ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(210)


__ADS_3

"Iya. Kamu memang menindas aku dengan kata - kata kok aku juga baca. Kelewatan kalau kamu sampai lupa yang kamu chat di grup," kata Arnila dengan muka yang merah.


"Itu... maksudnya bukan menindas lu," kata Ney yang gelisah berusaha menjelaskan.


"Kamu juga mengatai dia lho," kata Rita.


"Sudah kalian berdua, berhenti! Daripada nanti mita jadi berantem di sini kan tidak enak ya. Aku sudah capek Ney sama kamu. Lu mau ubah lagi juga yang tadi masalahnya kita sudah dengar banget ya apa yang lu katakan. Dan seperti kata Alex, itu benar - benar keluar dari hati lu jadi memang bukan kebohongan. Lu harus mulai menyadari diri sendiri deh kalau lu itu memang begitu orangnya. Jujur! Kalau saja dari awal kamu jujur dengan aku atau Rita apa maksud tujuan kamu, kita masih bisa memaklumi. Tapi kita sudah bertahun - tahun lho dan memang iya selama ini, lu juga menindas gue entah di depan teman gue atau Rita. Bahkan Rita juga senasib sama gue, lu maunya apa sih?!" Tanya Arnila yang mulai mau meledak.


"Tenang, Bu," kata Rita yang menepuk - nepuk bahunya.


"Gue tuh sudah capeeeek berat sama kelakuan lu. Ke orang - orang, Ri dia jelekin gue. Bilang kalau gue tidak punya temanlah, kesepian lah, terus gue itu berada budaknya dia. Astagfirullah! Banyak Ri, yang bilang dia itu teman yang tidak baik tapi sama kaya kamu, aku juga merasa berharap kalau Ney lama kelamaan kenal aku, sikapnya pasti akan berubah. Eh, tahunya malah parah! Banyak ya Ney, yang sama sekali tidak suka sama lu karena sifat lu tuh asli jelek! Gue terpaksa temenan sama lu sampai gue belain lu di grup teman gue, sampai mereka ninggalin gue, gue masih saja nemenin lu. Sekarang... gue sudah tidak bisa mikir apa - apa lagi soal lu! Lu tuh bebal!" Teriak Arnila untungnya di taman itu memang tidak ada orang dan hanya mereka bertiga.


Ney berusaha menjelaskan tapi dia pun sulit untuk mengatakannya dan akhirnya memilih untuk diam. Arnila lalu minum banyak - banyak dan kembali memakan cemilannya. Dengan wajah yang cemberut dan kesal, meledak juga tapi belum meledak banget sih. Hanya Rita sudah takut melihat kemarahannya Arnila, yang sama sekali belum pernah Rita lihat.


"Ri, kamu tidak perlu deh ikut campur urusan aku sama Arnila. Kamu itu tidak ada urusan," kata Ney mengalihkan topik ke arah Rita.


"Aku juga minta kamu jangan ikut campur lagi soal Alex dan aku. Jangan sering bertanya aku baru chat apa sama dia sampai kamu minta - minta bukti chat. Bisa?" Tanya Rita menyilangkan tangannya.


"Ya soalnya cerita soal Alex itu kan menarik untuk diikuti," kata Ney menatap Rita yang sebal.


"Tidak perlu kepo - kepo deh! Itu kan tidak diperbolehkan dalam agama, tidak sopan tahu! Aku yakin chat aku sama dia oun kamu copy paste ya? Dikirim pakai Bluetooth mungkin," tebak Rita menatap Ney tajam.


Ney kaget kenapa Rita bisa tahu? "Tidak ih, kata siapa aku kirim chat kamu ke ponselku. Aku memang sedang baca chat yang kamu perlihatkan," kata Ney dengan mata yang panik.


"Masa sih kamu selemot itu baca 3 balon sampai 1.5 jam?" Tanya Rita curiga dengan gelagatnya.


"Serius! Kamu tidak percaya ya sama aku?" Tanya Ney yang agak gelisah.


