ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
AKHIR


__ADS_3

( Bagian ini dengarkan lagu Imagine - Demons )


Ney : "Arnila? Berubah bagaimana?" " ( penasaran )


Arfa : "Siapapun yang sudah kamu lukai di masa-masa dulu, mereka akan berkembang menjadi bunga yang indah. Jangan heran saat itu pula, mereka juga akan menolak kehadiran kamu yang mementingkan status,"


Ney : "Hah? Maksudnya apa sih?"


Arfa : "Orang yang dulunya disakiti, di bully banyak ya contohnya. Saat besar nanti, berkembang mereka akan jadi orang yang lebih sukses. Ya sebelumnya banyak direndahkan, tapi kita tidak akan pernah tahu bagaimana nasib mereka. Coba deh kamu banyak nonton drama Korea,"


Ney : "Apa hubungannya aku sama film? Itu kan isinya bohongan,"


Arfa : "Ada juga kok yang sungguhan. Banyak lagi, kamu saja yang tidak tahu. Yang lagi hot sekarang kan filmnya The Glory. Nonton deh,"


Ney : "Memangnya soal apa sampai aku harus nonton film itu?"


Arfa : "Film yang menceritakan pembalasan dendam karena pernah di bully. Itu film ya lebih parah karena si korbannya benar-benar membalas. Kalau Rita, balas perundungan ya tinggal berdoa plus kamu dihapus dari daftar dunianya. Lebih mending ini kan,"


Ney terdiam mendengarnya. Kalau Arfa sampai setahu itu tentang filmnya, berarti menurut dia Rita memblokir sampai menghapus semua media sosialnya, termasuk ringan.


Sepulang dari sana dia akan mencoba menonton The Glory. Teman-temannya juga sedang heboh soal film tersebut. "Ya kalau kalian penggemar Song Hye Kyo. Jangan sampai dilewatkan, seru sekali!" Itu kata yang lain.


Ney : "Kalau mereka sampai jadi sukses berarti omongan aku itu sebenarnya pembawa keberuntungan dong. Harusnya aku lebih mereka hormati,"


Arfa : ( tertawa keras ) "Ya Tuhan, bukannya sadar malah bangga. Mulutmu harimaumu, meskipun mereka sukses karena omongan sadis kamu, apa kamu pikir mereka tidak akan mengadu kelakuan kamu?"


Ney : "Mengadu ke siapa?"


Arfa : "Tuhan mereka lah. Oke sih kalau mereka satu aliran dengan kamu tapi kalau berbeda, ya dadah. Tekad mereka, Ney. Tekad bila sukses nanti, mereka tidak akan menerima orang seperti kamu, mereka akan lebih hati-hati lagi. Mereka berkembang menjadi maju bukan karena omongan kamu tapi keinginan kuat mereka,"


Ney meremas bajunya, rasa kesal karena penjelasan Arfa dan mungkin memang begitu karena beberapa teman banyak yang berhasil. Dia berusaha mengontak, ya mereka bicara dengan biasa tapi seperti ada batasan.


Ney : "Oke, soal masalah itu aku tidak peduli mau mereka menerima aku atau tidak. Aku tidak PEDULI! Terus... soal Rita bagaimana lagi? Dia akan sendirian lagi kan kalau aku tidak ada,"


Arfa : "Masalah kamu itu memang sama dia terus ya. Yah, jangan cemas dia akan baik-baik saja kok,"


Ney : "Oh ya? Dia tidak... merasa ada yang kurang?"


Arfa : "Temannya banyak sejak SMP ada teman tapi beda kelas,"


Ney : "Beda kelas? Kok dia tidak cerita sih?"


Arfa : "Untuk apa? Bukan urusan kamu juga kali! Sebelum kamu kenal dia, ya dia sudah temenan sama mereka, ditambah yang 5 lagi ya. Wihhh bukan anak-anak sembarangan juga mereka. Rita ini polos ya, dia tidak peduli dengan siapa dia berteman,"


Ney fokus pada Arfa, tentulah dia ingat soal kelima itu. Tak disangka mereka berenam masih berteman meski terpisah jarak yang jauh. Ney sempat menanyakan kenapa mereka mau berteman dengan Rita.


