ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(105)


__ADS_3

"Kamu kenapa sih? Apa harus bertanya pada Rita dengan nada yang tinggi? Tadi sudah enak kedengarannya malah bisa akrab," kata Arnila yang keheranan.


Ney tidak menjawab dan terus membolak-balik balikkan buku. "Memang tidak setuju karena perjuangan mereka berdua itu sangat sulit. Ayahnya Merlin tidak setuju mereka menikah kalian pasti tahu alasannya sama seperti orang - orang kaya. Sebelum Anggara apa kalian tahu kalau Alex pernah dijodohkan dengan Merlin?"


Pertanyaan Rita membuat mereka berdua kaget dan tidak menduga sekali.


"HAH!? Serius!?" Mereka berdua kompak bertanya.


"Iya keluarga Alex sempat ingin menjodohkan mereka berdua tapi Merlin yang sudah tahu seperti apa Alex, tentu saja menolaknya. Alex playboy tapi baik hati super aneh sih. Merlin saja terkejut kalau Alex berkenalan denganku, dia takut aku akan dipermainkan tapi semenjak dia tahu kalau aku super galak, tampaknya akan baik - baik saja," membuat mereka berdua tersenyum dan tertawa.


"Kamu memang galak kalau di saat tertentu," kata Arnila.


"Aku banyak saran sama kamu, banyak larangan juga bukan untuk keegoisan aku sendiri tapi aku menilai terlalu sayang buat kamu. Seperti aku cerewet soal tangan kamu, itu kan aset perempuan selain wajah, Ney. Harus kamu hargai dong diberi jemari yang bagus malah kamu kelupas seperti kentang. Coba deh pelan - pelan kamu belajar merawat diri bukan untuk orang lain ya tapi untuk kamu sendiri. Kamu juga pasti mau kan tampak segar, berseri, cantik plus lah buat Dins dia pasti terus lengket sama kamu,"


"Saran yang baik ya terserah kamu mau diikuti atau tidak. Rita tidak memaksa kan? Kamu sendiri nanti yang merasakan," jelas Arnila.


"Memaksa sih sebenarnya hahaha buat kebaikan kamu. Aku saja bisa seperti ini adikku dan ibu yang sarankan, "Masa kamu mau seperti lelaki terus kelakuannya?" Tahu kan aku yang awalnya selalu pakai jins sekarang jadi pakai rok, long dress. Perubahan membawa berkah deh," kata Rita. Ney memandangi Rita yang memang banyak berubah dari tampilan wajahnya yang dulu sama sekali tidak peduli kosmetik, sekarang semua jenis ada sampai vitamin untuk bibir juga. Lalu pakaian, yang bercorak dan model yang berbeda juga.


"Tapi kan tipe kamu beda dengan aku," kata Ney.


"Ya kamu cari sendiri tipe dari make up, baju, apapun maksudnya tidak perlu ikut - ikutan dengan Rita. Kita semua punya gaya sendiri. Boleh kamu gayanya tomboi tapi modis, dandanan lebih di permak halus lagi. Kamu kalau pakai bedak, itu bukan bedak buat make up, ya?" Tanya Arnila.


"Bedak tabur untuk badan sih," Rita dan Arnila tepuk dahi mereka bersamaan.


"Gunakan bedak sesuai fungsinya. Masa iya buat badan kamu pakai ke wajah?" Tanya Rita menggelengkan kepala.


"Namanya juga bedak ya sama saja fungsinya. Mau dipakai kemana juga," kata Ney tidak peduli.


"Oke, tidak apa - apalah mau dipakai ke mana juga tapi yo mbak yang merata! Kamu belang pakainya jadi aku lihatnya seperti bayi yang secara asal dipakai bedak. Tahu kan?" Tanya Rita membuat mereka menganggukkan kepala.


"Kita cerewet karena perempuan itu sifat dasarnya memang cerewet. Lu juga cerewet soal Alex, soal Imron. Hayo! Lu ingin kita selalu dengarkan pendapat kamu, tapi kamu sendiri kita kasih saran dengar tidak?" Tanya Arnila.


"Iyaaaa," jawab Ney yang sambil ogah - ogahan.


"Aku tidak punya maksud apa - apa lho sama kalian selama ini. Dalam hati dan dalam kenyataan, semuanya sama tidak ada yang berbeda. Tapi tidak tahu kalau menurut kalian berdua ya. Karena pasti beda, entah kalian anggap aku sombong karena terlalu banyak bicara," kata Rita. Mereka terdiam, ya pastilah salah satu dugaannya ada yang tepat. "Tolonglah kalau kalian berdua tidak suka aku yang banyak bicara atau apapun! Jangan balas dengan merundung aku apapun ALASANNYA. Itu secara otomatis mematikan rasa nyaman, aman, percaya apalagi dalam diri aku atau orang lain. It' never be the same again," Kata Rita dengan suara tegas. Lagu ON!

__ADS_1


Melanie C


...I call you up whenever things go wrong...


...You're always there, you are my shoulder to cry on...


...I can't believe it took me quite so long...


...To take the forbidden step...


...Is this something that I might regret?...


