ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
498


__ADS_3

"Hei," ketik Rita di chat Pacebuk.


Alex sumringah dan langsung membalas. "Hei juga," katanya.


"Terima kasih kerudungnya," kata Rita tersenyum penuh.


"Kamu suka? Senang?" Tanya Alex tertawa geli. Sedangkan Fernando memperhatikannya dengan wajah yang senang juga.


Fernando sedikit demi sedikit bergeser dari tempatnya berusaha untuk melihat apa isi chat Alex. Syakieb melihat keponakannya itu dan langsung menyeretnya, menjauhi Alex.


"Senaaaang sekali ini pertama kalinya dapat kado dari laki-laki sih," ketik Rita.


Membaca itu siapa sih yang tidak langsung melayang? Alex juga begitu padahal dia sudah banyak memberikan banyak kado untuk para perempuan. Masa lalunya.


Tapi dengan Rita ternyata dia menjadi orang yang pertama memberikan kado apalagi untuk ucapan selamat kelulusan wisudanya.


"Waw! Aku yang pertama? Aku juga senang," kata Alex bersyukur.


"Kan tadi sudah aku bilang," kata Rita agak aneh.


"😑," balas Alex.


"😒," ketik Rita.


Alex hanya mengungkapkan saja kalau dia tidak menyangka menjadi yang pertama. Pertama bermasalah, pertama yang menghina, pertama yang membuat Rita menangis, segalanya pertama.


"Lalu?" Tanya Alex.


"Cantik," jawab Rita masih memegang kerudungnya.


"Ada hiasannya juga. Kamu tahu kan?" Tanya Alex.


"Cantik, bunga Sakura ya. Kamu ingat aku suka bunga apa," ketik Rita semakin berbunga-bunga.


"Akuuu ya dong. Aku selalu ingat apa yang kamu suka dan apa yang kamu tidak sukai. Entah yaa bagaimana dengan kamu soal aku. Dipakai ya," kata Alex sambil tersenyum diam-diam.


Beberapa orang tentu saja memperhatikan si Wajah Es itu bisa tertawa dan tersenyum. Mereka berbisik dan Alex menyadarinya langsung berubah menjadi galak, membuat mereka kabur.


Rita lalu membaca kartu pesan itu. "Katanya dibakar saja?" Tanya Rita memfoto kan kartu itu.


Alex bengong dia lupa kartu pesan itu. "Jangaaaan! Itu.. itu bercanda! Kamu tidak tahu susah lho itu mendapatkan kerudungnya. Semacam ada perkelahian," kata Alex yang agak lemas.


"Mulai lebay deh," kata Rita.


"Seriuuus. Kamu tidak tahu juga kan kalau aku kena serangan jantung akibat perkelahian itu," kata Alex agak cemedud.


"Sok cerita," kata Rita yang juga penasaran. Karena Alex memang selalu berbuat onar, kenekatannya mungkin saja penyebab dia mendapatkan serangan jantung.


Alex bercerita di sela istirahatnya itu, seperti yang diketahui dia berebutan satu lembar kerudung dengan ibu-ibu. Malam itu menjadi malam yang seru, Rita tertawa keras membacanya sampai menangis.


"Kamu kambuh karena itu?" Tanya Rita yang masih mengakak keras.


Ney tahu Rita sepertinya sedang sangat senang antara mendapatkan kado itu lalu ada cerita lain. Tentu dia kepo juga.


"Kamu sepertinya lagi senang ya. Pasti lagi tertawa keras kan. Ada apa sih? Cerita dong," kata Ney.


"Iya memang. Alex menceritakan perjuangan dia mendapatkan kerudungnya. Ternyata dia berkelahi dengan ibu-ibu. Sungguh kocak," balas Rita.


Ney merasa tertarik dan terus berusaha mencari tahu. "Hahaha memang ajaib ya kelakuannya. Terus?" Tanya Ney yang merasa sudah bisa dekat lagi dengan Rita.


"Selanjutnya? Terserah Anda," ketik Rita mengikuti kalimat iklan.


"Ya aku kan tidak tahu kelanjutan ceritanya, Rita. Kamu cerita dong biasanya juga kalau ada apa-apa cerita kan," kata Ney.


