
Dalam pesawat dia selalu berusaha mencuri kesempatan untuk bisa mengobrol dengan Rita namun selalu gagal. Ney melihat Rita sibuk mengobrol dengan guru yang lain sambil bercanda.
"Ini pertama kalinya lho aku naik pesawat. Jadi berdebar-debar," kata guru kelas A.
"Aku juga. Kita mukai baca dengan Basmallah yuk," ajak guru BP.
"Semoga aku tidak muntah," kata Rita mengikuti baca doa.
Yang lain setuju dan sudah meminum obat Antimo. Orang tua Rita dan Tyas tertawa mendengarnya.
Setelah lepas landas mereka semua bersyukur, dan diperbolehkan membuka sabuk.
"Eh, Bu Rita yang tadi itu Bu Ney kan?" Tanya Siska guru kelas B.
"Iya," kata Rita jutek.
"Hahaha kok bisa dia ikut rombongan kita?" Tanya Guru Kelas C.
"Aku yakin bukan urusan bisnis tapi mau. Orangnya sombong sekali, kalian kan nada bicaranya bagaimana," guru BP memang tidak menyukai Ney karena tidak sopan pada sesama guru.
"Entahlah aku hanya memberikan kabar kalau menang undian eh dia tiba-tiba bilang kalau aku ajak dia. Aneh siapa juga yang minta begitu," kata Rita menjelaskan.
"Hei, kita saja yang melihatnya aneh ke dia. Ingat tidak waktu pertama dia kerja dengan kita? Keluar ruangan begitu saja lalu tiba-tiba masuk ke ruangan Administrasi," kata Guru lain.
Mereka semua mengangguk. Benar juga ya saat itu Rita juga kaget kok berani sekali dia baru juga sehari bekerja tapi seenaknya.
"Untung tidak lama ya kerja dengan kita," kata guru yang lainnya.
Rita hanya mendengarkan dan menarik nafas lalu menghela nafas. Benarlah tidak ada seorang pun yang menyukainya, kenapa Ney tidak pernah menyadari itu ya?
Beberapa menit kemudian Ney menyapa Prita yang sedang mengambil gelas di kontainer. "Eh, Prita. Kakak kamu lagi sibuk tidak ya? Aku mau mengobrol sama dia," kata Ney.
"Teh Rita sedang diskusi buat tugas di sana. Teh Ney ini sengaja ya ikut Teteh saya ke Malay?" Tanya Prita dengan nada jutek.
"Ya Teteh kamu pasti butuh teman buat kemana-mana kan," kata Ney dengan nada yang rada.. angkuh.
"Oh ya? Sepertinya Teteh saya tidak butuh tuh. Kok bisa ya perundung seperti Teteh masih punya muka buat ketemu Teh Rita? Kalau Prita di posisi Teteh sih, malunya setengah mati buat ketemu. Muka badak," kata Prita lalu berjalan menuju kursinya.
Ney yang mendengarnya diam dan memutuskan kembali ke kursinya sambil makan makanan yang dia bawa. Wajahnya tampak biasa saja meski mendengar kalimat kasar dari Prita. Selintas dia ingat bagaimana dirinya dengan kasar mengatakan bahwa Rita gila, hal-hal dengan psikiater, perkataan dia yang kasar mengenai pribadinya.
Ney meneteskan air matanya kini bagi Rita, dia bukanlah orang penting lagi apalagi prioritas. Ney tahu Rita tidak butuh lagi kehadirannya setelah apa yang dia lakukan kepadanya.
Dia juga sadar bahwa Alex tidak keberatan dengan kepribadian Rita dan malah membuatnya semakin dekat. Ney tidak ingin kehilangan orang yang pertama bisa menerimanya tapi, mulut nyablak nya yang tidak bisa memilih kalimat baik membuatnya harus menerima penolakan Rita.
