
Akhirnyaaaaa malam pun poek ( gelap ). Ney berjalan ke rumah dengan sempoyongan. Badannya serasa hancur lebur karena pekerjaan di Cafe lumayan banyak. Dia masuk ke dalam kamarnya langsung rebahan di kasurnya yang empuk. Sebelum pulang dia memang dipanggil dahulu ke kantor Bos Cafe dan ditanya soal visinya bekerja di Cafe tersebut. Dan dia diperingati agar bekerja sebaiknya bukan berusaha menyebarkan kabar tak baik apalagi sampai bermaksud mencari dukungan untuk mengeluarkan seseorang.
"Saya tahu kelihatannya kamu bermasalah dengan seorang pegawai di Cafe ini tapi tolong ya kesampingkan masalah kamu sama dia. Toh yang saya lihat dia sama sekali tidak pernah menyinggung soal apapun ke anak - anakbsoal kamu. Siapapun orangnya saya tidak mau tahu, kalau kamu benar - benar butuh uang dari tempat saya, tolong perlihatkan kerja kamu yang baik. Kalau kamu bekerja hanya ingin membuat dia dikeluarkan, sebaiknya kamu jangan perpanjang kontrak lagi." Kata Bosnya memberi teguran. Melihat Cafenya beberapa pegawai seperti tidak nyaman dengan berita yang ada.
"Baik, Bos. Maaf." Kata Ney sambil melihat kedua kakinya.
Bos Cafe hanya menggelengkan kepalanya, 'Untung hanya 3 bulan kebayang kalau benar saya kontrak dia selama setahun.' Pikir Bos kemudian mengijinkan Ney untuk pulang. Ney keluar sambil manyun dia kesal. Sebelum pulang, Bosnya datang lagi.
"Ney, kalau pekerjaan Asisten kamu sudah selesai tapi masih banyak waktu bantu para pekerja yang lain jangan diam saja! Kalau kamu mau bonus kamu harus bekerja keras. Mengerti?" Tanya Bosnya. Ney mengangguk mengerti lalu sedikit melemparkan sekumpulan data ke atas meja.
'Dipikirnya gue banyak waktu apa? Nih pekerjaan memang mulai sedikit sih tapi masa gue harus sama pekerjaannya seperti Rita?' Pikir Ney kesal banget. Dia pikir bekerja di Cafe itu lebih enak apalagi sebagai Asisten yang ternyata merangkap segalanya berdua dengan Aura. Melihat pekerjaan Aura yang sedikit sempat membuat Ney berpikir negatif, apa karena dia diterima lalu semua pekerjaan dia, dia berikan begitu saja pada dirinya? Ah mana mungkin setiap harinya Ney lihat sendiri Aura banyak menghandle berbagai macam tugas.
Di kamarnya dia membuka lagi amplop gajinya lalu dilemparkan begitu saja dia kesal tidak bisa menyaingi milik Rita. Lalu ibunya datang melihat ada hamburan uang lalu dibereskan.
"Hargai dong kerja keras kamu masa uang dibuang begitu saja?" Tanya ibunya melihat Ney cemberut.
"Aku kesal, ma! Aku kan kerja sebagai Asisten lalu banyak kerja tapi ternyata gajinya masih lebih besar Rita!" Kata Ney yang masih tidak mau beranjak.
"Rita bekerja sebagai apa?" Tanya ibunya lalu menyimpan uangnya di atas meja.
"Dia sebagai pelayan kadang cuci piring juga tapi kok bisa gajinya lebih besar dia!?" Kata Ney kesal.
Ibunya tersenyum. "Kalau begitu coba saja kamu kerjakan pekerjaannya Rita jadi kamu bisa tahu kenapa gaji dia lebih besar dari kamu," kata ibunya lalu keluar kamarnya.
"Hah!? Jadi pelayan?! Ogah banget!!" Teriak Ney lalu termenung sendiri. Dia melihat jam sudah menunjukkan angka 10 malam. Rita pasti sudah pulang, setelahnya dia telepon ke Rita daripada chat. Beberapa menit kemudian....
"Assalamualaikum. Naon? ( Apa? )" Tanya Rita mengangkat ponselnya.
"Kamu kemana sih tadi jam 4 sore? Bekerja di tempat lain ya?" Tanya Ney agak jutek dan tanpa membalas salam.
