ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(333)


__ADS_3

Ney terkejut setengah mati mendengar teriakan Rita dan suara tangisannya. Dia langsung membeku di ponselnya yang ditutup keras oleh Rita. Dia membeku, kedua tangannya gemetaran yang dia dengar hanyalah kalimat terakhirnya kalau dia baru mau dianggap sebagai teman dekat tapi sudah tentu semuanya hancur. Ney pun menangis tersedu - sedu dia menyesal sekali telah jatuh pada perangkap yang dipasang Alex. Kalau waktu itu dia memilih menolak, pasti dia masih jadi teman Rita. Selama ini pikirannya selalu stereotip ke arah minus, apa yang dilihatnya ternyata berbanding terbalik. Apalagi dia sudah menyakiti Rita dan tidak tahu kalau Alex sampai membelanya juga. Rita sudah cukup lelah dengan mereka berdua, dia sudah tidak peduli lagi tentang Alex.


"Arnila... bagaimana ini?" Tanya Ney menelepon Arnila.


"Napa lagi sih lu? Heran gue kapan sih lu sama Rita bisa akrab?" Tanya Arnila yang mulai sebal.


Kemudian diceritakan lah semuanya kepada dirinya. "Begini ya Kamu tidak perlu deh ungkit - ungkit soal yang lalu. Aku saja ya yang melihatnya miris tahu buat Rita. Dia sama sekali tidak ada yang membela sedangkan Alex kampret malah lebih bela kami. Ya iyalah itu sakit banget! Aku tahu betul siapa yang sebenarnya lebih banyak sakit, dibanding Rita, lu yang kurang sadar sama kemampuan lu yang sering manipulasi orang menyebabkan banyak yang menderita. Sebelum ini obrolan kalian baik - baik saja kan?" Tanya Arnila memastikan.


"Iya," jawab Ney yang sambil tersedu - sedu.


"Kamu coba pikir deh keadaannya sudah aman terus tiba - tiba kamu siram dengan api lagi. Bagaimana? Rita tuh ya sudah padam emosinya lu pancing lagi. Kurang meledak? Otak lu dipakai dong lebih baik lagi mau sampai kapan sih lu selalu mancing emosi?" Tanya Arnila yang sulit menchat japri ke Rita.


"Tapi kan aku penasaran, Arn apa dia itu sudah..." kata Ney sambil


"Penasaran kamu tuh bahaya, Ney. Kepo juga sudah cukup, sekarang kamu biasa saja deh yang kejadian lalu cukup! Tidak perlu kamu banyak tanya apalagi soal Alex. Kelihatannya sekarang nama Alex buat dia ingat seperti apa kalian perlakukan dia," kata Arnila memikirkan.


"Tapi ternyata Alex ada di sisi gue dong," kata Ney sedikit senang juga.


"Dia berada di sisi yang salah sih pantas Rita bilang kalian berdua cocok kan? Sama - sama brengsek. Aku juga setuju," kata Arnila dia merasa prihatin dengan keadaan Rita sekarang.


Ney terdiam tidak menjawab. Dia tidak sadar waktunya selalu salah bukan waktunya untuk bangga juga.


"Alex memihak posisi yang salah. Kenapa? Kamu lupa seperti apa perlakuan kamu ke aku juga tahu kalau Alex memang membela kamu juga dari aku? Aku tidak masalah karena aku memang tidak kenal Alex. Kalau kamu senang Alex memihak kamu, itu tandanya memang kamu palsu. Aku mau jelaskan pun ke Alex sama dengan Rita, dia tidak akan pernah mau mendengar. Kasihan Rita, Ney. Yang jadi korban selama bertahun - tahun itu dia bukan lu. Kamu dan Alex 11 12 sebenarnya, kalian sama - sama tidak pantas berada di sisi Rita. Sudah ya aku mau tidur." Kata Arnila menutup ponselnya juga.


Setelah itu sekitar jam 12 Rita merasa badannya sangat panas, sampai nafasnya pun tersendat - sendat lalu muntah darah. Dia sangat kaget tampaknya karena terlalu kelelahan ditambah soal masalah tahun lalu yang diungkit oleh Ney. Saat itu Alex mendatangi kamarnya dan terkejut melihat Rita muntah darah. Dia sedih lalu panik tapi tidak tahu harus bagaimana. Dia lemas sekali malam itu sama sekali tidak bisa bergerak dan demamnya sangat tinggi. Entah karena firasat, Ayahnya datang ke kamar Rita untuk memeriksa.

__ADS_1


"Rita!! Sebentar! Bu!! Rita muntah darah!" kata Ayahnya yang panik lalu mengambil kunci dan membunyikan mobil.


"Kenapa kamu? Ya Allah banyak sekali. Sudah kamu jangan kerja dulu mungkin karena banyak tugas kuliah juga kan. Soal biaya orang tua kami masih bisa kok," kata ibunya sambil menangis melihat kondisi Rita.


"Bu kenapa?" Tanya Prita yang mengucek kedua matanya. Lalu terkejut kalau kakaknya muntah darah sangat banyak.


"Panggil dokter saja kesini, Bu. Kondisi Rita tidak memungkinkan untuk berjalan," kata Prita yang langsung menghubungi dokter Jeffry.


"Bagaimana?" Tanya Ayahnya yang sudah stand by.


"Panggil dokter saja, Yah. Rita tidak bisa berjalan sama sekali," kata ibunya dengan berlinang air mata.


Rita batuk lagi dan Prita sudah menyiapkan handuk yang dibasahi oleh air. Lalu membantu kakaknya menyeka mulutnya, darah yang keluar tersentak ke baju dan sekitarnya. Prita juga menangis tahu kalau kakaknya memang bekerja sekaligus kuliah. Dia sedang menabung untuk membuat Paspor luar negeri karena rencananya nanti mau piknik bersama teman - temannya jadi dia memang sedang mengumpulkan uang.


