ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(253)


__ADS_3

Lelaki itu kemudian pergi setelah tahu mereka sedang fokus, akhirnya selesai! "Terima kasih ya Teh Siti hehehe lho? Wafernya habis?" Tanya Rita memeriksa wafernya, dia merasa aneh karena sedari tadi hanya dirinya dan Komariah yang makan tapi kok cepat sekali ludesnya? Mereka semua lalu memeriksa benar saja memang kosong.


"Aku belum kebagian sudah habis?" Tanya Annisa keheranan dia juga tahu Rita dan Komariah makan tapi masa iya mereka makan sampai 4 wafer sekaligus?


Mereka semua tentu saja melirik salah satu orang yang mencurigakan bukannya mereka mau menuduh tapi sedari tadi yang kerjanya hanya mengunyah, hanya Ney saja. Dia dengar tapi pura - pura tidak dengar dengan santainya dia memakan wafer yang dia ambil banyak ke dalam tasnya. Dari situ, Rita memberi kode pada Komariah dan Diana jangan mengeluarkan makanan lagi.


Karena penasaran, Komariah sengaja mencari beberapa bungkus makanan yang tidak terlihat oleh mereka. "Ada yang lihat Chitato? Tadi aku lihat ada di sekitar sini deh," kata Komariah.


"Oh iya aku juga lihat. Masa sih tidak ada?" Tanya Siti yang juga ikut mencari. Alhasil semuanya ikut mencari lalu Linda memberi kode pada Rita dengan matanya, melirik ke Ney.


Rita tidak percaya masa sih Ney pelakunya? Lalu Rita iseng melihat dengan menggeser posisi duduknya. Dan benar saja Chitato, kacang atom, cokelat karamel dan beberapa cemilan kering berada di hadapan Ney semua. Mereka semua tertegun karena Ney memegang salah satu cemilan milik mereka, padahal semua itu bukan milik dia. Tapi dengan tenangnya mengambil semuanya dan menjadikan hak milik dia. Mereka lalu melirik Rita dengan pandangan tajam, Rita dalam hati 'Aku tidak mau lagi deh ajak nih orang entah kenapa aku jadi malu banget!' Pikir Rita.


Alex juga ada disana dan membaca isi hati Rita, dia pun menggelengkan kepalanya dan mengusap wajahnya melihat kelakuan Ney yang tidak sopan. Tanpa banyak bicara, Rita lalu mengambil semua yang Ney simpan untuk dirinya dan dia kaget banget saat Rita mengambil semuanya, menyadari kalau ternyata semua sudah mengerjakan tugasnya. Tanpa reaksi, semuanya menerima cemilan mereka sambil menggerutu menatap Ney. Ney sama sekali tidak berkutik, malu mungkin.. karena ternyata mereka semua mencari makanannya masing - masing.


Annisa bergidik melihat kelakuan Ney, Tamada sama sekali tidak menduga orangnya total parah, kesopanan minus ditambah omongannya. Karena makanannya masih ada dia terus saja memakan wafer yang dia simpan.


"Rita, itu wafer kamu," kata Teh Siti melirik isi tas Ney ternyata memang semuanya ada disitu.


Rita mengangguk, "Biarkan saja!" Katanya sambil memandang Ney dengan tatapan marah. "Maaf ya," kata Rita lagi.


"Kenapa kamu yang minta maaf? Dia yang punya salah!" Ketus Linda dengan suaranya yang sengaja dilantangkan.


Semua orang mulai tidak menyukai kehadirannya tapi mereka juga tidak mungkin mengusirnya. "Bukan kamu yang menghabiskan makanan kita kali," kata Diana juga. Dia sebal makanan yang dia punya juga diambil tanpa ijin begitu saja.


"Karena orangnya juga tidak akan minta maaf sama kalian sih, aku tidak bermaksud meminta maaf untuk orangnya tapi kelakuannya yang membuat aku malu. Makanannya lebih baik kalian pegang masing - masing deh, Diana minta permen dong!" Pinta Rita pada Diana. Diana lalu mengambilkan permen beberapa mereka semua mengambilnya.


"Kasih tuh ke dia sama kamu saja," kata Diana.


Rita mengambil 3 permen lalu dikasihkan pada ney sedikit dilempar.


"Kenapa dilempar sih? Dikit banget hanya 3 nih," kata Ney yang lalu mengambilnya dengan malas.

