ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(206)


__ADS_3

"Hah? Kalian mau bicarain apa? Kok aku tidak diajak nih?" Tanya Ney uang tidak jadi berdiri. Dia kan orangnya tidak mau berakhir paling terakhir tahu ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚.


"Ya buat apa beritahu kamu? Kamu mau pulang kan? Ya sudah sana!" Kata Rita yang santai.


"Cemilan masih banyak, Imron juga tahu kalau aku keluar mau bertemu Rita. Silakan saja," kata Arnila membuka cemilan lain. Milik dia.


Ney lalu tampak berpikir lalu dia ternyata mengurungkan niatnya dan kembali duduk.


"Kenapa duduk lagi? Tidak jadi?" Tanya Rita yang tertawa melihatnya.


"Daripada kepo kalau ditanya tidak dijawab kali," jawab Arnila menertawakannya juga.


"Lagian lu lebay amat! Paket mah biarkan saja tinggal suruh adik lu simpankan di kamar. Beres kan," kata Rita kasih saran.


"Oh iya ya," kata Ney dengan tampang bloon๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚.


"Kita kan masih ada urusan yang belum tuntas soal Syakieb. Malah jadinya ngalor ngidul ngobrol menyimpang dari topik!" Kata Rita tertawa.


"Makanya kamu jangan pulang dulu nanti kalau sudah selesai alias tamat. Mau pulang juga silakan," kata Arnila.


"Iya sih. Oke deh nih aku kemarin habis dari rumahnya si Syakieb itu. Lihat deh perhiasan yang dia punya kalau aku mau tandatangani surat adopsi. Kalau kami lihat pasti akan sama dengan yang aku lakukan! Jangan sok suci," kata Ney sambil memperlihatkan foto itu.


Saat melihat, mereka berdecak kagum dengan perhiasan yang benar - benar penuh diamond kecil dan bersinar. Sifat pamer mulai keluar secara otomatis membuat mereka berpikir sangat mudah sekali membuat Ney berhenti akan kepulangannya.


"Hmmm memang menggiurkan sih," kata Rita setelah selesai melihatnya.


"Tuh kan. Jangan asal nuduh aku gampangan dong. Perempuan kalau dikasih lihat barang ginian pasti langsung hijau. Kamu bilang gitu ke aku seperti tidak tertarik," Ney mengibaskan rambutnya.


"Aku tidak akan sama dengan kamu karena aku tidak tertarik dengan benda mengkilap," lanjut Rita. Membuat Ney keheranan.


"Hah!? Jadi kamu lebih suka yang biasa?" Tanya Ney.


"Iya. Apalagi emas, malas kalau punya juga hehehe," kata Rita.


"Ya kamu sekarang bilang begitu nanti siapa tahu akan berbeda," jawab Ney tidak mau kalah.


"Ya kalau kamu sih sudah pasti langsung tergoda. Kalau aku beda, aku akan lebih menikmati kalau bisa membelinya dengan uangku sendiri. Ney kamu itu kurang waspada eh sama sekali tidak waspada sama orang lain. Ada yang beri barang perhiasan, baju, sepatu harusnya kamu curiga dulu ey pasti ada udang didalam adonan!" Kata Rita.


Arnila tertawa mendengarnya, Ney tersenyum pahit. "Iya sih ya gini hari mana ada lelaki yang bisa memberikan kemewahan semudah membalikkan tangan. Dari dulu kamu terlalu gampang sih," Arnila mengatakan yang ingin sekali dia katakan sejak dulu.


"Ada kok contoh nyatanya, Alex tuh! Dia punya segalanya uang juga mungkin segudang, benar - benar dia punya segalanya tapi kok malah kamu yang dapatin hati dia sih," kata Ney menatap Rita.

__ADS_1


"Aku juga bingung. Biasa saja kok," jawab Rita sambil mengangkat bahunya dengan cuek.


