ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(341)


__ADS_3

"Begini, Rita beberapa karyawan melaporkan kabar tidak enak sola teman kamu. Makanya saya panggil kamu kemari untuk memastikan. Sebentar saya panggil dulu pegawai yang menangkap beberapa kabar ya supaya kamu bisa menarik langkah yang baik," kata Aura yang bangkit berdiri lalu menuju pintu dan keluar.


Beberapa menit kemudian Aura datang dengan 2 orang pegawai. Rita sudah merasa tidak enak apakah benar yang dikatakan oleh Arnila tentang Ney? Rita menghela nafas kalau benar sesuai yang ditakutkan Arnila, dia harus waspada selanjutnya.


"Bagaimana? Coba kalian ceritakan kabar yang kalian dengar selama Rita tidak ada disini," kata Aura mempersilahkan mereka untuk berbicara.


Dengan sikap yang penuh yakin, mereka berdua memberitahu Rita. Kemudian mereka menceritakan apa yang mereka dengarkan saat Ney mengatakan sesuatu mengenai gaji yang Rita terima.


"Saya dengar dia bertanya pada semua karyawan soal jumlah gaji yang katanya Mbak dapatkan dari Bos," kata A.


"Iya dia bilang kalau Mbak curang kerjanya tidak penuh hanya 4 hari tapi itu kan Mbak sudah buat kesepakatan awal kan. Saya sudah bilang memang wajar kan untuk mengganti 3 harinya, Mbak kerja yang 4 hari dari jam 6 pagi sampai jam 4," kata B.


"Lalu?" Tanya Rita keheranan.


"Dia ada bilang bos kasih gaji Rita berapa?" Tanya Aura yang agaknya lebih percaya atau tidak juga.


"Katanya 4 juta. Betul?" Tanya pegawai B.


"Hahahaha mana ada sama saja kak. Nih aku masih simpan setiap digaji, aku selalu kumpulkan," kata Rita yang mengeluarkan dompetnya dari saku apron.


Mereka bertiga melihat buktinya dan memang benar mana ada 4 juta? Jumlah gajinya sama dengan yang mereka terima. Aura juga melihatnya, Rita melihat Aura sekilas mempercayai kabar tidak jelas itu.


"Benar juga ya setiap bulannya sama. Lalu? Dia bilang juga kamu sakit akan tetap dapat gaji? Enak banget!" Kata pegawai A. Aura sama sekali tidak membela Rita, dia juga sama percaya.


"Dipotong kok. Ya berarti seminggu aku tidak dapat bonus kan," kata Rita yang menatap mereka dengan aneh. Kok bisa sih pada percaya?


"Oh, begitu. Beda banget dengan kata Ney ya," kata A.


"Lalu dia bicara apa lagi?" Tanya Aura penasaran.


"Dia ajak semua pegawai boikot Rita untuk dipecat karena masalah gaji sama sekali berbeda. Pokoknya itu orang nyerocos saja soal kerjanya Rita juga tidak benar," kata B.


"Kalian kan tahu aku bagaimana kalau kerja. Percaya juga?" Tanya Rita lemas.

__ADS_1


"Ngga kok makanya kami berdua laporkan ini pada Mbak Aura. Kita sih inginnya Mbak Aura hati - hati saja dengan Ney. Musuh dalam selimut gitu," jelas A tanpa rasa bersalah.


"Jadi... sekarang jadi tahu saya siapa yang bilang kalau kamu mau dipecat. Coba kamu beritahu dia buat apa sih sebar kabar seperti itu?" Tanya Aura kepada Rita.


"Saya sudah bilang kan saya hanya menawarkan pekerjaan saja untuk tanggung jawab apa yang dia lakukan nanti, itu silakan menjadi hak bos atau Mbak Aura," kata Rita.


"Baiklah kalau begitu. Jadi apa kamu tahu penyebabnya kenapa dia melakukan itu?" Tanya Aura yang sepertinya memiliki keputusan akhir meski tidak tahu apa itu.


"Sepertinya begitu. Sewaktu saya sakit seminggu kan, posisi saya digantikan sama dia dan itu adalah pertama kalinya dia mendapatkan bonus. Gajinya juga tetap sebagai Asisten dan mendapatkan bonus. Jadi ya saat saya sembuh, saya tahu posisi dia itu sudah enak dan berusaha mengeluarkan saya," kata Rita menjelaskan sesuai apa yang dia rasa.


"Hmmm begitu ya. Bisa juga sih oh iya kalian berdua boleh keluar dan kembali bekerja. Saya masih ada urusan dengan Rita," kata Aura. Mereka berdua membungkuk lalu keluar.


"Masih ada lagi, Mbak?" Tanya Rita.


"Kamu yakin apa yang kamu duga itu benar? Kalau salah bagaimana?" Tanya Aura tidak yakin.


"Saya yakin! Mbak tampaknya percaya ya? Soal gaji saya 4 juta," tebak Rita melihat mimik wajah Aura yang agak kecewa.


