ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
428


__ADS_3

Sebelum giliran Rita, keponakan dari keluarga Ryan dahulu yang ditangani. Rita digeser jam tiga sore, sangat lama jadinya dia menyaksikan ruqyah itu dari jauh.


Koko sudah punya wudhu lalu mulai membentuk formasi dan membacakan surat pembukaan dari Al Qur'an dan memijat kepala Anan perlahan. Prosesnya cukup singkat saat Anan disuruh memejamkan kedua mata.


Tiba-tiba Anan mulai berteriak kesakitan dan mengatakan sesuatu dengan bahasa Jawa lalu menangis.


"HIIIY," Kata Rita merapat ke Wean.


"Seram sekali ya efeknya. Itu sudah lama Teh dari 3 bulan lalu ya, Ma?" Tanya Wean ke mamanya.


"Iya, makanya darurat kan," kata Tante yang berada di dapur karena ketakutan.


Rita jadi ketakutan padahal hanya dibacakan doa lalu di pijat. "Wean, itu kenapa sih?" Tanya Rita agak cemas.


"Oh katanya mah kalau tiap malam suka mojok di dapur. Ketawa sendirian di sana pokoknya seram deh ceritanya," kata Wean mengusap tangannya yang merinding juga.


"Mojok!? Kenapa tuh?" Tanya Rita yang kembali maju sedikit.


"Ada kunti yang masuk ke badannya terus setiap hari jongkok mojok di ruangan. Setiap diajak atau ditarik paksa ke ruangan lain, teriak-teriak terus mengumpat. Kasihan sih Teh Anannya. Terus pernah ada yang ditendang," cerita Wean.


"Hah!? Seram. Eh, Astro kemana?" Tanya Rita memandang ke belakang.


"Adek pacaran. Disuruh kesini katanya malam saja," kata Ratih menggelengkan kepala.


"Hahaha jadi itu suka sendirian kemana-mana?" Tanya Rita. Dia juga kadang seperti itu tapi kebanyakan untuk nonton dan mengerjakan tugas. Jadi seram juga ternyata apa-apa sendirian itu sebisa mungkin jangan dilakukan.


"Iya Teh, makanya darurat juga ya sudah parah sekarang tuh. Teh Rita tidak apa-apa kan kalau jam 3? Menginap saja," kata Tante Winan.


"Tidak, Tante soalnya banyak tugas dari sekolah. Kalau tidak sempat sekarang ya besok juga tidak apa-apa," kata Rita.


"Takutnya kecapean. Sudah ruqyah kan energi lumayan habis," kata Ryan.


"Yah, tidak bawa baju lagian disini juga banyak orang kan takut tidak ada yang kebagian kamar hehehe," kata Rita.


"Oh iya ya," kata Ratih menghitung jumlah orang dalam rumahnya.


"Terus ceritanya lanjut dong," kata Rita.


"Ya si mbak Kunti nya tidak mau keluar soalnya Anan selalu bicara sendiri tidak hanya di rumah Teh. Terus pernah cakar diri sendiri. Benar ga, Dek?" Tanya Wean ke adiknya


"Ho oh seram deh. Kalau tidak percaya lihat deh tangannya penuh cakaran kuku. Kok bisa seperti itu ya?" Tanya Ratih.


"Ternyata kalau bicara sendiri itu ada efeknya toh," kata Rita mikir.


"Ada dong Teh makanya kan kita diberitahu apapun yang terjadi mau lagi kesal, marah, sedih, senang jangan sampai bicara sendiri. Kalau sedikit sih tidak apa tapi kalau kata-kata keluarnya panjang. Ya kena," kata Ryan.


"Padahal kita sering ya ajak dia ngobrol, sering kumpul keluarga juga, yang ajak ngobrol ke dia juga banyak tapi ya begitu orangnya," kata Tante sambil makan kue.


"Teteh sudah tahu kan nama yang ruqyah nya siapa," kata Wean.


"Iya sudah tahu. Ramadhan Chandra kan," kata Rita mengangguk lalu memandangi Koko yang ganteng itu.


"Iya tapi dipanggilnya Koko saja Teh biar mudah," kata Ratih.


"Koko? Hmmm karena matanya sipit?" Tanya Rita.


Sontak semuanya ketawa. Memang sipit, Chinese pula tapi Islam, ganteng sekaleeee...