__ADS_1


"Terserah orang yang ngasih kalau tidak suka kembalikan saja atau kamu bisa beli sendiri tuh disana," tunjuk Rita menunjukkan kedai permen.


Ney tidak membalas tapi mengambil permennya dan membuka lalu memakannya dengan agak malas. Sampahnya dia lempar ke hadapan Rita, saat dia melemparnya dia pura - pura tidak memperhatikan Rita. Melihat itu yang lain langsung berekspresi marah banget! Apalagi Diana kesal banget melihat Ney seenaknya pada Rita. Rita juga melihat Ney dengan biasa lalu melemparnya lagi ke Ney dan pas banget mengenai wajahnya. Ney yang terkena sampahnya sendiri, terdiam dia heran bagaimana bisa pas mengenai mukanya? Rita tertawa keras melihatnya Ney yang kesal.


Dengan esmosi apapun bisa terjadi 😝😝 melihat itu sebagian masih tetap marah melihat kelakuan Ney tapi ternyata Rita tidak diam saja. Akhirnya Ney menaruh sampahnya itu di pinggir kakinya.


"Kok kamu bisa sih kenal sama orang yang tidak tahu malu, Rita? Ada juga ya orang yang bisa seenaknya ambil makanan kita tanpa ijin pula, lalu dihabiskannya sendirian. Heran, bagaimana sih orang tua mendidiknya?" Tanya Linda dengan suara ditinggikan.


"Entahlah, Linda. Aku saja heran sama kelakuannya bukan hanya kamu saja aku juga sering nanya sama orangnya kok bisa seminus itu. Tapi sudahlah tidak ada gunanya juga. Kurang kesadaran diri," kata Rita yang kesal dilempari sampah permen.


"Tahu tidak dia sudah bicara keterlaluan soal kamu lho Rita. Merasa sudah kenal kita kali ya jadi bisa seenaknya," kata Tamada sambil menulis. Mereka semua mengiyakan, Rita hanya senyum kecut sambil sedikit melirik Ney yang sedang diam mendengar apa yang mereka katakan.


"Sudah sudah jangan dibully kalau kita bully dia apa bedanya dengan dirinya sendiri?" Tanya Diana yang sudah bosan mendengar dan melihat kelakuan Ney.


Mendengar itu, Ney langsung merasa Diana memihaknya dan dia dibela olehnya. Tapi dia sedikit tidak enak ternyata meskipun dia sudah berkenalan dengan semuanya, menyangka karena sudah kenal itu dia berpikir makanan mereka ya makanan punya dia juga, ternyata salah! Kemudian berpindah pada Diana dialah satu - satunya harapan Ney. Well, dalam pikirannya kalau dia bisa merebut Diana dari Rita, dia bisa bicara sesumbar pada grup sosialitanya dan bisa diajak kemana - mana. Kalaupun nanti dia diusir dari grup itu, akan ada Diana yang setia dengannya. Dan Rita pasti kebakaran jenggot.


Dipikirkannya dia sudah berhasil membuat Diana berpihak padanya dimana itu adalah salah satu strateginya. Tentu saja ya semuanya memandangi Diana dengan tatapan penuh tanda tanya.Tapu Diana mengkodekan sesuatu pada mereka lalu mencolek Komariah.


"Soalnya korban bullynya juga ada kan jadi buat apa kita sama dengan pelakunya," kata Komariah. Dia tidak membela Ney karena dia sama sekali tidak menyukainya tapi pasti berbedalah apa yang Ney terima dari sudut pandangnya. Ney mengedipkan kedua matanya tidak menyangka kalau Komariah yang lidahnya tajam itu juga membelanya, dia jadi tersenyum penuh kemenangan. Rita keki banget!


"Boleh. Sebentar aku ambil dompet juga," kata Rita yang berdiri lalu meliukkan pinggangnya yang pegal. Mereka lalu berjalan menuju kedai teh, setengah perjalanan sambil mengobrol soal kekesalan mereka terhadap Ney, pemuda tadi datang dengan senyuman yang mengembang. Sambil membawakan sejumlah minuman sesuai dengan jumlah mereka. Lalu memberikannya pada Rita dan Linda sambil tersenyum. Rita menatapnya biasa begitu juga dengan Linda tapi mereka keheranan kenapa juga tuh masnya kasih mereka minuman? Mana dingin menyegarkan juga penampakkannya.