Sina menjawab kalau Rita tidak pernah memikirkan anak siapa mereka, mereka sama -sama mau menerima meskipun status berbeda. Yang lain menjawab bahwa Rita sangat konyol makanya mereka betah dengannya.


Ney : "Lalu apa dia akan terus berhubungan dengan Alex?"


Arfa : "Hmmmm aku tidak mau menjawab, itu bukan urusan aku. Kamu kesini karena ingin bertanya soal diri kamu dengan dia kan. Lalu kenapa jadi kepo soal orang asing itu?"


Ney diam. Mana bisa dia memaksa Arfa dan mana mungkin juga dia bilang karena kepo.


Arfa : "Pokoknya akan ada banyak orang yang melindungi dia. Hubungan kamu sama dia lebih baik, cut dari sekarang. Kalau dia maunya seperti sekarang, ya sudah kenapa kamu terus kepo sih?"


Ney : "Hmmmm. Kalau aku tetap berjuang supaya diterima lagi sama dia memangnya kenapa?"


Arfa : "Kalau kamu mau begitu, akan ada resiko yang akan kamu terima nanti,"


Ney : "Aku tidak takut. Berarti bisa kan?"


Arfa : "Apa yang kamu lakukan ke dia akan ada banyak orang yang tahu. Apa yang menyebabkan mantan teman kamu ini sangat sedih dan sangat kecewa, sehingga hatinya sulit disembuhkan,"


Ney : "Jadi meskipun aku sudah minta maaf, hatinya masih terluka?"


Arfa : "Iya dan sangat dalam. Tidak bisa hanya dengan minta maaf ke dia, Ney. Kalau kamu enggan minta maaf ke keluarganya terutama ibunya, saran aku kembali lagi. Tinggalkan. Kamu kan sudah punya banyak teman yang searah. Kenapa sih harus terus mencoba kejar dia?"


Ney : "Ya siapa tahu dia sudah melupakan apa yang aku lakukan dulu,"


Arfa : "Hahaha jangan anggap remeh hati yang sudah terkoyak terluka dalam, Ney. Kamu kalau luka karena jatuh, sembuh bukan didekati kan tapi diberi obat. Ya sama dia juga harus diobati tapi bukan sama kamu,"


Ney : "Terus kalau dia menikah, aku akan diundangnya tidak? Aku merasa tidak akan deh,"


Arfa : "Ya bagus kalau sudah sadar,"

__ADS_1


Ney memelototi Arfa dengan kesal. Arfa angkat bahu, repot amat!


Arfa : "Kalau kamu mau diundang, bisa kok,"


Ney : ( kaget tapi sumringah ) "Benar!? Wah! Berarti dia membuka kesempatan lagi dong buat aku. iya kan?"


Arfa : "Kamu harus meminta maaf pada keluarganya, itu syaratnya. Urusan siapa mengundang ke siapa, ya mudah,"


Ney agak sebal ternyata tidak mudah memang agar bisa diundang.


Ney : "Aku harus banget minta maaf ke Ibunya?"


Arfa : "Iya, kenapa aku harus selalu mengingatkan dalam grup ya untuk tidak sekali-kali kalian, kalau tidak suka orang jangan serang pribadinya apalagi kalau orang itu memang baik. Orang asing itu juga banyak salahnya, belagu mentang- mentang status terpandang,"


Ney : "Hahahaha iya memang dia yang salah aku kan juga korbannya,"


Arfa : "Kok kamu bangga jadi korban dia? Hanya saja orang asing itu berbeda, dia akhirnya sadar kenapa mantan teman kamu begitu. Dia langsung meminta maaf setelah kalian semua bubar,"


Ney : "Oh,"


Ney tertunduk menatap sepatunya lagi. Ternyata Alex lebih cepat sadar daripada dia, apalagi tak harus menunggu sampai 2 tahun?


Setelah bubar mereka berempat saling merenung. Rita sambil bekerja lalu istirahat sekolah, Arnila yang mengurus keluarga kecilnya juga saat semua beres, berpikir, Alex yang ternyata terbaring lemah beberapa kali juga banyak merenung.


