
"Intinya sih apa kata Koko, aku setuju. Teteh harus jauh super jauh kalau bisa blokir saja deh itu orang. Orangnya seperti apa sih Teh? Tampak seperti tinggi sekali menghargai dirinya," kata Tyas penasaran sekali.
Dalam pikiran Tyas orang bernama Ney Toxic ini ada kemungkinan lebih cantik dari Rita, karena mendengar isi kisahnya seperti berlebihan.
"Teteh ada fotonya," kata Rita lalu memperbesar foto mereka bertiga.
Koko dan yang lainnya melihat. "Yang mana?" Tanya Tyas, Wean dan Ratih.
"Itu yang berpose pake tangan V," kata Rita.
Mereka semua melongo dan tepuk dahi.
"Ya ampun Teeeeh kita kita super cuantik. Lah ini mah di bawah dari standar hahahaha," kata Wean menggelengkan kepala.
"Dia bagusnya hanya percaya diri sih orangnya tapi kelewat batas. Coba deh Teteh lihat ya temannya Tyas. Kalau seperti ini ya kita anggap wajarlah," kata Tyas memberikan foto temannya.
Supeeeeeer cantiiik, putih, rambut super cantik sekali! Kali ini Ritalah yang melongo. "BUUUSET!! GILA PARAH CANTIK BANGET!!" Seru Rita.
"Ya iyalah Teh, Tyas saja kalau sama dia jalan, minder parah. Tapi orangnya lembut terus perhatian. Jago masak juga dia sekarang mau nikah. Yang begini, baru deh kita berpikir "Orang cantik sih ya wajar" tapi kalau jelek ( Maaf ) seperti tidak tahu diri sekali ya," kata Tyas mengomel.
Koko dan yang lain tertawa keras meskipun Rita menyilangkan tangannya. "Terus dia merundung Teteh? Wah! Keterlaluan itu dia tahu kelemahan Teteh itu rasa ketidakpercayaan diri," katanya.
"Serius Teh, orang Toxic ini berada di bawah standar apalagi tatapan menyeramkan. Senyumnya juga," kata Ratih.
"Dibawah banget pantesan dia jahat ke Teteh soalnya tahu kelemahan Teteh, dia banyak menyerang karena pasti banyak orang yang lebih melihat ke Teteh daripada dia," kata Wean tepuk dahi.
"Kenapa Malaysia itu menyukai Teteh kalau kata Tyas, dia tahu Teteh orangnya super baik. Dalam hati juga boro-boro tidak ada pikiran soal yang aneh-aneh. Hanya ya saya tidak suka karena nanti dia banyak membuat Teteh menangis karena sifatnya begajulan," kata Koko.
"Iya, Ney ini tuh iri sekali dengan apa yang Teteh miliki apalagi sekarang dapat kenalan super ganteng. Ya dia semakin membara padahal kan Teteh cuek saja. Kalau benar-benar teman sih pasti terus mendukung. Kalaupun tidak suka, ya sudah tidak perlu ikut campur," kata Wean agak aneh.
"Jangan mau kalah deh sama orang seperti ini, digertak sedikit juga menyusut badannya. Aku kira cantik eh dibawah banget. Kalau ada yang suka sama dia fix kena santet," kata Ratih tertawa keras.
"Iya juga ya," kata Rita.
__ADS_1
"Iya memang biasa. Banget ya. Kelebihannya hanya percaya dirinya saja. Jeleknya kurang sadar diri saja karena terlalu cuek. Nih ya Teh, Teteh itu lebih cantik, kelebihan Teteh inilah yang membuat dia selalu iri dengki. Dia akan terus berusaha menjatuhkan Teteh dengan apapun caranya," kata Koko sangat kesal pada Ney.
Ney di rumahnya merasa sangat merinding saja dia berusaha untuk lepas dari sesuatu tapi tidak bisa. Karena ada 2 khodam yang menjaganya untuk tidak banyak tingkah. Jin jahat dan setan yang selalu mengelilinginya terpaksa berlarian atau meringkuk di sudut ruangan.