Rita sudah enggan melakukan hal baik untuknya, sekarang dia mulai merasa kesendirian. Menyesal menyesali segala yang dia perbuat dari awal kenal Rita. Seharusnya kalau saja dia punya hati lapang dada dan tidak mendengarkan suara ilusinya, mungkin Rita dan dia bisa menjadi sahabat.
Akhirnya mereka semua tiba di Malaysia, udara panas menyapa setelah mereka berada di dalam pesawat yang dingin. Mereka semua bahagia melihat pemandangan yang WAW banyak turis juga yang baru tiba.
"Ayo kita langsung ke hotel saja ya. Istirahat dulu sebelum mulai menjelajah!" Teriak Guru kelas bersemangat.
"Ya!!" Teriak semuanya termasuk Rita.
Lokasi yang berada di Pacebuk sudah tentu berubah dan diketahui oleh Fernando. Hari itu Alex sedang rapat, jadwalnya sangat padat. Dia terkejut karena Rita ternyata berlibur ke negaranya hendak memberitahukan pun harus menunggu.
Di tempat lain, Ney mencari tahu dimana Rita menginap ternyata berbeda dengan dirinya. Hanya saja bangunannya bersebelahan.
"Kamu menginap di hotel mana?" Tanya Ney yang agak ribet ya bawa kopernya.
"Hotel X. Kamu?" Tanya Rita.
"Mana lihat sini kartunya," kata Ney mengambil kartu hotel.
"Idih, jadi orang tidak percaya ya. Kalau tidak percaya jawaban Bu Rita jangan banyak tanya deh," kata Siska melihat Ney yang tanpa permisi mengambil kartu hotel.
Ney tidak peduli dengan perkataan guru tersebut. Dia kecewa ternyata benar hotelnya berbeda. "Yah, kita beda hotel," katanya.
"Alhamdulillah," kata Rita tertawa.
Ney cemberut. Hotel Rita telah diurus oleh pihak kepala sekolah termasuk soal nomor kamar. Alhasil Ney mencoba pindah dan bertanya pada pihak hotel.
"So sorry, Mam. The rooms in our hotel are full. Last ordered by a group of teachers from Bandung ( Sangat menyesal, Ibu. Kamar di hotel kami telah penuh. Terakhir dipesan oleh rombongan guru-guru dari Bandung )," jelas kepala hotel.
Alhasil Ney kecewa kedua kalinya dan itu ditertawakan oleh guru yang lainnya.
"Kalau kemari karena bisnis, untuk apa harus satu hotel dengan kami? Lebih enak kan yang isinya hanya kamu saja," kata Guru BP tertawa.
Rita satu kamar bertiga, dia dengan Tyas dan Prita. Mereka bersiap menuju kamar lalu Ney menepuk tangan Rita.
__ADS_1
"Rita kalau mau jalan-jalan kasih tanu aku ya. Aku juga mau ketemu dengan Alex," kata Ney tersenyum penuh arti.
"Malas kamu saja yang datang lihat apa aku ada keluar atau tidak," kata Rita kemudian pergi.
Ney sebal mendengar jawabannya tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sudah yakin bahwa Rita akan menemui Alex dan tidak akan sedikit pun memberikan celah bagi Rita untuk bersama Alex.
Ternyata kamar orang tuanya sangatlah dekat, mereka bisa bertukar posisi. Sedang kamar guru-guru yang berada di depan dan samping mereka juga.
Hanya Ney yang ruangannya sendiri tanpa ada yang satu hotel dengannya. Dia bisa melihat ruangan Rita yang ternyata sejajar dengannya, jadi Ney masih bisa tersenyum.
"Ih, Teh menyebalkan sekali sih si Ney itu. Sepertinya bohong deh dia ada urusan di sini. Wajahnya licik," kata Tyas menggerutu.
"Iya, bisnis apaan. Mengganggu orang," kata Prita tiduran di kasur.
"Memang begitu orangnya. Teteh juga sebal dipikir dia tidak akan mungkin bisa datang ke sini, mana mungkin suaminya beri ijin," kata Rita melepaskan kerudungnya.
