ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
451


__ADS_3

"Kamu sedang apa?" Tanya Arnila agak aneh karena sudah Maghrib, Ney masih online bukannya sholat.


"Sedang santai dong sambil makan nugget. Nih," kata Ney memfoto semua makanan yang dia pesan menggunakan ojek online.


"Suami kamu kemana? Bukannya kalau sudah pulang dia suka minta makan?" Tanya Arnila agak curiga.


"Ada, tapi sudah pergi lagi," kata Ney membalas dengan santai.


"Hah!? Terus kamu enak-enakkan makan?" Tanya Arnila tidak percaya. Heran kok ada ya istri yang sama sekali tidak cemas suami pergi kemana.


"Ya aku kan lapar biarlah dia mau kemana juga," balas Ney tidak peduli.


"Kok begitu sih? Jangan cuek. Cepat cari!" Suruh Arnila memijat kepalanya.


"Sudahlah, kamu kan punya suami jangan kepo deh sama urusan aku," kata Ney sebal sekali. Sok menasehati.


"Rita sudah ada yang punya kenapa kamu masih kepo ke dia? Sudah punya suami sendiri, urus kek!" Balas Arnila. Tentunya lebih menohok.


Ney diam membacanya, ada jeda dia memikirkan apa yang dikatakan Arnila. Ada benarnya juga lagipula sampai sekarang Rita tidak pernah lagi menceritakan soal Alex.


Kedua mata Ney mendelik kesal, toh Dins sendiri yang salah lalu pergi entah kemana. "Aku sudah teriak ya sampai kering suaraku supaya dia kembali,"


"Telepon kek ke rumah orang tuanya. Kamu mau dia punya PIL (Perempuan Idaman Lain)? Kalian menikah baru sebulan sudah kacau begini," kata Arnila galak. Seharusnya Ney berubah bila sudah memutuskan ingin berkeluarga.


Ney langsung teringat, ada benar juga kemudian panik lah dia dicarinya suaminya itu. Dia telepon ke teman terdekat Dins namun malah dapat ejekkan.


"Istri macam apa ya? Suami pergi sama sekali tidak tahu malah tanya dia disini," kata teman Dins.


Langsung Ney matikan, semua temannya memang tidak ada yang menyetujui hubungan mereka bahkan sampai menikah. Tapi Ney tidak peduli karena kini gudang uangnya sudah menjadi miliknya.


"Apa jangan-jangan dia..." pikir Ney bergumam sendiri tapi dia malas menghubungi kesana. Tahu kalau orangtua Dins akan memarahinya.


"Ya? Siapa ya ini?" Tanya Ibunya Dins.


Sosok inilah yang membuat Ney bete dan malas mendengar suaranya tapi daripada tidak. "Anu, Bu ini aku Ney. Apa Dins ada disana? Karena dia tiba-tiba pergi begitu saja,"


Terdengar dengusan dari arah sana. "Kamu ini istri macam apa sih? Anak saya habis pulang kerja tidak disediakan makanan, bukannya masak malah kamu goreng kan nugget? Uang bulanan anak Ibu kamu kemana kan saja?" Tanya Ibunya dengan marah.


Dins memang sedang ada disana menyantap nakan malam dengan enak. Ney malaaaas sekali.


"Ya aku kan belanja untuk kebutuhan aku, Bu. Dins mana ya? Aku sudah pesan banyak makanan. Lagipula soal uang bulanan kan buka urusan ibu mertua ya," kata Ney menjawab seenaknya.


"Kamu ini kalau diberitahu itu dengarkan! Kamu menikah sama anak Ibu karena uang kan? Kamu bilang pandai masak tapi sama sekali tidak pernah membawakan masakan kamu kemari. Saya tahu kamu tukang bohong. Kasihan sekali anak saya punya istri macam kamu," kata Ibunya penuh amarah.


Dins lalu menghampiri Ibunya, ini tidak akan selesai juga.


"Halo? Halo? Bu? Tolong beri tahu Dins untuk pulang ya nanti makanannya dingin," kata Ney sama sekali tidak memperdulikan apa kata ibu mertuanya.


"Mau apa lagi kamu? Saya sedang makan malam di sini. Tidak perlu risau, saya bukan berselingkuh," jawab Dins.


Perkataannya menyayat hati Ney yang ketahuan dia pernah jalan dengan lelaki lain dua minggu setelah menikah. Heran.


"Aku tidak selingkuh, itu tuh teman kerja aku, Dins. Kita ketemuan karena dia butuh orang di tempatnya," kata Ney menjelaskan sambil memejamkan kedua matanya.


