
"Sudah gila dia," jawab Rita tanpa perasaan bersalah. Bau - bau seperti pelakor dia itu, nauzubillah.
"Lalu?" Tanya Alex pastinya penasaran banget.
"Karena kata - kataku tidak mempan jadi yang menghadapi dia ya sahabatku langsung toh dia juga inginnya bicara dengan dia. Jadinya mengatakan sesuatu yang tabu bagi seorang lelaki,"
"Pasti soal fisiknya," tebak Alex. Alex ya wajah super ganteng yang mantan playboy pastinya tahulah bagaimana cara menghadapi perempuan yang rese!
"Ya dan soal penampilan kulitnya supaya dia berhenti mengejarnya. Menurutmu bagaimana?" Tanya Rita mencoba bertanya pada Alex.
"Kalau memang diperlukan dan dia terus memaksa, ya aku juga akan bilang begitu. Dia tidak pernah merawat dirinya? Selama kamu kenal sama dia?"
"Tidak pernah sama sekali! Aku jujur ya sesuai yang aku lihat selama berteman sama dia. Mau aku beritahu kasih wejangan sampai 1000 kalipun, dia tidak pernah yang hanya sekedar masker wajah. Big No! Kalau memang suka, kulitnya sudah putih mulus sama dengan aku kan," Rita memang suka merawat meski tidak ke salon untuk spa atau yang lainnya. Dia hanya merawat sendiri dengan membeli sabun spa, masker Spirulina dengan berbagai wangi buah dan bunga. Yang kadang adiknya pun meminta ijin untuk meminta semua alat perawatan yang Rita punya.
"Begitu ya benar juga dia memang seperti itu. Coba kalau dia sama dengan kamu mungkin sahabat kamu bisa berpaling kan?"
"Mungkin tapi mungkin tidak. Rasa tidak bisa dipaksakan. Bagaimana kabar ibumu? Ney tidak pernah chat kamu lagi?"
"Kemarin masih. Bertanya kenapa aku bisa suka kamu," kata Alex.
"Lalu?" Penasaran Rita ingin tahu apa saja sih yang Ney suka bicarakan dengan Alex.
"Aku bilang karena kamu lucu selalu bisa membuatku tertawa. Aku juga katakan padanya kalau dia seharusnya banyak mendengarkan apa kata kamu. Karena tidak selamanya dia bisa mendapatkan lagi teman yang seperti kamu. Jangan hanya maunya apa kata dia, kamu harus dengarkan. Tapi harus saling menyambung, saling support. See? Aku tertarik bukan hanya soal Ney tapi aku juga mendukung kamu. Kalau Ney ada kesalahan apa dia suka minta maaf tidak sama kamu?"
"Tidak pernah. Dia akan bertingkah tidak pernah salah atau hanya merespon "oh" tanpa bilang maaf,"
"Hah!? Serius? Lalu bagaimana?" Sepertinya memang Alex tidak tahu apa - apa soal Ney.
"Mau punya salah pun dia tidak pernah mengaku tapi malah menyalahkan, mirip sama kamu. Kalau orang lain yang punya salah meski orang itu sudah meminta maaf, dia akan membicarakan terus sampai semua orang tahu. Dia tidak butuh teman yang dia butuhkan mungkin semacam teman untuk bersaing,"
"Yes, I know," kata Alex. Dia selalu begitu pasti karena sudah cari tahu soal Ney.
"Eh!?" Kata Rita yang merasa aneh. Tahu dari mana dia?
"Makanya kamu harus hati - hati sama dia jangan terlalu diperhatikan atau dilakukan apa yang dia suruh, ya," kata Alex mungkin dia tahu kalau Ney punya niat tidak baik dengan siapapun yang Ney kenal.
"Ohh Iya, tapi kenapa ya dia terlalu over kepedean orangnya?" Tanya Rita.
"Setelah ditolak tapi masih berusaha mengejar?" Tanya Alex.
"Iya," jawab Rita singkat.
"Karena rasa malunya sudah tidak ada kan. Rasa malu itu bagian dari keimanan seseorang, malu itu sifat atau perasaan yang membentengi seseorang dari melakukan hal yang rendah atau kurang sopan. Kalau selama ini, Ney selalu melakukan tindakan yang membuat kamu bertanya kenapa dia tidak malu? Itu karena sudah tidak ada keimanan di dalam dirinya, Ri," Jelas Alex.
__ADS_1
"Kamu jarang memanggil nama aku. Kenapa?" Tanyanya ya, selama ini Alex hampir tidak pernah memanggil nama lengkapnya. Sedangkan Rita kadang memanggil nama Alex dengan lengkap.
"Ya... itu..." jawab Alex yang terbata - bata.
"Kenapa? Malu? Kamu juga sama dong. Memanggil aku dengan sebutan 'Hei" Iman kamu sudah berkurang,"
"Enak saja! Hahaha ya karena tidak perlu," jawabnya. Memang dasar lelaki tidak sopan dimana semua orang yang usianya dibawah Rita, pasti mereka bilang 'Teteh' atau 'Mbak'.
"Malu yaaa," kata Rita menggoda Alex. Alex kalau digoda selalu berakhir marah pasti lucu ya melihat penampakan wajahnya yang merah padam. Marah karena malu.
"Huh! Lalu tidak diteruskan lagi?"
"Apanya?" Tanya Rita tidak mengerti.
"Ceramah aku?" Tanya Alex dan Rita tersenyum. Memang hanya ceramah Alex saja yang membuat Rita senang.