"Dia itu tipe perempuan nakal Teh. Mau suaminya mengancam bilang apa juga, Tyas yakin dia tidak peduli asalkan hasrat kepo nya terjawab. Jadi Teteh ada mau ketemu sama Alex?" Tanya Tyas.
"Orangnya pasti ganteng tuh makanya si Ney jadi ganjen," kata Prita menebak.
Rita lalu memberikan fotonya dan mereka berdua kaget bukan main.
"Wah! Ini sih sumpah super ganteng. Pantas tuh orang tampak mengancam Teteh," kata Tyas.
"Iri hati ya orangnya. Tidak bersyukur diberi suami juga malah kepo sama orang," kata Prita merinding.
"Dia kan memang suka dan pernah pacaran via media sosial," kata Rita.
"HAH!?" Teriak mereka berdua. Lalu Rita menceritakan segalanya yang membuat adik dan saudaranya menganga.
"Ya ampun, Teh itu sih bukan hanya kacau tapi sangat parah. Teteh kan temannya kok bisa-bisanya dia rebut begitu saja?" Tanya Tyas menatap sedih ke Rita.
"Biarlah sesuka dia toh Alex juga tidak ada perasaan apa-apa," jawab Rita santai.
"Sepertinya Alex ini juga menguji Ney ya. Karena coba deh Tyas pikir, Rita yang sudah kenal Alex 2 tahun," kata Prita lalu membuka tas Rita mencari kerudung. "Nih, dia dikasih kerudung yang harganya Wow Fantastis Baby," kata Prita dengan gaya Bigbang.
Tyas memegangnya dan menganga lagi. "Ini... ini kerudung apa sih?" Tanya Tyas.
"Ceileee.. Itu kerudungnya limited woi! Cari deh ini ada merknya," kata Prita antusias.
Tyas mencari setelah melihat harganya, sama dengan Prita melakukan gerakan Bigbang - Fantastic Baby dengan Rita yang memutarkan kepalanya dengan irama. Intinya mereka bernyanyi di reff bersama-sama.
Tyas dan Prita juga tertawa. Tyas memegang kerudung itu dan masih tidak percaya.
"Si Alex royal sekali ya kalau sama Teteh. Orangnya kelihatannya begitu sih tapi banyak yang membuatnya kecewa," kata Tyas memberikan kerudung itu.
"Iya kasihan dia. Awalnya karena dia terlalu posesif, workaholic. Ada-ada saja," kata Rita tertawa lalu mengeluarkan semua makanan yang ada dalam tasnya.
Tyas dan Prita tertawa mendengar cerita Rita. Selain tampan memang orangnya super pekerja keras. Tyas melihatnya juga merasa kesal karena terlihat pernah membuat Rita banyak menangis tapi tidak dikatakan. Toh Rita sudah tahu.
Kemudian guru mengetuk kamarnya dan mengatakan 10 menit lagi mereka akan keluar melakukan penjelajahan.
Rita, Tyas dan Prita mandi bergantian lalu memakai baju yang baru dan keluar kamar. Ney melihatnya dengan peringatan bergegas keluar kamar juga. Dalam pikirannya sudah tentu Rita akan berjanji ketemu.
Di bawah semua guru menunggu guru yang belum hadir, Bapak dan Ibu juga sudah ada dibawah menunggu yang lainnya. Ney datang dengan baju yang yah agak kurang cocok dia pakai.
Guru lain memandanginya tertawa namun Ney tidak peduli. "Kita mau ke mana?" Tanyanya penasaran.
"Museum. Nah sejak hari ini kita menyewa pemandu juga. Itu dia!" Tunjuk ketua ke arah laki-laki besar datang dengan baju kaos warna kuning pudar.
Ney memandanginya dia tidak mengenalnya namun pria itu mengenal Ney dan Rita, yang hanya tersenyum. Ney lalu menatap Rita yang memakai baju seragam olahraga lengan panjang dan juga rom warna hitam.