"AAAAAARGHHH Kenapa sih kalian? PERGI! PERGI SANA! JANGAN GANGGU AKU!" Teriak Ney melempar banyak barang ke manapun.
"NEY! BERHENTI! MAU AKU MASUKKAN KAMU KE RUMAH SAKIT!?" Teriak kakak perempuannya yang langsung melempar kursi rias ke lantai.
Ney terdiam, kakaknya menatap tajam ke arahnya. "Habis... mereka mengganggu. Ini pasti kerjaan Rita!" Teriaknya.
Kakaknya tentu bisa melihat, dia masuk ke kamar dan berdiri di sudut. "Ada khodam level tinggi, kalau mereka disini itu tandanya ada yang menyuruh. Kamu berbuat sesuatu ya?" Tanya kakaknya curiga.
"Tidak ih... siapa juga," kata Ney membela dirinya.
"Soalnya kata mereka, kamu seperti membuat benang sesuatu ke Rita. Ngapain lu berbuat begitu? Iri sama dia? Kehidupan kita sama teman kamu itu berbeda, seharusnya kamu tidak berhenti minum obat," kata kakaknya nyengir lalu pergi sambil membawa kursi yang sudah rusak.
Ney diam membeku mendengarnya. "Kak, kamu bisa melihat dia? Kok aku tidak bisa. Lu bohong ya!" Teriak Ney menyusul kakaknya.
"Dik, aku sudah punya kemampuan itu sejak kecil, adikmu juga tapi apa kami pamer? Tidak. Kenapa? Karena kami ingin menjadi manusia biasa, tidak seperti lu yang nurut jadi budak Papa. Sekarang kamu jadinya tidak bisa membedakan Dunia Luar dengan kenyataan bukan? Bahkan Rita yang seorang teman paling baik, bisa-bisanya kamu rundung. Salah dia apa sama kamu?" Tanya Kakaknya menantang adiknya.
"Apa yang Rita punya, yang dia dapatkan itu bukan urusan kamu, Dik. Apalagi kamu berusaha menjatuhkan dia di depan orang yang suka dia. Tahu tidak kalau lelaki itu sebenarnya sengaja memperlihatkan diri kamu yang sebenarnya? Menurutku sih, sampai kapanpun juga kamu tidak akan dengan siapa-siapa dekatnya," kata kakaknya lalu pergi keluar rumah.
Ney menggenggam kedua tangannya, kedua matanya menangis. Lagi-lagi karena kesal dengan perkataan kakaknya lalu dia menyeka air matanya.
"Tidak! Rita tidak bisa menjauh dari aku! Aku tidak akan membiarkan dia jauhi aku. KAMU SALAH, RITA BUTUH AKU!!!" Teriak Ney pada Kakaknya yang sudah jauh keluar.
Ney lalu berjalan kembali ke kamarnya dan melemparkan lebih banyak barang. Lalu dia menangis dan bicara sendirian lagi. Kedua khodam menatapnya dengan pandangan lurus, tugas mereka masih tetap disana.
Melihat Ney dengan berbagai macam kelakuan abnormalnya. Kembali pada rumah kediaman Ratih.
"Kalau Teteh nanti menikah dengan orang dibawah suaminya dia pasti akan mengejek dan merendahkan Teteh. Tapi kalau Teteh menikah dengan Malaysia misalnya, dia akan diam tapi tidak akan menerima dan terus mencari cara untuk memalukan Teteh," kata Koko.
"Jadi jangan diundang juga ya kalau Teteh menikah, Ko?" Tanya Tyas.
__ADS_1
"Iya. Teteh dapat lelaki yang biasa juga lebih baik jangan deh, dia saja menikah tidak undang Teteh kan karena dalam hidupnya pun, Teteh itu tidak berharga buat dia. Apalagi kalau dapat jodoh high class," kata Koko memandang Rita.
"Hmmm," jawab Rita berpikir. Mungkin memang lebih baik begitu. Selama ini juga perkataan Ney kepada dirinya tidak cocok sebagai seorang teman, yang dia dengarkan hanya soal keegoisan Ney.
