
Saat pengemasan itu, Ney sempat - sempatnya menyembunyikan 4 perhiasan berupa sepasang anting, gelang seperti jam, cincin dan kalung karena motifnya memang sangat dia sukai. Tanpa sepengetahuan keluarganya, dia memasukkan barang itu ke dalam tas kainnya. Dan kemudian sibuk menumpuk kardus - kardus.
"Terus apa Ney harus bertemu orang itu sambil membawa semua kardus ini, ma? Banyak banget!" Kata Ney yang kebingungan. Ada sekitar 30 paket dus yang sudah dirapihkan.
"Kamu baru sadar ini banyak? Coba saja kalau ini semua barang hantaran ya," kata ibunya yang keringatan, untunglah jendela kamar Ney dibuka. Rumah Ney berada di sebelah sungai jadi memang sangat sejuk kalau jendelanya dibuka.
"Parah lu sampai tidak sadar sudah sebanyak ini barangnya. Yalah lu kan tumpuk begitu saja setelah dilihat isinya. Dipakai tidak hanya sekedar foto untuk pamer!" kata adiknya sambil mengusap lehernya yang penuh keringat.
"Tuh, Zayn saja melipat baju dan merapihkan bisa. Masa kamu sendiri yang tidak mau bisa?" Tanya ibunya.
"Kakak kan pemalas ma. Mana mau dia disuruh begituan, maunya langsung enak," yang Ney langsung melemparinya dengan kardus sepatu.
"Sayangnya Om Farhan harus keluar katanya disuruh istrinya belanja sesuatu. Iya tetap saja kami bertemu dengan orang itu lalu bilang ya kamu mau kembalikan semua barang dari dia. Mau kamu yang minta, lebih aman kamu kembalikan saja. Jangan mau kamu jual harga diri dan keluarga hanya demi mendapatkan kemewahan secara instan! Biar Zayn yang memesan supir online saja untuk membawa semua ini, kamu cukup memberitahu dia saja," kata ibunya yang memilah - milah barang agar muat di dalam mobil.
"Adek mau pesan lewat teman saja deh, ma biar dapat diskon. Barangnya sebanyak ini lumayan keluarin uangnya. Sudah semuanya nih? Coba periksa lagi deh ma takutnya masih ada yang kelupaan. Jumlahnya harus berapa sih. Kakak sama sekali tidak tulis semua saat hari pertama dikasih barang apa?" Tanya Zayn.
Ney tidak menjawab karena memang dia tidak pernah tulis apa saja dan jangan sampai ketahuan kalau dia menyembunyikan beberapa perhiasan. Ibunya juga mengecek semuanya sebagian perhiasan ada juga yang menjadi kesukaan Ney tapi sudah dibungkus.
"Sudah semua sepertinya," ibunya menatap ke arah Ney dengan tajam, ibunya curiga pada tingkah Ney tapi Ney pura - pura mendatarkan wajahnya jadi ibunya tidak curiga.
__ADS_1
Seingat ibunya ada beberapa perhiasan yang tidak dia lihat, ibunya ingat betul perhiasan seperti apa saja memang ada yang hilang. Yakin kalau anaknya masih memilikinya tapi sudahlah, nanti juga pasti orang itu tahu kalau Ney masih memiliki beberapa barang yang masih hilang. Ponsel Ney lalu berbunyi, Ney kemudian mengambil dan membacanya.
"Besok kita bertemu ya, saya tidak bisa berlama di Indonesia. Saya ada panggilan pekerjaan darurat besok," itulah isi dari Syakieb.
Ney terkejut dan menggigiti kuku jarinya. Ibunya menggelengkan kepala kebiasaannya merusak diri sendiri masih tidak bisa Ney hentikan. Dan karena kebiasaannya itulah, ibunya tahu kalau ada yang membuat Ney gelisah. Tapi beliau tidak mau terlalu tahu dulu untuk saat ini.
"Oke, sekalian aku mau membicarakan sesuatu juga," balas Ney.
"Kita bertemu di rumahku saja ya kamu sudah tahu kan alamatnya," kata Syakieb yang agak singkat. Ney merasa sepertinya Syakieb akan lama untuk kembali lagi ke Indonesia. Lalu Syakieb tidak membalas chat Ney lagi dan Ney dengan langkah gontai melemparkan ponselnya ke kasur dan memandangi lagi setumpukan kardus yang sudah selesai mereka packing.
