ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(214)


__ADS_3

"Betul betul lebih baik makan saja ya supaya kenyang!" Sambut Arnila.


"Oh, begitu. Jadi kamu jarang dong menggunakan kemampuan kamu itu?" Tanya Ney dengan nada jutek atau sombonglah. "Kalau aku sih bakalan aku gunakan sepuasnya untuk mendapatkan yang aku mau,"


"Aku tidak suka apalagi kalau untuk seperti yang kamu lakukan, kamu harus ingat apa yang diberi Allah SWT itu mau kemampuan batin atau tidak, itu suatu hari nanti akan dipertanyakan lho. Aku sih ribet ah! Memang jarang aku pakai kalau ada sesuatu yang mengganggu saja. Ada beberapa yang selalu aku gunakan kok," kata Rita yang membuat Arnila dan Ney penasaran.


"Apa tuh?" Tanya mereka berdua penasaran. Terutama Ney menurutnya ternyata Rita memang lawannya yang paling berat πŸ™„πŸ™„πŸ™„.


"Tempat sampah galaksi yang bisa membuang ingatan apa saja yang menurutku mengganggu hahahaha!!" Kata Rita sambil tertawa.


"Hooo iya aku juga sadar itu kamu bisa dengan cepat membuang ingatan yang tidak kamu sukai. Apa ada batasnya?" Tanya Arnila dengan manggut - manggut.


"Tidak ada hehehehe aku bisa buang sebanyak aku mau dan bisa me-reload-nya lagi kalau - kalau aku butuh," kata Rita.


"WOW!" Teriak Arnila.


"Sepertinya kamu banyak berhalusinasi ya menurut aku sih itu hanya tipuan kamu saja buat menarik perhatian Arnila kan," kata Ney yang mulai sebal mendengarkan banyak cerita kemampuan Rita.


Arnila memandangi Ney dengan ekspresi aneh. "Rita memang punya kok. Kamu memang tidak bisa lihat sih, soalnya kemampuan Spirit kamu dibawah Rita banget. Alex juga pasti tahu makanya dia sangat tertarik sama kamu. Kamu tahu?" Tanya Arnila ke Rita.


Rita hanya mengangkat kepalanya ke atas berpikir. Masa iya? "Tidak tahu," kata Rita sambil menggarukkan kepala belakangnya.


Arnila menghela nafas, dia bisa melihat banyak kemampuan Rita tentu saja Arnila juga tinggi. Hanya sama dengan Rita, dia juga tidak mau terlalu membeberkan. Ney merasa dia sudah malas mendengarnya lalu berusaha menyambung kembali apa yang mereka bahas tadi.


"Terus apa yang terjadi lagi sama pengalaman mistis kamu dirumah? Yang tadi kamu belum jawab soal ternyata setan dirumah kamu membalas itu," kata Ney yang langsung meninggikan suaranya.


Arnila tahu banget kalau Ney sudah seperti itu berarti dia merasa kepanasan atau memang sudah tidak mau mendengar soal yang Arnila bahas.


"Oh iya! Menyimpang lagi deh. Aku balas lagi sampai seminggu tidak ada yang aneh, lalu aku ancam saja saat sedang sendiri. Itu karena sudah saking kesalnya ya," kata Rita yang langsung menceritakannya tanpa berpikir apapun mengenai Ney.


Lalu mereka berdua tertawa tapi tidak sehisteris tadi tetap saja meskipun Rita bercerita dengan nada serius, tapi mereka masih tetap tertawa. Ponsel Rita berdering saat melihat, Alex mengirimkan emoji tawa yang mengeluarkan air mata. Rita memasang wajah datar dan menghela nafas.


"Kenapa sih kamu? Ketawa tidak jelas. Gila ya, Rita menchat Alex.


"Enak saja! Kamu tidak tahu? Aku datang ke tempat kamu sekarang," jawab Alex yang membalasnya dengan cepat.


Rita bengong, Arnila dan Ney melihat wajah kaget Rita. "Kenapa? Alex bilang apa?" Tanya Arnila dengan cepat sebelum Ney yang bertanya.


"Kata Alex dia juga tertawa mendengar ceritaku," kata Rita yang masih bengong.


"SERIUS?!" Tanya mereka kompak. Lalu saling berpandangan.

__ADS_1


"Kok bisa?" Tanya Rita padanya.


"Aku kan bisa Astral Projection. Kamu lupa ya," kata Alex menambahkan emoji datar.


"Wah! Kalau begitu coba tanya apa dia mendengarkan semua yang kita bicarakan tadi," kata Ney. Dia langsung punya firasat tidak enak kalau benar Alex mendengarkan semuanya.


