ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(232)


__ADS_3

"Dia berani banget berpenampilan seperti itu. Kalau aku sih ogah deh, bercak - bercak bekas cacar air mungkin sampai mulus baru berani keluar," kata Karla yang merasa merinding melihatnya.


"Tidak ada niatan gitu dia buat hilangin itu noda? Aneh banget lihatnya. Apa jangan - jangan dia juga tidak perduli pandangan orang? Perempuan PD pun pasti risihlah lihat dirinya sendiri kalau ada noda," kata Anne yang lalu duduk di tepian.


Disusul dengan Prita dan Karla. "Lah tidak tahu deh. Prita saja waktu kena cacar seminggu tidak berani keluar. Dia sampai nitip ke aku beli segala macam produk untuk menghilangkan bekas cacar. Mati - matian dia sampai lulur mandi habis 3 tube," kata Prita yang diam - diam mengambil cokelat tapi hanya 3 lalu dibagi ke temannya.


"Kalau tahu, kamu pasti digaplok," kata Karla yang ikut makan juga.


"Banyak begini! Aku lihat foto lelaki yang sedang mendekati kakakku. Super ganteng! Nih lihat tapi nanti jangan bilang ya, bisa dipotong tidak dibagi cemilan lagi kita," kata Prita lalu melihat foto Alex.


"WOH GILA!! ARTIS!?" Teriak Anne dan Karla bersamaan.


"SSSSTTT! Bukan dia dari Malaysia. Ya aku penasaran sih soalnya teteh gue selalu seuri sorangan. Sepertinya mereka lagi saling jatuh cinta," kata Prita lalu menghapus semuanya.


"Sepertinya aku tahu deh kunaon si eta ngadekeutan teteh maneh wae," tebak Karla. Mereka bertiga lalu saling menghitung sampai 3 lalu menjawab bersamaan.


"Pamor!" Jawab ketiganya. Benar saja.


"Iyalah. Apalagi kalau bukan itu? Meski tampaknya si Ney ini tidak suka berteman sama teteh kamu, setelah tahu teteh kamu kenal dia, ya wajar pasti ngadekeutan. Nu siga keu mah Parasut!" Kata Karla dengan yakin.


"Parasit!" Prita dan Anne membenarkan.


"Heu eta!" Kata Karla akhirnya sambil menepuk-nepuk kedua tangannya.


"Tapi aku yakin dia tidak akan bisa mendapatkan apa - apa dari Teh Rita. Soalnya seperti sekarang Teh Rita mulai jadi keras ke Neynya. Teh Rita kan tahu teman sejati seperti apa jadi dia tidak akan masuk ke daftar Pertemanan sih. Jadi memang kalem saja," kata Anne setuju dengan pendapat Prita.


"Kita disini mau ngapain?" Tanya Karla bingung.


"Kita pulang bareng sama Teh Rita. Tampaknya dia juga sudah malas dan bosan," kata Prita. Akhirnya mereka menunggu sambil mengobrol tentang menu Korea tadi.


Pindah ke dalam dengan obrolan Rita lagi. "Oh iya bagaimana kabar Anggara? Apa ada kabar ke kamu?" Ney yang bertanya. Menurutnya sudah tidak mungkin lagi meminta cokelat tapi tetap belum menyerah juga sih.


"Oh iya! Sudah lama juga ya. Aku baru dapat foto dari mereka nih," Rita sudah lupa soal Anggara dia lalu membuka ponselnya dan memperlihatkan foto Anggara dan istrinya. Rita memberikan ponselnya pada Ney dan Arnila. "Dia sudah menikah disana dong. Manis kan, sederhana karena mereka mau menabung untuk membuat rumah,"


"Wah, kemungkinan mereka tinggal di Amerika Serikat?" Tanya Arnila.


"Iya begitulah," jawab Rita sambil tersenyum.


Arnila menarik diri tidak melihat lagi foto itu sedangkan Ney tampak sedang membuka foto lain, dia memang suka begitu. Dia diam - diam me-roll dengan cepat namun tangan Rita bertindak dengan cepat karena sudah tahu taktiknya. Ney tidak bisa melawannya, dia seperti biasa kalah cepat dengan kilatan tangan Rita. Foto yang diinginkannya sudah hampir dia dapatkan tapi gagal! Rita menutup ponselnya agar tidak terlalu menarik perhatian siapapun.

__ADS_1


"Sudah jam segini, kita pulang saja ya. Adikku pasti menunggu diluar," kata Rita melihat jam tangannya.