"Lho? Ada promosi minuman ya?" Tanya Linda melihat pemuda itu dengan wajah yang tanda tanya sambil mencari tempat yang menjual teh itu.


"Tidak. Hanya ingin memberi saja pasti sedang haus kan. Ini dari kedai yang disana pasti kalian mau kesana jadi saya belikan saja. Tadi kalian sedang fokus belajar kan. Bawa saja," kata pemuda itu sambil tersenyum. Suaranya lembut tapi tidak membuat mereka berdua terbuai entah ya kalau Ney.


"Wah, curiga menunggu kita lewat ya? Ini tidak ada imbalan lain kan?" Tanya Rita dengan senang hati menerima tapi juga waspada. Hari gini ada lelaki ganteng kasih minuman takut ada obatnya!


"Tidak ada! Tidak ada! Ini aman kok, tidak ada obat apapun! Serius! Aku mau kasih saja. Lancar ya tugasnya," kata pemuda itu lalu pergi. Ganteng, putih, tinggi pula kalau diukur sih Rita sedada pemuda itu. Wah, kalau dipeluk sama lelaki seperti itu adem!😝😝😝

__ADS_1


"Terima kasih ya!" Teriak Rita yang sudah Poll tapi ternyata kecil terdengarnya, pemuda itu sama sekali tidak melihat ke belakang.


Linda mengeluarkan nafas dan berteriak sekerasnya, "TERIMA KASIH TEHNYA DARI KITA SEMUA!"


Rita mendengar suara Linda dengan memiringkan kepalanya, seperti berdengung dan banyak bintang berjalan berputar di atas kepala Rita. "Keras banget sih!"


Pemuda itu berbalik lalu menganggukkan kepalanya dan melambaikan tangan. Mereka berdua membalasnya, pemuda itu memakai kemeja putih seperti baju kantoran dengan dasi yang bergaris - garis.


"Wih hahaha asyik nih hemat uang!" Kata Rita yang membawa 4 minuman.


"Hohoho iya benar! Alhamdulillah, yuk balik!" Kata Linda yang membawa sisanya dengan senang juga.


Mereka kembali dengan cepat sambil membawa 7 minuman yang disambut heboh oleh semuanya. Lalu Linda menceritakan itu dari siapa.


"Ini dikasih orang," kata Linda memberi mereka satu per satu. Ney juga kebagian dan senang mendapat bagiannya tapi saat dilihat tehnya rasa Mawar. Dia tidak suka!


"Dari pemuda yang tadi ya? Dia melihat kamu sama Linda lhooo cieeee punya penggemar," goda Siti pada mereka berdua. Rita hanya tertawa, Linda juga sama mereka sama sekali tidak serius menanggapinya.


"Ada yang mau tukeran tidak? Aku tidak suka teh mawar," katanya melihat teh yang mereka semua terima ternyata sama! Dan tidak ada yang menjawab karena mereka langsung meminumnya.


"Hmmmm! Enaaaak! Manis ya harum mawar juga. Ini sih bisa buat pengharum mulut nih," kata Rita yang merasakan rasa dan aroma mawarnya.


"Setuju! Aku juga baru tahu kalau ada teh yang harum mawar," kata Siti yang terus meminumnya.


"Rita, kamu kan sukanya matcha atau greentea, kenapa kamu mau sih minum teh mawar?" Tanya Ney dengan nada aneh.


"Aku memang suka greentea karena warnanya hijau tapi bukan berarti aku tidak suka dengan teh yang lain. Asalkan aromanya wangi dan enak, ya pasti aku minum. Dirumah kan keluarga sukanya teh aroma Jasmine," kata Rita yang menyimpan minumannya.


"Rita sih teh apa saja juga suka ya," kata Annisa. Dia pernah membawakan teh rasa jeruk pada Rita dan suka juga!


"Oh, kok aku baru tahu ya soal itu?" Tanya Ney dengan sengaja. Mereka semua menyimak Rita dan Ney yang saling melemparkan kalimat.

__ADS_1


"Ah, masa sih? Aku sering kok beli teh selain greentea, yah wajarlah kamu kan tidak pernah mau tahu apapun soal apapun dari orang yang ada sekitar kamu. Entah apa yang kamu bicarakan juga sama mereka waktu ke toilet," kata Rita melirik Ney yang menundukkan kepalanya. Lalu melirik ke arah lain dan menjulurkan lidahnya.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2