"Apa yang kamu punya syukuri itu jangan lihat apa yang orang lain dapatkan meski itu lebih dari yang kita miliki. Kamu lupa? Bukannya dulu karena kamu terlalu gampangan sampai pernah..." lalu Ney segera memotong obrolan Arnila dengan panik.


Rita hanya keheranan apa yang membuatnya sepanik itu, memangnya kenapa sih? Rita sudah mengira mungkin hal yang negatif lagi nih.


"Jangan beritahu! Sudah deh kok jadi sindir aku terus sih?!" Kata Ney yang mulai sebal. Setiap bertemu Rita pasti saja Arnila mulai mempermasalahkan hal yang dulu. Ney pun tahu maksud arah Arnila kemana karena memang yang tahu soal 'itu' hanya Arnila serta keluarganya.


"Eh, lihat deh ini. Ini foto yang dikirim Alex tadi malam," kata Rita memperlihatkan fotonya.


Tergambarkan Alex yang tertawa lebar sambil memperlihatkan tempat bekal yang Rita beli dengan berbagai macam makanan. Beberapa foto Rita perlihatkan, membuatnya sangat bangga dengan hasil masakannya yang enak. Rita sudah memotong beberapa pembicaraan dengan Alex jadi Ney tidak akan terlalu kepo.


"Wah! Dia makan semua?" Tanya Arnila antusias. Melihat semua makanannya ditaruh ke dalam piring besar dan Alex senang memakannya.


"Lihat saja terus," kata Rita.


Lalu foto berikutnya dia melahap sebagian lalu ibunya datang untuk untuk ikut mencicipinya. Kakaknya juga, yang tampilannya sangat menawan membuat Ney lebih insecure harusnya Rita juga.


"Kakaknya cantik banget ya. Ini sih keluarga Tampan namanya. Kamu tidak insecure?" Tanya Ney sambil melihat foto.


"Kakaknya memang cantik. Alex bilang nanti aku akan banyak bicara dengan kakaknya. Yah, kun fayakun deh. Semua perempuan yang terhubung sama dia pasti kena kontak sama kakaknya," jelas Rita.


Arnila hanya menyimak apa yang mereka bicarakan sambil melihat foto.


"Siap tak siap, ibunya saja sudah masuk. Yah, aku kan berteman sama Alex wajar kalau keluarganya ingin tahu sih. Lihat yang lain," kata Rita membuka album lain.


Mereka semua tertawa keras saat melihat foto dimana dalamnya Alex sedang dicubit pipinya karena menolak berbagi dan mengakibatkan pipinya memerah. Alex tampak ingin menangis melihat kakaknya membawa beberapa cemilannya namun karena sadar sedang difoto, nampak sekali dia menahan. Tapi akhirnya mereka makan bersama ayahnya pun ada. Setelahnya ada foto hasil chat Alex dan Rita. Disinilah sudah pasti membuat Ney lebih kepo.


Alex : "Enak sekali! Aku kenyang memakan semuanya. Buat lagi ya?"


Rita : "Bayar! Gratis untuk promosi, selanjutnya bayar!"


Alex : "Jahatnya. Yang kentang asiiin aku tidak kuat memakannya! Siapa yang buat sih? Kamu tidak mungkin,"


Ney kaget dan dia melipatkan kedua bibirnya membaca apa kata Alex. Tampaknya memang makanan buatannya terlalu keasinan!


*Rita: "Ney. Kamu habiskan?"


Alex : "Yah, meskipun sangat asin, untunglah ada bumbu yang bisa menyetarakan ya tapi tetap saja ibuku melarang memakannya banyak karena tidak baik untuk jantung. Tapi yang lainnya aku makan habis! I'm sooo happy!!" โค๏ธโค๏ธโค๏ธ*


Ney melihat emot love setelah Alex mengatakan itu dan dia cemburu sih. Karena tahu Alex lebih menyukai makanan buatan Rita meskipun buatan dia sebagian dimakan oleh Alex dan keluarganya.

__ADS_1


"Wah! Aku kaget banget makanan kita ternyata dimakan oleh keluarganya juga. Kalau tahu begini, aku malah tidak percaya diri!" Kata Arnila histeris begitu juga Ney.


