ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(291)


__ADS_3

Di tempat lain Alex agak kecewa Rita tidak mengusahakan dia bisa menguasai Muroja'ah itu. Kemudian Alex berpikir apakah dia lebih baik menjauh dulu lalu melihat perempuan yang mengontaknya sebagai rekannya Rita. Berprasangka bisa menjangkaunya jadi levelnya bisa disamakan dengannya tapi ternyata hasilnya tidak seperti yang dia inginkan. Mengingat sosok dirinya yang lulus dari jurusan Bahasa Arab, lulusan menghafal Al Qur'an beserta Tajwidnya dan prestasi lainnya. Haruskah dia tidak membanggakan soal itu melihat Rita ternyata jauh dari dirinya. Nampak Alex menyengir merendahkan Rita tapi....


Selama ini yang dirinya merasa sangat nyaman hanya bersama Rita. Dia bisa bebas berekspresi Rita tidak pernah menertawakannya atau mencemoohnya, dia selalu mau mendengarkan apapun bahkan dia sendirilah yang selalu menang sendiri dan bertingkah egois. Sekarang mengetahui Rita punya banyak kekurangan, Alex merasa sangat down.


Ibunya melihat tingkah anaknya itu tidak seperti biasanya. "Kenapa? Tumben biasanya kamu ketawa sendirian,"


"Hmmm... aku kecewa," kata Alex yang wajahnya agak Down itu.


"Ada sesuatu sama Rita kamu nampaknya agak tidak menerima sesuatu," kata ibunya bingung.


"Mom, menurutmu apakah akan aneh atau tidak seimbang kalau nanti akang punya istri dia jauh di bawah akang," kata Alex dengan sedih.


"Soal?" Tanya ibunya dengan lembut.


"Mom tahu lah akang nih lulusan terbaik dalam Al Qur'an lalu bagaimana kalau akang mendapatkan istri yang ternyata calonku itu Muroja'ah saja tidak bisa. Nanti ke depannya aku akan malu!" Kata Alex menyembunyikan wajahnya pada pangkuan ibunya.


"Kok kamu malu? Kamu awal suka sama calon kamu karena apa? Apa kamu berharap dia sama dengan kamu?" Tanya ibunya, beliau tahu ini mengarah kemana dan siapa yang dia maksudkan.


Alex terdiam mendengarnya, ya awal dia kenal Rita karena tahu Rita berbeda dengan kebanyakan perempuan yang selalu dia temui. Dia bisa lebih banyak tertawa sekeras apapun, tanpa perlu mendengar ocehan darinya. Kebaikan hati Rita membuatnya tenang dan tentram hanya saja apa yang dipikirkan Rita selalu saja out the box.


"Sekarang, kamu mau tahu apa kamu awal kenal dia tulus atau ada niat lain?" Tanya ibunya.


"How?" Tanya Alex penasaran.


"Kenalan dan pacaran dengan orang lain kamu akan tahu arah hati kamu ke mana. Kalau kamu ternyata lebih nyaman punya hubungan dengan orang lain yang sama level kamu, ya berarti kamu tidak tulus. Tapi kalau kamu tidak enak atau mulai tidak nyaman berarti... hati kamu tulus tidak melihat level," kata ibunya sambil membelai kepalanya Alex.


"Mom, apa itu maksudnya mom bermaksud menjodohkan aku lagi?" Tanya Alex yang bangun dari pangkuannya.


"Yahhh kan sebagai perbandingan. Mau kamu apa sih? Nih, mom punya banyak kamu tinggal pilih, siapapun mom pasti setuju. Mereka sekelas sama kita, mom yakin Rita sama sekali tidak keberatan kamu mau punya hubungan dengan siapapun," kata ibunya.


"Mom pikir itu Rita!?" Terkejut Alex mendengar apa yang dikatakan ibunya.


"Mom tahu saja itu maksudnya Rita kan. Selama ini dengan siapa kamu lebih banyak berinteraksi? Mom lihat dalam chat kamu, chat kalian lebih banyak daripada chat kamu dengan teman yang lain, ada sesuatu ya??" Tanya ibunya sambil menyilangkan kedua tangannya.

__ADS_1


Alex kaget ibunya memeriksa semua chatnya dengan orang - orang. "MOOOOM!!"