"Iya sama sekali tidak bisa percaya lagi. Terus kenapa sih kamu bisa sekepo itu? Waktu kamu pacaran sama Dins, aku juga tidak kepo. Dins anak mana, rumah dimana, kaya atau tidak," kata Rita yang masih penasaran.


"Ya aku penasaran saja kok bisa sih cewek seperti kamu bisa mendapatkan hati lelaki semacam Alex? Kamu kan bukan tipe cewek gaul seperti aku," kata Ney yang berusaha mencungkil kuku yang mau patah.


"Ya bisalah kalau memang ada jalannya. Memangnya hanya cewek gaul saja yang bisa dapatkan lelaki ganteng? Dunia itu tidak sebesar daun kelor," kata Rita menggerakkan telunjuk jarinya melambai.


"Soalnya Rita benar - benar apa adanya banget di hadapan siapapun makanya Alex pasti tertarik, tidak seperti seseorang yang berwajah manis tapi setelah tahu dalamnya bobrok yang ada," sindir Arnila yang bersandar di batu membuat Ney menatapnya dengan cuek.


Kemudian Ney memperhatikan Rita yang sibuk mengunyah makanan. Ney ingin sebenarnya tapi dia terlalu gengsi meminta makanannya kembali gegara dia terlalu sompral menolak yang dibeli oleh Rita. Akibatnya dia makan yang ada saja tapi kadang Rita menawarkan padanya tanpa kata.


Rita memperhatikan Ney yang terus makan cemilannya sampai habis, dia menyengir karena Ney terlalu menomorsatukan gengsi. Dan bisa juga dia punya rasa malu. Ney ingin sekali memecahkan suasana memanas tadi, dia juga sudah lelah kalau harus terus berdebat terutama dengan Rita. Yang sekarang Rita banyak berubah dulu Rita cuek banget apapun yang dibilang Ney, selalu dipercayai sekarang itu semua berbalik setelah Rita tahu niat Ney.


"Kamu sedang memikirkan apa sih?" Tanya Ney tiba - tiba melihat Rita yang tampak sedang memikirkan sesuatu.


Arnila melirik Ney lalu Rita tanpa ekspresi, sudah lelah waktunya istirahat. "Eh? Tidak ada. Kenapa?"


"Bohong," kata Ney yang menatap Rita.


"Memangnya kenapa kalau aku sedang mikir atau tidak?" Tanya Rita lagi penasaran. Ada apa lagi nih orang?


"Ya aku mau tahu," kata Ney memaksa.


Rita lalu mengangkat satu alisnya dan mencuekkannya. Bukan urusan lu!


"Kenapa sih maksa bener!" Kata Arnila dengan jutek.


"Soalnya aku tidak bisa dengar kamu mikir apa makanya aku nanya," kata Ney yang membuat mereka berdua kaget.


"Memangnya selama ini kamu bisa baca pikiranku? Sejak SMP?" Tanya Rita penasaran.


"Bisa tapi isinya tidak penting semua," kata Ney dengan bangga.


"Lagipula buat apa juga aku mikirin hal penting. Jelas banget?" Tanya Rita lagi penasaran.


"Ya kadang - kadang sih bisa tapi kadang tidak bisa, aku suka heran saja. Apa yang kamu pikirkan dengan tindakan selalu tidak sama. Aku pernah baca pikiran kamu, 'baca ah' tapi akhirnya kamu malah pergi. Makanya aku heran kenapa kok aneh sih," kata Ney yang tampaknya berhasil membuat mereka mengalihkan topik.


"Apa yang bisa kamu baca tidak selalu akan sama dengan tindakan," kata Rita tersenyum.


"Aku tidak mengerti," kata Ney memiringkan kepalanya.


"Maksudnya kamu tahu apa isi pikiran Rita tapi setelah kamu tahu, tindakannya tidak akan sama dengan yang dia pikirkan. Begitu," kata Arnila.

__ADS_1


"Betul! Jangan terlalu fokus dengan apa yang bisa kamu baca dari pikiran orang. Karena pikiran juga bisa menipu, memangnya kamu kadang bisa kadang tidak bisa membaca?" Tanya Rita heran.