"Aku kan kuliah, Ney. Mereka sudah tahu kok jadwalnya. Aku kerja seminggu hanya 4x dari hari Kamis sampai Minggu, nah setiap jam 4 aku selesai duluan kuliah sampai jam 9 malam," jelas Rita.
Ney yang mendengarnya kaget sekali sampai semalam itu!? "Hah? 4 hari itu kamu bolos?"
__ADS_1
"Kamu nih bagaimana sih aku kan sudah jelaskan tadi pasang dong telinga dengan benar! Soal lelaki saja baru bisa fokus. Aku tidak pernah bolos meski kerja sambilan, gila saja kalau sampai bolos kuliah. Kapan aku lulusnya coba," kata Rita menerangkan. Dia juga sedang rebahan apalagi dirinya kurang enak badan dan agak meriang.
"Oh iya ya. Itu kamu sudah ada kesepakatan atau bagaimana?" Tanya Ney dengan sedikit malas tapi penasaran juga
"Kalau pegawai lain kan jadwal kerjanya dari pagi jam 8 kalau aku lebih pagi lagi. Kesepakatannya aku ganti karena kan kuliah dan aku kerja disana sampai aku lulus saja, sudahnya ya aku kejar sesuai jurusan kuliah. Kamu tadi dipanggil kenapa?" Tanya Rita ingin tahu.
"Tidak apa - apa hanya ditambah saja tugasnya. Kamu juga dulu begitu?" Tanya Ney.
"Iya. Semuanya sama saja nanti juga kamu aku yakin bakalan disuruh jadi Waitres. Supaya semuanya bisa merasakan semua posisi," jelas Rita yang kemudian menonton film di ruang tengah.
"Ah, masa sih? Kan gue jabatannya Asisten," kata Ney langsung lemas.
"Aku tahu kamu itu bagaimana. Kamu pasti bertanya - tanya kan kenapa gaji aku lebih besar daripada gaji kamu sebagai Asisten Cafe. Kalau mau tahu, ya coba rasakan saja pekerjaanku selama seminggu. Kamu akan tahu kenapa kami para Waiters gajinya lebih besar," kata Rita yang sudah tahu.
Ney terdiam ternyata Rita bisa menebak soal itu. Jadi selama ini meskipun Rita sibuk ternyata dia sempat memperhatikan sekelilingnya.
"Kamu sendiri kuliah tidak sampai terlantar kan?" Tanya Rita, dia ingat kalau lulus ada kemungkinan bersamaan dengan Ney.
"Haaah!? Kalau cuti kamu kapan lulus!? Semakin lama dong. Lama - lama kena D.O kan. Untuk yang masih kuliah pasti dikasih waktu banyak kok bilang aja ke Bos. Jangan sampai deh karena kerja sampingan, kuliah kamu terbengkalai Ney," kata Rita merasa aneh. Dia saja sampai bisa menggeser jam kerjanya harusnya Ney juga begitu.
"Ya aku kan jarak kampusnya jauh, Ri," kata Ney beralasan.
"Oh iya benar juga sih. Tempat kuliahku masih di sekitaran Gerlong sih. Tapi aku sih sayang banget kalau demi kerja ini kamu sampai cuti, tidak ada target mau kapan lulusnya?" Tanya Rita.
"Rita..." kata Ney yang berangsur - angsur memutuskan sesuatu.
"Apa? Ada apa sih?" Tanya Rita penasaran.
"Kamu masih marah kah sama aku soal perundungan yang aku buat sama Alex?" Tanyanya hati - hati.
"Menurut kamu? Coba pikir deh kapan aku pernah buat kamu dibully sama orang?" Tanya Rita mulai fokus.
"AKU MINTA MAAF!!" Kata Ney yang bersungguh - sungguh.
__ADS_1
"Yaa.. aku maafkan kok. Jangan begitu lagi ya kamu bilang kamu tahu banget soal aku jadi harusnya kamu tahu kalau cara yang kamu pilih dengan Alex tentu saja salah," kata Rita.
"Kamu sempat benci aku ya? Sekarang masih?" Tanya Ney yang agak... takut.
"Yah... karena aku trauma ya selama ini justru aku menjadi pribadi yang baik agar tidak terkena hal itu eh ternyata aku malah dapat perundungan dari teman aku sendiri yang sudah lama aku percaya. Saat semua orang mengatakan jelek soal kamu, aku sama sekali tidak pernah memikirkannya. Tapi saat... Aku benci kamu sangat!" Kata Rita dengan suara yang lemah.
