
"Kamu sekarang sama siapa?" Tanya Rita penasaran sampai giginya copot lagi sih.
"Aku balik lagi sama Dins," jawab Ney.
"EH!?" Karena Rita dan Arnila kenal juga dengan Dins, pacar dia yang ke 4 dari 8 orang. Aneh juga kenapa Dins sampai mau kembali pada Ney?
"Wah! Dins minta balikkan?" Tanya Arnila yang pasti kaget juga.
"Iya. Dia bilang mau mencoba lagi dari awal sama aku karena dia belum bisa melupakan aku begitu saja selama ini. Menurut kalian bagaimana? Aku agak meragu sih sebenarnya,"
"Ya bagus! Pantas gigi kamu copot, dia tahu soal Alex?" Tanya Arnila.
"Tidak tahulah kan baru makanya aku bilang menyerah soal Alex. Dins saja kali ini aku akan serius," kata Ney yang mantap dengan jawabannya.
"Yakeeen?" Tanya Rita dan Arnila bersamaan mengetiknya.
"Jangan banyak janji kamu tidak pernah bisa memegangnya. Kalau kali ini kamu salah lagi, bagaimana?" Ney tidak membalas. Mudah baginya banyak janji tapi untuk memegangnya kebanyakan dia loss.
"Ya pokoknya berhenti nakal, deh cukup dengan Dins saja bisa jadi dia jodoh kamu. Sudah berapa kali balikan?" Tanya Rita.
"Ini yang ke 4 kalinya, Ti," jawab Ney.
"WOW! Mudah - mudahan kali ini serius, ya. Sudah Arnila, kamu yang menikah, aku sih masih belum mantap. Entah dengan siapa juga, kalau soal Alex aku tidak mau buru - buru. Baru perkenalan aku tidak mau serius dulu sampai aku benar - benar kenal dia," kata Rita dengan kalimat yang tegas.
"Eh ngomong - ngomong soal Anggara, dia benar-benar anak Unpad ya?" Tanya Ney tiba - tiba. Baru juga dia bilang mau serius sama Dins, sekarang tampaknya sudah mau berubah lagi. Payah!
"Hayooo tepati janji kamu, kamu sudah punya Dins jangan cari yang lain lagi meski Anggara tampan juga. Setia dong sama satu orang bagaimana nanti kalau kamu menikah? Masa mau selingkuh terus sih?" Kata Rita yang kecewa dengan keteguhannya.
"Tidak dong hanya Dins seorang. Aku kan hanya bertanya bukan tertarik, takutnya sama dengan Alex ada cacatnya," begitulah dia tidak bisa dipercaya dengan janjinya. Jadi Rita mencoba untuk menguji kesetiaannya.
"Besok aku off grup ya," kata Rita sengaja memberitahukan. Bisa saja sih dia tidak beritahu tapi dia ingin menguji soal perkataan Ney. Rita bisa tahu seperti apa kelayakan Ney.
__ADS_1
"Mau kemana?" Tanya Ney.
"Ada janji. Aku mau pinjam buku psikologi anak di Unpad," kata Rita. Kira - kira bagaimana ya reaksi Ney? Kalau dia benar - benar memilih serius setia sama Dins, dia tidak akan mau ikut.
"Wah! Janjian sama Anggara, ya?" Tanya Ney yang langsung membalas.
"Memang kenapa kalau Rita janjian dengan Anggara?" Tanya Arnila yang sudah tahu juga muslihat Ney.
"Kamu sendiri bertemu dengan lelaki lain, Alex mau dikemanain?" Tanya Ney yang tampaknya menganggap Rita sama saja dengan dirinya.
"Alex sudah tahu ko, aku kan bilang juga ke dia,"
"Dia tidak marah?" Tanya Arnila.
"Aku sudah bilang jangan marah karena aku sama dia juga bukan siapa - siapa. Hanya dia bilang jangan sampai malam. Aku janji mau bertemu di perpustakaan saja. Kenapa? Kamu mau ikut?" Tanya Rita. Yakin 100% dia pasti ingin ikut untuk melihat tampilan asli Anggara yang lolos dari target buruannya.
"Boleh! Besok aku juga ada rencana mau beli sesuatu di Gramedia," Ney beralasan gengsi dia kalau sebenarnya niatnya ingin bertemu Anggara.
"Serius mau cari sesuatu atau hanya mencari alasan? Hati - hati takutnya Dins tahu kamu cari lelaki lain lagi. Semakin berabe nanti," Rita berhasil memancing Ney, karena memang Rita tidak percaya dan sangat gampang menguji Ney.
"Oke!" Jawab Ney dengan semangat.
Arnila pasti menjapri Rita dan benar saja. "Serius kamu mau ke Unpad atau rencana kamu saja?"
"Serius. Aku ada tugas psikologi, buku di perpustakaan Unpad kan lengkap dan memang ada beberapa referensi disana. Aku sudah berjanji mau bertemu dengan Anggara. Lagipula Anggara sendiri yang meminta diketemukan dengan Ney,"
"Hah!? Serius!? Buat apa?" Tanya Arnila terkejut.