Ney mengangguk dan memang benar menurut instingnya Rita, Ney jujur. Rita tersenyum.


"Karena awalnya Alex bilang kan kalau dia bisa baca pikiran atau isi hati orang? Dari situ aku mulai membatasi kemampuan orang lain atau aku menyembunyikan apa yang aku pikirkan agar orang tidak bisa membaca pikiranku. Memang aku tadi sedang berpikir tapi aku bisa memilih - milih pikiran yang bisa terbaca dengan yang tidak," kata Rita tertawa pelan - pelan.


"Hah? Serius!?" Kata Ney dan Arnila bersamaan.


"Jadi itu kenapa aku tidak bisa baca kamu mikir apa," kata Ney menyadari kalau Rita ternyata menutup sebagian pikirannya.


"Ya aku gunakan cara ini kepada Alex juga makanya dia kadang frustasi tidak bisa baca isi pikiranku hahaha!" Rita senang sekali usahanya tidak sia - sia.


Ney bengong mendengarnya gegara pernyataan Alex, dia sama sekali tidak bisa membaca apapun.


"Iih.. kok bisa sih?" Tanya Ney yang keberatan dengan Rita membuat batasan pada kemampuan orang lain.


"Isi hati dan pikiran itu juga adalah tempat privasi maka kalau ada orang yang bisa membacanya termasuk melanggar privasi dan itu tidak sopan. Aku menutup jalan orang - orang yang bisa membaca pikiranku. Termasuk soal kamu dan Alex, Arnila aku tidak tahu tapi bisa juga ya?" Tanya Rita mengedipkan matanya ke Arnila.


"Kamu bisa menyembunyikan itu bagaimana caranya sih?" Tanya Arnila yang ingin tahu. Ney menatap Arnila dengan memasukkan kedua bibirnya ke dalam kalau Arnila sampai bisa menyembunyikan juga, Ney dalam bahaya. Begitulah.


"Bisa dong. Mudah kok, kamu mungkin bisa soalnya aku saja langsung bisa," kata Rita tapi dia bingung menceritakannya bagaimana karena hanya dia sendiri yang melakukannya.


"Ajarin dong!" Kata Arnila memegang tangannya Rita. Rita bingung juga karena dia sendiri juga tidak mengerti karena langsung bisa begitu saja.


"Kok kamu seperti itu sih? Nanti aku bagaimana?" Tanya Ney yang keberatan. Mereka berdua menatap Ney dengan bingung.


"Bagaimana gimana? Ya bagus kan kamu sama seperti Alex tidak tahu sopan santun jadi bagus Nila kalau kamu bisa menutup koneksi kamu sama Ney atau siapapun," kata Rita menyemangati Arnila.


"Aku tahu kami suka membaca isi pikiranku. Aku juga bisa tahu apa isi pikiran kamu, Ney. Dan isinya jelek semua," kata Arnila. Ney menganga jadi mereka saling membaca isi pikiran masing - masing tapi tidak seperti Arnila yang lengkap, Ney hanya kadang bisa kadang tidak.


"Kamu tidak bisa, Ri?" Tanya Ney yang agak malu.


"Hmmm tidak bisa buat apa juga. Hati itu area privasi, Ney aku saja masih suka marahin Alex kalau dia mulai berusaha membaca isi pikiranku makanya aku mencari cara agar Alex atau siapapun bisa membaca secara lengkap. Kamu bisa baca punyaku juga, Nila?" Tanya Rita.


"Bisa tapi tidak ada yang penting karena kamu merahasiakannya dengan baik dan aku juga tidak mau tahu kamu berpikir apa. Yang lainnya tidak ada yang aneh," Arnila tersenyum. Rita tidak mengerti sisi lain yang mananya tapi baguslah kalau tidak ada yang jelek.


"Ya itu bagaimana caranya, Rita?" Tanya Arnila memaksa dia tidak mau kalau Ney sampai terus membaca isi pikirannya.


"Ya aku ingin buat batasan untuk Ney atau Alex atau siapapun yang bisa. Seperti kamu, Ri makanya ajari," pintar Arnila.


