
"Terus kamu mau bertindak apa sekarang kita tahu ya yang sejujurnya soal dia bagaimana," kata Arnila yang sudah berhenti menangis.
Ney tidak bisa berkata apapun lagi saat itu juga. Dia juga mulai bingung apa yang harus dilakukan lagi, persoal Alex tahu kalau itu jujur keluar dari hatinya Ney.
"Yah, ya sudah. Aku anggap dia ya teman biasa yang tidak terlalu penting lagi. Kamu bagaimana?" Tanya Rita melihat Arnila yang syok.
"Sama. Untung ya kita masih punya waktu untuk bertemu jadi bisa kelar semua, tapi aku butuh waktu sih. Makasih untuk selama ini atas ketidaktahuan aku, Ney. Lu jadi orang lebih baik jujur daripada harus berpura - pura. Karena kalau jujur trus kamu ternyata tidak perduli itu lebih bisa memaklumi daripada lu pura - pura terus ketahuan, itu lebih memalukan dan kenanya sakit banget," kata Arnila dengan suara yang parau.
Kemudian mereka semua terdiam dan saling me-refresh ingkan diri. Ney chat dengan entah siapa, Arnila pasti dengan Imron dan Rita dengan Alex pastinya. Hahaha Rita tertawa dalam hatinya, ternyata semuanya palsu dia menganggap kita berdua memang tidak ada dan tidak penting. Bodoh sekali selama ini aku percaya pada nih orang. Gusti! Berilah aku pengganti darinya, orang yang benar - benar bisa aku percaya dalam genre apapun. Bisik hati Rita.
"I don't need friend like that," kata Rita membalas Alex.
"I feel you very sad. Arnila too, sabar ya. Kamu ahli sabar kan," kata Alex 🤗🤗🤗
Rita membalasnya dengan emoji senyuman juga, Ney sekilas memandangi Rita dan Arnila yang juga sibuk masing - masing. Ney memperhatikan Rita dengan tajam dalam pikirannya, Rita memang sangat berbahaya. Well, karena siapapun yang berhadapan dengannya entah kenapa jadi berani mengungkapkan sesuatu yang selama ini dipendam. Ney berpikir dia pun harus menjaga jarak dengan Rita, sebenarnya dia sudah lama berpikiran tidak bisa cocok dengan Rita tapi dia selalu membutuhkan Rita tapi bukan untuk urusan pertemanan. Entah buat apa sejak dulu memang begitu.
"Kita kembali ke persoalan paman kamu, soal Ney lupakan sajalah dulu. Katanya dia diberi surat kontrak sesuai apa yang kamu bilang. Bukan termasuk permainan kamu atau memang iya? Jujur atau aku buat kamu koma," ancam Rita dengan tatapan mematikan ke arah ponselnya.
"Hehehe aku jujur deh tapi jangan buat aku koma ya. Benar, aku ingin mencoba menguji seperti apa sifat Ney aslinya kepada kamu. Karena aku lihat kamu memang tidak peka padahal Ney dari dulu sudah terlihat jeleknya. Aku pikir mungkin kamu hanya berlebihan soal Ney tahunya memang yes, like you said. You have no element of lying or intending to make him ugly in front of me. May I known why are you trying so hard to tell me about Ney?
( Ya seperti yang kamu bilang. Kamu tidak ada unsur kebohongan atau berniat membuat dia jelek di depanku. Boleh aku tahu untuk apa kamu sampai berusaha keras mengatakan soal Ney kepada aku? )" Tanya Alex yang penasaran. Dia baru sadari kalau Rita mengatakannya untuk kebaikannya. Apa Rita berusaha menjaganya?
"I know what she's like, I've known her since middle school until now. The reason why she like the man is not because of the heart but the material and the face. Especially if she knows about who you are, I don't want you to be trapped by her trick. No, I have no intention of dropping it just don't want you to fall into the danger zone. Enough of your dark times like that. Do you want to experience it again?
( Aku tahu seperti apa dia, kenal dari SMP sampai sekarang. Alasan kenapa dia suka lelaki itu bukan karena hati melainkan materi dan wajah. Apalagi dia tahu soal siapa kamu, aku tidak mau kamu terperangkap muslihatnya. Bukan, aku tidak ada niat menjatuhkannya hanya tidak ingin kamu jatuh ke zona berbahaya. Cukuplah masa kelam kamu seperti itu, memangnya kamu mau mengalaminya lagi? )" Tanya Rita keheranan. Sulit sekali dia mengetik bahasa Inggris apalagi harus bolak balik membuka Gugle Translate.
"Wow, long as usual 🙄🙄🙄," kata Alex.
"Ya mau bagaimana lagi. Coba kamu mau bertemu secara langsung," kata Rita tersenyum menahan ketawa.
