ini. Kalau kamu tidak suka Rita disukai banyak orang terutama Alex, bilang saja. Kamu kan tidak pernah menggunakan hati ke siapapun," Arnila tampaknya sudah tidak bisa tahan dengan kelakuan Ney yang saat ini.

__ADS_1


Ney yang menatap Arnila dengan penuh amarah, langsung tertunduk dia seperti ketakutan sekali. Rita menenangkan Arnila meski takut juga. Rita belum pernah melihat Arnila meledak. Kalau ney sih sudah sering tapi orang yang pendiam kalau marah kan lebih mengerikan.


"Sudah, biarkan sajalah," bujuk Rita.


"Kamu tidak boleh begitu masalahnya dia sudah approve semuanya. Kalau mereka benar serang kamu, dia pasti kabur. Makanya dia bilang kamu mulai reject itu karena tidak sesuai keinginan dia dan kalau memang benar kamu diteror, saat ada masalah dia tidak mau tahu. Karena itulah niat dia Rita bukan untuk menguji. Dia ingin kamu kesulitan dengan diteror banyak orang," jelas Arnila yang kesal dengan Ney.


Ney terdiam dan mengelupasi kulit jarinya yang artinya semuanya tertebak oleh Arnila. Dia tidak tahu harus bilang apa tapi semua yang dia pikirkan ditebak begitu saja oleh Arnila. Sepertinya Ney pernah mengalami sesuatu karena ledakan Arnila dan itu Rita tidak tahu.


"Tenang kalau memang aku di teror atau diserang ada Alex kok. Dia pasti tahu harus bagaimana," jawab Rita membuat Ney dan Arnila memandanginya.


"Yakin banget Alex akan meng-backup kamu," kata Ney yang lalu menutup mulutnya dengan mulutnya sendiri.


"NEY!!!" Teriak Arnila yang sudah tidak tertahankan. Rita terkejut dan menatap Arnila yang tidak menduga akan meledak juga. Ney juga kaget langsung seperti duduk mundur. Sebelum terjadi apa - apa, Rita menarik baju Arnila.


"Arnila sudah! Biarkan saja. Ney memang orangnya irian kan kamu yang sudah lama kenal sama dia pasti mengerti," jelas Rita.


Akhirnya Arnila duduk dengan muka yang memang marah. Ney juga berhenti bicara kali ini dia sudah keterlaluan sekali dan Arnila sekarang juga sudah melihat dengan jelas. Beberapa jam mereka saling mendiamkan diri masing - masing. Ney juga takut sekali melihat Arnila yang akhirnya meledak.


"Maaf, Arnila," katanya. Rita memperhatikan Ney kenapa juga dia harus minta maaf ke Arnila?


"Bukan ke aku. Tuh Rita! Kamu punya banyak salah sama Rita bukan aku!" Tapi Ney tidak bergerak sama sekali ke arah Rita.


"Intinya kamu tidak perlu mencarikan aku masalah ya. Kalau memang harus menghadapi masalah, biar itu yang datang sendiri. Kamu tidak perlu menjemputnya karena lebih alami itu masalah yang datang sendiri. Aku tahu banget kamu memang tidak suka sama aku dari dulu sebelum bertemu Alex, aku sudah sadar itu. Tapi anehnya kenapa kamu terus mendekati aku? Kamu tidak mau berteman dengan aku, silakan. Kamu tidak ada aku masih hidup kok. Herannya saat kamu tahu aku kenal Alex, kamu seperti yang berusaha agar 'terlihat' bukan hanya soal Alex juga ya. Saat tahu aku punya sahabat di kampus aku sendiri juga kamu menjatuhkan dan menjelekkan aku di depan sahabatku itu. Aku tidak mengerti banget sama perilaku kamu," jelas Rita.


Rita bengong mendengarnya. "Sampai begitu? Iya sih yang aku rasakan juga kentara banget. Tapi herannya kenapa juga masih deketin kamu? Orang kalau memang tidak suka, ya sudah menjauh cari orang lain," kata Arnila menatap Ney.


"Kalau seperti itu sih aku langsung 'oh ya sudah bagus deh cari yang lain'. Orang di bumi itu banyak banget kenapa juga harus deketin aku terus? Kamu juga tendang Arnila seenaknya mentang - mentang penting hanya karena kamu pernah kenal ya sama Alex. Tapi jangan begitu dong, kamu dapat teman baru ya teman lama jangan diusir. Dia yang paling lama dekat sama kamu," kata Rita aneh.


"Kamu juga tendang aku berkali - kali padahal..." Ney tidak meneruskan omongannya.


"Kamu sih memang pantas ditendang. Sudah bicara jelek ke Alex, dukung aku tapi malah dijatuhkan. Heran gue! Sampai approve orang - orang sembarangan di bukan hp kamu. Lebih memihak orang yang tidak dikenal ketimbang orang yang sudah lama dekat kamu. Saat Alex dekat dengan aku, kamu klaim seenak jidat aku sebagai teman dekat kamu. Helloooowwww kemana kamu yang selalu ingin menjahati aku? Ada yang salah sih sama kamu, aku yakin. Di sini," tunjuk Rita ke arah kepalanya.


Kalimatnya menjadi sadis semenjak perilaku Ney semakin menjadi - jadi tingkahnya. Untungnya orang - orang yang baru saja dia approve, memang tidak mengatakan yang macam - macam. Mungkin memang ingin tapi yah, ada yang mengawasi.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2