"Ya kalau benar kan berarti bos atau Apollo meng-anak emaskan kamu! Saya wakilnya saja hanya gaji 3 juta. Kamu tidak ada main dengan Apollo kan?" Tanya Aura yang ternyata dia adalah sahabatnya Sona.


"Ya kali kamu suka dia lalu membuatnya klepek - klepek..." kata Aura yang membuat Rita menganga mendengarnya. Saat mau menjawab, tiba - tiba dering ponselnya berbunyi. Lalu Rita disuruh kembali bekerja dengan isyarat tangannya.


Rita keluar dengan wajah yang keheranan. Apa urusannya dengan Apollo? 'Jahat banget dia kenapa harus bicara seperti itu sih? Kalau memang senang bekerja di depan kenapa tidak bilang? Kenapa harus membuat dirinya diusir?' Pikir Rita yang kedua matanya berair. Entah salah apa dia selama ini sampai teganya Ney berbuat begitu. Tapi Rita berpikir positif saja.


Sejenak saat Rita menuju markas bawah untuk membetulkan riasannya, dia mendengar percakapan seseorang tapi dari suaranya dia mendengar suara Ney yang entah mengobrol dengan siapa.


"Gue berhasil! Buat mereka mengira si Rita dapat gaji 4 juta!" Kata Ney yang senang sekaligus membisikkan kalimatnya.


Tentu saja Rita kaget lalu dengan cepat dia merekam apa yang dikatakan Ney tadi. Perekam On!


"Lu gila apa ya. Kenapa sih sampai segitunya?" Tanya orang tersebut tapi pastinya bukan Arnila atau Alex.


"Ya habis dia itu kan sudah sibuk sama kuliah lagi pula ya orang tuanya kaya. Rumahnya tuh gede banget!" Kata Ney sok tahu.

__ADS_1


"Ya tapi jangan sampai juga lu jahatin dia. Memangnya dia pernah jahat? Dia kan yang bantu kamu cari kerjaan. Masa begini sih lu balas kebaikan dia? 🙄🙄," kata yang di seberang perempuan juga.


"Ya gue sebel sih. Dia gajian sama sekali tidak nraktir gue," kata Ney sambil memilin - milin rambutnya


"Ya ampun Ney masa lu nilai orang dari materi sih? Kalau menurut aku sih bukan karena tidak mau, kamu kan bilang dia membiayai kuliah sendiri ya pasti uangnya buat biaya kuliah dia makanya tidak ajak kamu traktiran. Ya mengertilah soal teman kamu tuh," kata temannya. Rita bersabar dan menahan nafasnya dia takut akan ketahuan.


"Dia bukan teman aku kok. Ya aku hanya iseng saja sih minta kerjaan ke dia eh tahunya ada," kata Ney tanpa bersalah. Dia masih duduk membelakangi Rita.


"Kok begitu sih!? Pantas ya di kampus tak ada yang mau berteman sama kamu. Kamu aneh banget!" Kata temannya yang kemudian menutup ponselnya. Lalu secepatnya Rita juga menutup perekamnya.


"Kok ditutup sih!? Coba aku telepon lagi. Kok tidak diangkat sih? Sebel!" Kata Ney kesal.


Rita lalu naik ke atas sambil diam - diam. Lalu Ney merasa sepertinya ada yang menemaninya dan memeriksa tapi ternyata tidak ada siapa - siapa. Ney yakin ada seseorang tapi siapa? Lalu tiba - tiba menegang apa jangan - jangan... Rita! Lalu Ney buru - buru ke atas dan mendapati Rita sedang merapihkan gelas di dapur dan menatanya.


"Rita, tadi kamu ke markas?" Tanya Ney panik.


"Hah? Nggak. Aku lagi beres - beres disini. Kenapa?" Tanya Rita dengan wajah polosnya.


"Benar?" Tanya Ney kurang yakin.


"Memangnya kenapa?" Tanya Rita tanda tanya.


"Tidak apa - apa, takutnya kamu dengar pembicaraan aku," kata Ney lega.


"Soal aku ya?" Tanya Rita membuat Ney terkejut.


"Kamu dengar ya!?" Tanya Ney.


"Aku kan bertanya," kata Rita melihat Ney yang panik. "Terus kamu tidak bekerja?"


"Nanti saja kebetulan Aura dan bos serta senior hitam itu tidak lagi di tempat nanti," kata Ney yang sibuk membalas ketika seseorang sambil terus memperhatikan gelagat Rita. Tapi tampaknya memang bukan Rita. Kalau benar, entah harus seperti apa dia menjawabnya.


"Hati - hati jangan terlalu santai," kata Rita yang mengisi bahan makanan ke tempatnya.

__ADS_1


Namun Ney tidak memperdulikannya dia masih saja terus membalas ketikannya dan kadang tertawa juga. Rita hanya bisa menggelengkan kepalanya dan merapihkan apapun.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2