"Bagaimana?" Tanya ibunya ingin tahu.
"Mana mungkin muat kak. Sudah nanti biar Zayn yang baik ini mengantar kamu ke sana, aku tinggal saja ya setelah mengantar kakak,"
Ney mengusapkan wajahnya dengan kedua tangannya dia sama sekali tidak menduga seperti ini. Berkali - kali dia meyakinkan dirinya apakah ini semua hanya sandiwara ataukah... padahal dia sudah sangat menikmati semua itu tapi akhirnya harus kehilangan dengan pilihan yang tidak ada di benaknya. Dia terlalu rakus menginginkan semua keinginannya terpenuhi tanpa perlu bersusah payah. Melalui pemberian orang lain sampai dia tidak bisa berpikir normal kalau karena tingkahnya membuat suatu masalah. Tapi untung seuntungnya saja dia masih memiliki kesadaran pada otaknya, memilih keluarganya sendiri atau berusaha menarik hati Syakieb.
Untunglah ibunya langsung bertindak takutnya anaknya memilih pilihan yang salah menyadari keluarganya memang banyak kekurangan dari segi ekonomi. Tapi sebenarnya keluarganya berasal dari keluarga yang terbilang mampu menengah dari usaha keras ayahnya akhirnya mereka bisa mencapai level setara dengan saudara ayahnya. Ney adalah anak yang tidak bersyukur baginya level itu sama sekali kurang karena masih banyak keinginannya yang masih belum terpenuhi. Apalagi dia sangat iri sekali pada Rita entah iri karena apa, Rita pun tidak ingat apa dia pernah membuat Ney merasa sakit kepadanya.
Kemudian Ney merasakan sesuatu ada yang kurang dalam perjumpaannya dengan Syakieb. Ya kedua temannya sama sekali tidak ada kabar, apalagi dia merasa sudah 3 bulan Arnila dan Rita tidak pernah menghubunginya sama sekali semenjak dia mendekati Syakieb. Ney benar - benar tipe perempuan yang pelupanya parah kebangetan! Untuk sebabnya pun dia lupa kalau dia sendiri yang membuat keduanya menjauh darinya. Dia heran masa sih mereka tidak merindukan kehadirannya? Dia lalu secepatnya memeriksa inbox WA dan melihat berharap ada notif dari mereka berdua, tapi tidak ada. Hanya ada catatan terakhir dari minggu lalu, Ney berpikir apa benar ya yang dikatakan ibunya soal Arnila maupun Rita yang sebenarnya tidak terlalu mementingkan kehadiran dirinya?
__ADS_1
Hanya chat grup sebelahnya saja yang masih terus on dengan isi percakapan dari Feb. Dia selalu merasa menjadi orang yang selalu dibutuhkan tapi kenyataannya tidak sama sekali justru hanya grup sebelah yang menanyakan kehadirannya. Haruskah dia melepaskan mereka berdua dan lebih fokus pada grupnya sendiri tapi dia berpikir lagi tidak mau kehilangan kesempatan pamor dari Rita bila dia jadi dengan Alex. Dia jadi bimbang sekali dimana, dia juga sudah tidak tahan dengan obrolan dengan Rita. Dia sama sekali tidak peka soal apa yang diinginkan Ney, Arnila juga sering kali memberinya ceramah soal jangan pernah meminta atau mengharapkan keuntungan dari pertemanan. Bila ingin menolong atau membantu Rita, singkirkan niat hutang budi karena pada akhirnya semuanya akan menjadi sia - sia.
Ternyata tanpa kehadirannya mereka berdua masih bisa berjalan, bisa makan dan masih hidup. 😂😂😂 Ney merasa keadaannya sama sekali tidak disebut penting dan mereka benar - benar melupakannya. Dia agak menyesal, melupakan semuanya termasuk kedua saingannya yang sangat dia perlukan. Ney menganggap Rita adalah saingannya yang paling berat, dia merasa Rita memiliki banyak hal dengan sifat baiknya yang membuat banyak orang menyukainya. Keramahtamahannya yang tidak ada niat atau tujuan jelek, tidak seperti dirinya karena itulah Ney sangat benci dengan sifat baik Rita. Termasuk keluarganya yang sedikit memiliki masalah tidak sepertinya. Karena itulah Ney selalu berusaha membuat masalah dengan Rita, menjadikannya sebagai sasaran kekesalannya.