"Sama saja. Mau pakai bahasa asing atau Indonesia memang kamu sangat senang berbicara," jawab Alex tersenyum lagi.
__ADS_1
Rita kemudian memandangi Arnila yang tampak fokus dengan chatnya sedangkan Ney melihat - lihat ke arah lain.
"Kamu kenapa?" Tanya Imron.
"Aku sudah mendapatkan jawabannya," kata Arnila.
"Baguslah. Jangan kecewa kamu juga sudah banyak dikecewakan, kan. Syukurlah sebelum kita menikah, masalahnya sudah kelar. Ney bukan orang yang cocok dijadikan teman kamu sama Rita sama ya terlalu lembut," kata Imron.
"Pikiran aku sama Rita juga sama eh ternyata apa yang diungkapkan sama si Ney ya sama saja. Tapi berpendapat kalau kita berdua tidak punya teman makanya dia terpaksa dengan kita. Lah ternyata juga kita berdua lebih iba sama dia karena memang nyatanya dia selalu sendirian," kata Arnila membalas sambil sekali - kali terisak.
"Hahaha orangnya tidak pernah sadar diri. Sudahlah buat apa juga masih ngurusin dia? Dia rencana mau menikah kan, tidak perlu jadi babysitternya. Kalian sama - sama sudah dewasa, biarkan sajalah. Kamu cukup urus aku nanti, Rita saja tidak pernah memikirkan kamu atau kehidupan Ney kan. Teman ya teman tapi jangan terlalu sibuk memikirkan nasib mereka. Aku yakin Ney sudah harus kamu lepas, kamu buka ibunya!" Kata Imron mengingatkan.
Arnila lalu membeku sesaat dia tersadarkan oleh kata calon suaminya. Memandangi Ney yang menurut Imron sudah dewasa juga memandangi Rita yang memang orangnya sama sekali tidak pernah bersusah payah memikirkan kehidupan orang lain. Rita yang memang sifatnya cuek, kalem dan santai tapi kalau sudah marah memang menakutkan. Meskipun meledak tapi dia bisa merapihkan perasaannya dan menekan dan menerima kondisi lain. Itulah kenapa Rita lebih memilih bersabar dan pasrahkan segalanya hanya pada Tuhannya.
"Iya juga ya. Kenapa aku bersusah payah mengatur Ney? Bukan ibunya, ibunya sendiri selalu dia membantah apalagi ke orang lain," kata Arnila kepada Imron.
"Nah itu. Teman yang baik dengan orang tuanya pasti menghormati bukan sering memberontak sampai membantah. Teman kamu masih banyak yang baik kan. Sudahi pertemanan dengan Ney jangan terlalu dekat, kalau dengan Rita boleh. Dia lebih pengertian dan menghadapi orang sangat sabar. Mungkin itu juga yang membuat Alex itu menyukainya," kata Imron lagi.
"Sepertinya Rita dalam hal berbicara bisa membuat seseorang yang lemah jadi kuat ya. Kamu yang aku lihat dulu hanya bisa mengikuti Ney kemanapun, kalau Ney bilang sesuatu soal kamu, kamu hanya bisa memendamnya. Aku gemas banget waktu itu melihatnya, ingin sekali bilang kalau kamu marah ya keluarkan, kesal katakan. Sekarang kamu tampak lebih kuat dan berani. Aku suka," kata Imron.
"Iya ya. Aku juga merasakan begitu. Waktu dulu kuliah, kamu melihat aku yang membutuhkan Ney? Makanya aku selalu mengekor Ney?" Tanya Arnila kepada Imron. Takutnya salah ternyata memang Arnila yang butuh teman.
"Tidak. Kamu mengekor Ney karena Ney sering bilang butuh ditemani kan. Kenapa? Dia bilang kamu mengekorinya karena kamu yang butuh? Wah gila tuh anak! Kamu kan sering bilang ada janji kemana, tapi Ney memaksa kamu buat temenin dia saja kan. Aku masih ingat berapa kali Ney ganggu kamu," kata Imron.
Oh, ternyata memang Ney saja yang membuat alasan. Untunglah Arnila bersyukur banget berjodoh dengan Imron yang selalu mengawasinya.
"Iya dia bilang begitu dan katanya terpaksa saja saat aku terus mengikuti dia. Aku takutnya memang begitu apa yang dia bilang," kata Arnila dengan wajah takut.