"Sudah! Kamu putus komunikasi saja dengan Rita itu, mom kurang setuju kalau kamu dengan dia. Lihat kan level dia saja jauh dari kamu, kang. Mom yakin sekali dia tidak pernah memaksa kamu berteman sama dia kan, jadi buat apa kamu selalu mengorbankan jam kerja bahkan jam istirahat?" Tanya Ibunya.


"HAH!? Mom tahu dari mana!?" Tanya Alex selama ini padahal dia dengan rapih menyembunyikan segalanya pada ibunya.


"Ion yang bilang," kata ibunya menahan tawa.


'Ion...awas lu!' Umpatan Alex.


"Dari hal itu saja kamu sudah membela Rita intinya kamu menerima dia apa adanya kan. Akang, manusia itu tidak ada yang sempurna kalau akang berpikir kemungkinan nanti akan malu, ya sudah berhenti saja. Akang bisa cari lagi yang lain, bumi ini kan luas kenapa akang pikir perempuan seperti Rita hanya ada satu?" Tanya ibunya membelai anaknya.


Alex terdiam mendengar perkataan ibunya.


"Kalau Akang mencari yang selevel, ya banyak tapi yang isinya seperti Rita tidak mungkin ada. Yang ingin ahli Hafidz pasti ada tapi hatinya mungkin dia melakukan itu hanya sebatas mainan. Akang sudah banyak mengalami kan, dengan Princess Asisah, Wevryn, Toinko, dan lain - lain, tahu kan mereka pintar dalam melafal dan membacanya. Tapi kamu lihat perilaku mereka kejam pada orang lain, bicaranya sudah kacau balau. Kamu mau seperti itu apa kamu kuat?" Tanya ibunya lagi.


Alex mengingat semuanya saat dirinya berusia 14 tahun, diperkenalkan dengan mereka semua. Sangat cantik awalnya Alex terpesona saat melantunkan ayat - ayat Allah SWT membuat Alex menyukai mereka tapi warnanya ketahuan. Saat Alex mencari mereka bertiga, sekedar untuk mengetahui nama, dia menemukan salah satunya menghina orang lain yang sedang memegang tas bolong.


"Kamu miskin ya! Cacat juga yang ku lihat, minggir deh jangan datang kemari! Kamu punya uang? Mana! HAHAHAHA hanya punya 10RM? Nih lihat, aku punya 50000RM. Dasar miskin!" Itulah kalimat uang keluar dari Princess Toinko dengan nada yang teramat kasar. Asisah dan Wevryn juga tidak kalah jahatnya hanya saja Asisah dengan perlakuan dan Wevryn banyak tingkah. Mereka bertiga juga pernah adu mulut untuk menentukan siapa yang pertama mendapatkan hati Alex.


"Lebih parah lagi sampai salah satu dari mereka merencanakan pembunuhan," kata ibunya.


"HAAAAAH!?!? THEY TOTALLY CRAZY! Memperebutkan apa?" Tanya Alex yang penasaran.


"Raja Arab," jawab ibunya.


Alex menganga mendengarnya. "So who's winner?"


"Memangnya mana ada yang mau dengan putri yang seperti itu? Mom saja yang melihatnya mengerikan. Bayangkan mereka bertiga lulusan yang sama dengan kamu, apa kamu pikir meski dengan lulusan yang bagus sekalipun, mereka mahal? Kalau kamu meremehkan Rita yang tidak bisa Muroja'ah maka artinya kamu meremehkan penciptanya," kata ibunya menerangkan.


"Why?" Tanya Alex.


"Kamu tidak akan pernah tahu seberapa berharganya Rita di hadapan Allah SWT. Kita tidak boleh menilai seseorang itu di bawah kita, kita itu rata akang, mau seperti apapun status kita. Sekarang Akang berpikir akang bisa ini itu, harta uang banyak, prestasi banyak tapi akang pernah berpikir? Apa akang berharga bagi Allah SWT?" Tanya ibunya yang kemudian bangkit menuju dapur.

__ADS_1


Alex lupa soal itu! Meskipun Rita memang banyak kekurangan apalagi jauh level dengannya Rita sendiri tidak pernah terlihat peduli. Bahkan cuek sekali, terserah orang mau berpendapat seperti apa mengenai dirinya hanya jangan sampai mengganggunya saja. Dan... apakah dirinya juga di hadapan Allah SWT selevel dengannya? Rita rajin berdoa apapun dia selalu ceritakan setiap malam, pagi, Alex hanya memandangnya dari luar lalu apa bedanya dengan Ney yang hanya bisa melihat cangkang orang lain?