"Aku tidak mau lagi," ketik Rita lalu tidak membalas chat Ney lagi.


Ney kesal, hanya sepersatu doang Rita memberitahukan. Sebanyak apapun Ney chat, sama sekali tidak dibalas.


Kembali ke chat Alex, Rita masih ngakak sampai muncrat minumannya.


"Ya begitulah tapi terbayarkan, kamu sukaaaaa. Syukurlah sudah sampai paketnya," kata Alex.


"Hei, masih ada dong satu lagi," kata Rita. Tampaknya Alex sudah banyak lupa.


"Apa tuh?" Tanya Alex mengingat-ingat.


"Kita belum bertemu," kata Rita.


Alex menepuk dahinya. "Ahhh iya juga. Ayo sini," kata Alex mengajak.


"Kamu sini ke Bandung," kata Rita tidak mau kalah.


"Kamu laaa sini ke Malay. Nanti aku ajak Tour Guide," kata Alex.


"Laki-laki dulu sini ke Bandung. Nanti aku jadi Tour Guide," kata Rita tidak mau kalah.


"Malay!"


"Bandung!"


"Ke Malay duluuuu nanti ke Bandung pulangnya," kata Alex.


"Ke Bandung dulu nanti pulangnya ke Malay," kata Rita lagi.


"Benar ya? Nanti ke Malay setelah dari Bandung," kata Alex tertawa.


"Ya kan kamu rumahnya di Malay. Sudah dari Bandung pasti pulang ke Malay lagi kan," kata Rita tertawa keras.


"...... Kok aku merasa dipermainkan ya? 🤔" kata Alex yang memang berpikir.


"Tidak kok. Itu kamu saja yang mudah dipermainkan HAHAHAHA!!" Kata Rita menertawakan kebingungan Alex.


"😡😡😡," balas Alex marah. Intinya kesal benar juga sih kalau dia ke Bandung, kan pulangnya ke Malay lagi. Alex kemudian membuka buku jadwalnya dan menghela nafas. Semuanya padat merayap dengan banyak agenda.


"Sepertinya agak mustahil jadwalku padat sekali," kata Alex kecewa.

__ADS_1


"Ya nanti saja kalau sudah waktunya. Kalau dipaksa akan susah sih. Sabar saja," kata Rita menenangkan. Meski ya mereka berdua sudah sama-sama penasaran.


Alex merasa lututnya lemas, dia agak sedih, bimbang hanya tinggal bertemu saja tapi merasa susah sekali. Mereka mengobrol dengan seru meninggalkan Ney yang super kepo, ada banyak yang Rita sembunyikan namun sulit baginya untuk membuka semuanya.


Akhirnya dia bertanya pada Arnila, Arnila sudah pasti tahu apa yang Rita dapatkan.


"Kamu pasti tahu kan apa yang disembunyikan Rita ke aku," kata Ney menelepon Arnila.


"Ya ampun, Ney sudah deh. Kamu tidak perlu kepo lagi, kalau perasaan kamu dia menyembunyikan sesuatu soal kamu, lebih baik jangan bertanya apa isinya. Dia itu seperti Kotak Pandora, kamu akan menyesal bila terlalu mau tahu isinya," jelas Arnila dengan suara bete.


"Ya tidak bisa begitu. Keluarkan saja kek semuanya, selama ini juga aku baik-baik saja kok sama semua omongannya yang buat aku sakit," kata Ney.


"Buat kamu sakit? Kamu yang selalu buat dia sakit! Begini ya intinya, dia sudah tahu kamu itu orangnya bagaimana, tujuan kamu mendekati dia juga sudah jelas," kata Arnila membuat kalimat yang mudah dicerna oleh Ney.


Ney tentu saja mendengar apa kata Arnila menjadi sangat gelisah. Pada pernyataan Rita sudah tahu semuanya pun membuat Ney todak tenang.


"Rita sudah mulai tidak membalas chat aku juga. Bagaimana dong?" Tanya Ney gelisah gulana.


"Ya sudah biarkan saja. Tidak penting berarti kehadiran kamu saat ini. Ya menurut aku sih lebih baik kamu pedulikan urusan hidup kamu," kata Arnila dengan cuek.