"Kita mau ke museum kok kamu pakai bajunya begitu sih? Lebih baik menurut aku ganti deh," kata Ney menatap bajunya.
"Ini kan acara sekolah. Yang lain juga sama. Kalau Admin memang beda model dan warna dengan guru kelas," kata Rita lihat ke yang lainnya.
Ney menganga melihatnya, semuanya berseragam olahraga dengan rok hitam hanya beda model dan warna saja. Semua orang memakai baju yang santai bukan yang agak mewah berbeda dengan Ney.
"Mau ke kondangan, Bu?" Tanya Prita dan mereka menertawakan.
"Lho? Bukannya kamu datang ke Malaysia untuk bertemu Alex? Kamu kan bilang begitu di chaaaat," kata Ney sengaja meninggikan suaranya.
Mereka yang mendengarnya menyeret Rita untuk tidak berdiri dekat dengan Ney. Orang tuanya juga menatap Ney dengan pandangan menyebalkan lalu keluar.
"Jangan didengarkan agak error ya disini (kepala)," kata guru lain. Mereka lalu keluar meninggalkan Ney yang berdiri sendirian di sana.
"Dia selalu seperti itu ya, Bu?" Tanya Arin guru kelas E.
__ADS_1
"Selalu untuk membuat aku sebagai penjahatnya, dia korban. Memang agak-agak, kita ke museum ada tugas menulis?" Tanya Rita.
Dia lalu dibagikan lembaran dari Kepala Sekolah untuk merekam penjelasan mengenai berbagai barang atau lukisan. Tentu saja untuk pembelajaran nanti di sekolahnya.
Rita memilih mengenai lukisan yang lainnya untuk tugas yang berbeda. Tyas dan Prita ikut membaca. Pria itu mempersilahkan semuanya menaiki bus Travel termasuk Ney, dia duduk paling depan bersama Ibu dan Bapak. Karena Rita menolak untuk duduk bersama.
"Kamu bisa berhenti mencoba mempermalukan anak kami? Bisa-bisanya kamu masih punya muka untuk ketemu dia," bisik Ibu pada Ney. Yang Ney hanya menunduk dan melihat pemandangan luar.
Entah bagaimana Ibu tahu perihal dia yang merundung Rita dengan jahatnya dan sekarang? Mereka semua memandangi Ney dengan tatapan ingin mengeluarkannya.
"Kita mau ke museum dahulu?" Tanya pria itu.
"Iya iya," kata Rita memperlihatkan jadwalnya.
Ketua kelompok memberikan selembaran pada pria itu lalu disimpannya di saku setelah dilipat menjadi kecil.
Bapak banyak bertanya soal Malaysia dan pria itu menjawabnya dengan santun. Penuturannya dapat dipahami semua orang terkadang Ney bertanya menggunakan bahasa Inggris, dan pemandu itu menjawabnya dengan Bahasa agar semuanya paham.
Sesampainya, semua orang turun Ney menunggu Rita yang akhirnya turun juga sambil membawa ponsel yang dia simpan dalam tasnya.
"Tidak ada chat dari Alex?" Tanya Ney.
"Apa sih lu! Alex Alex mulu lagian siapa juga yang bilang aku ada temu dia di Malaysia? Sarap," kata Rita dengan keras supaya mereka mendengar dan berjalan menuju pintu museum.
Ney yang mendengarnya kesal karena Rita membalas perlakuannya tadi. Mereka semua memandangi Ney yang agak tidak mau dekat-dekat.
"Freak," ucap guru BP.
Tanpa ada perasaan bersalah, Ney berjalan mengikuti mereka. Pria itu menggelengkan kepalanya melaporkan sesuatu lalu mengikuti mereka memberikan pengarahan.
Karena Rita dan lainnya sudah masuk kelompok, hanya Ney yang harus bayar sendiri. Rita ogah sekali bertepatan jalan dengan Ney, benar-benar pembuat suasana dan mood baik langsung hilang.
