
"Yang mana?" Tanya Ruta bingung.
"Dapat apa, Ua?" Tanya Ratih bingung juga.
"Kediamannya 'Dia'. Teh, nih ya sama Ua rumahnya dia dihancurkan nanti efeknya ke teteh tidak tahu apa. Kalau nanti merasa tidak nyaman, bilang saja. Contoh kaya kepanasan atau nyeri," kata Ua sambil tangannya masih menghadap ke punggung.
Rita mengangguk karena tidak mengerti. Ua berganti posisi rasa yang Rita rasakan di punggung adalah hangat semacam seperti di setrika saja.
Kemudian rasa hangat itu menjadi panas. "Aduh duh duh Ua, panasss!" Kata Rita mengibaskan bajunya.
Ua menghentikan kegiatannya dan mengelus punggung Rita. "Panas sekali?" Tanyanya.
Rita mengiyakan lalu karena takut, dia memegang bajunya tapi tidak panas. "Kok aneh. Ternyata bajunya tidak panas," katanya.
"Ya tidak dong itu panasnya di dalam kulit, Teh bukan panas yang membakar. Sudah? Ua coba lagi ya takutnya dia buat rumah yang lain," kata Ua kembali membuat hangat lagi.
Kali ini kepala Rita serasa berputar dan tiba-tiba menusuk. "Aw!" Teriak Rita kesakitan.
"Stop stop sepertinya dia pegang kelemahannya Rita deh. Sakit ya?" Tanya Ibunya Ryan.
"Vertigo," kata Rita menahan sakit kepala sebelah kiri. Meringis kesakitan.
Ua mau tidak mau harus menghentikannya. Jin yang menempel pada Rita memang sudah hampir menguasai seluruh tubuhnya bahkan penyakit yang Rita derita bisa dia manipulasi kan.
"Sedikit lagi saja ya Teh supaya Teteh bisa merasakan kehadiran Aa Malay kasihan dia sering dayang tapi Tetehnya tidak bisa merasakan," kata Ua Mori sambil tertawa.
Koko memperhatikan Ua Mori dengan takjub, dirinya merasa harus banyak belajar dari Ua. Sambil sesekali mengirimkan doa untuk mengurangi rasa panas.
"Wah, harus banyak belajar nih dari Ua," kata Koko garuk kepala.
"Hahaha wah lama kalau belajarnya sama saya. Tuh sama Ibunya Ryan saja, saya mah jauh Ko," kata Ua tertawa. Sedikit berkeringat lalu selesai.
"Nih ya Ko, sama saya dibantuin tapi hanya sampai menghancurkan rumahnya saja. Sisanya silakan tugasnya Koko," kata Ua.
"Memangnya kalau tidak dihancurkan akan susah?" Tanya Koko.
__ADS_1
"Kasusnya sama Teteh ini mah Koko pasti pingsan sih. Sekarang rumahnya tidak ada, si nenek mencak-mencak dia tapi tidak berani mendekat," kata Ua mengusap punggung Rita.
Lumayan juga sih karena panas Rita mengibaskan bajunya lagi sampai menurutnya kering lalu minum lagi.
"Kalau begitu bisa merasakan hantu lagi dong?" Tanya Rita cemas.
"Yaaaa bisa sih itu sudah sepaket. Kenapa?" Tanya Ua.
"Yahh Ua sengaja saya tutup soalnya udah spooky lihat begituan," kata Rita menunduk.
"Ohhh sebentar kalau begitu. Tenang tenang Ua kurangi deh supaya Teteh tidak terlalu melihat ya Nah sudah, tenang kalau ada yang berusaha memperlihatkan, Teteh tidak akan melihat jelas," kata Ua memperbaiki.
Koko tertawa dan mengucapkan terima kasih, hari ini dia mendapat beberapa materi. Rita tidak begitu mengerti soal kekuatan atau aura yang dimaksud oleh Ua dan Koko. Yah, itu ranah mereka sih tentu saja Rita tidak akan pernah bisa mengerti.
"Bagaimana rasanya sekarang, Teh?" Tanya Ua yang lainnya.
"Jadi adem," kata Rita memijat leher karena tegang.
"Wah, benar sih ini mengeluarkan banyak energi. Jadi enak ya Teh? Suara juga sudah berubah jadi lebih energik terus ceria beda dengan yang tadi," kata Ua duduk menyeka keringatnya.
"Tadi saya bicara kerasanya bagaimana menurut Teteh?" Tanya ibunya Ryan.
"Itu hanya berupa kalimat ya Teh, menurut Teteh ya biasa tapi tidak untuk yang ada di dalam Teteh. Dia tahu maksud saya tuh menghina dia makanya dia mau meledak pakai badan Teteh. Tapi hebatnya Teteh masih punya kesadaran untuk mengendalikan si nenek padahal kamu sudah dikuasai dia separuh. Hebat," kata Ibunya Ryan mengacungkan jempolnya.