Karena tidak terima, Ney menutup ponselnya membuat Arnila menjulurkan lidah dan menutupnya juga. Dengan masih penasaran, dia mencoba memancing Rita lagi.


Kalau memang dirinya mulai ditinggalkan, setidaknya dia akan lebih berusaha lagi untuk lebih dekat dengan Rita. Apapun caranya! Dia mendapat perasaan tidak enak kalau bisa saja chemistry mereka berdua akan semakin erat bila bertemu.


Itu tidak boleh sampai terjadi! "Kalau gue tidak bisa dapat Alex, lu juga tidak akan bisa!" Gumam Ney yang mengetik sesuatu dengan perasaan kesal dan marah.


"Rita, kalau kamu menikah nanti dengan Alex aku diundang tidak?" tanya Ney mencoba peruntungan.


Lama sekali tidak ada balasan, Rita yang sedang makan malam membaca dan menyengir isi chat Ney.


"Kalau aku tidak menikah dengan Alex, kamu mau datang?" Tanya Rita.


Ney membacanya dia terduduk. "Kalau dia tidak menikah dengan Alex, apa untungnya buat aku ya?" Pikir Ney. Dia kan belum tahu pasti apa Alex jodohnya Rita atau bukan.


"Ya aku usahain datang lah," kata Ney.


"Ohh ya lah tidak penting kan ya. Kalau bukan selain Alex mah, kamu tidak bisa pamerin apapun. Aku tahu sekarang niat kamu memang tidak tulus, berteman dengan aku juga hanya memanfaatkan bukan. Jadi untuk apa aku undang kamu ke pernikahanku nanti," jawab Rita mengangguk.


Ney menjitak kepalanya sendiri. Seharusnya dia balas "Pasti datang dong dengan siapapun kamu menikah" bukan "Diusahain datang". Tanpa kesadarannya otak dan gerakan tangan tidak sinkron.


"Aku pasti datang kok meski kamu tidak menikah dengan Alex,. Tapi pasti ya aku diundang kalau kamu menikah sama dia kan," kata Ney meyakinkan dirinya.


"Halah! Kamu sendiri alasan apa aku tidak di undang ke pernikahan kamu?" Tanya Rita mengungkit kembali sampai dia bicara yang jujur.


"Aku kan sudah bilang karena lupa. Ya maaf, tapi kamu jangan lupa ya undang aku kalau menikah dengan Alex," kata Ney masih keukeuh.


"KALAU. Kamu ketik itu ya. Wallahu alam ya semoga aku lupa soal itu," kata Rita jutek. Sa bodo amat dah!


Ney menyesal sekali waktu pernikahannya memutuskan tidak mengundang Rita karena memang tidak penting baginya. Menurutnya Rita tidak pantas datang ke pernikahan sakralnya dan sekarang, ingin diundang? Helloooww!


"Masa begitu saja kamu marah sih? Dasar baperan. Pokoknya kamu harus janji ya harus undang aku!" Kata Ney terus memaksa tidak mau tahu.


"HEH! Mikir kamu tuh ya. Dasar tidak ada sopan nya sama sekali. Kamu itu yang baperan, sebegitu takutnya ya tidak diundang? Plis deh. Asal kamu tahu saja ya dari kamu tidak mengundang aku, itu tandanya memang kamu tidak pernah anggap aku ada. Mengerti? Soal pernikahan, aku mau undang kamu atau tidak, itu terserah aku dong. Siapa kamu? Orang tidak penting," balas Rita lebih menohok.


Ney menggigit bibir bawahnya membaca omelan Rita. "Tapi kamu sudah janji mau undang aku. Lupa ya?" Tanya Ney.


Dengan seenaknya Ney mengatakan baperan, pelit, soal janji pun tidak ada! Rita menggelengkan kepalanya, sebegitu takutnya kah? Lalu kemana rasa peduli dia, rasa pertemanannya saat Rita selalu ada untuknya?


Sejak itu juga Ney terus mengikutinya kemanapun Rita pergi, kenapa bisa tahu? Dia memasang "Antena" ghaib ke diri Rita namun sering Rita tidak pedulikan.


Rita lalu memasukkan penampakannya yang memakai kerudung saat bekerja lalu memposting di akunnya. Beragam komentar memenuhi akunnya, Ney sudah tentu melihatnya tapi tidak bisa berkomentar.


