ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(90)


__ADS_3

"Jadi jedukkan saja kepala ke tembok biar pening," kata Rita dapat ide.


"Itu sih disengaja supaya pusing. Justru masuk ke dosa kan," Arnila tertawa.


"Sakit bisa membuat kita kembali mengingat Allah SWT. Benar juga kalau sakitnya parah seperti Alex harusnya jadi banyak mengingat Allah SWT. Banyak menyebut namanya dan terakhir sakit bisa membuat kita lebih optimis untuk bertahan hidup,"


"Tapi kalau Alex kurang optimis sih," kata Rita.


"Memangnya kurang optimis bagaimana, Ri?" Tanya Arnila.


"Seperti tidak yakin hidupnya akan lama," jawab Rita.


"Ya penyakitnya kan parah, aku yakin dia sebentar lagi juga sama seperti sepupunya akan mati," itu kata Ney namun sama sekali tidak Rita pedulikan.


"Ya Allah! Jaga dong ucapan kamu! Meski kamu pernah ditolak sama dia, tidak seharusnya kamu berkata kejam," kata Arnila yang keberatan.


"Ya memang kenyataannya begitu kok, aku lihat dia meninggal cepat," Ney tetap dengan perkiraannya.


"Tapi aku yakinkan dia kalau jangan pernah berpikir jelek karena pasti tidak akan terkabul," kata Rita tidak mempedulikan apa kata Ney.


"Bagus, Ri! Terus saja dukung Alex. Dia butuh itu dan aku yakin, kamu lebih mampu dan setia bisa menjaga dia dari pikiran buruknya. Meski sakit jantungnya sudah sejak dia lahir ya, berat sekali,"


"Iya. Aku selalu mendoakan dia untuk kuat dan Allah SWT menjaganya dari noda - noda hitam. Cukuplah soal masa lalunya sekarang saatnya dia bersih," jawab Rita yang memikirkan keadaan Alex.


"Kok aku tidak kalian balas sih?" Tanya Ney namun mereka berdua sudah masuk dalam dunia mereka sendiri tanpa Ney pastinya. Ney masuk selalu saja membuat masalah dan terjadilah perdebatan yang panjang. Dulu dia tidak begitu kenapa sekarang berubahnya?? Kenapa tidak sedari dulu saja?


"Ingatkan juga untuk selalu istirahat dan meminum obatnya itu pasti banyak obatnya. Dan optimis bahwa semua sakit yang kita derita pasti akan Allah SWT berhentikan pada waktunya," kata Arnila dengan penuh ketulusan.


"Iya," jawab Rita sambil tersenyum. Setidaknya Arnila bukan perempuan seperti Ney, dia sangat mengerti tentang orang - orang di sekitarnya. Pantaslah kalau Arnila menikah duluan karena dia sangat dewasa.


"Banyak - banyak bersyukur ya Rita kita masih sering diberi sakit," katanya.


"Iya dong. Kalau kamu jarang diberi sakit, itu sebenarnya harus dicari tahu. Bukan soal ya kamu memang sehat tapi sisi lainnya masa sih jarang banget apalagi jarang solat tapi permintaan selalu dikabulkan. Berbeda dengan cara hidup Rasulullah SAW yang juga jarang sakit tapi karena Beliau hidupnya sehat,"

__ADS_1


"Hidup sehat seperti apa tuh, Ri? Di jaman kita saat ini sepertinya susah ya karena banyak banget godaan," kata Arnila.


"Iya aku juga begitu hahaha! Kalau kamu bagaimana Ney? Menurut aku sih justru mental kamu tuh yang sakit tapi kamunya tidak sadar," kata Rita yang sudahlah soal yang tadi dia bilang lupakan saja.


"Mental aku baik - baik saja kok! Kenapa jadi menyalahkan hanya karena aku jarang sakit?" Tanya Ney yang beranggapan Rita sudah tidak marah kepadanya lagi tapi nyatanya Rita masih, hanya dia tidak mau memperpanjang. Jadi Rita akan terus membalas Ney sampai skak mat!


"Kamu menjalankan hidup sehat tidak?" Tanya Rita.


"Hidup sehat yang bagaimana, Ri?" Tanya Arnila dan bukannya Ney. Perasaan Rita sih Ney sudah sebal dengan topik ini karena dia selalu kalah berdebat dengan Rita. Bukannya Rita tidak mau kalah, tapi kalau memang punya ilmu kenapa tidak dia bagi? Kenapa harus disimpan sendiri? Mau dengar atau tidak, ya itu pilihan dia.


"Hidup sehat ala Rasulullah SAW bukan hanya sering minum air putih saja," kata Rita.


"Aku makan apa yang bisa aku makan kok. Semua makanan aku makan!" Kata Ney tidak mau dirinya dianggap kalah lagi.


"Yang haram juga? Kamu bilang semua makanan lho," kata Rita sambil ketawa cekikikan.


"Ya tidak dong! Yang halal! Aku kan mengikuti cara makannya Rasulullah SAW juga," mulai ikut - ikutan nih!


"Masa aku harus kasih tahu sih? Kamu cari saja di Gugel! Masa aku harus buka kartu?" Ney mengomel padahal dia sendiri juga tidak tahu cara sehatnya seperti apa.


"Kamu sering cablak sembarangan kebanyakan bohong supaya kamu bisa masuk perhatian orang. Yang sebenarnya tidak kamu lakukan alias jauuuuh," kata Rita dengan berani membuka semua yang dia tahu mengenai Ney.