"Aku mau saja sih mengajarinya tapi aku sendiri juga bingung bagaimananya," Rita menggaruk - garukan kepalanya dia bingung bagaimana menjelaskannya karena takutnya hanya dirinya saja yang bisa. Strategi Ney adalah membiarkan kita berdua selama beberapa hari setelah itu dia akan menyangka kalau mereka sudah melupakan kesalahannya. Seperti itulah kebodohannya yang memang kebangetan padahal kalau orang sudah disakiti, mereka akan terus mengingatnya.


Tadinya Ney berniat begitu tapi ternyata dengan mengalihkan topik membuat kedua temannya itu melupakan yang tadi. Jadi dia senang kalau usahanya membuahkan hasil tanpa dia ketahui hal itu mereka pupuk didalam hati mereka, mengingat apa yang sudah Ney lakukan. Tapi kini dia mulai bete lagi karena menyadari kemampuan Rita ternyata lebih besar dan jauh dari jangkauannya. Hahaha dia yang ganti topik dia juga yang mulai bete!


"Oke, aku mau coba nih. Coba kalian sebutkan aku sedang bilang apa," kata Rita ke arah mereka berdua. Ney mengerti, Arnila juga. Menurut pendapat Rita, Ney tidak mau kalau dirinya sama sekali tidak bisa isi hati Rita ataupun Arnila. Dalam hati, Rita berkata 'Pisang'. "Aku bilang apa?"


Tanpa mereka sadari, Alex datang dengan berupa bentuk Astral alias roh dan ikut duduk di samping Rita. Dan menyimak apa yang mereka bicarakan, tidak ada satupun yang menyadari kedatangannya begitu juga dengan Rita. Entah sedang apa si bodoh itu di negaranya.


"Oh! Aku tahu itu gampang banget! Yang susah dong!" Kata Ney menantang.


"Ya apa sebutkan! Siapa tahu kamu cuma bilang doang bisa!" Kata Rita memintanya menjawab.


"Pisang!" Kata Ney dan Arnila dengan senang.


Rita tertawa dan mengacungkan jempolnya. Menurut Rita okelah berarti Ney bisa kalau yang sederhana. Selanjutnya Rita akan naikkan lagi.


"Oke kalau yang sederhana ini sih aku yakin Arnila juga langsung tahu kan. Sekarang kalimat ya," Dalam hati, Rita membicarakan sebuah kalimat 'Alex itu sangat menyebalkan, tahu!' Lalu Rita terdiam menunggu jawaban mereka. Kalau dugaannya selama ini benar, ada kemungkinan apa yang dia teliti itu benar mengenai level kemampuan Arnila dan Ney.


Alex juga ikut menebak dan dia tahu banget apa yang dikatakan oleh Rita, dia memasang wajah datar ke arahnya tapi Rita tidak bereaksi apa - apa karena memang dia tidak bisa menyadari keberadaan Alex. Alex menghela nafas dia mau bertingkah seperti apapun Rita tidak menyadarinya tapi dia menikmati bisa datang dan menyaksikan kekonyolannya. Bukan hantu ya.


"Kamu bilang Alex itu menyebalkan! Hahahaha!!" Tawa Ney meledak saat itu juga. Oh iya gaya ketawa Ney itu menurut Rita dan Arnila terlalu keras dan blak - blakan. Gaya ketawanya tidak seperti kebanyakan orang yang bisa kalem atau mungkin feminim, tapi ini sampai semua badannya menggeliat alias bergerak. Kadang membuat Rita risih mendengarnya karena sangat keras. Terlalu dibuat - buat banget padahal biasa saja juga tidak akan ditertawakan.


"Aku juga mendengar itu," Arnila tertawa tapi tidak se-blak seperti Ney. Bukan seblak ya, apa ya pokoknya ketawanya keras banget dengan semua badan yang bergerak. Pokoknya aneh deh tapi memang ada juga sih orang yang kalau ketawa semua badannya bergerak ya. Sampai pernah juga Rita lihat ada remaja yang kalau ketawa itu sampai benda yang dipegangnya dilempar 😰😰.