Rita sudah memblokir akunnya serta tab Komen yang tidak akan bisa membuat Ney mengirimkannya. Benar-benar BANNED. Hati dan perasaannya super gendol saat membaca komen orang lain yang kerudung itu hanya tersisa 2 buah.


Keesokan harinya Rita sekolah dengan biasa, sekolah tidak mengadakan pembelajaran karena kepala sekolah menyiapkan sebuah pembelajaran ke luar negeri. Anak-anak diliburkan dan hanya guru dan admin yang masuk.


Setiap guru diberikan saru kali kesempatan untuk mengocok undian dan menjadi peserta yang terbang ke luar negeri. Secara tidak menduga, Rita mendapatkan undian yang terbang ke Malaysia!!


Dia senang sekali dan bersorak bersama sepuluh guru lainnya, yang memang 3 admin sekolah mendapatkan undian emas itu termasuk Rita. Dengan cepat Rita memberitahukan keluarganya dan juga Tyas.


Kepala sekolah memberikan tambahan tiket pada Rita karena yang paling sering begadang hingga pukul 7 malam di sekolah. Rita juga salahnya, memberitahukan kabar itu di grup chat bertiga.


Ney yang terkejut dengan keberuntungan Rita langsung tahu kalau Rita pasti berencana mau bertemu dengan Alex. Dia menjadi tidak sabar untuk ikut juga, uang sudah banyak dan paspor pun sudah ada.


"Kamu mau janjian ketu Alex ya? Aku ikut!" Kata Ney dengan semangat di chatnya.


"Hah? Kegiatan sekolah dong," balas Rita.


Ney yang saat itu langsung menyiapkan dan melipat baju ke dalam koper dengan rusuh.


Tanpa sepengetahuannya, Dins membaca isi ponsel dan mendengus. "Kamu mau kemana?" Tanyanya menyilangkan tangan.


"Aku mau ke Malaysia. Rita ajak aku kesana," kata Ney dengan ribet.


"Memangnya dia ajak kamu? Aku baca dia hanya memberitahukan saja tuh," kata Dins membuat Ney terdiam.


"Tidak kok. Dia ajak aku sebelumnya," kata Ney berbohong.


"Aku baca itu untuk kegiatan sekolah lho bukan kencan," kata Dins menunjukkan isi chat Rita.


"Yaaa aku tahu, aku.. aku kan menemani dia di sana," kata Ney terus berkilah.


"Temani dia atau kamu mau ganggu hubungan orang? Kamu penasaran ya sama Alex ini? Buat apa sih?" Tanya Dins heran.


"Dia itu memiliki perusahaan banyak lho, yang. Lalu dia anak milyuner juga, kalau aku kenal dekat sama Rita terus yaa.. aku juga bisa dapat keuntungan dong," kata Ney sambil memasukkan alat kosmetiknya.


"Oh, benar ya apa kata Rita. Kamu temenan sama dia hanya untuk dimanfaatkan. Kamu itu parah!" Kata Dins melemparkan ponsel miliknya.


Ney memejamkan kedua matanya. "Sudah deh ya jangan ikut campur, yank. Rita itu teman aku! Ya aku harus ada buat dia kapanpun!" Kata Ney tidak mau berantem.


"Sadar tidak sih kalau kamu itu bukan teman dia? Kamu klaim sebagai teman, kalau dia memiliki banyak uang, sedang gembira. Kamu sudah membully dia habis-habisan, Ney. Dengan hal begitu saja aku tahu kamu itu tidak pantas jadi teman dia! Jangan ganggu kehidupannya lagi," kata Dins dengan nada keras.


Tapi Ney tidak mau menyerah begitu saja, mau Rita tidak menganggapnya atau apapun yang penting dia bisa selalu Eksis. Karena tahu Alex adalah anak yang berasal dari keluarga terpandang.


Kalau Rita dengannya otomatis seluruh lensa dunia juga akan menyorot Rita serta teman dan kehidupannya. Ney tidak ingin membiarkan hanya Rita yang tersorot bagaimanapun dia sama sekali tidak berpikir soal kelakuannya.

__ADS_1


Dins menatap istrinya itu dengan sangat gemas rasa-rasanya ingin sekali membanting koper itu dan semuanya. Ney hanya memikirkan dirinya sendiri.