"Aku juga tidak tahu. Mana rasanya enak kalau menurut lidah aku kan," kata Rita tidak memperdulikan bagaimana wajahnya Ney saat itu.


"Kamu mau buat lagi? Berarti akan bertemu Syakieb dong," kata Ney dengan penasaran.


"Mungkin karena aku senang banget kalau ada orang yang memakan buatanku dan dia bilang 'Enak!' Rasanya tuuuh... melayang!" Kata Rita dengan mata yang berkilat.


"Alex sih yang bilang. Kamu ikut kursus saja, Ri soalnya bakat memasak kamu bagus sih. Aku juga ikut senang seperti terbayar ya usaha keras kita," kata Arnila yang tersenyum pada Rita.


Rita mengangguk senang sekali. Kebetulan sekali rita memberikan ponselnya kepadanya jadi dia akan mencari lebih banyak chat lewat inbox Paceboknya Rita.


"Banyak banget sih kalian chat," kata Ney. Dia juga pusing membacanya entah harus dari mana. Tanpa pengetahuan Rita, Ney memencet tombol Bluetooth alias dia akan mengulur waktu untuk membagi semua chat Rita. Rita dengan diam - diam terus memancing Rita mengobrol dari dalam tasnya dia mulai mengaktifkan Bluetooth nya juga.


File yang dia pindahkan sudah 85%, dia masih terus menerus memperhatikan Rita yang sedang senang mengobrol dengan Arnila. Lalu Arnila memperingatkan Rita kalau Ney sepertinya sedang asyik sesuatu.


'Aku kecolongan!' Pikir Rita. "Iyalah kalau tidak chat lalu ngapain lagi?" Tanya Rita sambil langsung menuju ponselnya yang ada di tangan Ney. Ney kaget Rita ternyata menarik ponselnya dari tangannya, setelahnya nampak Ney ingin mengatakan sesuatu tapi langsung melihat ponselnya.


"Aku masih belum selesai membaca yang tadi!" Kata Ney beralasan.


"No no no, aku tahu kalau kamu kepo. Aku tidak percaya kamu sedang mencerna chat tadi. Kamu pasti buka chat lain mencari sesuatu kan," kata Rita yang langsung menutup ponselnya.


Dia memang kesal karena Rita menyadari kalau dia kecolongan tapi Ney tampak senang dan tidak memperdulikannya. Lagipula dia sudah menyimpan sebagian data chat Rita dan Alex di ponselnya. Arnila menatap Rita yang memang keberatan Ney melihat seluruh isi chatnya. Tapi itulah yang membuat Ney kembali berulah setelah gagal dengan Syakieb, sekarang kembali dengan urusan Alex.


"Lalu ada info baru yang kamu cari dari Syakieb soal Alex?" Tanya Rita. Dulu dia bilang kalau mendekati Syakieb itu untuk mencari info soal Alex tapi mereka tahu pasti kalau Ney pasti lupa.


"Aku lupa!" Kata Ney sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Ini dia asli lupa bukan kebohongan.


"Mana mungkin kamu ingat niat kamu. Dunia teralihkan dengan kegantengan dan maskulinnya Syakieb. Terus kamu akan kembalikan semua batang yang dia kasih?" Tanya Arnila penasaran. Pastinya banyak banget, Ney kan matre.


"Iyalah mana mau juga aku simpan. Lebih baik dikembalikan lebih aman kan," jawabnya sambil agak menyesal.


"Paling juga itu ide ibu kamu yang suruh," kata Rita menebak.


Ney memandang Rita dengan ekspresi datar. "Ya begitu deh,"


"Iya ya kalau kamu sih tidak mungkin punya ide untuk kembalikan. Kebanyakan pasti kesukaan kamu, pasti kamu keberatan kan yang kamu minta harus kamu kembalikan," kata Rita.


Ney memandang ke arah lain pura - pura melihat ada yang menarik daripada mendengarkan ocehan Rita.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2