"Kan kabar soal Ney itu tersebar di kampusnya apalagi kata Anggara yang namanya Ney jurusan Administrasi Negara itu suka plagiat tugas. Nah dia kaget ternyata waktu aku tanya soal Ney ke dia, dia penasaran. 'Oh kamu kenal? Bisa dong buat dia datang ke sini?'" jelas Rita.
"Ow! Terkenal juga ya Ney hahaha sampai ke gedung depan. Iya memang sudah santer banget deh kalau soal Ney, dia juga pernah menyogok salah satu dosennya sendiri. Akhirnya ya dia di black list dari daftar absen," kata Arnila.
__ADS_1
"Ya Allah, buat apa sih dia begitu? Ih kalau aku sih super malu sampai didepak,"
"Buat tugasnya. Dia beralasan sibuk padahal malas. Dan minta buat dia dipermudah gitu, Ri ya untungnya dosennya jujur dan tegas banget. Besoknya nama dia tidak ada di daftarnya, anak - anak sih sudah pada hapal. Baru deh di semester selanjutnya, dia ambil materi dari dosen yang berbeda," Wah banget sampai sebegitunya kehidupan kampusnya dia yang Rita tidak ketahui.
"Parah banget! Soal chat yang aku kirim itu, apa dia jujur kalau hanya melihat chat aku saja?" Tanya Rita mengalihkan topik.
"Jujur. Kata dia memang hanya bisa melihat chat kamu saja, penjaganya itu tidak ada. Menurut kamu bagaimana?" Tanya Arnila lagi.
"Ya sudah tentulah itu indera ketujuhnya hanya setengah, jadi kamu jangan takut sama dia. Lagipula kenapa sih kamu sepertinya lebih takut sama Ney? Dia itu manusia yang bisa salah juga," kata Rita.
"Bagaimana ya makanya itu aku cerita ke kamu kan. Aku ruqyah setiap bulan, mungkin terkena santet dia ya. Tapi sekarang in sha allah aku mulai bisa melawan,"
"Dia ingin apa dari kamu, kalau kamu tidak suka bilang dan galak! Jangan segala takut ini itu, makanya dia malah melonjak. Menyepelekan kamu sampai sekarang. Jangan seperti aku, gara - gara aku juga sama seperti kamu, malah dimanfaatkan sama dia," kata Rita sebenarnya segan untuk menceritakannya karena Rita berpikir, Arnila sudah lama dekat dengan Ney pasti ada sifatnya yang sama seperti Ney. Apalagi Arnila orangnya gampang takut dan gampang terpengaruh.
"Iya. Intinya kemampuan dia mungkin memang bisa tahu kita bicara soal apa tapi ada sebagian yang dia tidak tahu. Aku tidak percaya dengan informasi dari khodamnya. Bagaimanapun itu jin yang kafir, khodam Islam itu hanya dimiliki oleh satu orang Nabi. Kalau dengan manusia ya tetap saja kafir, mana ada Jin yang mau tunduk hanya karena sudah mengucapkan syahadat,"
"Begitu ya?" Tanya Arnila.
"Kamu cari deh di Gugel banyak soal itu. Jangan terlalu tunduk dengan jin meski dia didatangkan untuk menjaga. Satu - satunya yang bisa dipercaya hanya penjagaan dari Allah yaitu malaikat. Salah satunya Daeng, jin bisa seenaknya memberi informasi yang salah atau benar. Kamu baca kan apa yang dia tangkap waktu kita mengobrol. Ya hanya segitu yang dia tahu," kata Rita.
"Iya ya aku sudah deg - degan juga, Ri takutnya dia benar tahu ternyata hanya segitu," kata Arnila. Rita merasa perlu berhati - hati terhadap Arnila juga meski dia akui Arnila sangat baik padanya. Dan terkadang memang memiliki hati yang tulus sebagai seorang teman.
"Tapi tidak tahu juga dia tuh memang sifatnya tidak pernah mau kalah dan tidak mau ada dibawah,"
"Soal penjaga ya? Kamu benar - benar tidak bisa merasakan apa - apa soal Daeng?" Tanya Arnila. Terkadang Rita juga merasa kalau Arnila sama seperti dirinya yang kurang peka. Polos juga dan memerlukan banyak penjelasan pada Arnila.
"Bukan soal penjaga juga, Arnila hal lain juga. Bukan hal mistis tapi nyatanya memang begitu. Soal harta, materi, fisik juga kan. Awal - awal bagaimana coba seperti dia yang paling cantik saja padahal perawatan diri saja tidak pernah. Kalau soal penjaga dia memang aku tidak merasakan apa - apa. Sama dengan majikannya sangat tertutup,"
"Iya juga ya,"
"Aku kira khodam itu bisa membantu manusia menuju kebaikan tapi nyatanya mengecewakan. Apa bagusnya memiliki khodam kalau bisa dipakainya hanya untuk berkelahi saja?" Tanya Rita yang memang dalam pikirannya, khodam itu tidak ada kegunaan yang bermanfaat. Pamer mungkin?
__ADS_1
"Hahaha tidak tahu juga, Ri aku saja bingung kenapa bisa sampai punya juga karena tidak butuh," kata Arnila.
BERSAMBUNG ...