
"Rita, Diana sama Kokom, terima kasih ya cokelatnya!" Semuanya serentak sambil menikmati cokelat yang mereka punya.
"Buat aku dibagikan saja kan aku yang kasih. Aku sudah cukup banyak makan cokelat," kata Rita sambil memberikan lagi kepada mereka.
Langsung saja Ney berjalan ke arah Rita dan bermaksud mengambil semuanya. "Buat aku saja deh sini,"
Tapi sayangnya Siti sudah menjangkau semuanya. "Tidak tidak tidak kita bagikan saja ya supaya merata," katanya yang lalu dibagikan ke semuanya dengan pas.
Ney menghela nafas dan memandang ke arah lain tapi dia juga dapat bagian lalu memakannya dengan sikap bete. Mereka semua menikmati semua cokelat itu, tentu saja Diana dan Komariah menyimpan setengahnya untuk mereka sendiri. Mereka berdua sudah menghitung total kelompok yang datang berapa orang termasuk Ney meskipun bukan kelompok mereka. Setelah itu mereka masih melanjutkan acara jelong - jelongnya dan masuk ke sebuah toko boneka.
Melihat kesempatan lagi Ney kemudian meminta untuk berbicara sebentar dengan Diana, mereka semua penasaran dan Komariah menyusul juga meski Ney melarangnya.
"Kamu tidak perlu datang juga keperluan aku itu sama Diana bukan kamu," kata Ney dengan sinis.
"Saya temannya mbak Diana, terserah saya dong," kata Komariah balik sinis.
"Sudah, Kom tidak apa - apa tunggu saja disana sama yang lain kebetulan aku juga ada perlu sama Ney," kata Diana memegangi tangannya Komariah.
"Tuh kan, lebih baik kamu kesana deh sama teman kamu yang lain. Orang aku sama Diana ada urusan kok," Kata Ney mengusir Komariah dengan mengibaskan tangannya.
"Oke, kalau ada apa - apa teriak ya. Nanti aku kesini hajar tukang bully!" Kata Komariah yang lalu pergi meninggalkan Diana.
Ney kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Komariah sedangkan Diana tertawa mendengarnya. Mereka semua menduga kira - kira apa yang akan dibicarakan Diana dengan Ney?
"Kalian mau nonton?" Tanya Tamada.
"Tuh ada tontonan menarik. Penasaran tidak?" Tanya Komariah menunjukkan ke arah depan.
"Kesana yuk, kita tidak akan kelihatan dari sana," usul Tamada.
"Aku sama Siti disini deh supaya tidak terlalu terlihat kalau kalian mencuri dengar," kata Linda mengajak Siti masuk ke toko boneka tersebut.
__ADS_1
"Oke!" Balas Tamada. Mereka semua lalu mengendap - endap ke belakang tiang yang lumayan besar dan menyimak pembicaraan Diana.
"Jadi Rita cerita ya soal aku yang bully dia?" Tanya Ney pada Diana.
"Iya. Rita cerita semuanya ke aku dan Komariah. Kamu kenapa berbuat begitu? Apa Rita pernah melakukan sesuatu yang jahat sama kamu?" Tanya Diana dengan sikap akan berperang.
"Duh, sepertinya Rita suka memutarbalikkan kenyataan ya. Aku tidak pernah bully dia kok kamu jangan percaya dia begitu saja dong," kata Ney yang memohon pada Diana untuk lebih percaya sama dia.
"Kamu boleh berbangga hati kenal Rita sudah lama tapi aku tidak melihat kalian akrab seperti aku dengan yang lainnya. Kenal lama tapi tidak saling nyaman ya sia - sia saja. Aku heran kalau kamu tidak suka Rita kenapa sekarang mengekor Rita terus? Mau kamu apa sih?" Tanya Diana ketus.
"Maksudku bukan begitu ya aku takut saja kalau dia punya teman tidak baik. Jadi dari sekarang aku harus menyeleksi kalian semua gitu. Dia kan sebentar lagi akan menikah sama orang yang sangat hebat jadi kalian itu bukan levelnya dia," jelas Ney dengan nada sopan dan lembut.
"Hahaha oh benar juga ya dugaan aku selama ini mengenal kamu," kata Diana yang tertawa geli mendengar penjelasannya Ney.
"Dugaan apa?" Tanya Ney penasaran, dia memandangi Diana dengan pandangan tajam.
"Benar kata Rita, kamu itu materialistis. Yang ada dalam otak kamu hanya bersifat keduniawian, kamu lebih takut ada orang yang punya banyak uang dan kekuatan. Kamu memang sama sekali tidak mengenal Rita, kalaupun memang kenal kamu hanya bisa menilai dia dari kulitnya. Kamu tidak ingin mengenal dari hatinya karena kamu sudah tahu kalau tidak setingkat dengannya kan," kata Diana dengan nada tajam.