"Oke deh. Sampai nanti lagi ya salam buat keluarga!" Kata Arnila melambaikan tangan. Ney tampak ingin sekali ikut bersama Rita tapi Arnila menariknya mengingatkan kalau arah pulangnya berlawanan dengan Rita.


Setelah itu Rita mengeluarkan Matchanya lalu meminumnya dengan nikmat tanpa ada orang yang akan mencicipinya. Sambil melihat foto apa yang Ney cari, pantaslah dia mendapatkan foto saat Alex tengah berfoto dengan makanan mereka yang dia makan dengan lahap. Rita menggelengkan kepalanya.


Kemudian saat itu Ney melihat Rita sedang meminum Matcha. Dan dia nampak kaget melihatnya. "Nil, sebentar gue ada keperluan sama Rita!"


"Aku tahu kamu pasti minta minumannya kan. Kalau mau, beli sana kamu kok bisa - bisanya hanya meminta sih? Tidak punya harga diri banget! Rita sudah tidak mau diganggu kamu!" Kata Arnila galak. Tapi Ney tetap memaksa, saat itu jaraknya sudah sangat jauh. Akhirnya Ney melepaskan tangan Arnila dan jalan lagi menuju BIP.


Arnila kesal lalu lebih memilih pulang dan bertemu Imron. Ney berjalan dengan gerak cepat, dan itu terlihat oleh Prita dan kedua temannya. "Tuh,"


"Oh! Maaf ya lama. Yuk pulang," kata Rita.


"Mauuuu!" Teriak Prita. Akhirnya Rita sedot dengan banyak dulu sebelum Prita mencobanya.


"Ayo teh cepat!" Ajak Anne sambil menarik Rita. Rita yang kebingungan menurut saja karena mereka menyadari pasti Ney datang kemungkinan meminta minumannya.


Ney lalu melihat mereka bergerak ke bawah menuju angkot Kelapa. Dan melihat minumannya Prita yang pegang, dan dia menyentakkan kakinya ke aspal. Sebal! Tapi kenapa juga ya demi sebotol minuman sampai capek - capek balik lagi? Beli saja sendiri, kenapa sih? Akhirnya dia kembali pulang lagi dengan kesal. Dan sadar kalau Arnila sudah meninggalkannya sendirian.


"Eh, disini ada yang jualan keripik setan enak. Beli itu dulu ya!" Kata Rita melihat ada gerobak PikDa.


"Ya ampun, teh!" Sorak Anne dan Karla. Pantas saja ibu mereka memarahi kakaknya Prita, karena memang senang jajan. Akhirnya mereka kesana dan Rita membeli 20 bungkus karena memang uenak banget!


"Wah boleh tuh!" Kata Rita mendengarnya.


"HAH!?" Jawab mereka bertiga terkejut.


Akhirnya Rita membeli semua PikDa yang mamang itu punya. Satu bungkusnya dikasih harga Rp 4.000 dan itu ada 50 bungkus πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†. "Nih buat kalian juga ya free masing - masing 5 bungkus. Ini enak banget lho! Ya kan, kang!"


Mereka bertiga bengong melihatnya. "Seriusan!?"


"Neng, ieu mah keripikna asli mantav! Moal nyeuri beuteung! Cabenya asli bukan yang busuk! Topcer lah! Alhamdulillah dagangan kelar! Nuhun nya neng moga rejekina lancar!" Kata mamangnya membungkus kan semuanya dengan plastik besar.


"Aamiin, mang. Nuhun oge!" Kata Rita yang kemudian mereka pergi ke halte bawah.


Rita tersenyum senang hari ini dapat cokelat banyak, cemilan banyak, dan PikDa yang banyak juga. Cukup untuk dua minggu deh! Adiknya sama sekali tidak aneh melihat kakaknya yang senang jajan, berbeda dengan Karla dan Anne yang memang penggemar pedas juga. Sambil menunggu angkot, mereka memakan keripik sambil duduk di bangku yang tersedia.


"Teh, ngomong - ngomong kok masih mau sih punya teman seperti itu? Tadi kita lihat lho dia mau datangin teteh lagi," kata Anne.

__ADS_1


"Hah? Serius? Ngapain?" Tanya Rita kaget.


"Karena ini, Ri," tunjuk Prita yang masih memegang minumannya.


"Jangan dihabiskan ey! Tuh kan teman kalian tuh seperti ini, aku yang beli dia juga yang habiskan. Sama tuh dengan kelakuan tuh orang," kata Rita yang mengambil minumannya lagi.


"Enak saja! Bedalah. Dia bukan siapa - siapa, aku kan adik kandung lebih pantas kali! Enak pisan keripiknya! Prita baru tahu nih. Boleh deh," katanya sambil makan dengan lahap.