"Lalu? Ah, tidak seru kalau hanya segini saja yang lebih sulit dong supaya aku bisa tahu batasan yang kamu bilang itu. Kalau masih bisa aku jawab sih berarti itu cuma taktik kamu saja supaya aku tidak bisa baca lagi kan," kata Ney menunjuk tangan ke Rita.


"Bukan. Memang aku bisa menutup batasan kok. Kali ini yang tersulit nya aku akan pakai kemampuan aku ya. Kamu pasti tidak bisa baca tapi kalau Arnila aku tidak tahu tuh," kata Rita yang langsung mengaktifkan kemampuannya. "Aku juga ingin tahu apa benar yang kamu bilang tidak bisa membacanya. Fokus nih ya,"


Mereka berdua eh bertiga dengan si Astral Alex mengangguk, dia juga penasaran kenapa Rita sampai bisa tidak dia dengar isi pikiran dan hatinya. Kalau benar dugaan Alex, Rita memiliki kemampuan yang lebih jauh lagi darinya, maka tidak mengherankan itu akan membuat Alex kesulitan. Dan Alex ketakutan dia akan sangat gelisah sampai sulit tidur.

__ADS_1


Rita melihat Ney menutup kedua matanya begitu juga Arnila yang menundukkan kepalanya berusaha membaca. Alex pun berkonsentrasi di hadapan Rita, hanya Rita sendiri yang tidak melakukan hal seperti mereka bertiga. Dia hanya bersantai sambil menopang kan kepalanya memiringkan ke kiri. 'Memangnya harus seperti itu ya? Aku tahu perbedaan kalian berdua. Kalau Arnila kemampuan spiritualnya sangat besar, kalau Ney aku tidak yakin sesuai yang dia bilang besar. Aku sih berpikirnya Ney hanya punya sixth sense saja tidak lebih dari itu. Melihat hantu itu sudah pasti dia memang bisa tapi kalau soal penerawangan, menurut aku tidak ada deh. Kalau kamu bisa dengar ini, Nila. Kamu seharusnya tidak perlu takut pada ancaman Ney apapun! Kamu itu lebih kuat, aku harap jangan lagi kamu mau terus jadi budak dia.' "Sudah! Terdengar?" Tanya Rita sambil senyum.


Ney membuka kedua matanya dia seperti tidak percaya pada apa yang dia dapatkan. Dia menggarukkan kepalanya, sama sekali tidak percaya. Rita sudah siap kalau Ney bisa membacanya, Rita sudah mengantongi pembelaan tapi ternyataaa...


"Kamu bilang apa sih? Memangnya kamu bicara dalam hati? Aku kok tidak dengar apapun ya?" Tanya Ney aneh. Rita bengong mendengarnya, 'Eh serius?' Pikir Rita. Rita lalu tersenyum sendiri ternyata benar berhasil.


"Ah, masa? Aku mikir kok dalam kalimat panjang lho masa iya kamu hanya bisa menebak yang sepele sih," kata Rita yang sudah mengantongi level berapa Ney hanya bisa membacanya. Rita akan terus memakainya sampai kapan pun, kalau Alex bagaimana ya?


Dia bisa mendengarnya dan tersenyum lalu mengecup pipi Rita. Yang dimana Rita merasakan ada angin disekitar pipinya lalu dia mengibaskan tangannya. Lalu Alex pergi kembali ke tempatnya semula yang ternyata sedang tertidur. Dia dibangunkan oleh rekan kerjanya lelaki mengingatkan Alex belum makan siang lalu mereka bersama - sama pergi sambil tertawa. Rekannya merasa aneh melihat Alex seperti sedang semangat dan juga senang.


"Serius! Tidak ada yang terdengar. Hening! Itu kamu pakai teknik yang kamu bilang? Kok bisa sih? Alex juga sama?" Tanya Ney banyak pertanyaan. Dirinya sama sekali tidak bisa mempercayainya bahwa dia tidak mampu membaca isi pikiran dan hati Rita. Dia frustasi!