"Halah! Memangnya kamu pikir aku bisa dibodohi? Aku bertanya ke Direktur tempat kamu bekerja, tapi tidak ada pegawai dengan sosok itu," kata Dins marah sekali.

__ADS_1


Kalau begitu kenapa mau menikah? Kena pelet sepertinya.


Ney menggigiti kuku jari tangannya, dia hanya mendengarkan ocehan Dins sambil memperhatikan kukunya yang sudah rusak.


"Aku sudah siapkan makanan. Pulang ya, aku tunggu," kata Ney menutup ponselnya. Dia tidak peduli apa yang dikatakan ibu mertuanya nanti pokoknya dia sudah pesan banyak makanan.


Dins sudah tentu kesal karena Ney sama sekali minus attitude padanya. "Bu, aku pulang ya. Dia sudah siapkan makanan," kata Dins cium tangan ibu dan Ayahnya.


"Aduh, sudah biarkan saja istrimu itu. Ibu cemas kamu tidak bisa makan dengan baik. Jangan lupa rajin sholat supaya nanti Allah bisa memberikan pengganti," kata Ibunya memeluk Dins.


"Jangan begitu, Bu meski dia memang banyak minus tapi aku sayang. Hanya aku yang mau menerima dia," kata Dins.


"Ayah juga tidak setuju kamu dengannya. Baru menikah sudah kepergok dia jalan dengan lelaki lain. Lepas saja lah Nak," kata ayahnya sedih.


"Pulang ya," kata Dins yang memakai jaket.


"Ini. Pokoknya bawa. Ibu tahu sekali istri kamu itu bisanya hanya simpan uang saja. Kalau kamu tak suka dengan yang dia buat atau beli, makan buatan ibu ya," kata Ibunya memaksa.


Dins mengangguk, dia menghela nafas. Awal bukan pernikahannya sudah menunjukkan kemirisan kehidupannya.


"Ayah, Ibu. Ini aku ada sedikit uang. Jangan beritahu Ney," kata Dins membagi dua uang tersebut ke mereka.


"Iya iya, terima kasih ya. Hati-hati di jalan," kara Ibunya setelah menerima uang bulanan dari Dins.


Ney marah bukan main, dia mengetahui Dins memberikan uangnya sudah tentu dia menyuruh jin kimprit mengikuti suaminya kemanapun dia pergi.


Sesampainya, Ney menyambut Dins dengan wajah super bete.


"Kamu kasih uang ya buat orang tua kamu? Pesangon aku kan jadi berkurang kalau kamu beri mereka," kata Ney yang dengan malasnya membawakan tas kecil milik Dins. Lalu memeriksa dalamnya.


"Dia ibuku yang merawat, membesarkan dan memeliharaku sampai bisa sukses. Kamu? Hanya bisa menghabiskan. Jangan banyak tingkah!" Kata Dins dengan ketus.


"Kamu pesan dari ojek online ya? Mana mungkin ini masakan kamu," kata Dins meletakkan bekal besar di atas meja.


"Apa itu? Dari mana ini? Kamu beli?" Tanya Ney mengeluarkan semua masakan yang masih hangat itu.


"Saya bukan kamu. Ibu aku yang buat. Ibuku tahu kalau kamu sebenarnya tidak bisa masak, saya kan pernah bilang jujur saja kalau tidak bisa masak. Malah kamu banyak berbohong. Makanlah, ini lebih enak daripada buatan rumah makan," kata Dins kemudian duduk.


Ney dengan senang hati mengambilkan piring fan mereka makan berdua, masakan ibunya Dins memang sangat lezat. Sambil makan Ney menatap suaminya yang memakan makanan online.


"Yang, bulan depan semua gaji kamu kasih ke aku ya. Biar aku yang urus deh soal uang untuk orang tua kamu," katanya sambil memotong daging.


Dins menatap Ney yang penuh harapan. "Yakin kamu bisa amanah? Bukan untuk selingkuhan kan?" Tanya Dins sambil makan.


Ney mengumpat dalam hati lalu menjawab dengan nada lembut. "Bukanlah, dia itu teman aku. Aku yang seharusnya kamu dahulukan bukan ibumu," kata Ney cemberut.


"Fine. Tapi ingat kamu harus bagi uang ke irang tuaku setiap bulan ya. Janji!" Kata Dins menatap istrinya.


Ney mengangguk senang dia sudah merencanakan sesuatu nanti untuk mertuanya yang menyebalkan itu.


"Hahaha mana mau aku memberikan semua gaji kamu ke mereka. Itu hak aku! Suruh siapa menentang aku menikah sama kamu? Uangnya mau aku belikan cicilan mobil ah. Pasti teman-teman akan terpana melihatnya," kata Ney dalam hati.