Mereka memasuki museum dan mendengar beberapa penjelasan, di setiap pojok terdapat petugas yang akan menjelaskan barang yang ingin mereka ketahui. Tentu Rita langsung bertanya soal lukisan dan merekam penjelasan bahasa Inggris dan Melayu.
Beberapa jam kemudian Ney sudah mulai kebosanan dan menatap jam sudah pukul 11 lalu melihat ke sekitarnya. Masing-masing orang memandangi, mengagumi lukisan atau pecah belah dari jaman dahulu.
Dia mencari Rita, apapun yang dia katakan, perbuat dan lakukan langsung hilang sekejap bila suasananya bagus. Tetapi tidak memikirkan mengenai perasaan orang.
Ney menemukan Rita yang sedang menulis beberapa hal penting mengenai bahan dan pembuatannya pada lukisan.
"Rita, masih lama? Aku sudah bosan nih," kata Ney yang berdiri dekatnya agak manja.
"Ya keluar saja siapa juga yang suruh kamu ikut?" Tanya Rita dengan suara yang keras dan ketus. Tanda dia masih sangat kesal dengan keberadaannya. Tyas dan pemandu itu langsung menarik Rita menjauh dari Ney.
"Sudah Teh, dia memang sengaja buat Teteh kesal," kata Tyas.
Pemandu memandangi Ney yang menghentakkan kakinya lalu dia pergi ke luar sendirian. Dia memandangi baju yang Ney kenakan, bagaimana bisa dia memakai baju pendek yang memperlihatkan keadaan dirinya yang penuh bekas gatal?
Ya, sangat over percaya diri sampai dia tidak peduli dengan keadaan badannya sendiri. Dia memang memakai celana jeans tapi kurang panjang. Hanya sampai setengah lutut dan baju kaos T-shirt warna merah pink yang pendek.
Kedua tangan yang dipenuhi bekas bentolan nyamuk, sudah cukup membuat banyak orang salah persepsi. Sambil berdiri Ney memandangi Prita yang sedang mengobrol serius soal sesuatu.
Setelah dari sana mereka menuju gedung yang menjadi pusat terkenal di pusat Malaysia. Menara Kembar Petronas yang berada di Kuala Lumpur, Malaysia.
Mereka disana menatap gedung yang sangat menawan namun sayangnya cahaya gedung itu tidak menyala karena hari sudah terang.
"Kita bisa melihat keindahannya kalau malam menjelang," kata pemandu.
"Kita ke sini lagi yuk nanti malam," kata guru lain. Dan semuanya setuju. Ney lebih banyak diam daripada banyak bicara menurut perasaannya semuanya agak terganggu dengan dirinya yang terus mengatakan 'Alex.'
Sebelum kembali, mereka bertemu beberapa kelompok guru dari Bandung juga dan saling bersalaman. Ney duduk kelelahan memandangi kegiatan Rita, dia mengeluh ternyata kedatangan Rita memang untuk kegiatan sekolah bukan hal lainnya.
"Bu Rita, apa kabar? Ketemu lagi di sini ya," kata Ibu Tuti merangkul Rita dan terus menggandeng tangannya.
Ney tentu saja melihatnya, dia menundukkan kepalanya agak malu sebenarnya. Apa kata Rita dan adiknya bila dia tidak membutuhkan teman yang menemani memang ternyata banyak teman di tempat kerjanya.
Mereka mengobrol dan pemandu pun menerangkan mengenai Petronas.
Tempat lain gedung dimana Alex akhirnya keluar dan merebahkan dirinya di sofa panjang. Fernando dayang secepat mungkin dan memberitahukan.
"Tuan, Rita ada di sini," bisik Fernando memperlihatkan lokasi Rita terkini.
"ARE YOU SERIOUSLY?" Teriak Alex tanpa kendali.
Fernando lalu menyeretnya menjauh dari banyak orang.
__ADS_1
"Ya ampun dia benar ada disini! Tapi kenapa dia tidak memberitahu?" Tanya Alex.
Bersambung ...