"Iya. Ada juga kok tingkatan yang lebih tingginya, ini mah Alex juga mungkin masih bisa baca sih. Arnila bagaimana ya? Kamu pasti bohong kan tidak bisa baca? Ngaku lah!" Kata Rita berpura - pura kesal sambil memukul tasnya Ney. Rita meneliti wajah Ney yang sepertinya memang Ney tidak bisa membacanya.


"Demi Allah, Ri! Tidak ada suara apapun! Haaa kenapaaa?? Ah, masa sih kamu akan terus memakainya? Tidak seru!" Kata Ney keberatan kalau apa yang dikatakan Rita ternyata tidak bohong.


"Ya seru dong menurut aku, teknik aku berhasil! Kamu tidak akan bisa lagi membaca isi hati dan pikiran aku. YESSS dugaan aku benar!" Teriak Rita mengangkat kedua tangannya ke atas lalu bernyanyi dengan riang.


"Masa begitu?!" Kata Ney yang tidak senang. Dia sudah tidak bisa lagi membaca isi pikiran Rita. Kalaupun bisa, Rita akan memberikan yang sederhana lagi. Ney melipatkan tangannya dan marah.


"Oh, yesss!! Bagus dong untuk orang seperti kamu yang selalu kepo everything ya, dengan cara ini aku punya area privasi yang lain. Yes! Aku menang!" Rita tertawa penuh kemenangan sedangkan Ney masih belum bisa menerima dia akan mulai bertanya pada ibunya nanti cara untuk menaikkan levelnya.


Rita lalu memandangi Arnila yang sedari tadi terus diam, dia tidak menutup kedua matanya malah lebih ke mendengarkan sesuatu. 'Aku tahu kamu bisa baca kan hehehe.' tambah Rita dalam pikirannya. Setelah itu Arnila langsung melempar tas kecilnya ke Rita dan tertawa.


"Busheet lu! Bisa baca atau tidak jangan pakai lempar tas dong. Kecuali kalau sudah tidak butuh sini buat aku saja!" Kata Rita yang mengusap pipinya terkena tali tas Arnila.


"Kamu bisa baca!?" Ney terkejut mendengarnya.


Arnila lalu tertawa dan mengambil tasnya. "Maaf maaf habis kamu usil sih. Iya aku bisa baca, kamu tidak bisa, Ney? Panjang padahal isinya,"


"HAH!? KOK BISA!?" Teriak Ney super kaget selama ini Ney selalu menyangka kalau Arnila orang yang biasa saja. Tidak memiliki kemampuan istimewa ternyata.... oh ternyata.


"Ya mana kutahu. Kenapa ya?" Tanya Arnila pura - pura. Dengan mendengar nadanya saja, Rita mengerti kalau selama ini Arnila selalu berpura - pura. "Tapi kamu aneh tidak bisa tahu apa yang aku pikirkan?"


"Tidak. Karena aku tidak mau tahu kamu atau Ney atau Alex atau siapapun mau berpikir soal apa tentang aku, ya silakan saja. Aku yang jelek atau yang baik, apapun! Aku tidak peduli. Tapi kalau mereka Fake, aku pasti tahu. Tinggal meminta diperlihatkan saja," kata Rita sambil tersenyum. Kedua kakinya dia lipat jadi bisa duduk dengan nyaman.


"Kok hanya aku saja sih yang tidak bisa? Kalian ngapain aku?" Tanya Ney yang tidak mengerti.


"Enak saja! Jangan mikir aneh - aneh deh. Meski Rita kemampuannya besar tapi dia tidak punya niat guna - guna orang seperti kamu," kata Arnila yang senang dengan apa yang dikatakan Rita kepadanya dalam hati.


"Ya soalnya kenapa aku tidak bisa? Kenapa coba?" Tanya Ney agak frustasi dan stres.


"Ya satu yang pasti sih Ney, level kita bertiga itu ternyata berbeda ini dari kemampuan Spiritual ya. Menurut kamu bagaimana? Aku juga tidak yakin kalau Arnila ternyata bisa mendengar padahal Ney saja tidak bisa," kata Rita yang bingung juga tapi dia mulai mengerti.