"Wahahahaha kamu tahu, Rita?" Tanya Arnila.


"Aku kan selalu memperhatikan semuanya soal dia tapi dia sendiri tidak tahu apa - apa soal aku. Biarkanlah," kata Rita.


"Urusan aku dong apa yang aku makan bukan urusan kamu! Aku memang mengikuti pola makan sehat Rasulullah! Memang salah?!" tukasnya dengan galak. Rita hanya tertawa keras dalam kamarnya. Oh iya dia belum sholat dhuhur.. segera dia tinggalkan hpnya lalu sholat dan chat lagi.


"Kamu kemana sih? Lama banget balasnya! Mengaku kalah ya hahahaha!" Kata Ney.


"SHOLAAAAAAT!!! Lihat jam dong sudah jam berapa, gara - gara meladeni kamu, aku telat sholat dhuhur. Arnila sudah sholat? Ney tidak perlu aku tanya kamu kan kafir tidak suka sholat," kata Rita sambil melipat mukenanya.


"Aku sudah Rita, kamu tidak membalas aku yakin kamu sedang sholat jadi aku tinggal juga," balas Arnila.

__ADS_1


"Aku diingatkan oleh Alex buat sholat dan ditanya, aku baru ingat kan niatnya mau sholat di rumah. Jadi aku tinggal hpnya dulu,"


"Alex suka periksa kamu sholat?" Tanya Ney heran.


"Setiap hari. Jangan tinggalkan sholat ya, supaya kamu bisa hidup tenteram. Dia juga ajak sholat bareng tadi,"


"Aduh romantis banget! Dia rajin sholat ya. Semoga dia selalu istiqamah dalam hidupnya," kata Arnila senang.


"Aamiin. Dia juga suka ajak aku mengaji meski beda rumah, tapi in sha allah selalu aku usahakan," kata Rita sangat bahagia. Cukuplah dengan hal seperti itu saja sudah membuat Rita melayang.


"Cieee ada yang melayang nih," kata Arnila menggoda Rita, Ney hanya terdiam karena dia juga pernah disuruh sholat tapi tidak pernah melakukannya. Ney menyadari sesuatu kalau Alex mungkin tidak terlalu buruk sebenarnya. Tapi apapun sudah jadi bubur, Alex tidak mengharapkannya melainkan Rita.


"Tidak salah kamu bilang mengikuti cara sehat Rasul tapi kamu bilang begitu sewaktu aku bilang soal pola makannya, jadi aku curiga. Kamu suka plagiat dengan ucapan orang lain. Kalau memang benar kamu lakukan pasti kamu beritahu sebelumnya, kamu kan suka pamer dan membanggakan sesuatu. Hayoooo! Aku sudah tabu banget lho kamu itu orangnya seperti apa," Rita menyerang Ney lagi dan dia tidak membalas. Rita tahu, dia sebenarnya membaca tapi sudah tidak bisa berkomentar lagi karena apa yang Rita ungkapkan ya tepat sasaran.


Rita sudah mengerti dengan kebiasaan Ney miliki. Kalau bicara tinggi lalu diketahui kebenarannya saat diungkapkan, dia akan terdiam seribu bahasa. Apalagi kalau ketahuan kebohongannya terkadang dia akan mengalihkan topik pembicaraan padahal dia sendiri yang memulai. Tapi setelah tahu malah dia yang kena banting, dia cari topik lain. Kurang strategi orangnya tidak tahu kalau Rita sangat senang berbicara tentu saja dengan ilmu ya.


"Sudah dong, debat kusir nya. Coba kamu jelaskan saja deh pola makan Rasul, kamu juga Ney berhenti menjiplak deh! Kalau punya ilmu jangan pelit," Arnila menengahi mereka berdua. Arnila selalu yang menjadi wasit antara Rita dan Ney, kalau tidak ada wasit tidak terbayangkan olehnya seperti apa akhir dari mereka berdua.


"Yang aku perhatikan kamu tidak ada pilih - pilih soal makanan, berbeda dengan Rasul. Rasul itu selektif kalau makanan pastinya harus yang halal dan Thoyyib ( baik ). Maksudnya bergizi tidaknya makanan yang beliau makan. Kamu? Apa selalu makan yang thoyyib juga?" Tanya Rita penasaran. Sekarang kan sudah masuk ke jam makan, Rita ingin tahu dia sedang makan apa.


"Ya iyalah!" Ney langsung menjawab.


"Contohnya apa? Kamu sekarang lagi apa Dan dimana?" Tanya Rita.


"Nih ya aku lagi makan. Makanannya mewah lho," katanya.


Lalu Ney mengirimkan foto yang berisi makanan fast food. "Ada gizinya tidak? Coca cola itu bersoda mana ada gizinya, yang ada minuman bersoda itu menghilangkan lemak. Itu gizinya! Kelihatan kan kamu itu sama saja makannya dengan aku! Bergizi tidak bergizi yang penting kenyang! Hahahaha!" Kata Rita yang menepuk tangannya, tahu kalau Ney memang hanya sekedar bicara saja. Tidak terlalu pintar kalau soal menantang atau berdebat. Kalau debat politik mungkin dia bisa memang tapi yah dia selalu memaksakan pendapatnya lebih baik.


"Ney japri aku katanya dia lupa kalau sedang berada di McD! Aku langsung ketawa keras pasti dilabrak habis sama kamu!" kata Arnila.


"Dia parah ya menjiplaknya terus tidak malu apa?" Tanya Rita. Sudah kelihatan bohong tapi tidak mau mengaku. Ampun!


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2