"Katanya sih daripada dipanggilnya Aa Chandra. Pokoknya Teteh kalau bisa hari ini di ruqyah, harus! Tadi Ratih sudah wanti-wanti Koko," kata Ratih semangat.


"Iya kalau bisa sekarang soalnya Teteh sudah capek dengar yang aneh-aneh. Terus kok bisa Koko tahu kalau Teteh butuh bantuan?" Tanya Rita penasaran.


"Oh, bagian itu sih Koko katanya dapat penglihatan kalau Teteh lagi krisis jadi tadi pagi cari tahu ke suami," kata Ratih.


"Iya Teh, pasti aneh ya. Kebetulan kan disini ada foto keluarga besar dari keluarganya Mama Ratih. Jadi aku bilang ke Koko datang sajalah kesini susah kalau dijelasin. Biar dia lihat sendiri orangnya yang mana eh tahunya Teh Rita," kata Ryan garuk kepala.


"Iya kita kaget sekali tidak menyangka padahal kita lihat Teteh kan cuek saja. Pas Ratih lihat sekarang ya pantas sih ada yang menempel sama Teteh. Dan "itu" kurang ajar sekali. Bukannya menjaga malah buat Teteh sakit," kata Ratih sebal.


"Oh, Ratih bisa lihat? Siapa saja yang bisa?" Tanya Rita kaget.


"Ratih memang bisa Teh tapi yah tidak heboh. Kalau Kak Wean juga bisa tapi kesannya bodoh amat. Astro kosong, Mama kosong nah kalau Papa ya turun ke Ratih sih," jelas Ryan.


"Kok baru tahu ya?" Tanya Rita.


Mereka semua ketawa. Ratih hanya memicingkan kedua matanya memandang marah. "Ratih marah bukan sama Teteh ya tapi sama makhluk yang menempel. Dia lagi pelototi Ratih soalnya ketahuan," kata Ratih menunjuk ke ruang bahu Rita.


"Hei, hei, aku takut hantuuuu," kata Rita sambil menutup kedua telinganya.


"Yaaah, Teteh. Makanya dia tidak pergi soalnya Teteh nya takut sih, nanti lihat sama Koko bakalan ditebas," kata Ratih memandang ke "Ruang kosong" itu.


"Gila deh si Adek. Berani-beraninya lihat begitu," kata Wean.


"Ada Dek?" Tanya Mamanya dari belakang.


"Hahaha iya memang ada. Dia tidak suka Teteh lihat ruqyah, nih nantangin. Kalau Ratih sentuh, dia pergi tuh sayangnya Ratih tidak punya kekuatan buat lepasin," kata Ratih mencolok ke sisi pipi Rita.


"Masih ada?" Tanya Rita.


"Pergi sih sementara tapi nanti datang lagi. Lihat saja mati kamu sama Koko dan Ua," kata Ratih bangga.


Kemudian terdengar tangisan dari Teh Anan dengan histeris. Kebetulan juga percakapan mereka lumayan terdengar tapi anehnya saat melihat keluarga Tante, mereka malah bertanya mereka bicara apa.


"Teh, bisa dengar ya mereka bicara soal apa," kata Ratih menepuk bahu Rita.


"Hah? Bisa. memangnya pada tidak kedengaran? Jelas lho," kata Rita memandangi mereka semua.


"Wah, si Teteh nih kalau di asah Ua kalah dengan Koko," kata Ryan tepuk jidat.


"Teh, disini jaraknya lumayan lagian Koko bicaranya pelan lho. Kita tidak ada yang bisa dengar mereka bicara apa," kata Ratih. Semuanya bengong menatap ke arah Rita.

__ADS_1


"Eh?" Tanya Rita. Dia melihat lagi ke depan memang jelas terdengar.


"Ya sudah Teteh dengarkan saja nanti cerita mengobrol apa mereka," kata Ryan mengacungkan jempol.


Rita coba fokus yah benar saja obrolan mereka terdengar jelas dan Rita menyimak dengan serius. Ratih dan yang lainnya, saling menyenggol menatap Rita yang sedang fokus.


"Bu, Pak, sebelumnya nanti kalau Teh Anan sudah sadar suruh banyak mengaji, sholat tepat waktu dan berjamaah. Terus jangan banyak pikiran, sering diajak mengobrol kalau dia tidak mau, dipaksa saja. Kalau nanti dibiarkan sendirian lagi setelah saya ruqyah, Kunti nya akan datang lagi," jelas Koko yang kelelahan tampaknya.