Tapi dia kurang cerdas karena Rita ternyata berbalik menjadi lawan yang sangat sulit. Ney kaget banget mengetahui Rita ternyata lawan yang kuat terutama Rita akan membeberkan kebenaran yang sudah Ney pupuk sejak lama. Kadang Ney pun ketakutan menghadapi Rita dia tidak sadar sudah menekan tombol Danger pada Rita. Tombol itu adalah saat Ney membully dengan sangat brutal kepadanya, yang membuat Rita berbalik arah menjadikannya sebagai lawan tangguh yang sulit Ney kalahkan. Dan niat Rita adalah agar Ney merasakan bagaimana pahitnya perasaan yang Rita alami suatu hari nanti, Ney akan merasakannya sendiri dari kata - katanya siapa yang sebenarnya kesepian. Ney mengira Rita adalah sesosok perempuan lemah yang sama sekali tidak tahu apa - apa, dimanfaatkan olehnya selama dulu pun Rita sama sekali tidak sadar, padahal Rita sudah tahu sejak awal tapi dia masih ingin ada perubahan dan ingin Ney segera sadar, sebelum limitnya habis.
Seperti sumbu petasan, limitnya yang membakar habis tali limit akan kesabaran pada Ney pun perlahan mulai menurun dan menurun setiap kali Ney berusaha membuat masalah dengannya. Ney yang merasa dirinya mulai jauh dari mereka berdua lalu mengetik sesuatu dengan berharap untuk melanjutkan jalinan tali pertemanan dengan keduanya.
"Hei, kalian kok tidak ada yang menghubungi aku sih? Jadi aku dilupakan begitu saja nih? Rita? Arnila?" Ney menunggu balasan lamaaaa sekali dia menunggu seberapa lamapun, sama sekali tidak ada balasan. Dia lalu seperti sangat gelisah mondar mandir tidak jelas sambil akhirnya membaca komik tapi juga sesekali melihat ponselnya.
Saat itu Arnila memang sedang super sibuk karena sudah 95% persiapannya akan rampung, dia sama sekali tidak bisa memegang ponselnya. Rita juga sibuk mengajar membuat papan kegiatan bersama guru lainnya, sama halnya dengan Arnila, ponselnya dia simpan dalam tasnya dan sibuk membuat prakarya untuk minggu depan. Ney kesal dan menitikkan air matanya memandang ponselnya yang masih belum ada tanda notif yang masuk. Zayn datang dan dengan iseng ingin tahu apa yang kakaknya lakukan.
"Makanya sudah punya mainan baru jangan sampai lupa sama mainan yang dulu. Sekarang kakak sendirian yang merasa kesepian, teman kakak sibuk dengan hal lain," kata Zayn yang berdiri depan pintu kamarnya.
"Ya kan kakak tidak mau sampai terganggu," jawabnya yang terus membaca komik.
"Itu sikap yang salah. Meskipun kakak sibuk dengan orang lain tapi jangan sampai yang dulu malah kakak tendang. Jangan mengeluh kalau kak Rita melakukan hal yang sama nanti menendang kakak seenak dia. Hukum karma namanya. Kakak sibuk mendekati orang itu kan masih bisa banyak cerita siapa tahu mereka bisa beri saran atau ide yang bagus. Rita saja sibuk dengan pasangannya dan kerjaannya masih bisa kontak sama kalian berdua kan. Kak Arnila juga sama kok kakak berbeda sih? Kalau begitu, kakak juga jangan mengganggu kehidupan mereka kepo banget mau tahu soal bagaimana hubungan Rita dengan pasangannya," kata Zayn yang membuat Ney kaget mendengarnya.
"Kok lu sampai tahu sebanyak itu sih?" Tanya Ney tapi adiknya tidak menjawab. Adiknya kembali ke arah kamarnya dengan santai. Ney membeku di kasurnya dan bertanya - tanya kenapa semua orang dirumah ini seperti tahu apa yang dia lakukan, apa yang dikerjakannya dan sampai dipikirkan olehnya. Lalu dia duduk, apa jangan - jangan bukan hanya dia yang memiliki kemampuan spesial?
__ADS_1
BERSAMBUNG ....