'Cara aman agar privasi kamu tidak ditembus sama orang ini,' pikir Rita dengan tidak menatap Arnila dan terus menerangkan pada Ney.


Arnila heran bagaimana bisa Rita berbicara begitu sambil melakukan hal yang lain? Dan tidak membuat kecurigaan pada Ney tapi berbicara untuk dirinya. Dia kagum Rita bisa membaginya ke dalam beberapa bagian.


"Iya, memang beda banget. Entah kamu sadar apa tidak ya Rita. Soal kemampuan spiritual sebenarnya Rita yang paling besar lho dibanding kita bertiga," jelas Arnila yang membuat Rita dan Ney juga kaget. Rita sama sekali tidak tahu tapi karena kejadian dia pernah diruqyah dulu oleh guru Arnila, mungkin memang ada ya.


"Aih, mana mungkin aku mah segitu doang tapi kalau melihat hantu sih kadang bisa kadang tidak. Kadang aku seringnya justru mendengarkan suara gesekkan, suara benda yang bergeser, atau juga tirai yang bergerak sendiri sih," kata Rita mengingat - ingat. Ney kaget selama ini Rita jarang menceritakan soal pengalamannya, jadi memang Rita sembunyikan.


"Itu karena mereka sendiri yang ingin dilihat sama kamu, Ri. Tapi kamunya kan malah benci karena kejadian dulu itu kan?" Tanya Arnila.


"Iya. Semenjak itu dan saat setelah ruqyah, aku langsung membenci "mereka" semua. Aku menantang semuanya untuk keluar itulah kenapa aku suka lempar buku karena aku mendengar mereka ada dimana," kata Rita menghela nafas.


"Eh, tunggu tunggu jadi kamu bisa lihat hantu juga? Tapi kamu seperti tidak bisa yang aku lihat soalnya apa - apa cuek saja," kata Ney kurang yakin.


"Iya buat apa juga heboh? Memang kelihatan dan bisa kalau kelihatan biasanya aku langsung lempar barang yang ada sampai kena di bagian entah itu gesekan atau benda yang bergeser," kata Rita dengan bangga.


Arnila lalu tertawa keras sambil guling - guling di lantai batu tidak tertahankan. Terbayang seperti apa kelakuan Rita waktu mereka menunjukkan diri.


"Serius kamu lempar mereka pakai barang?" Tanya Ney yang bengong. Dikiranya Rita pasti teriak ketakutan sambil bersembunyi karena menurut dugaannya Rita itu penakut.


"Iya. Suara cakaran waktu aku lagi mengerjakan banyak tugas kuliah karena berisik terus aku lempar banyak buku ke sumber suaranya. Sampai mungkin karena saking banyak buku yang aku lempar lalu terdengar oleh ibuku, beliau masuk ke kamar dan memeriksa lalu bertanya sedang apa. Mana mungkin kan aku bilang 'Lagi lempar hantu yang mengganggu,' jadi aku bilang, 'Itu ada kecoa mau terbang sebelum kejadian, dilempar buku buat mati di tempat sekalian.' Baru ibuku mengerti, aku juga menambahkan kalau ada suara buku dilempar itu tandanya lagi kejar kecoa," kata Rita menjelaskan panjang lebar.


Tanpa disengaja, Ney langsung menyemburkan ketawanya keras lalu menepuk kepalanya. Arnila masih saja bergulingan mendengarnya sambil memegang perutnya.


"Kebayang itu kepala hantunya benjol - benjol kamu lempar banyak buku. Sepertinya sering ya?" Tanya Arnila yang berusaha bangun dan menahan ketawanya.

__ADS_1


Rita yang juga tertawa, menahan untuk berbicara lagi. "Ada sih 3 hari berturut - turut dengan beda tempat. Terus di laptop aku lempar kosmetik apapun lah yang bisa dilempar terus ya kena ke sumber suaranya sih. Setelahnya tidak ada suara lagi tuh," melihat kedua orang itu yang masih asik tertawa keras sambil memegang perutnya masing - masing. Termasuk Rita.


BERSAMBUNG...


__ADS_2