Kembali ke tempat dimana Rita berada, hari sudah gelap. Koko sudah selesai wudhu dan duduk kembali tetapi menjaga jarak takut batal.


Rita tidak sedang sholat jadi dia hanya mengganti popoknya saat Koko wudhu.

__ADS_1


"Sekarang mau bagaimana?" Tanya Koko.


"Enaknya bagaimana?" Tanya Rita.


"Lebih baik konsul saja dulu Teh," saran Tyas.


"Oke deh kalau begitu, perkenalkan nama saya Ramadhan Chandra tapi Teteh bisa panggil saya Koko saja," kata Koko sambil senyum. Haiiihhh... kalau senyum tambah plus angkanyaaaaa...


"Koko? Kenapa Koko? Tidak nyambung," kata Rita.


Koko tertawa begitu juga Tyas. "Dulu ada kejadian sih Teh, kan aku tobat terus pakai baju koko kemana-mana. Ya kena ejek lah sama teman-teman lain," jelas Koko.


"Ohhh aku kira karena mata Koko sipit," kata Rita ketawa.


"Apa hubungannya?" Tanya Koko bengong.


"Itu lho Ko maksud Teteh Rita, orang chinese. Koko memang orang cina Teh," kata Tyas yang sudah pernah di ruqyah.


"Wahahaha iya iya saya orang cina. Tapi Teh Rita juga sipit, apa saya harus panggil Kiki?" Tanya Koko sambil bercanda.


"Hahahaha," kata Tyas dan Rita tertawa bersama.


"Maaf ya bajunya begini, tapi sudah jinak kok," kata Koko senyum full gantengnya.


~Yang penasaran sosok Koko bagaimana? Cek saja Instagramnya. Author sudah minta ijin untuk menampakkan namanya di dalam novel ini, untuk menjadi pemeran tambahan ☺️.~


( Ada di episode bawah, Author juga lupa di bab berapa ).


Sekilas meskipun bajunya berlengan seperempat, ada tato besar di sebelah kirinya dan dia selalu menarik bajunya itu 🤣🤣.


"Yang benar dong kamu pakai bajunya. Banyak lho yang tidak percaya sama kemampuannya karena tato itu. Jaman Anak Nakal ya," kata Tante Winan tertawa.


Koko menarik lagi lengannya. Tatonya itu bergambarkan naga kecil dengan kaki yang memiliki kuku tajam, berwarna hitam metalik. Dan kedua sayap yang membungkus tubuhnya.


"Hmmm tidak apa-apa, Ko. Memang... aku agak kurang percaya juga sih karena... ya itu," kata Rita menunjuk ke tato. Takutnya hanya karena wajahnya yang aduhai, kena tipu lagi.


"Tuh kan, kata saya juga apa. Kamu nih tidak percaya sih," kata Ryan muncul sambil membawa kopi dan memberikannya ke Koko.


"Iya iya besok deh aku rapihkan," kata Koko agak sebal.


"Nih, nanti pulang bawa deh baju kantor saya. Lu pakai saja, masih baru," kata Ryan kasih kode.


"Koko baru tobat ya sama dengan kenalan saya," kata Rita senyum dengan santai.


Alhasil Koko juga jadinya santai karena dia melihat Rita, Rita bukan tipe perempuan yang ribet. Yang mengutamakan penampilan berbeda dengan pasien lainnya yang sering Koko temui.


Menurut pandangan Koko, Rita lebih tidak peduli soal penampilan asalkan orang itu benar-benar berniat baik. Dari kelakuan Rita juga, orangnya cuek sekali. Mau Koko ada tato sebanyak apapun asal tidak seluruh, baginya ya wajar.


"Yang Malay ya?" Tanya Koko berpikir.


"Plis deh Ko belum aku ceritakan sudah tahu duluan," kata Rita agak berdebar. Rita sama sekali tidak suka kalau terlalu digembor-gemborkan dengan orang yang belum pasti.


"Hahaha iya iya. Lalu bagaimana? Mau bertanya soal apa?" Tanya Koko yang membaca isi hati Rita, yang mengancamnya jangan membeberkan terlalu banyak info di hadapan banyak orang.


"Hmmm yang mau saya tanyakan, apa Malay itu nama aslinya benar Alex?" Tanya Rita melihat ke sekeliling.

__ADS_1


Untungnya Wean, Ratih dan lainnya berada di ruangan paling ujung. Ya, mereka juga mengerti kalau ini konsulnya Teh Rita meski mereka penasaran dengan sosok Malaysia itu.


Bersambung ...


__ADS_2