"Kamu dengar semua yang kita bicarakan?" Tanya Rita.


"Sure! EverythingπŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†," jawabnya. Lalu Rita perlihatkan pada mereka berdua.


"Ya ampun! Itu orang memang benar sih kurang kerjaan dia. Memangnya tidak kerja? Wah kalau begitu sih susah kalau kita mau bicara bertiga yang penting," kata Arnila.


"Tenang. Aku bisa marahin dia dulu lagipula sepertinya tidak setiap hari sepertinya kerjaannya sedang tidak sesibuk deh," kata Rita yang membalas lagi.


Arnila memandangi Ney yang panik, Arnila juga tahulah pasti Ney merasa panik karena ternyata dari awal mereka mengobrol, Alex pun ikut hadir. Anehnya Rita dan Ney tidak merasakan sosok kehadiran Alex berbeda sepertinya dengan Arnila.


"Kamu bisa merasakan Alex, Nila?" Tanya Ney curiga karena meskipun Rita bilang begitu, Arnila tampak santai.


"Bisa. Memang dari tadi juga Alex ada kok hanya Rita dan kamu tidak bisa merasakan kedatangannya. Rita juga sepertinya tidak tahu," kata Arnila yang melihat Rita merasa aneh.


"Kenapa... kok aku tidak bisa sih?" Tanya Ney yang kecewa dan keberatan. Padahal dirinya lebih merasa dekat dengan Alex dan Arnila hanya penyintas.


"Kan level kita berbeda," kata Arnila tersenyum membuat Ney keki banget mendengarnya.


"Yakin? Kalau kata aku sih suatu hari nanti Rita bisa apalagi sedari tadi Alex duduknya dekat Rita terus sampai sempat dicium juga pipinya Rita. Kalau Rita tahu bagaimana ya?" Tanya Arnila yang cekikikan.


Ney memandangi Arnila dengan ekspresi tidak percaya. Sampai dicium?! Ney memandangi Rita dengan perasaan panas membara juga sangat cemburu dan iri. Buat apa iri? Rita dan Alex masih belum bisa bertemu apalah gunanya iri hanya karena masih via media sosial.


"Serius?! Aku kira kamu bercanda!" Balas Rita.


"Kamu chat sama Alex saja dulu. Kita mau istirahat terlalu banyak tertawa dengar kisah kamu." Kata Arnila yang memeriksa ponselnya begitu juga Ney.


"Oke! Aneh banget dia beneran pakai Astral Projection tidak mau ketinggalan banget cerita aku hahaha," kata Rita.


"Hehehe cerita kamu konyol sekali. Mereka memang takut sama kamu makanya tidak berbuat yang aneh - aneh lagi. Kamu kan galak! Hanya jin yang masih menggoda kamu," kata Alex. Dia tertawa mengingat semua cerita mistik kocaknya Rita.


"Kamu juga kan takut sama aku kalau aku mulai meledak," Rita tertawa membalas Alex. Ney cemberut karena dia tidak bisa melihat apa yang Rita balas.


"πŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’Aku kan ada BundaπŸ€ͺπŸ€ͺ," balas Alex. Ya memang dan ibunya selalu berada di sekitar Alex. Tahu kalau anaknya itu sering berantem dengan Rita.


"Pengecut ih! Sudah besar masih saja bersembunyi di bawah ketiak ibu sendiri. Sini dong hadapi, nanti bagaimana kalau sudah punya istri? Pasti kabur ke rumah orang tua ckckck kebalik semua nanti," kata Rita yang tertawa membaca tingkah laku Alex.

__ADS_1


"Cieeee yang lagi happy," teriak Arnila sambil tertawa.


"😝😝😝," balas Rita pada Arnila dan mereka tertawa kecuali Ney yang wajahnya masih cemberut.


"Aku ingin tahu deh apa sih yang mereka bicarain? Takutnya Rita kalah bicara yang membuat Alex salah paham," kata Ney yang mau menghampiri Rita tapi dicegah oleh Arnila.


"Jangan. Tidak perlu ikut campur, urusan Rita mau bicara bukan hak kamu mengganggu mereka. Lagipula kalau kamu masuk, justru hubungan mereka jadi rusak. Sengaja ya mau merusak?" Tanya Arnila yang memegang tangannya.


Ney lalu duduk kembali dan Arnila melepaskan tangannya. "Kamu benar bisa lihat kemampuan Rita? Memangnya banyak banget?"


"Banget! Meskipun dia tidak punya khodam seperti kita, tapi kekuatannya mewakili dia yang tidak punya penjaga. Menurut aku bagus banget kebayang kalau dia juga punya khodam," kata Arnila yang masih menchat Imron dan keluarganya.