"Lanjutkan saja,"
"Jadi Islam mengajarkan kita untuk memiliki rasa malu karena dapat meningkatkan akhlak seseorang menjadi tinggi. Orang yang tidak punya rasa malu seperti teman kamu,"
"Dan kamu juga," sambung Rita membuat Alex terdiam.
"Aku tidak memanggil kamu sebutan lain takutnya kamu merasa lebih tua padahal sifat kekanakan,"
"Tidak ada hubungannya dengan sifat. Itu sih memang kamu terlahir goreng adat ( sikapnya jelek ). Dan sudah banyak orang yang tahu usianya dibawah aku, selalu memanggil aku teteh. Hanya kamu saja yang berbeda," kata Rita.
"Berbeda karena kamu memang no manners anaknya. Aku yakin semua orang yang kamu kenal justru mereka yang kamu tuntut harus menghormati kamu, hanya karena anak khorang khayah," pernyataan Rita membuat Alex diam beberapa saat. "Kamu dan Ney berarti berakhlak rendah dan tidak bisa mengendalikan hawa nafsu,"
"Huh!" Jawabnya.
"Hanya bedanya kalau Ney jadi sering selingkuh sedangkan kamu bermasalah hanya perilaku. Kamu selingkuh hanya sekali kan mungkin karena mantan kamu duluan yang selingkuh jadi kamu membalasnya. Padahal tidak perlu dibalas nanti juga dapat hukumannya," kata Rita.
"Iya juga. Kalau itu terjadi pada kamu bagaimana? Kalau misalkan aku selingkuh di belakang kamu,"
"Sebagai pacar?" Tanya Rita.
"Iya ini contoh ya,"
"Tidak apa - apa. Sesuka kamulah,"
"APA!? Jadi kamu tidak akan marah?" Alex terkejut dengan jawaban Rita.
"Buat apa? Pacaran kan bukan pasangan halal itu masih haram. Jadi ya kalau kamu mau selingkuh ya silakan saja kalau sudah jadi suami itu baru beda cerita,"
__ADS_1
"Aaaaaa! Kenapa sejak awal tidak sama kamu saja! Tapi kamu pasti akan membalas selingkuh kan?"
"Sepertinya di kasus kamu selalu begitu ya? Kasihan," kata Rita.
"Masih hidup juga. Ya begitulah. Lalu kamu akan lakukan apa?"
"Aku tidak akan membalas selingkuhi kamu, buat apa? Malah yang ada banyakkin dosa. Ya aku sih punya senjata ampuh yang buat kamu kapok seumur hidup,"
"Apa itu?"
"Doa. Doa pasangan yang teraniaya lebih mantap karena tidak akan ada penghalang kan. Jadi aky sih santuy saja biar Allah SWT yang langsung kasih kamu hukuman. Entah dibuat koma atau dibuat kamu kecelakaan sampai wajah kamu jelek,"
Alex membalas dengan mengirimkan emoji wajah datar dan Rita tertawa terbahak - bahak. "Lebih kejam ya,"
"Iya dong. Cukup pihak yang selingkuh yang merasakan sakitnya, pihak yang disakiti cukup menikmati balasan dari yang menyakiti. Aku sih buka lebar - lebar pintu pasangan kemana saja hehehehe,"
"Memangnya Doraemon," balas Alex.
"Pilih azab di dunia atau akhirat? Dunia masih banyak yang bisa menolong lho. Kamu kecelakaan, masih banyak orang yang akan membantu kamu, kalau di akhirat? Hanya amalan dan doa pengampunan dari yang tersakiti. Itu juga kalau dia punya niat memaafkan."
"Sadis banget!" Kata Alex membuat Rita kembali tertawa lagi.
"Kembali yang tadi," kata Rita cukup untuk iklannya.
"Ya kalau kamu misalkan melakukan kesalahan pada seseorang pasti minta maaf dan mengakuinya sedangkan orang yang tidak punya malu akan biasa saja meski dia melakukan kesalahan dan dosa meskipun banyak orang yang melihatnya. Sekarang kalau Ney terus mendekati teman kamu padahal sudah dipermalukan, ya menurutku kamu sudah tahu kenapa," kata Alex. Memang sih Rita sudah tahu jawaban lainnya.
"Kadang aku heran kok dia tidak sadar terus ya?"
"Orang yang seperti itu tidak akan pernah sadar. Aku dan Arnila mengakui kesalahan lalu meminta maaf sama kamu kan? Sedangkan Ney sudah aku ingatkan pun nyatanya dia tidak meminta maaf. Tapi kamu mau kan jadi teman dia? Sampai kapanpun?"
"Tidak mau,"
"............" Alex menjawab. Kalau tidak ada jawaban seharusnya tidak perlu membalas memakai titik - titik tapi untuk memanjangkan novel ya.
"Kenapa aku harus menerima orang yang punya sisi jeleknya lebih banyak dari sisi baik? Kalau masih banyak orang di dunia ini yang lebih banyak sisi baik daripada sisi jelek, seperti kamu. Buat kamu saja, kamu kan lebih bisa menerima dia,"
"Tidak mau!" Jawab Alex dengan cepat.
"Kenapa coba? Kamu kan selalu bela dia, aku juga berpikir kamu sendiri yang paling tahu sisi baiknya dia. Kenapa harus aku yang menerima dia? Dia pasti lebih senang punya teman tajir daripada miskin seperti aku," kata Rita.
"Dia lebih banyak sisi buruknya dari sisi baiknya. Tidak seperti kamu," kata Alex dibarengi dengan emoji mata yang besar sebelah dan miring.
"Huh, ikut - ikutan saja!" Kata Rita sebal tapi sambil tertawa.
__ADS_1
"Biarin!" Jawab Alex.
BERSAMBUNG....