
Happy Reading.
Vera ternganga saat memasuki IGD, kali ini ruangan IGD benar-benar sangat ramai bahkan sudah seperti pasar. Padahal biasanya setiap kali dia berjaga di IGD pasti selalu sepi.
Bukannya dia mendoakan agar banyak orang yang sakit dan masuk IGD tapi terkadang mendapat jatah giliran berjaga juga sedikit membosankan kalau tidak melakukan apa-apa.
Vera menghampiri Lisa temannya, wanita itu sedang memegang buku catatannya dengan kebingungan. Mungkin karena sakit banyaknya pasien yang ada di ruangan instalasi gawat darurat ini.
"Ada apa nih, kok rame banget Lis? Mereka semuanya sakit? " Tanya Vera kepada temannya itu.
"Aduh, gue juga nggak tahu nih, soalnya gue juga baru datang setelah dipanggil salah satu perawat," Jawab Lisa, salah satu dokter jaga malam ini.
Kebanyakan dari pasien terasa lemas dan memegang perutnya. Vera menghampiri ruang triase, ini adalah ruangan untuk menentukan prioritas pasien mana yang harus ditangani lebih dulu di IGD, pasien penanganan berdasarkan pada kegawatdaruratan kasus.
Vera sampai bergidik ngeri sendiri melihat ruangan terlihat sedikit penuh sepertinya ini, ada lebih dari puluhan pasien yang datang apalagi semua pasien itu memakai seragam yang sama.
"Dokter Vera!"
Wanita itu terkejut mendengar namanya dipanggil oleh seseorang yang sangat dia kenal, Jimmy.
Pria yang menurutnya sedikit brengsek karena ingin memanfaatkan dirinya sebagai pengganti dalam hidupnya itu, malam ini terlihat begitu tampan.
Ternyata jadwal jaga mereka bersamaan.
Jimmy berdiri tepat di belakang Vera, melihat keadaan di dalam yang ternyata banyak sekali pasukan yang mengarang kesakitan sambil memegang perut.
"Cepat bantu anamnesa pasien, siapa saja terserah, cepat! yang kelihatan lemas langsung saja di rehidrasi NS atau Rl!!" seru Jimmy yang terlihat langsung tanggap saat melihat kondisi yang ada di hadapannya saat ini.
__ADS_1
Vera memberengut, dia juga akan melakukan pemeriksaan sebelum Jimmy datang, tapi Vera tidak menjawab dan lebih menekan rasa kesalnya, kemudian dia menginterogasi salah satu pasien terdekat, pasien itu adalah seorang wanita seusia ibunya, wajahnya pucat dan banyak keringat, badannya juga sudah terlihat lemas, dia memegang perutnya dan membawa kantong plastik mungkin di saat mual dia akan menggunakan kantong plastik itu.
Setelah diinterogasi ternyata pasien mengatakan bahwa tadi dia baru saja makan dari catering bersama berapa temannya.
Vera meninggalkan pasiennya sebentar dia mengambil infus set, lalu kemudian menginformasikan kepada pasiennya itu kalau dia akan memasang infus, ibu-ibu itu langsung mengangguk saja dengan lemas.
Padahal seharusnya pekerjaan itu biasa dilakukan oleh para perawat dan bidan, namun karena saat ini semuanya sedang sibuk dengan tugas masing-masing, akhirnya Vera melakukan pekerjaan itu sendiri.
Akhirnya puluhan pasien itu berhasil ditangani dengan baik, mereka ada yang langsung boleh pulang, dan yang paling gawat disarankan menginap.
Mereka bekerja di salah satu pabrik dan sedang mendapatkan jatah makan malam untuk yang shift malam. Tapi mungkin makanan yang dipesan itu tidak higienis atau beracun, membuat semua karyawan mengalami muntah-muntah dan sakit perut.
Beberapa perawat langsung dikerahkan untuk memberi penanganan membantu para dokter yang berjaga.
"Dokter Vera, nanti kalau pulang gue nebeng, ya?" bisik Jimmy tiba-tiba.
"Gak ada orang, gak usah terlalu formal," Jimmy terkekeh.
"Iya, lagian lo udah nganggur apa? Blusukan ke sini," sindir Vera yang melihat Jimmy masuk ke dalam ruangan nya.