"Jangan kepikiran kasihan deh sama dia karena menurut saya, untuk apa? Teteh sama dia sudah sama-sama dewasa, kalau Teteh berpikir kasihan terus dia akan keenakan. Dalam pikirannya dia percaya meski dia rundung Teteh, Teteh tidak akan bisa menjauh dari dia," jelas koko membuat Rita bengong.
"Idih, amit-amit ya bisalah. Berapa tahun coba Ko, aku jarang main lagi sama dia? Kepedean!" Kata Rita dengan nada jutek.
Koko senyum, begitu juga Alex meski dia inginnya Rita dan Ney masih bisa menjadi teman tapi kalau apa yang dia dengarkan tidak mungkin. Yah, mau bagaimana lagi.
"Betul, teman-teman Teteh yang lain lebih jauh lebih baik dari satu orang itu dan lebih berkualitas kuga yang saya lihat. Apa sih kurangnya mereka, coba?" Tanya Koko ingin tahu.
"Tidak ada. Ya hanya kasihan saja sama dia tapi Teteh sadar kok seperti apa dia. Sudah dewasa bukan pengasuh mana mau juga. Ini saja Teteh sering blokir dia eh tiba-tiba malah chat lagi. Pasti si Malay yang buka pribadiku," kata Rita sebal.
Alex yang ada di sana menundukkan kepalanya dan berjanji tidak akan seperti itu lagi meskipun Rita tidak bisa mendengar dan melihatnya. Dia tidak mau lagi ikut campur soal masalah mereka, toh semua ini juga gara-gara sok tahunya.
"Dia tidak akan pernah mau menjauh dari Teteh, yang saya lihat tapi Teteh mah bodo amat," kata Koko memejamkan matanya.
"Lalu bagaimana dong?" Tanya Rita.
"Biarkan saja. Orang seperti itu kalau dilawan, dia akan merasa menang dan menurutnya kamu membuka lagi kesempatan untuk mengobrol sama dia. Buat dia kalah Teh, diamkan saja sesuka dia mau bilang apapun," geram Koko.
"Dia kenapa sih Ko tidak bisa jauh? Kan iri sama Teteh terus tidak suka dengan kelakuan Teteh. Kalau Tyas sih tidak suka Teteh ya udah pergi," kata Tyas agak merasa aneh dengan Ney.
Koko berpikir dan melihat sesuatu dari Alex. Mau disembunyikan pun Alex tidak berdaya juga. "Sama tujuannya dengan Malaysia ini tapi berbeda. Kalau Malaysia melihat Teteh karena Teteh polos, baik, punya hati yang benar-benar bersih dan itulah yang dia butuhkan," jelas Koko sambil tertawa.
Alex sudah tentu memerah karena Koko mengatakan semuanya, tahu dia bisa terlihat olehnya namun sama sekali tidak ingin dilihat. Apalagi sekarang Koko akan mengeluarkan semua yang dia dapatkan.
"Haaah? Kenapa? Dia ganteng banyak kali perempuan yang suka," kata Rita.
"Tapi kena tipu semua Teh, di lingkungannya itu tidak akan ada yang seperti Teteh. Nah kalau si Toxic, dia ingin mendapatkan pengakuan," kata Koko.
"Ooh sepertinya Tyas mengerti deh. Jadi Teh, si Ney ini tuh ingin menjadi satu-satunya teman hanya untuk Teteh. Benar tidak, Ko?" Tanya Tyas.
__ADS_1
Koko mengangguk. Alex pun kini mengerti, dia sadar kalau apa yang Rita rasakan memanglah kekecewaan yang berat kepada Ney. Alex sendiri pun sangat menyesali perbuatannya. Ternyata apa yang dia pikirkan meleset, Rita sudah tahu segalanya mengenai Ney. Alex kemudian kembali ke tempatnya dan memohon ampun karena dirinya sudah banyak salah pada Rita.
Bersambung ...