ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(217)


__ADS_3

"Wah, kamu dapat perhiasan ini dari mana? Dikasih atau beli?" Tanya Arnila yang tampaknya menaruh kecurigaan.


Rita juga begitu tapi dia tidak mau berpikir lebih jauh lagi. Dia harus mendapatkan informasi dulu dari manakah Ney memiliki perhiasan tersebut.


"Bukan dong. Ini tuh aku dikasih oleh Syakieb," jawab Ney tanpa kendala. Dia lalu memakai perhiasan itu di tangan dan lehernya dengan bahagia.


"Hah? Aslinya?" Tanya Arnila yang kebingungan.


"Lho, bukannya semua barang dari dia kamu kemas untuk dikembalikan? Kenapa ini masih kamu pegang?" Tanya Rita yang curiga juga. Nih ada apa kenapa dia malah bawa diperlihatkan pada mereka berdua?


"Ya ini kan buat aku masa aku harus kembalikan semuanya sih?" Tanya Ney yang sama sekali tidak melihat wajah Rita dan Arnila.


"Tapi Ney nanti ada masalah lagi. Lebih baik ini juga kamu kembalikan. Kalau memang kamu dikasih, seharusnya Syakieb bilang," kata Arnila yang agak kurang percaya.


"Aku agak tidak percaya kalau Syakieb benar - benar memberikan perhiasan ini sama kamu," kata Rita juga.


"Halah! Aku tahu kalian berdua iri kan, kalian tidak punya perhiasan secantik ini. Rita punya cincin emas tapi yah buat apa juga pasti kecil karatnya apalagi jamnya ternyata emas imitasi," kata Ney dengan bangga.


"Tapi itu milik aku lho dan benar - benar dikasih. Kalau cincin sih aku beli sendiri, dibeli dengan uang dari pekerjaan aku bukan minta - minta ke orang. Lagian kamu yakin banget kalau Syakieb memberi tanpa ada imbalan," kata Rita.


"Masalahnya sih aku takut kalau pemberian ini sebagian dari permainannya Alex. Kamu harus lebih hati - hati lagi," Arnila mengingatkan.


Ney lalu berhenti memamerkan barang itu, dia teringat akan kisah Rita yang memberitahukan bajwa Alex tengah menguji kesetiaan mereka bertiga. Dengan yang sudah - sudah masa sih Ney masih saja jatuh ke dalam perangkapnya?


"Gue tidak percaya kalau Syakieb bagian dari permainan Alex," kata Ney dengan jutek.


"Ya siapa tahu kan. Kita cuma mau bilang kamu harus waspada. Apalagi Syakieb itu kalau menurut aku termasuk lelaki dalam impian sih yang tidak mungkin bisa kamu miliki," kata Arnila yang dirinya tidak begitu kilau dengan emas.


"Sudah menikah pula," sambung Rita yang masih memperhatikan perhiasan itu. "Terus kamu mau apa lagi dengan perhiasan itu? Tidak mungkin kamu pakai juga deh, soalnya kurang cocok,"


"Aku mau jual sajalah. Ini harga semuanya gila banget!" Kata Ney dengan antusias. Berpikir tidak akan mendapatkan masalah terlalu besar.


"Kamu kok matre sih? Dijual lalu uangnya buat apa?"


"Idih! Apa urusan kamu? Aku yang punya kenapa kamu yang senewen sih? Iri ya aku diberi perhiasan emas lho ada mutiaranya juga tapi kamu tidak diberi apapun bahkan sama Alex yang orangnya sendiri entah ada atau hanya bayangan kamu saja," kata Ney dengan jutek.

__ADS_1


"Bisa - bisanya kamu bilang begitu, tidak sadar kalau kamu mantan terpendeknya?" Tanya Arnila mengingatkan Ney.


"Ya itu salahnya aku malah ikut - ikutan baper sama dia padahal belum tentu juga orangnya ada," kata Ney yang sadar kalau dirinya memang bodoh.


Rita meyakini bahwa Ney memang seharusnya tidak dia percayai lagi dan sumbu sabarnya masih terus menurun. Sabar juga ada batasnya dan dia sudah tidak bisa lagi terus bersabar dengan ulahnya.


"Sudah jadi mantan, panas - panasin Rita juga sekarang malah menjelekkan Alex," kata Arnila menggelengkan kepalanya.