"Tadinya kita mau merundung tapi kasihan Teteh nanti kehabisan energi soalnya Teteh sendiri kalau kita punya khodam lain. Efeknya takut Teteh muntah darah," kata suaminya Ua.
Rita terdiam ketakutan juga bisa sampai begitu? Antara percaya tidak percaya, toh dunia jin memang bersebelahan dengan dunia manusia.
"Muntah darah?" Tanya Rita agak takut. Dia kelebihan garam saja yang langsung batuk darah sudah heboh apalagi muntah.
"Iya, karena sudah dalam sekali jangkauannya sampai sering sakit kan," kata Ua yang lain menebak.
"Janganlah, Tetehnya parno soalnya nanti jadi trauma. Sudah yang biasa saja sama Koko," kara ibu Ryan.
"Koko mau dibantu tidak? Yakin bisa sendiri?" Tanya Ua memandangi Koko.
__ADS_1
"Iya, yakin bisa sendiri. Kenapa?" Tanya Koko agak tidak mengerti.
"Soalnya kamu sama si Teteh beda karakter. Yakin bisa? Kalau mau sendiri, hmmm kalimatnya agak diperhalus ya soalnya Teteh Rita berbeda dengan anak-anak disini. Beda juga sama Tyas," kata Ua Mori membuat Koko terdiam.
Koko terdiam lalu menatap Rita lalu Ua lagi. "Tapi saya takut kalau terlalu banyak minta tolong ke Ua, bayarnya bagaimana?" Tanya Koko agak malu.
"Hahahaha tidak apa-apa. Ini suatu kehormatan juga untuk saya, Ko. Lagian takdir Teh Rita keren lho, kamu juga bisa ikut keseret nanti," kata Ua mengedipkan matanya.
"Yaa bagaimana baiknya saja tapi saya mau mencoba sendiri dulu," kara Koko.
"Nanti kalau ada apa-apa, hubungi saya pakai... yah, kamu juga pasti tahu kan," kata Ua. Koko mengangguk.
"Teh, emosinya pasang surut ya tiap waktu berbeda," kata Ibunya Ryan menebak.
Rita menunduk maluuuu sekali. "Iya," jawabnya.
"Jangan malu begitu hahahaha setiap waktu apa?" Tanya Ua yang lelaki.
"Setiap Maghrib, Ua. Aneh sekali kalau sudah menjelang maghrib saya suka menghentikan chat sama siapapun. Kalau telat sedikit, tiba-tiba ngegas saja Sama keluarga juga begitu. Lama-lama lelah juga tidak menentu padahal saya tidak mengerjakan hal yang berat," kata Rita agak malu sekali.
"Itu si nenek Teh yang nempel lama sama Teteh kalau dia sudah nempel, Teteh nya jadi susah mencerna perkataan orang seperti ditutup ya telinganya," kata Ratih yang akhirnya mengerti.
"Iya karena energi Teteh terkumpulnya sewaktu Maghrib Jadi langsung ditarik sama si nenek makanya Teteh pasti selalu mengantuk atau kelelahan kan. Nah kalau pas tidur, karena Teteh kurang energi, Teteh itu rohnya dibawa melanglang buana ke alam yang lebih jauh. Alam barzah juga," jelas Ua Mori.
"Wah, serius? Alam atas?" Tanya Ryan melongo.
"Iya, malah lebih jauh lagi dari yang normal. Kalau tidur jangan lupa berdoa takutnya tidak bisa pulang karena alam sana itu lebih cantik dari alam yang kita tempati," jelas Ua.
"Ih, seram tidak sih? Teteh perasaannya bagaimana?" Tanya Ratih.
"Itu kan mimpi nanti juga pulang lagi kalau tidur memang selalu baca doa kok," kata Rita biasa.
Semua orang yang ada disana termasuk Koko hanya bengong. Selama ini soal mimpi jauh itu memang selalu Rita alami semenjak dia masih bersekolah di SMP tapi hanya menganggapnya sebagai mimpi saja. Karena memang indah dan cantik sekali bahkan hamparan benda angkasa yang penuh cahaya.
Yang dimaksud mereka mungkin soal mati suri juga karena Rita pernah mati suri 3x yang menjadi penyebabnya adalah super kelelahan. SMP pernah mengikuti kegiatan pramuka dan itu benar-benar menguras energinya, lalu banyaknya ikut perlombaan antar kelas.
__ADS_1
Itu sebelum Rita bertemu dengan Ney dan menjadi lebih banyak mengeluarkan energi. Yang kedua saat SMA, Rita mengikuti kegiatan Pramuka lagi dan membuatnya melanglang buana ke dimensi lain. Dibangunkan oleh temannya ternyata 6 jam dia tertidur tanpa bernafas.
Bersambung ...