"Kenapa? Kalau punya juga pasti bukan seperti kita. Kita kan khodamnya dari kerajaan," kata Ney yang tidak mau percaya kalau Rita lebih hebat.


"Menurut gue sih sumbernya lebih tinggi dari kita. Anehnya memang kok bisa ya dia tidak punya khodam? Tapi kekuatannya diluar kemampuan kita lho, Lu harus lebih hati - hati deh mulai sekarang. Dia kalau bicara apapun, selalu terkabul sholat pasti terkabul, bicara juga sama. Sama dengan gue, lu tidak akan bisa meremehkan dia lagi kalau kekuatannya nanti bangkit yah kalau dia mau," kata Arnila menatap Rita dengan ekspresi yang tidak bisa dikatakan.


"Memangnya besar banget?" Tanya Ney yang masih tidak percaya. Karena Rita dalam pandangannya sangat cuek dan lemah.


"Kamu dengar kan tadi waktu Rita cerita soal tempat sampah Galaksinya? Ya sebesar itu, sebesar alam semesta ini. Tapi untungnya Rita tidak pernah sombong kepada siapapun dan tidak pernah mengungkapkan rahasianya yang terdalam. Malah dia memilih untuk menjadi orang biasa, kalau orang lain atau kamu pasti sudah dipakai sembarangan. Untung Rita yang punya," kata Arnila kembali membaca pesannya di WA.


"Apa Alex tahu?" Tanya Ney yang tidak melepaskan pandangannya dari Rita.


"Tahu sih kata aku. Kenapa Alex sendiri nyaman karena Rita benar - benar bisa melihat sisi lain dari Alex. Dia juga lihat sisi lain kita kok, meski nanti Rita tahu sisi kelam atau masa lalunya pun, aku yakin itu bukan masalah penting buat Rita. Semua orang aku bilang, semua orang yang kenal Rita akan langsung nyaman. Dia selalu berpikir positif mau ada yang menipu dia, tapi akan berbalik berbahaya kalau ada orang yang menyerangnya hanya untuk kepentingan diri dia sendiri. Kamu sudah menyerang dia, Ney. Aku tidak yakin hubungan kamu dan Rita bisa diperbaiki meskipun kita tahu ya Rita ramah," kata Arnila menatap Ney.


"Rita itu..." kata Ney yang lalu dipotong oleh Arnila.


"Punya banyak teman, dia tidak masalah kehilangan 1 - 2 orang. Dia akan baik - baik saja itu hak dia mau masih berteman dengan siapapun atau tidak, kamu tidak perlu cemas segala. She will really be fine. Justru kamu sih yang aku cemaskan, nanti kalau kamu HARUS kehilangan kita berdua, apa kamu mampu?" Tanya Arnila.


Ney kaget mendengar pertanyaan Arnila. "Lu kok jadi bicara begitu sih? Lu pasti lihat sesuatu kan? Apa sih? Kasih tahu gue!"


"Ogah. Mau aku beritahu pun seperti tahun lalu atau dulu - dulu kamu tidak percaya kan yang pada akhirnya baru kejadian, kamu percaya. Nanti juga kamu akan tahu apa maksudku. Kamu harus mengalaminya dulu baru mengerti tapi apa yang aku lihat hanya setengah sih. Apa Rita lihat ya? Ataukah Alex?" Tanya Arnila pada dirinya sendiri.


Kemudian mereka melihat Rita tampaknya selesai bicara dengan Alex, Rita meminum air yang dia bawa dari rumah. Lalu mulai merapihkan apa yang dia beli tadi ke dalam tas.


"Kok bisa Rita menciptakan seperti tempat sampah itu, Arnila? Bagaimana caranya?" Tanya Ney yang menggaruk kepalanya. Dan tempat sampah seperti apa sih yang Rita punya?


"Hanya Rita yang tahu, aku cuma bisa merasakan saja. Bukti bahwa dia bisa membuat atau menciptakan banyak kemampuan saja sudah membuat aku kagum banget. Rita kan orangnya kreatif kalau kamu mau tahu, dia juga membuat sebuah barang dalam hatinya, mungkin untuk menyimpan semua kemampuannya. Banyak banget! Sepertinya kalau dia sadari sesuatu, dia langsung memasukkan semuanya disana. Keren banget!" Kata Arnila yang menggelengkan kepalanya.


"Rita, kamu selalu bisa melihat hantu atau jin?" Tanya Ney ingin lebih memastikan. Dia tidak mau sampai Rita memiliki kemampuan yang sama dengannya.


"Tidak bisa kalau aku tidak mau tapi ya itu mereka sendiri yang menunjukkan diri padahal aku tidak penasaran," kata Rita yang memakan cemilannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2