"Terserah aku dong ternyata memang lebih baik yang NYATA daripada yang tahu lewat MEDIA SOSIAL ya sepertinya sih dia palsu," kata Ney tidak peduli sama sekali pada perasaan Rita. Sebenarnya mungkin juga sih Alex itu memang ada tapi Ney tidak mau Rita bisa lebih dekat dengan Alex. Apalagi masih belum bisa dipastikan keaslian pada sosok Alex itu.


"Ya sudah deh ada yang lagi bahagia nih Rita, dia tidak akan bisa dengar kita. Kan sudah sama seperti sebelumnya soal Syakieb, dia sadarnya pas ada penolakan dari Syakieb," kata Arnila yang malas memberitahu lagi.


"Kita ke BIP yuk, suntuk disini terus," Rita berdua begitu juga dengan mereka.


Setelah itu mereka bertiga menghentikan angkot Kelapa - Ledeng lalu menuju BIP. Dalam angkot mereka tidak berbicara dan sibuk memandangi pemandangan diluar angkot. Ney terus menerus memandangi perhiasan yang dia punya dan memandangi Rita dan Arnila yang lebih tertarik pemandangan luar.


Sesampainya di BIP, mereka turun dan masuk ke dalam mall. Tentu saja hari itu jam sudah menunjukkan pukul setengah 1 siang. Meskipun Rita sudah makan sarapan di taman dan juga bentonya, perutnya masih saja kelaparan. Tapi berhubungan Arnila masih kenyang, akhirnya mereka jalan - jalan dulu. Ney lalu terhenti saat melihat toko emas megah dan menunjukkan tempat itu.


"Eh, ke toko emas dulu ya, aku mau menanyakan soal perhiasan ini," kata Ney. Mereka berdua mengangguk lalu Ney berjalan cepat ke sana, sementara mereka berdua berjalan santai.


"Tadi di taman kamu tahu ya kalau aku bisa mendengar apa yang kamu ucapkan," kata Arnila dengan suara yang agak dikecilkan.


"Tidak yakin kalau Ney memang begitu? Apa kamu juga berpikir kalau Ney seperti itu hanya pura - pura?" Tanya Arnila yang mengerti kalau Rita juga terlalu banyak menggunakan perasaannya.


"Iya. Aku juga masih ingin ada orang yang membantuku. Bagaimana apa yang harus aku lakukan, apa benar instingku mengenai Ney selama ini. Apa benar apa yang dikatakan banyak orang mengenai Ney. Begitu," kata Rita.


"Aku terlalu lunak juga ya sama dia. Tapi dari yang kita bertemu di taman atau dimanapun, aku jadi tahu harus berbuat apa tapi ya itu, aku juga masih butuh bantuan orang lain. Karena kita sama semoga kamu bertemu sama orang yang lebih bisa membantu kamu nanti cerita ke aku juga ya. Karena penyakit kita sama," kata Arnila lalu mereka berdua tertawa bersama.


"Iya. Nanti aku pasti cerita ke Ney juga supaya dia tahu apakah filingku selama ini benar soal dia atau tidak. Ada kabar tidak soal guru ruqyah yang waktu itu?" Tanya Rita pada Arnila.


"Oke. Oh iya kemarin aku mau bilang tapi lupa terus. Ada murid guru besarnya kan, nah dia itu menanyakan kamu terus, sepertinya beliau tahu juga kalau kamu memiliki Spirit yang besar," kata Arnila menepuk tangannya. Bagaimana bisa dia jadi lupa soal yang mau dia katakan tapi lagi - lagi malah terlupakan.


"Terus?" Tanya Rita penasaran. Orang itu memang sangat tertarik sekali dengan kemampuan yang Rita miliki dan agak memaksa dirinya untuk ikut bergabung dengan yayasannya.


"Ya beliau meminta aku banget agar kamu mau ikut masuk ke yayasan dia. Bagaimana dong?" Tanya Arnila yang juga kebingungan.

__ADS_1


"Aih, malas banget! Tidak mau. Tolak saja terus deh, malaslah ikut masuk yang seperti itu. Enak di mereka tidak enak di aku dong. Coba itu kalau Ney ya dia pasti mau masuk deh," kata Rita tertawa.