"Udah kok, pasien yang keadaannya sedikit parah udah dipindahkan ke ruang perawatan, cuma ada 10 orang, yang lain udah boleh pulang," Jimmy menyerahkan botol air mineral yang ia bawa.
Biasanya sehabis menangani pasien sebanyak itu, Vera akan lupa mengisi lambungnya dengan air. Membuatnya terkadang terkena dehidrasi.
"Makasih, lo tau banget kalau gue haus!" Vera membuka tutup botol kemasan itu dan langsung meminumnya hingga setengah botol.
Jimmy perhatikan wanita itu saat minum, benar-benar terlihat menarik, sebenarnya sudah sejak dari dulu Jimmy begitu tertarik dengan Vera, bukan waktu yang singkat untuk mengajak Vera ke jenjang yang lebih serius yaitu pacaran.
__ADS_1
Mungkin dia memang pernah menyayangi Safara, tapi Jimmy sadar jika mereka tidak mungkin bersama, Jimmy menyayangi Fara lebih seperti dia menyayangi dan menjaga adiknya sendiri.
Maka dari itu Jimmy pun tidak pernah mengungkapkan rasa sayangnya kepada Fara. Tapi dengan Vera perasaan itu berbeda, sudah 2 tahun ini dia bekerja di rumah sakit yang sama dengan Vera.
Jimmy merasa cocok dengan Vera, karena itu dia selalu ingin bisa bersama dengan wanita itu, bahkan menceritakan banyak hal dengan Vera, Jimmy juga mengatakan bahwa dia menyukai seorang gadis dan gadis itu telah meninggalkan nya untuk menikah dengan pria lain.
Dengan menceritakan hal-hal mengenai dirinya alias curhat bersama wanita itu membuat Jimmy merasa bisa selalu dekat dengan Vera. Alasan apalagi yang lebih bagus dibandingkan dengan curhat, mungkin karena itu Vera mengatakan bahwa dia dijadikan sebagai pelarian.
Padahal sejujurnya Jimmy memang menunggu momen saat putusnya pertunangan dirinya dengan Lidia, dan menyelesaikan semua urusannya bersama wanita itu, dan kemudian Jimmy mengutarakan perasaannya bahwa dia memang sangat menyayangi Vera.
"Gue emang selalu tahu tentang lo, Ver. Tapi lo yang nggak pernah nyadar," jawab Jimmy.
Pria itu mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan kursi kerja Vera, yang hanya dipisahkan oleh meja.
Vera mengerutkan keningnya mendengar ucapan Jimmy, "maksud lo apa? Lo tau semua tentang gue?"
Jimmy mengangguk cepat, "kalau lo sadar sebenarnya selama ini gue deketin lo dengan cara ini, Ver. Karena bagi gue lo tuh wanita yang sempurna dan gue bukan apa-apa dibandingkan sama elo," Jimmy menarik nafas pelan-pelan. "Mungkin dengan cara gue curhat sama elo, itu bisa membuat kita menjadi dekat," lanjutnya.
Vera membuka mulutnya lebar, menganga tidak percaya dengan apa yang ia dengar, "terus maksud dari semua ucapan lo itu apa?" Tanya Vera yang langsung merasa deg-degan.
Jantungnya sudah berdetak tidak menentu, jadi apakah selama ini Jimmy juga punya perasaan kepadanya.
Mudah-mudahan saja jawaban dari pria itu tidak semakin membuat hatinya hancur lebur.
"Jujur gue udah suka sama lo, sejak dulu gue seneng bisa di dekat lo, gue bahagia setiap lihat lo tertawa, gue nyaman setiap kita saling bercanda, berbagi suka maupun duka, dengan cara gue curhat dan mengatakan semua yang gue alamin itu artinya gue udah membagi separuh hidup gue cuma hanya sama lo, gue memang sayang sama Safara, tapi gue juga lebih bahagia lihat dia bisa menikah dengan pria yang dicintainya, tapi gue nggak akan sanggup lo cuekin, gue nggak bisa kalau lo ngejauh, gue sakit saat lo deket sama laki-laki lain, itu artinya sepenuhnya perasaan gue ke elo adalah cinta!"
Bersambung.
__ADS_1