"Aku mau kita cerai," kata Dins secara tibs-tiba.


Ney berhenti bergerak. Dia berbalik, menatap suaminya. "Apa?" Tanyanya.


"Kalau kamu masih terus ingin pergi ke Malaysia hanya karena penasaran seperti apa pasangan Rita, dan mengganggunya. Lebih baik seterusnya kita pisah saja. Nih, uang. Sepulang kamu dari Malaysia, kamu tidak perlu datang ke rumah ini lagi," kata Dins lalu melangkah pergi le ruang kerjanya.


Ney terdiam melihat 5 ogokkan uang Rp 100.000 di atas kasurnya dan dia terduduk. Menatap kopernya atau uang yang artinya cerai. Dengan ingatan dan alasan yang jelad, Ney mengetik.


"Sepertinya aku tidak bisa ikut deh," kata Ney.


"Idiiih siapa juga yang ajak kamu. Kepedean!" Kata Rita sambil tertawa.


"Itu kan acara sekolahnya Rita, Ney. Memang apa gunanya kamu ikut ke kegiatan dia?" Tanya Arnila yang juga ikut tertawa.


Ney kesal ternyata dia salah mengingat bawah dipikirannya Rita bermaksud mengajaknya. Ya benar sih apa kata Dins kalau itu adalah keinginannya saja untuk ikut bertemu dengan Alex.


"Terus kamu pasti kan tidak bisa sendirian kalau ke sana. Makanya alu mencalonkan diri untuk menemani kamu," kata Ney akhirnya dengan jujur.


"Hahaha tidak perlu. Aku sufah cerita ke keluarga, Prita dan saudara aku akan ikut. Ibu dan Bapak juga dengan biaya sendiri. Aku dapat 2 tiket lebih, bisa dipakai untuk dua orang lainnya, yaaa Bapak dan Ibu dapat yang gratis ini," jelas Rita menunjukkan tiket tanpa memperlihatkan kodenya.


Ney melongo benar saja tiketnya sudah ada. "Oh, jadi aku tidak dibutuhkan nih ceritanya? Bukannya tadi kamu ada tanya ke aku buat ikut?" Tanya Ney.


"HAHAHA kapan aku tanya begitu? Ney, aslinya kamu harus pergi ke psikiater deh. Isi otak kamu halusinasi terus sih, jadi seram aku," balas Rita.


Dengan marah akhirnya Ney membongkar kembali isi koper tersebut dan mengembalikan uang Dins ke mejanya. Dia super marah dibilang gila? Yah, bagaimana dengan dirinya yang menyebut Rita begitu?


Setelahnya keluarga Rita dan Tyas sendiri menyiapkan paspor dan baju yang diperlukan selama 2 hari. Tyas sih oke saja sekalian piknik juga, Alex tidak tahu menahu dan terus bekerja.


Kadang dia melamun seandainya bisa bertemu Rita pasti menyenangkan. Ada banyak tempat yang ingin dia perkenalkan kepadanya. Fernando menatap Tuannya dan ikut sedih juga, dia tahu akun Pacebuk Rita tidak ada perubahan apapun.


Beberapa hari kemudian mereka semua sudah siap berangkat. Dengan sengaja Rita tidak memberitahukan Alex mengenai kepergiannya. Secara tidak terduga, Dins ditugaskan bekerja ke Vietnam dan itu menjadi kesempatan bagi Ney untuk pergi.


Dengan patuh dan cepat dia mempersiapkan koper untuk suaminya. "Ingat ya, aku tidak mengijinkan kamu untuk pergi ke Malaysia!" Kata Dins dengan tegas.


Ney mengangguk tanpa berkata apapun, dalam hatinya sudah tentu tidak berjanji. Setelah Dins pergi, dia bergegas pergi ke kamarnya lalu membereskan lagi baju yang sudah dia bongkar. Tanpa mandi dan hanya mengenakan parfum, dia bergegas menanggil taksi menuju bandara.


"Pak, agak cepat ya," kata Ney dengan suara angkuhnya.


"Baik, Bu," kata supir taksir itu kemudian mengebut.