Ney diam mendengarnya, lagi - lagi apa yang orang katakan itu menohok ke dalam jantungnya. Ingin membantah tapi tidak ada kalimat atau kata yang keluar, lagi - lagi ada orang lain yang bisa membungkamnya.
"Jadi menurut kamu, aku ini orang yang tidak baik buat dia?" Tanya Ney melirik Diana.
"Sama sekali tidak baik karena kamu mendekati Rita dengan niat tidak baik juga. Kamu menghina tapi terpaksa masih dengan dia hanya karena dia kenal seseorang yang lebih dari yang kamu punya. Oh, itu buruk sekali. Seorang teman tidak akan pernah terlintas soal iri, sombong, buruk. Kalau kamu memang orang baik, kamu tidak akan masalah dengan semua yang dimiliki oleh Rita," kata Diana panjang lebar.
"Kamu itu tidak tahu dia itu Nerd lho lebih senang dengan berkawan buku - buku hahaha itu kan super aneh tapi kok bisa ya dapat lelaki seperti Alex?" Tanya Ney sambil tertawa tapi tidak dengan Diana makanya Ney langsung diam.
"Nerd. Jadi begitu ya menurut kamu, aku juga Nerd. Aku lebih suka buku daripada tertarik dengan orang seperti kamu. Buku punya banyak ilmu yang bermanfaat, sedangkan kamu hanya punya mulut yang tidak punya manfaatnya. Soal keburukan Rita yang kamu katakan pada kami semua, kita sudah tahu. Lalu apa menurutmu kita menjauhinya? Tidak. Kita menyukainya karena dia tidak pernah membohongi kita dengan memutarbalikkan fakta seperti kamu," kata Diana yang dingin.
"Tapi dia itu..." kata Ney yang langsung dipotong oleh Diana lagi.
"Seperti apapun bentuk Rita, kita semua menyukainya. Kamu mau bilang soal Rita seperti apapun, kami tidak akan pernah bisa menjauhinya! Aku juga tidak suka ya waktu kamu tidak mendengar apa kata Rita dan kamu bertingkah tidak sopan pada Komariah! Baru kenal sudah seenaknya!" kata Diana dengan kesal.
__ADS_1
"Kalau tidak begitu nanti kita diganggu lagi kan aku maunya kenal dekat sama kamu," kata Ney dengan tatapan memelas pada Diana.
"Tapi aku tidak mau kenal dekat sama kamu. Maaf ya. Lalu bisa kamu jelaskan kenapa kamu bully Rita?" Tanya Diana yang masih belum paham kenapa bisa dia berlaku begitu.
Ney mengibaskan rambutnya dan menarik nafas. "Ya sebenarnya supaya dia sadar kalau nanti yang jadi pasangan dia itu orang hebat, orang tuanya juga bukan orang sembarangan. Kalau sifatnya seperti sekarang yang kita tahu, nanti ke akunya juga malu kan. Jadi dia harus diubah dari sekarang, kamu juga kalau masih mau berteman dekat dengan Rita kamu harus bantu aku. Kita ubah sifatnya Rita agar dia bisa diterima di keluarga Alex. Baik kan aku?" Tanya Ney tersenyum pada Diana.
Diana lalu maju dan tanpa diduga melayangkan tangan kirinya pada Ney, sontak Ney langsung menutup kedua matanya. Tangan kirinya melindungi pipinya dan komat kamit. Dia sama sekali tidak menduga kalau Diana akan menamparnya tapi terhenti tepat di pipi kiri Ney. Dia ketakutan menatap Diana dengan mata yang penuh kemarahan. Begitu juga dengan Rita dan yang lainnya yang melongo melihat apa yang akan dilakukan Diana.
"Kurang ajar sekali ya kamu! Merasa Rita sahabat kamu tapi kamu merendahkannya!? Dasar gila! Tahu apa kamu soal sifatnya, kamu hanya melihat dia dari mata kamu bukan hati! Kamu tidak layak untuk jadi teman bahkan sahabatnya sekalipun, kalau kamu kecewa pada keputusannya nanti, aku yakin yang akan kamu lakukan adalah menjelekkannya pada semua orang. Kamu itu teman tapi sebenarnya musuh berkedok Iblis! Seharusnya kamu bersyukur ya Rita masih baik selama ini sama kamu, dia sama sekali tidak peduli apa yang orang lain katakan soal kamu. Tapi teganya kamu malah berbalik membunuhnya dari belakang, siapa yang sebenarnya menusuk?!" Kata Diana dengan kedua mata yang memerah menahan amarah kesal bercampur sedih.