Mereka berdua terdiam sejenak, ingin melanjutkan sesuatu pun mereka tampak tercekat. Tidak mengira Rita masih teringat saat dirinya dirundung banyakan hanya karena satu kalimat dari orang asing. Arnila masih terus merasa tidak enak apalagi korbannya jadi terus menerus teringat pengalaman tidak enak.


...Nothing ventured, nothing gained...


...A lonely heart that can't be tamed...


...I'm hoping that you feel the same ...


"Kamu tahu kan kita lakukan ini untuk kamu agar jadi yang terbaik," kata Ney menjelaskan. Ada seraut wajah yang mungkin bersalah tapi dia selalu menutupinya dengan wajah yang lain.


"Iya tahu. Tapi masih banyak ya caranya agar aku bisa mengerti bukan dengan jalan kekerasan. Kalau dengan kalian sih Kekerasan Dalam Pertemanan alias perundungan, kalau dengan aku itu cara yang paling salah. Terus yang jadi masalah itu kok kalian mau sih dan percaya dengan perkataan Alex yang orang asing meski latar dia orang tajir. Kok kalian mau ya tunduk? Itu seperti kalian rela deh menjual pertemanan kalian dengan aku yang penting kalian aman," Rita sudah mulai merasa akan menangis tapi dia tahan. Buat apalah menangisi perilaku mereka dari sana pun sudah terbukti jelas, mereka bukan orang yang terbaik.


...I thought that we would just be friends...


...Things will never be the same again...


...It's just beginning, it's not the end...


...Things will never be the same again...


"Aku yakin bukan hanya alasan ingin aku yang terbaik sih," kata Rita lagi ingin sekali memuntahkan semua yang dia rasakan.


"Kalau aku sih, Alexnya sempat seperti ada ancaman ya. Benar kan, Ney?" Tanya Arnila yang menyenggol Ney.

__ADS_1


"Ya kalau kalian diancam lawan dong! Jadi kalian tuh bisa tunduk, bisa jual segalanya kalau kena ancaman sama orang yang berduit? Jiaah hanya secuil saja kalian punya harga diri? Alex bakalan mudah lho menginjak kalian kalau dengan mudahnya kalian nunduk! Aku saja lawan dia, seenaknya dia menghina aku," kata Rita yang kesal dengan jawaban Arnila.


...It' not a secret anymore...


...Now we've opened up the door...


...Starting tonight and from now on...


...We'll never, never be the same again...


...Never be the same again...


"Ya tidak begitu juga kok, Rita. Kita menyesal banget!" Jawab Arnila yang panik tapi menenangkan.


"Kamu juga tidak mau berubah," kata Ney memandang Rita dengan takut. Tahulah kalau Rita meledak, hancur!


"Aku salahnya dimana menurut kalian? Sampai setega itu kalian membully aku yang aku sudah anggap kalian teman berharga ya. Yang mananya aku yang tidak berubah? Yang mana?" Tanya Rita. Tapi mereka kembali terdiam, mereka berpikir memang tidak ada yang salah, tidak ada yang harus diubah. Rita dengan Rita yang biasa mereka kenal, sederhana dan tidak pernah memperlihatkan barang apapun. "Aku tuh punya salah apa sama kalian? Jawab dong aku kan nanya,"


Tampak beberapa orang yang memperhatikan mereka bertiga, pastinya Rita kalau sudah kesal pasti suaranya agak tinggi sampai lawan di depannya malu. Tapi mau bagaimana lagi? Kenyataannya apa salah Rita ya?


"Ya perilaku kamu mungkin. Alex kan dari keluarga terpandang masa iya kamu perilakunya tomboi. Kan harus yang setara dengan mereka," kata Ney membela diri. Sebenarnya sih tidak ada tapi daripada tidak bisa menjawab.


"Perilaku aku ya seperti ini kalau mereka tidak suka, ya terserah! Kenapa kalian jadi mengatur? Aku kan tidak palsu, aku anti banget ya jadi orang palsu. Di depan yang lemah gemulai, tutur kata selembut kapas dibelakang aslinya keluar. Kalau soal setara kalian mau aku setara dengan Alex? Sok berikan kekayaan kalian, uang segalanya supaya aku setara. Buktikan bukan dengan omongan! Mana?" Minta Rita kepada mereka berdua. Rita sudah tidak peduli bagaimana orang - orang memandangi mereka.


"Ya mana bisa," kata Ney sambil menundukkan kepala.


"Bicara itu memang gampang tapi plis deh, kalau kalian mengaku teman aku, kelihatan kan aku tuh orangnya seperti apa. Coba buktikan pada Alex, maksud aku jelaskan sama dia, aku seperti apa. Bukan malah aku ikut di bully, edan sumpah! Kalau kalian setuju dengan pernyataan Alex, itu sama saja kalian memang bukan teman yang baik. Sama dengan Alex, kalian tidak bisa menerima kekurangan aku atau kelemahan. Kalau Ney sih tampaknya kamu tidak suka dengan kelebihan yang aku punya. Tapi terserah deh!" Kata Rita. Rita memandangi Arnila yang mulai meneteskan air mata lalu dia mengelapnya.


...Now I know that we were close before ...


...I'm glad I realized I need you so much more...


...And I don't care what everyone will say...


...It's about you and me and we'll never be the same again...

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2