"Tidak sopan banget!" Kata Karla.


"Teteh jadi teman dia awalnya karena kasihan waktu SMP dia selalu sendirian, temannya paling sama anak laki - laki. Perempuan sama sekali tidak ada yang dekat. Pintar sih tapi aneh juga mungkin karena penampilan bekas cacarnya itu. Mungkin," kata Rita yang makan keripik dengan enak banget.


"Dia tadi minta cokelat lagi ke Prita katanya karena Teh Rita tidak beri dia bagian. Iya?" Tanya Karla.


"Idih! Itu sudah dapat bagian lumayan lagi dibaginya waktu dirumah orang lain. Itu cokelat dari seseorang hehehe ada banyak ya sudah teteh bagi. Wong edan bilang begitu ke kamu? Kurang ajar!" Kata Prita kesal.


"Hmmm jadi bohong toh. Bilangnya seperti sekalian fitnah teteh. Saraf ih! Tinggalin saja deh teh. Aku yakin dia sering banget bicara bohong soal teteh ke banyak orang," kata Anne yang tajam instingnya.


"Mau. Tapi menunggu waktunya sampai teteh hilang kesabaran, teteh harus punya bukti lebih banyak lagi buat mojokkin dia. Anyway, cokelatnya kamu kasih?" Tanya Rita curiga.


"Aish, sori lah yaa daripada kasih dia mending kasih mereka, Ri! Aku balas 'cuih' saja ke dia. Ih parah banget! Sudah deh akhiri saja sekarang, aku nih ya tidak ikhlas Rita dikatai," kata Prita yang mangun lagi.


"Hahahaha nanti juga ada saatnya dia ditinggalkan kok. Toh dia sudah mau menikah jadi yah, pasti sibuk dia. Pri, kalau ibu tanya soal cokelat jangan bilang dari lelaki. Tahu kan, kalau ibu suka penasaran ujungnya, kacau seperti waktu itu. Alasannya bilang saja dikasih sama yang biasa gitu," kata Rita membuat skenario dulu.


"Oke!" Kata adiknya lalu mereka menaiki angkot bersama menuju rumah.


Di rumah, kebetulan sekali ada kakaknya dan semua anak - anaknya juga suaminya. Lalu Prita masuk dengan kedua sahabatnya yang mengatakan akan menginap beberapa hari untuk merencanakan liburan di kampusnya. Setelah itu Prita mulai mengeluarkan 3 kotak cokelat yang disambut histeris oleh semuanya. Dan memang ibunya bertanya dari siapa, Prita bilang dari teman yang biasa.


"WOW! Cokelat ini kan mahal banget! Teman kamu menang tidak tanggung - tanggung ya kalau kasih makanan," kata kakaknya sambil menari memakan cokelat itu.


"Kalau datang kesini pasti ateu Prita atau ateu Rita punya makanan enak!" Kata Ray dengan membawa beberapa kepingan cokelat.


"Hahaha pas banget ya!" Kata Rita yang membawa 2 bungkus cokelat putih dan yang strawberry ke kamarnya.


"Ri, masa bawa 2? Nih bawa 2 lagi mereka pasti enek makannya. Banyak banget! Ini lagi keripik, kamu mau jualan?" Tanya ibunya yang melihatnya kaget.


Rita lalu membawa 2 bungkus cokelat yang lain ke kamar dan membawa 25 bungkus keripik lalu menaruhnya di lemari makanan. Untungnya Rita juga memberi kamper agar kecoa atau tikus tidak berani masuk. Kakaknya langsung membawa 5 bungkus keripik lalu memakannya. Anak - anaknya baru kuat makan yang pedas tapi mereka suka!


"Di sini kan umatnya banyak bu, jadi jangan cemas. 3 hari juga kelar semua!" Kata Rita yang masuk kamarnya. Dan rebahan sebentar lalu membuka lagi bungkusan keripiknya. Dia melihat lemari makanannya sudah full dan dia tidak perlu membeli makanan lain lagi🀣🀣🀣. Sebagian kadang kakaknya meminta juga adiknya ibunya dan bapaknya. Tapi Rita kelompokkan Asia dan Lokal karena ibu bapaknya lebih suka yang biasa. Mereka selalu bilang kalau sedang ingin apa, kalau tidak Rita bisa meledak. Jadi mereka memang sudah terbiasa dengan kebiasaan Rita kalau punya banyak uang. Termasuk ponakannya juga yang sering banget masuk kamarnya. Kalau mau apa - apa harus bilang.

__ADS_1



BERSAMBUNG ...


__ADS_2