"Ya ampun, Nila. Sekarang yang harus kamu fokuskan adalah aku. Aku! Ney bukan orang yang harus kamu pikirkan lagi, hentikan memikirkan dia. Bisa? Sekarang kamu sudah tahu dia terhadap kamu bagaimana kalau kamu terus sama dia, kamu akan lebih disakiti. Kamu sudah sering kena santet dia makanya kemanapun kamu pergi dia selalu tahu kan. Orang seperti itu sudah terlihat tidak benar, lupakan ya! Lihat saja Rita bagaimana menghadapi Ney. Oh iya kamu nanti pulang sendiri bisa? Aku ada rapat keluarga buat kita nanti, aku sudah tulis undangan buat Rita nanti tinggal dikirim saja." Kata Imron
"Baiklah. Aku jadi lega sekarang, masalahnya masih ada dan aku berjanji ini yang terakhir. Have nice day!" Kata Arnila mengakhiri chatnya dengan penuh senyuman. Setelahnya Arnila berselonjoran dengan bersandar di batu yang besar di belakangnya.
__ADS_1
Kembali ke Alex dan Rita. Yang tampaknya masih serius dan Arnila tidak mau mengganggunya. Lalu Ney menghampiri Arnila dan berusaha menjelaskannya. Untunglah Rita fokus pada Alex jadi dia sama sekali tidak bisa mendengarkan percakapan mereka berdua.
"Oh, jadi itu tujuan kamu. Hmmm maaf aku pikir selama ini kamu sengaja menjelekkan Ney agar aku menjadi budak kamu," kata Alex yang pekerjaannya sudah beres dan sedang beristirahat.
"Hah!? Buat apa aku melakukan itu? Yah kamu 11 12 seperti Ney senang berpikiran negatif sih ya," kata Rita kecewa.
"Bukan begitu aku tidak mau mirip dengan dia sama sekali tidak enak. Aku kan baru tahu kamu," kata Alex.
"Aku tidak perduli kamu percaya atau tidak soal apa yang kukatakan soal Ney Tapi kalau sudah kejadian jangan mengeluh atau marah - marah. Tapi aku harus berterima kasih sama kamu," kata Rita yang menghela nafas.
"Kenapa tuh?" Tanya Alex penasaran.
"Dengan hadirnya dan ulah kamu, aku jadi bisa melihat warna aslinya Ney. Terima kasih," kata Rita tersenyum dan kemudian berselonjoran. Rita masih belum melihat mereka berdua yang kini sedang argumentasi, kalau tahu pasti ikutan.
"Ohohoho wooow aku merasa senang sekali. Aku minta maaf ya telah salah sangka ternyata maksud kamu baik. Ya aku memang sengaja ingin memperlihatkan kamu agar sadar seperti apa Ney sebenarnya. Kamu memikirkan aku 😎😎 tapi aku masih saja menyakiti kamu. Lalu bagaimana barang yang diberikan Syakieb?" Alex memerah sekaligus senang karena ulah yang dia buat ternyata bagi Rita suatu keajaiban. Ada suatu yang seru dan membuncah dalam dadanya tapi dia masih tidak tahu apa itu.
"Pastinya sih ibunya suruh dia mengembalikan semuanya," kata Rita menduga.
"Wow! Sebanyak itu? Aku yakin dia masih menyimpan sebagian perhiasan dalam kantongnya," kata Alex sambil menyengir. Dia juga tahu betul Ney sangat matre apalagi tidak ingin merasa dirugikan.
"Ah, masa sih?" Tanya Rita tidak percaya. Masa iay sih??
"😑😑😑kamu masih belum percaya ya? Masih ada keinginan kalau Ney tidak begitu? Padahal kamu sudah lihat semua perilakunya," kata Alex menghela nafas. Dia memaklumi apa yang Rita rasakan pastinya masih masih masih tidak percaya dan masih berharap itu tidak benar.
"Tapi masa iya sih sampai disimpan sebagian? Dia tahu kan kalau itu barangnya bukan punya dia," kata Rita yang memang masih belum bisa yakin, apa iya dia sebobrok itu?
"Ney ada sisi baiknya tapi aku memang merasa aneh karena kebaikannya hanya secuil. Tidak seperti kamu, atau orang lain bisa seimbang. Tapi dia benar - benar terlalu banyak sisi jeleknya. Makanya kamu jangan terlalu dekat ya dia akan selalu memanfaatkan kamu dan dia sebenarnya tidak suka kamu," kata Alex. Dia masih aneh dengan Ney segalanya mana bisa sih ada manusia yang sisi baiknya hanya secuil jari?
"Mana buktinya deh kalau kata kamu dia masih memiliki sebagian perhiasan. Jangan bohong ya," kata Rita meminta bukti.
"Ya ampun, buat apa aku bohong? Fine. Menurut tebakan aku sepasang anting, gelang berbentuk jam, kalung dan cincin bertahta batu safir. Nih fotonya kalau memang ada di dia, kamu tahu kan harus bertindak bagaimana?" Tanya Alex lalu mengirimkan perhiasan itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...