Ney? Jangan ditanya deh. 2 tahun baru banyak bertanya pada orang, menyadari kalau perilaku dia yang cukup kelewat batas. Setiap orang memiliki perbedaan pemikiran, seharusnya dia lebih paham.


Ney berpikir, baru berpikir selama ini dia lebih memilih diam karena sadar kalau omongannya pasti nyelekit. Tapi kenapa dia malah memuntahkan saat Rita kenal Alex?


Waktu tidak dapat diputar ulang, mau memperbaiki segalanya satu-satunya jalan hanyalah melepaskan dan jangan melihat arah belakang. Ingatlah sebagai pembelajaran, dengan itu kita bisa jadi tahu dan tidak melakukan hal yang sama.


Ney : "Pasti Arnila yang bisa menyembuhkan dia karena chemistry mereka kan sama, Fa,"


Arfa : "Memang aku akui ya Arnila itu cocok masuk ke circle mantan teman kamu, tapi bukan dia yang bisa membuat hatinya kembali normal. Bukan juga laki-laki asing itu, sangat sulit memulihkan hatinya kalau dengan orang biasa,"


Ney : "Jadi dia pilih sama orang-orang yang berpengaruh? Kok pilih-pilih?"


Arfa : "Orang yang lebih halus dan lembut hatinya, tutur katanya bisa membuat mantan kamu lebih tenang. Orang yang lebih mengerti tentang yang dirasakannya. Pemikirannya sangat netral, kalian bertiga tidak masuk ke dalam kategori bisa menyembuhkan luka batin nya,"


Arfa menatap Ney dengan tatapan biasa. Ney hanya bengong, dia bertanya-tanya kalau bukan salah satu di antara mereka lalu siapa?


Arfa : "Tidak perlu kepo siapa mereka. Hanya Allah swt yang tahu dan orang itu,"


Arfa : "Orang-orang itu juga yang akan menggantikan posisi kamu. Jadi jawabannya tetap tidak bisa dekat. Dia mau memaafkan kamu dari hati yang luka, membuat kamu normal tetap tidak akan ada kesempatan lagi. Dia akan cari pengganti yang lebih baik,"


Ney berhenti bertanya jadi jawaban apapun, mau dia akan berubah juga akhirnya akan sama.


Ney : "Soal Arnila bagaimana? Dia sekarang tidak bisa aku hubungi, Fa,"


Arfa : "Ya sama apa sih gunanya? Kamu dekat ke dia karena kepo pasti ada kontak dengan mantan kamu kan. Buat apa sih? Kepo sama urusan orang? Dia mau deket sama siapa pun, apa urusan kamu? Hobi kamu itu coba dong arahkan ke yang lebih baik,"


Ney : "Sudah deh jawab saja! Aku kan bayar kamu buat jawab bukan ceramah! Jadi bagaimana?"


Arfa : "Dikasih saran malah marah-marah. Kalau kamu aku hanya jawab antara Ya dan Tidak. Jangan komplen!"


Ney menahan emosinya.


Ney : "Iya iya, jadi bagaimana?"


Arfa melihat kartunya dan mengangguk.


Arfa : "Dia juga sama akhirnya dengan mantan kamu. Kalian akan terpisah sangat jaaauuuh sekali. Kamu sama anak ini juga tidak cocok, heran kamu kenapa sih dekati orang yang alirannya berbeda? Pemikiran beda, visi beda, semua beda,"


Ney : "Menjauh dari aku juga?"


Arfa : "Menurut kamu? Berhenti jadi orang toxic dan bergaul lah sesuai dengan aliran kamu sendiri,"


Ney : "Apa tidak nyambung? Aku pikir dia satu aliran kok sama aku,"


Arfa : "Bedaaaa. Kalau kamu mau masuk circle dia atau mantan, kamu harus menurunkan level pemikiran, omongan kamu dijaga dan tidak perlu sok tinggi. Kamu harus mengerti yang mereka rasakan, dia dan mantan tuh sama tipe-tipe sensitif, jadi kamu harus lebih menjaga bukan nyablak,"


Ney : "Oh... aku kira... dia bisa menerima,"


Arfa : "Yang menerima kamu, ya orang seperti aku, ketua, atau Safa, Feb dan lainnya karena kita sama-sama mulut pedas. Di luar mereka juga tidak asal nyablak kok. Ada lagi yang mau kamu tanya soal Arnila?"