Alex menepukkan dahinya, tidak dia tidak ingin mencari perempuan lain kemudian mengambil ponselnya dan bermaksud mengontaknya. Lalu melihat layar laptopnya menunjukkan sesuatu, percakapan dari WhatsApp Rita. Sebelum dia mengobrol lagi dengan Rita, dia membaca semua isi percakapannya dan membaca balasan dari Rita. Nampaknya dia baru tahu kalau Ney tukang plagiat dan suka membohongi banyak orang.


Alex ingin sekali menjelaskan bahwa dia sempat down setelah mendengar persoalan Rita tapi ternyata Rita tahu dan Alex ingin membaca kelanjutannya bagaimana. Sesuai kata ibunya, Rita tidak keberatan jikalau Alex menghindarinya lalu memutuskan untuk mencari yang lain. Dia terdiam sambil berpikir, Rita memang tidak pernah memaksakan segala sesuatu apapun termasuk apa haknya yang melarang Alex untuk menyukai orang lain? Bukan salahnya yang memaksa Alex untuk menyukainya lagipula mereka berdua sama - sama jauh dan belum saling bertemu.


"You right mom, she will be ok even if l have another woman ( Kamu benar bu, dia akan baik - baik saja meski bila aku punya wanita lain )," kata Alex yang sedih.


Ibunya membelai pundaknya. "Maksud Rita, kamu bisa bebas mau melakukan apapun. Tidak perlu merasa tidak enak apalagi kalian kan baru berteman, tampaknya Rita boleh juga ya pribadinya tidak sembarangan. Dia juga tampaknya tidak memaksakan sesuatu sama kamu justru kamunya sendiri yang berinisiatif padahal dianya biasa," kata ibunya membaca pesan dari Rita sambil tertawa.


"Mom!" Kata Alex sambil manyun.


"Kamu sudah bucin ya? Lebay banget! Rita saja biasa. Bagaimana? Mau terima yang mana ini?" Goda ibunya sambil memperlihatkan daftar pasangan.


"Hmph! I will not choose any of them! Mom sendiri tidak apa?" Tanya Alex agak takut.


"Maksud?' Tanyanya.


"Ya soal Rita," kata Alex.


"Ya itu sih bagaimana kamunya saja. Kamu bisa? Yang lebih cantik dari Rita banyak lho, kamu yakin bisa bertahan? Yang lebih pintar, otaknya cemerlang, tampilan menarik, body goals, apapun yang kamu sesuaikan dengan kriteria banyak banget. Kamu yakin?" Tanya ibunya yang menaruh puding cokelat kesukaan anaknya itu.


"Mom punya kriteria kan? Apa.... hmmmmm... Rita bisa masuk?" Tanya Alex yang memperhatikan kedua kakinya.


Ibunya memandang Alex, tampaknya dia terkesan serius pada Rita. "Mom ingin semua wanita yang kamu suka, menyukai mom and dad, and loving, care you too not only because u you was rich or smart ( ibu dan ayah, dan mencintai, peduli kamu juga bukan hanya karena kamu kaya atau pintar saja ). Selama ini menurut kamu bagaimana saat wanita tahu kamu siapa. Saat Rita tahu mau bertaruh akan seperti apa Rita?" Tanya ibunya yang meminum teh ginseng.


Alex terdiam. "Iya ya Rita kan belum tahu keluarga kita seperti apa, mom. Terus bagaimana?" Alex bengong.


"Laaah kok tanya mom? Kamu mau beberkan ya silakan, paling dia kabur," kata ibunya.


"KABUR!? Kenapa?" Tanya Alex kaget, biasanya orang lain malah lebih agresif mendekatinya tapi kalau Rita kenapa kabur?


"Dia tidak percaya diri sama kamu pasti dia yang mencari orang lain bukan kamu. Jadi jangan cemas kalau kamu merasa tidak selevel, atau ragu toh Rita akan cari orang lain kok. Mom jamin!" Katanya sambil memperhatikan pandangan ke anaknya yang cengo, sambil menahan tawanya dalam gelas.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2