Ney tertunduk mendengarnya, dia mengakui memang banyak salah pada Rita yang sengaja atau tidak disengaja. Tapi intinya : Dia iri.
"Aku tidak habis pikir kamu bilang aku lemot tidak peka kamu sendiri? Jangan jadi orang yang gampang dibenci deh, kamu tahu yang A tidak disukai berarti kamu lebih baik pilih yang lain. Bukan sudah tahu tidak disukai tapi kamu tetap pilih, ya salahlah! Aku trauma sekarang karena itu adalah hasil aku yang membela kamu selama ini?" Tanya Rita yang tertawa kering mengingat kejadian tahun lalu.
"Aku takut dibenci sama kamu," kata Ney dengan suara yang parau mau menangis. Tapi anehnya Rita sama sekali tidak percaya.
"Kok bisa sih baru tahun sekarang kamu terpikir 'Takut Dibenci?' Dulu waktu kamu lakukan itu apa dipikiran kamu pasti aku akan memaafkan lalu menganggap kamu Best Friend? Tidak Ney, tidak akan ada yang seperti itu dalam pikiranku. Yang ada, aku sudah cukup muak dengan kehadiran kamu dan keterlibatan si lelaki asing keparat Alex!" Teriak Rita. Rumahnya sepi karena yang lain belum pada pulang jadi dia bebas mengekspresikan emosinya.
Ney menangis mendengarnya mungkin terdengar memang dia tulus meminta maaf tapi masih ada yang membuat Rita enggan mendekatinya lagi. Dia sudah cukup kecewa berat dengan semuanya.
"Kamu tahu kan si Alex kampret mengadu domba kita? Atau kamu memang sadar tapi membiarkan dia sesukanya mengendalikan aku?" Tanya Rita. Ada jeda pada Ney tampaknya pilihannya yang kedua. "Lu benar - benar ya...."
"Iya sori sori aku minta maaf, sebenarnya aku sudah tahu. Nih aku kirim ya hasil chat kita berdua di bulan tengah kemarin. Sebenarnya aku kurang setuju juga," kata Ney meyakinkan.
"Ah, gue kurang percaya lagi sama lu. Lu terlalu banyak bohongnya, Ney. Alex selalu membela kamu, aku sudah capek! Sudah kamu berteman sama dia saja cocok kok sama - sama brengsek!" Kata Rita membuat Ney kaget setengah mati. "Aku kenal kamu dibilang kamu, aku sama sekali tidak peka. Siapa yang menyembunyikan soal status pacaran sebenarnya? Kamu atau aku? Bicara jujur! Sampai hati kamu bilang aku yang jahat," kata Rita yang menangis.
Ney hanya mendengar suara tangisan Rita, dia sama sekali tidak menyangka kalau Rita sebegitu sakit. Ney hanya terdiam mendengarnya apa yang dia lihat ternyata berbeda, apalagi dia juga yang membuat Alex berpihak kepadanya. Dia seharusnya merasa senang tapi... di sisi lain itu membuat dirinya kehilangan tempat pada Rita.
"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Ney merasa bersalah. "Aku tuh peduli sama kamu, Rita. Aku terlalu gemas sama kamu padahal Alex sudah jelas ada hati sama kamu,"
"Itu bukan urusan kamu. Kalau kamu tidak bisa secara baik - baik memberitahu, tidak perlu ikut campur. Kamu tinggal bilang pada Alex langsung bilang saja atau apapun," jelas Rita.
"Aku hanya merasa kamu tidak pernah kena perundungan jadi aku..." kata Ney akhirnya keluar.
"HEH! KAMU ITU TAHU APA!? AKU SEBELUM SMP SUDAH PERNAH DIRUNDUNG DAN LEBIH PARAHNYA SEKARANG OLEH ORANG YANG AKU MAU AKU ANGGAP SEBAGAI TEMAN DEKAT!!!" Teriak Rita membengkakkan telinga Ney. "Kalau kamu benar - benar punya otak ya, kamu tidak akan pernah berani berbuat seperti itu. Hanya karena pikiran kamu yang error, aku harus wajib merasakan dirundung sama kamu!? DASAR GILA!!!" Rita langsung menutup ponselnya dan menangis dengan keras di keheningan rumahnya yang sepi.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1