Alex tidak berani lebih dekat ibunya Rita tampak sadar akan kehadirannya, kadang ibunya seperti membenturkan baju ke sembarang arah untuk mengusir Alex. Lalu dokter datang sekitar 15 menit dimana kakaknya Rita pun datang dengan panik. Tapi tidak berani untuk melihat bajunya yang bersimbah darah, karena kakaknya mengidap alergi darah.


"Dia terlalu banyak yang diatasi sendiri. Dasar lelaki kampret! Adik gue lu bikin begini awas kalau ketemu!" Gumam kakaknya membuat Alex merinding lalu kembali ke tubuhnya sendiri.


Dokter datang lalu memeriksa kondisi Rita dan tampaknya sangat serius. "Anak ibu menderita depresi berat apa dia sedang menghadapi masalah yang sulit?"


"Depresi dok!? Dia memang sedang kuliah S1 sekaligus kerja sambilan juga," kata Ibunya dengan suara yang menahan tangis.


"Kalau bisa, kerjakan satu kegiatan saja. Kerja sambilan kalau tidak terlalu penting, lebih baik jangan. Anak ibu juga tampaknya sedang ada masalah dengan temannya?" Tanya Dokter yang selesai memegang tangan Rita yang panas.


"Ada sih tapi kalau tidak salah sudah beres. Anak saya tidak pernah bercerita kalau ada masalah," kata Ayahnya yang cemas juga.

__ADS_1


"Terlalu mandiri ya tampaknya. Jangan sampai anaknya bekerja terlalu malam, udara malam tidak baik untuk yang pernah menderita sakit paru - paru. Dan ibu kalau bisa luangkan waktu untuk anaknya atau ajak pikniklah ke luar kota," saran Dokter lalu memberikan resep obat dan untuk demamnya juga.


Setelahnya Prita memutuskan untuk menjaga kakaknya di kamarnya dan tidur di lantai bawah, kalau keadaannya parah segera panggil mereka. Alhasil kakaknya menginap di kamar adiknya dan ketiga anaknya ikut tidur di kamar Rita. Alex datang lagi dan wajahnya sangat sedih memandang Rita. Dia juga mendengarkan apa kata Dokter, perihal masalah itu yang dimaksud mungkin kejadian yang lalu membuatnya menjadi sangat lemah.


Dan Alex merasa sangat bersalah sekali dia menangis dalam tidurnya melihat Rita yang demam tinggi memuntahkan banyak darah. Dia memegang kening Rita lalu mengucapkan doa agar demamnya turun. Tapi malah semakin parah lagi dan mulai batuk - batuk. Prita lalu terbangun begitu juga keponakan yang paling besar lalu mencuci handuk kecil dan mengelap darah yang keluar lagi.


"Ua, bagaimana ini? Nanti kalau darahnya berkurang bagaimana?" Tanya Ray anak yang paling besar menangis. Dia paling tidak tahan melihat Uanya kesakitan dan memang sakit sekali.


Dalam mimpinya Rita berada di alam lain penuh dengan bintang tidak kemana - mana hanya di tempat itu mengamati semua benda luar angkasa. Langit malam yang dipenuhi banyak bintang kadang dia merasa ada yang menghembuskan angin yang sejuk. Dia memencet - mencet bintang yang lewat di hadapannya lalu mengambil bintang yang lain dan membuat sesuatu.


Tiba - tiba sudah pagi saja saat bangun, Prita sedang di sampingnya tidur dengan posisi terduduk. Dia masih demam dan sulit bergerak, Lalu Prita terbangun dan memeriksa Rita.


"Sudah bangun? Ingat? Kamu muntah darah banyak banget. Kenapa?" Tanya Prita dengan kedua mata yang sembab memerah.


"Biasa masalah si Ney kupret! Padahal aku sudah lupakan soal kejadian tahun lalu eeh dia masih pakai nanya lagi ya meledak semua. Terus...." kata Rita yang tidak bisa meneruskan perkataannya karena demamnya kembali naik.


"Istirahat dulu deh nanti Prita hubungi Teh Diana kalau kamu tidak bisa kuliah," kata Prita lalu mengambil makanan dan membiarkan ketiga keponakannya tertidur.


Rita makan disuapin oleh kakaknya lalu diperiksa, demamnya masih belum mau turun tampaknya karena kecapean juga. Kemudian saat kakaknya menunggui Rita, ponselnya berdering dan Ney yang menelepon. Kakaknya tahu masalah apa yang dihadapi oleh Rita, dia pun yang mengangkat ponselnya dan memarahi Ney.


"Kurang baik apalagi adik saya sama kamu!? Memangnya kamu pikir saya tidak tahu apa yang terjadi sama dia. Kalian bully adik saya, kamu tuh maunya apa sih? Sudah dikasih Hati masih kurang minta Jantung!? Dasar Koplok! Gara - gara kalian, adik saya sakit parah dimana hati kamu sebagai temannya dia!? Jadi ini cara kamu membalas kebaikannya? Saya tidak suka ya kalau kamu masih ada disekitar adik saya. Kamu dan lelaki kampret itu juga sama saja bukannya jadi teman baik malah seenaknya semena - mena. Awas ya kalau saya tahu kamu masih berteman sama Rita, saya datangi kamu. NGERTI!!" Lalu kakaknya mematikan ponselnya.


Ney hanya bisa pasrah, dia kaget lagi bukan main lalu Rita sedang sakit parah? Dia semakin menunduk selama ini Rita tidak pernah menceritakan pada siapapun dan mereka membantainya sampai dasar.


"Maaf, Rita. Maafin gue." Kata Ney menangis.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2