Rita dan keluarga beserta Tyas sudah masuk dan sedang menunggu antrian masuk ke dalam pesawat. Rita memberitahukan Alex bahwa hari ini akan berlibur bersama keluarga dan saudaranya.


"Kamu sudah beli kuota net kan?" Tanya Alex agak cemas takut tidak ada komunikasi.


Rita tertawa mengetahui Alex sangat cemas. Tiba-tiba...


"Hei, Rita!" Teriak Ney yang sudah tiba dengan kacamata hitamnya di atas kepala.


Tyas, Rita dan Prita tidak senang melihatnya. Rita justru hanya bengong. Kedua orang tua Rita juga sama kagetnya.


"Hah? Rita, kamu ajak dia?" Tanya Prita berbisik.


"Tidaklah. Dia yang mengklaim dong kalau aku ajak dia ke Malaysia untuk menemani. Mau heran coba," kata Rita tertawa menyengir.


"Dia siapa, Teh?" Tanya Tyas.


"Itu yang namanya Ney," kata Prita.


Tyas melongo. "Orang yang sudah merundung Teteh? HAH!? Ih, tidak tahu malu sekali," kata Tyas yang jutek banget ke Ney.


"Kok kamu di sini?" Tanya Rita kaget.


"Iya dong aku juga kebetulan ada urusan di Malaysia. Jadi kita bisa bareng dong," Kata Ney lalu menyapa Ibu dan Bapaknya Rita.


"Sudah merundung hebat juga ya masih punya muka, ngaku-ngaku ada urusan. Tidak tahu malu ya. Aku sih ogah ketemu perundung," kata Prita sengaja.


"Paling juga urusannya ganggu Teh Rita. Yah maklum saja ya tampaknua tidak punya kerjaan lain sih," kata Tyas membalas tajam.


Kedua orang tuanya memberikan kode perihal Ney dan Rita angkat bahu.


"Tidak punya etika Teh dia orangnya," bisik Tyas.


Rita mengangguk.


"Dia sudah menikah lho tidak mungkin deh diijinkan bepergian" kata Rita agak aneh.


"Dia sih mau tidak diijinkan atau diijinkan juga Teh, memang orangnya sudah bebal. Egois sekali mentingin dirinya," kata Tyas.


Ney tidak peduli apa kata mereka, dia masih sok bergaya.


"Memangnya suami kamu kasih ijin?" Tanya Rita yang sedang membawa buku absen.


"Iya doong kan dia ada dinas di Vietnam," kata Ney membuka ponselnya.


"Oh, jadi kalau dia tidak ke Vietnam kamu mana bisa disini ya. Kamu bohong ya?" Tanya Rita yang sudah tahu kebiasaannya. Bohong kemanapun, dimanapun dan siapapun.


Ney gugup tahu kebongkar taktiknya. "Sudah deh ribet sekali ngurus hidup aku. Pokoknya dari sekarang sampai pulang kita akan selalu bareng ya. Aku nanti akan ajak kamu jalan-jalan deh siapa tahu bisa ketemu Alex juga," katanya dengan genit.


🤮🤮🤮🤮


Cukup lama mereka semua duduk dan mengobrol, Rita memandangi jam dan melihat ke arah pintu masuk.


"Memangnya kita nunggu siapa lagi sih?" Tanya Ney yang penasaran.


"BU RITAAAA!!" Teriak beberapa guru yang akhirnya datang.


Ney bengong, ternyata benar banyak guru-guru yang berdatangan membawa koper. Dia merapihkan rambutnya dan agak gugup.


"Sini sini sini," kata Rita dengan senang melambaikan tangan.


Tidak ada kepala sekolah dan mereka memandang aneh ke arah Ney yang sedang duduk. Ketua kelompok membagikan selebaran yang ternyata posisi tempat duduk Rita dan keluarganya.


Ney memeriksa nomornya yang ternyata berada jauh dari nomor Rita dan keluarga. Dia kesal sekali karena tidak mungkin bisa mengobrol soal Alex. Apalagi terlihat Rita asyik mengobrol dengan sesama guru yang mengapit tangannya.

__ADS_1


"Tapi bukan masalah juga sih toh, nanti alu bisa bertemu dengan Alex juga," pikir Ney dalam hatinya.


Bersambung...


__ADS_2