"Dia mah jangan ditanya deh. Aku sudah bilang beberapa kali kalau kami tidak akan mau tapi terus saja memaksa. Bagaimana ya supaya dia tidak chat aku terus?" Tanya Arnila sambil memperlihatkan chat guru ruqyahnya itu.


"Bagaimana kalau kita buat chat saja? Kamu menanyakan soal tadi terus aku balas. Nanti kalau orang itu memaksa lagi, kamu kirimkan saja chatnya langsung. Bagaimana? Lagipula maaf ya, Arnila. Ruqyahnya gagal, hanya seminggu rumah tenang eh setelahnya 'itu' kembali lagi. Aku juga mau cerita tapi tidak enak takutnya malah kamu ngira aku mau buat masalah," kata Rita sambil mengatupkan kedua tangannya dan menaruhnya di depan mulutnya.


"Hahaha kenapa kamu minta maaf segala. Sepertinya tidak cocok ya kalau aku sih memang berhasil tidak ada yang kembali lagi. Tidak apa - apa kan yang penting sudah berusaha juga. Sepertinya di rumah kamu kuat sekali ya," kata Arnila tertawa.


Kemudian mereka chat dengan rencana yang diberikan oleh Rita, Ney melihat ke belakang mereka berdua tampak sedang merencanakan sesuatu dan lantas mendekati keduanya. Dia lagi - lagi berpikiran kalau mereka sedang merencanakan sesuatu soal Ney ternyata saat dilihat ...


"Kalian sedang apa sih? Dari tadi aku lihat sibuk banget berdua, kok tidak pernah ajak aku sih," kata Ney yang tidak suka melihat mereka sibuk berdua.


"Makanya kalau lagi jalan itu, jangan suka melangkah duluan. Barengan kenapa? Jadi aja kamu ketinggalan berita," kata Rita yang menchat Arnila.


"Ya kalian kalau jalan lama," kata Ney melihat apa yang mereka tulis.


"Kan kita jalannya santai lagian main ini. Nih sudah," kata Arnila melihat ke arah chat Rita.


"Ini soal apa sih?" Tanya Ney. Kemudian Arnila menceritakan semuanya kepada Ney, yang pastinya Ney semakin bete. "Jadi kalian sedang membuat bukti chat penolakan Rita?"


"Iya. Itu salah satu guru ruqyahnya maksa banget ingin aku gabung dengan yayasannya," tunjuk Rita ke arah nomor guru itu.


Ney memandang Rita dengan bete, ada suara gerakkan giginya yang membuat Rita juga bete. "Kenapa sih? Kok sampai maksa banget? Memangnya kamu istimewa?"


"Makanya Rita dipaksa masuk juga memang istimewa dia cuma Rita tidak suka hal yang seperti itu kan," kata Arnila menatap Ney.


Ney dongkol banget mendengarnya meski dia mengakui memang Rita ada 'sesuatu'nya tapi Ney enggan mengakuinya karena gengsinya terlalu tinggi.


"Guru itu saat meruqyah Rita sepertinya terlihat sesuatu yang Rita miliki makanya tertarik banget. Padahal dia juga sudah punya murid yang kemampuannya seperti Rita tapi sepertinya tidak setara," kata Arnila menunggu balasan dari Rita.


"Kekuatannya itu yang Arnila bahas di taman. Nih sudah," kata Rita yang lalu mengirimkan chatnya.


"Oke. Aku simpan deh nanti aku kirim chat ini saja. Malas juga aku terus ditanya," kata Arnila lalu mereka berjalan lagi tapi kali ini Ney tidak berjalan sendirian.


"Oh, yang itu. Memangnya guru kamu lihatnya seperti apa sih? Kok heboh banget ya? Kalau kamu sampai tahu, kamu ikut ya ke rumahnya Rita, aku tidak kamu ajak?" Kata Ney yang cemberut.

__ADS_1


"Mana ada dia ikut. Lagi sibuk persiapan pernikahan kan. Iya ya kok kamu bisa sampai tahu sih? Memangnya mereka cerita juga ya?" Rita oun heran kok tahu ya kalau tidak cocok padahal Rita belum cerita sama sekali. Jangan - jangan tanpa Rita sadari, Arnila bisa membaca juga maksudnya?


BERSAMBUNG ...


__ADS_2