Ney : ( memainkan jarinya sendiri ) "Tidak ada, hanya bertanya saja,"

__ADS_1


Arfa : "Begini ya Ney, bukannya aku ikut campur tapi jangan ganggu mereka berdua lagi. Kamu kepo melalui Arnila, ya sama saja kamu kepo sama Rita ini kan. Sudah! Sudah berlalu, buat apa kamu begitu lagi?"


Ney : "Bukan urusan kamu deh!"


Arfa : "Oke deh konsul kamu sudah 3 jam sama aku. Aku harap kamu mengerti ya dengan semuanya yang sudah terjadi. Jangan menyalahkan mereka bertiga karena ini semua sudah garis jalan dari Tuhan. Jalani saja, semuanya adalah skenario dari Maha Tahu,"


Ney : "Harus berakhir sama mereka kok aku merasa tidak adil ya?"


Arfa : "Tuhan itu Maha Adil, Maha Tahu. Kita mana tahu rencanaNya tapi itu yang terbaik. Terus kamu jangan suka kirim santet ya,"


Ney kaget.


Arfa : "Aku tahu kamu dan laki-laki asing itu memasang santet ke mantan dan Arnila. Kalian itu sama-sama parah! Tapi semuanya berakhir kok,"


Ney : "Itu bukan santet!"


Arfa : "Itu santet. Kamu kirim apapun yang tidak terlihat, mau bentuk kabel, benang atau bahkan dalam bentuk lain namanya Santet atau telung. Meski kamu niatnya hanya Kepo, tetap Santet jatuhnya. Hentikan, buat apa? Kamu tidak perlu merasa kepo sama dua itu toh mereka tidak pernah kepo sama kamu. Jangan pura-pura tidak tahu,"


Ney terdiam, ya syok ya kaget. Bersamaan. Sama sekali tidak menyangka hal seperti itu juga bisa dilihat oleh Arfa.


Ney : "Aku... aku tidak punya niat jelek kok memasang itu!"


Arfa : "Kepo? Itu kan jelek. Tapi hidup kamu memang bosan sih makanya kamu Kepo ke semua orang. Tapi niat kepo kamu itu untuk bergosip, tandanya memang kamu iri. Kalau ada kabar yang bagus, kamu ambil dan jadikan sebagai hidup kamu,"


Arfa menatap Ney dengan pandangan 'Ogah deh aku dekat'. Ney tahu dia hanya senyum tipis.


Arfa : "Ini pesan untuk kamu saja, kamu tidak akan pernah bisa kembali pada siapapun yang telah kamu lukai. Hak orang ya mereka suka sama kamu atau tidak, bukan kewajiban mereka kamu harus disukai. Rita dan Arnila juga si Alex kampret itu juga sama,"


Ney hanya diam, giginya dia gemeretak kan karena marah.


Arfa : "Sah dan wajar orang menolak jadi teman atau ada yang menyambut. Semua orang pernah terluka tapi bukan berarti kamu malah membalas ke orang yang tulus. Terserah kalau kamu mau teruskan pekerjaan kamu kirim-kirim kabel awas saja kalau kamu pasang ke sepupu aku!"


Ney kemudian mengambil uang dari dalam tasnya dan memberikannya di atas meja.


Ney : "Nih, aku bayar! Aku juga sudah muak dengar ceramah kamu!"


Arfa : "Ca, tuh duit dia. Mau niat kamu seperti apapun tetap itu tidak boleh. Tahu kan privasi? Kamu juga terganggu kalau semua orang bisa membaca pikiran kamu, sama dengan mereka. Mereka sudah tahu jeleknya kamu seperti apa jadi tidak perlu menyalahkan. Sadari sendiri dan bercermin,"


Asisten Arfa datang dan menaruh uang tersebut dalam lemari. Buku tamu dia keluarkan yang baru karena sudah habis.