"Minum dulu, Ko. Susah ya nanti ada gelombang kedua," kata Bibi Ryan menatap kasihan pada Koko.


Koko minum sambil habis minumannya sambil memegang tasbih.


"Kita sudah paksa Kang, sering sekali sama semua keluarga. Mengobrol, bermain keluar rumah, jalan-jalan kemana saja hayu! Selalu ditolak sampai banting pintu. Bapaknya sendiri juga sering dicakar nih lihat, saya sudah menyerah. Kenapa ya, Kang. Ada masalah apa sebenarnya?" Tanya Ibunya yang menangis.


Koko terdiam ada perasaan tidak enak menyebutkannya. "Begini ya Ibu, Bapak yang saya baca anak ibu teh ada masalah dengan semua teman-temannya. Yang batu-baru ini kasusnya anak ibu merebut pacar teman dekatnya secara diam-diam pakai sesuatu," kata Koko secara pelan.


"Astagfirullah! Teh! Teteh teh kenapa? Pakai santet bukan, Ko? Kita pernah menemukan ada sejenis tulang terus bahan aneh di gayungnya," kata Ibunya kaget sambil memukul Teh Anan.


"Mbak, sabar Mbak. Teh Anan begitu juga karena Mbak kurang perhatian bukannya dirangkul malah dipukul," kata keluarga lain menenangkan.


"Bu, kuatkan ya ini juga ujian untuk Ibu sendiri dan keluarga. Belum jadian," kata Koko.


"Tapi kenapa Ko. Saya pikir anak saya ini ya baik-baik saja," kata Ibunya.


"Yakin Bu? Apa Ibu tahu kalau anak ibu banyak yang mengejek karena tidak cantik? Ini tidak hanya sekali tapi berkali-kali, kalau bisa Ibu harus sering membesarkan hatinya, memberikan semangat dukungan bukan pukulan," kata Koko agak prihatin.


Lalu Rita ceritakan semuanya pada mereka yang tidak bisa mendengar jelas.


"Iya sih Teh, keluarga sana teh kan memang jauh ya dengan keluarga kita. Memang beberapa keluarga termasuk yang ini keadaan keluarganya tuh keras sekali. Kalau kita tidur masih bisa On jam 10, di keluarga mereka jam 8 saja sudah harus tidur," kata Tante menjelaskan.


"Oh iya kan kita juga pernah kena marah. Ingat tidak? Gara-gara Astro tuh ajak begadang main game. Wah, memang parah sih Teh. Bentuk depresi mungkin ya," kata Wean.


Kedua orang tua Teh Anan terdiam. Mereka hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak itulah kenapa dibuat peraturan.


"Merebut kekasih orang, berbicara kasar sampai menyakiti hati orang, menyumpahi semua temannya juga mau yang baik memberi saran atau yang tidak, semuanya sama Bu. Kasihan saya mah Teh Anan sudah depresi kalau setelah saya ruqyah tidak sembuh, apa boleh buat harus Ibu periksakan ke Rumah Sakit Jiwa," kata Koko dengan berat hati.


"Ya Allaaaaah, Papa!!" Teriak Ibunya histeris sambil menangis.


Papanya menunduk menangis juga dan memeluk istrinya. Sedangkan Teh Anan terus menangis, kepalanya menunduk.


"Saya bukan binatang. Saya bukan binatang. BUKAN!! KALIAN YANG BINATANGG!!" Teriaknya tiba-tiba lalu menyerang kedua orang tuanya.


Dengan sigap Koko menchop sesuatu di lehernya dan Teh Anan pingsan. Kedua orang tuanya semakin menangis histeris melihat anaknya yang lemas.


"Nah, kalau itu kita dengar Teh. Jelas," kata Wean yang ketakutan. Mereka semua merapatkan diri. Tante Winan bersembunyi di belakang punggung suaminya.


"Itu semacam di chop ya?" Tanya Rita agak takut.


"Iya Teh," jawab Ratih ngeri. "Teh Rita bagaimana ya nanti?" Tanya Ratih ke suaminya.


"Memangnya kamu mau masuk ke dalam? Suruh Mbak sama Bibi saja," kata Ryan angkat tangan.


"Iya, Ko. Kadang anak saya suka bicara kotor. Kalau tidak setuju atau apalah," kata Papanya yang berwajah merah menahan malu.