Ney menatap Diana dengan kaget baru kali ini dia melihat orang lain yang membela temannya dengan sangat baik. Sampai menitikkan air matanya untuk orang lain. Hal yang tidak bisa Ney lakukan kepada teman - temannya yang lain daripada senang untuk keberhasilan mereka, dia lebih kecewa karena mereka melebihi kesuksesannya.
"Kamu ini manusia terbuat dari apa? Bisa - bisanya bicara begitu soal Rita kamu itu tidak tahu apapun soal dia! Selama ini aku tahan ya emosi aku ke kamu soal kamu tega melakukan itu pada sahabat terbaikku! Aku tahu itu sengaja bukan perihal demi kebaikan, ingat ya kamu bukan Tuhan! Pribadi yang harus diubah itu bukan dia tapi kamu! Dia orangnya sama sekali tidak melihat keburukan orang, apapun yang kita suka, dia suka. Dia selalu mendukung kita semua, selalu ada saat aku sedih atau bermasalah! Tapi kamu... Ya Allah, hanya memikirkan kepentingan kamu sendiri. Kamu sadar tidak sih kamu itu diluar normal?" Tanya Diana yang berlinangan air mata.
Dalam hati Ney dia merasa sangat tersayat melihat Diana menangis. Sama dengan ibunya yang selalu menangis melihat perilaku Ney yang sama sekali diluar batas normal. Ibunya juga menyarankannya untuk diperiksa kejiwaan dan juga diruqyah tentu saja ayahnya juga setuju.
"Jangan menangis buat aku, Diana. Aku tidak apa - apa kok," kata Ney. Membuat Diana bengong mendengarnya. Lalu menangis bercampur tawa keanehan.
"Hahaha maaf aku menangis untuk Rita bukan buat kamu. Kamu juga terlalu kepedean ya orangnya, buat apa aku menangisi kamu? Aku kasihan pada Rita punya teman kok ya kelakuannya kurang waras," kata Diana yang menghapus air matanya lalu tertawa.
Ney diam mendengarnya, wajahnya merah karena malu dia terlalu over percaya diri. Padahal dirinya sudah senang melihat Diana menangis untuknya eh ternyata buat Rita.
"Rita pantas mendapatkan teman pengganti kamu. Soal tingkatan mau dia nanti lebih tinggi atau tidak, tidak akan ada yang berubah. Lagipula dia akan melakukan yang kita minta daripada yang kamu mau. Kalau memang dia melihat kita seperti kamu, mungkin sampai sekarang pun sama dengan kamu yang tidak punya teman sama sekali. Padahal kamu bukan Nerd tapi kok teman saja tidak punya ya?" Tanya Diana yang masih tertawa.
"Aku punya kok. Lebih banyak dari yang Rita punya. Bahkan orang asing juga ada. Lihat saja akun Pacebokku. Rita hanya ada 200 orang sedikit sekali!" Kata Ney yang menunjukkan akunnya pada Diana.
"Asli kah mereka? Atau mereka hanya kenal kamu lewat media sosial saja? Apa kamu keluar rumah dengan mereka kalaupun ada yang satu kota?" Tanya Diana. Ney terdiam yang keluar dengannya sampai saat ini hanya Arnila saja. Meskipun memang ada yang satu kota, kebanyakan mereka akan beralasan kalau diajak jalan olehnya.
Diana memperhatikan wajah Ney yang salah tingkah. "Aku yakin mereka palsu. Rita memang isinya sedikit karena itu adalah orang yang kenal baik dan dekat dengannya. Dia memang tidak akan pernah memasukkan siapapun yang tidak kenal dengannya, berbeda dengan orang yang mencari popularitas demi kepentingan dirinya sendiri. Rita sampai kapan pun tidak akan pernah berubah, dia memiliki kepribadian dan sikap yang baik. Kalau kamu nanti punya teman baru sebagai pengganti Rita, jangan hanya melihat kulitnya saja," kata Diana yang akhirnya bisa berhenti tertawa.
"Kok pengganti? Memangnya Rita tidak butuh aku lagi?" Tanya Ney yang kaget memandangi Diana. Ada ketakutan tersendiri terpancar dari kedua matanya.
__ADS_1
"Iya. Karena kamu tidak cocok sekali dengan Rita. Aku lihatnya sih begitu, kesabaran Rita ke kamu sudah mulai habis. Setelah itu, siap saja kalau dia sulit kamu datangi," kata Diana sambil senyum.
BERSAMBUNG ...