Ney masih duduk toh Arfa belum mengijinkan dan dia juga merasa agak berat.


Arfa : "Padahal kan Tuhan kamu juga melarang dijelaskan dengan jelas pelaku santet tidak akan diampuni dosanya tapi kamu masih melakukannya? Memang tidak takut dosa ya. Perbuatan kamu itu termasuk Musyrik, bisa-bisanya kamu bilang ke mantan teman, belajar ghaib sirik tapi kamu sendiri melakukannya. Munafik,"


Ney : "Sudah! Sudah! Makin aku dengar omongan kamu, makin melantur! Aku mau pulang saja!"


Ney berdiri dan melangkah begitu saja. Arfa mengejar dan menarik tangannya.


Arfa : "Ingat ya Ney yang benci kamu itu banyak bukan hanya orang yang kamu kenal di 2 tahun silam, teman kamu juga terluka hatinya dengan perbuatan kamu. Doa-doa dari orang-orang yang kamu dzalimi menembus langit dan satu per satu akan turun menghujani kamu. Saran aku, jauhi mereka."


Arfa melepaskan tangan Ney, dan Ney terdiam lalu buru-buru pulang. Dia menelepon suaminya dan janji ketemu. Kedua tangannya gemetaran mengingat apa kata Arfa.


Semenjak peristiwa itu hubungan keduanya pun semakin memburuk. Mereka saling menyerang dalam grup dengan segala yang mereka miliki. Tidak ada yang menghentikan, semuanya bercampur aduk menimpali.


Kadang Ney merasa lelah sekali, dia merasakan grupnya dahulu bertiga selalu saja Arnila menjadi penengahnya. Tapi kelompoknya yang sekarang tidak ada yang begitu, malah semakin membara karena semua buka suara.


Hubungannya dengan Arnila oun semakin lama merenggang, Ney mulai fokus pada kegiatannya dengan temannya yang satu visi. Dia mencoba mengirimkan sesuatu tapi terasa seperti ada yang menebasnya atau tidak sampai tujuan.


Ney juga masih kepo pada Rita karena Arnila sudah Out, dia mencari ide untuk mengetahui kabarnya. Benar kata Arfa, semua usaha dia nihil sudah mengirimkan tanda, Rita sama sekali tidak merasakan apapun.


Ney menyadari sesuatu dari tukang mengintipnya bahwa Rita berada di Jakarta, dengan sigap dia bergegas pergi setelah menitipkan anaknya ke ibunya yang berkunjung.


Rita memang berkunjung ke Jakarta untuk menemui saudara sepupunya disana dan jalan-jalan di mall. Ney pura-pura jalan di depannya, dalam hati dia senang dan ingin menguji.


Rita tahu itu Ney tapi dia bersikap acuh, Rita tidak sedang memegang ponselnya dan melihat-lihat toko. Saat Ney berada tepat di depannya, Rita menatap ke depan dan melewatinya.


"Hai, Ri..." kata Ney menyapa.


Rita hanya lewat dengan wajah yang biasa, Ney bengong dan menatap Rita. Orang-orang yang melihatnya berbisik bila Ney salah orang. Ney menggigit bibir bawahnya, apakah Rita sedang pura-pura?


"Eh, Rita! Kok tidak menyapa? Sudah lama ya tidak ketemu. Aku tahu kamu ke Jakarta, lagi apa?" Tanya Ney.


Rita memandangi dengan sangaaat datar dan tidak menjawab, memilih pergi. Ney hanya diam di tempatnya, inikah apa yang dikatakan oleh Arfa? Pandangan Rita sangat kosong menatapnya.


Kejauhan Ney berbalik dan melihat seorang perempuan yang menghampiri Rita, bukan perempuan dewasa. Usianya sekitar 20 tahun, mereka sangat akrab keduanya bercanda dan tertawa bersama.

__ADS_1


Bagi Rita, Ney adalah sosok masa lalu yang tidak ingin lagi dia lihat, dia benar-benar telah melupakannya. Ney penasaran siapakah perempuan muda yang akrab dengan Rita?


...THE END...


__ADS_2