"Iya, Pak. Itu sebabnya karena stres yang berkepanjangan dan tidak ada solusi. Sebenarnya mah Teteh sudah pernah mengatakan mungkin tapi kalian tidak mau dengar. Kata-kata yang tadi itu jeritan hatinya selama ini. Orang tua seharusnya mendidik, membimbing sampai anaknya berhasil bukan menelantarkan," kata Koko suaranya agak geram sekali.


Wajahnya tampak super marah. Rita menyilangkan tangannya. Ada juga orang tua yang seperti itu. Ruta laku disenggol oleh Wean. Lalu cerita lagi.


Kemudian Teh Anan bangun membuat semua orang kaget. Rita dan yang lain berlarian ke dalam dan mengintip dari lemari pajangan.


"Edan ey bisa bangun tiba-tiba," kata Ryan.


"Duuh kok aku jadi takut ya? Nasib Teteh kalau nanti diruqyah bagaimana ya?" Tanya Tita agak cemas.


"Oh iya ya Teteh nanti gelombang dua. Teh, banyak baca doa saja. Nanti ruangannya di dalam saja takut kenapa-kenapa," kata Ratih yang sudah disiapkan.


"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!" Teriak Teh Anan tertawa dengan keras dan panjang sekali.


"KELUAR! HADAPI SAYA JANGAN BERANINYA KAMU MEMAKAI BADANNYA! KELUAR!!" Teriak Koko.


Yang ini tidak perlu dijelaskan lagi. Rita mengintip di bawah lalu di atasnya ada Wean, di atas ada Ratih lalu di atas ada Ryan. Sudah seperti tangga melihat proses ruqyah itu.


"HAAAAAAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!" Teh Anan tidak berhenti tertawa dan suaranya memang berbeda. Panjang lalu pendek-pendek lalu berusaha mencekik Koko.


"Kang, jangan dicekik Kang. Anak kami. Maafkan kami, Teh. Maaf!" Kata Ibunya yang ingin memeluk tapi dihalangi takutnya semuanya akan gagal.


"Mbak, jangan! Tahan! SABAR!!" Teriak Bibi Ryan memeluknya.


Ibunya jatuh sambil menangis. Papa nya menatap sendu putrinya. Awal memakai jilbab sekarang disobek dan ditarik, tertawa keras sambil melotot.


"Kamu disuruh siapa? JAWAB! Katakan atau saya kirim paksa kamu kembali!" Teriak Koko dengan lantang.


Koko lalu berdoa dan memijat di dahinya.


"KYAAAAAA SAKIIIT!! HENTIKAAAAN! MAMAAAA!!" Teriak Teh Anan menangis kencang.


"Anan! Anan!!" Teriak Ibunya tapi ditahan oleh saudaranya serta suaminya.


"Bu, kita harus ikhlas. Ini semua salah kita yang tidak mau mendengarkan saran dari anak-anak. Salah kita," kata Papa nya menangis.


"Ruqyah sedih sekali tapi seram juga sama," kata Rita. Mereka semua setuju.


Keringat mengalir dari dahi sampai tangan Koko, tampaknya sangat lelah. Lalu Bibinya Ryan memegang Koko dan Koko menunduk lemas. Tiba-tiba Koko bergerak lebih sadis.


"Itu bukan Koko ya?" Tanya Rita.


Ratih dan yang lain memandang Rita. "Hah? Teteh bisa lihat?" Tanya mereka.


"Soalnya Koko yang sekarang berbeda. Seperti dirasuki begitu. Ini ruqyah atau bagaimana sih? Benar aman?" Tanya Rita lihat ke atas ada Wean.

__ADS_1


Mereka terdiam.


"Aman Teh nanti Teteh tanya saja Koko kenapa bisa jadi kilat geraknya," kata Ratih.


"Teteh bisa lihat khodam?" Tanya Ryan kaget.


"Hah? Tidak bisa. Tapi kalau komunikasi bisa Soalnya pernah sama yang Malay," kata Rita sambil melihat Koko.


"HAH!?" Teriak mereka semua.


"Teh, dimana-mana juga kalau bisa komunikasi sana mereka ya bisa melihat juga. Teteh tidak bisa?" Tanya Ratih.


"Khodam itu seperti apa ya?" Tanya Rita. Mereka semua kembali diam.


"Kok bisa?" Tanya Ryan agak aneh.


"Koko ditendang woi," kata Wean kaget.


Rita melihatnya yakin itu bukan Koko lalu menatap Bibinya Ryan, penasaran apa yang dilakukannya tadi. Bibi Ryan memandangi Rita lalu tersenyum. Rita kaget dan terdiam.


"Itu bukan Koko tapi ada yang merasuki ya," kata Rita.


Teh Anan lalu menyerang pokoknya kacau sekali disana. Lalu Bibi Ryan menepuk Koko dan berganti lagi kali ini tampaknya agak lebih... lembut.


"Perempuan?" Tanya Rita.


"Hah!?" Seru mereka lalu melihat ke arah Koko.


Koko duduk dan merapihkan rambut Teh Anan yang sedang berpose seperti macan ke arah Koko.


"Kamu ini perempuan. Coba lebih lembut, duduk dengan baik jangan begitu. Yuk, duduk yuk. Mau cerita? Sok cerita saya dengarkan ya," kata Koko menyisir.


Teh Anan yang memandang Koko, langsung menurut. Mengusap wajahnya dan merapihkan diri.


"Disisir ya rambutnya. Aduh, kamu lepas jilbab. Pakai lagi ya. Jangan sedih lagi. Kamu kenapa seperti ini?" Tanya Koko. Bibi lalu ambil sisir dan menyisir keponakannya dengan sedih.


Teh Anan lalu diberikan jilbab lagi dan dipakaikan. Wajahnya habis menangis. "Huhuhuhu," katanya menangis.


"Yuk, lelah kan? Sudah jangan teriak-teriak masa perempuan begitu? Malu kan. Sok kamu cerita ya kalau orang tua kamu tidak mau dengar, aku yakin banyak kok yang mau dengar," kata Koko dengan suara yang lembut.


"Cih, si Koko tumben bisa bilang begitu biasanya malah seperti menggombal," kata Ryan.


"Itu bukan Koko. Sepertinya Koko kerasukan. Bagaimana sih ini ruang ruqyah malah dirasuki," kata Rita memperhatikan.


"Waduh!" Kata Ryan.


"Cerita. Kenapa? Kenapa?" Tanya Koko mendengarkan.


"Saya iri," kata Teh Anan.


"Iri kenapa? Sama siapa?" Tanya Koko.


"Teteh itu," katanya sambil menangis.


Mereka terdiam.


"Teteh? Teman kamu?" Tanya Koko.


Bibi Ryan menegang, kedua orang tuanya kebingungan.


"Aduh, punya firasat jelek," kata Rita sembunyi.


Teh Anan menggeleng. "Tadi ketemu,"


Rita memejamkan kedua matanya dan bermaksud kabur ke dalam dapur.


"Jangan-jangan..." kata Ratih. Lalu mereka berbalik melihat Rita sembunyi memakai piring putih menutupi wajahnya.


"Kalau dicari, bilang Teteh pulang," kata Rita dari balik piring.


Mereka menepuk dahinya. Jadi yang dilihat Teh Anan itu Rita!


Alex juga ada dan menganga. Apalagi tampak marah pada Koko tapi dia juga tahu itu bukan Koko yang asli.


"Orangnya ada di rumah ini?" Tanya Koko.


"Iya, aku iri kepadanya karena dia cantik sekali. Aku kepanasan," kata Teh Anan memejamkan kedua matanya.


Bibi Ryan menepuk dahinya.


"Ua, siapa?" Tanya kedua orang tua Teh Anan.


"Itu, saudara dari keluarga pihak Bu Winan. Ada mau di ruqyah juga. Teh, jangan iri untuk apa? Taraf cantik itu masing-masing ada jangan iri ya," kata Bibi menenangkan. Takutnya Rita disuruh datang.


"HUAAAAAAAAAA!!" Teriaknya menangis. "SAYA IRI SAMA DIA KARENA CANTIK SEKALI," Teriaknya langsung menangis lagi.


Semuanya terdiam, Bibi enggan kalau harus membawa Rita ke hadapannya apalagi Koko. Karena takut Rita diserang juga.


"Saya mau ketemu dia," kata Teh Anan.


ENG ING EEEENG....


Mendengar itu sontak Rita menurunkan piringnya dan menghela nafas.


"Teh, lebih baik..." kata Koko.


"SAYA MAU KETEMU DIA," Teriak Teh Anan.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2