
Dins terduduk di depan Ney, "Jangan terlalu iri pada apa yang orang lain punya dan kamu tidak. Karena semuanya ada bagiannya masing - masing, Rita itu kamu tahu kan dia baik?" Tanya Dins.
Ney mengangguk sambil menangis. Rita. Mengingat nama dan orang itu sebenarnya ada perasaan sesuatu. "Memang...dia baik hik! Kenal sama dia, aku baca pikirannya tidak ada kata - kata jelek soal aku hik!"
"Lalu kenapa kamu berbuat kasar? Kamu tahu kan dia orangnya sensitif? Apa - apa jadi pikiran," kata Dins dengan sayang membelai kepala Ney.
"Aku hanya tidak mau terlihat jelek di hadapan Alexnya. Makanya aku memaksa jadi berbuat begitu, aku tahu dia sensitif membuat aku tidak suka. Apa - apa sedih mulu, apa - apa pakai hati," kata Ney yang berbicara ngalor tapi jujur. Tahu kan katanya orang mabuk kalau diajak bicara jadi jujur banget.
Dins tersenyum. "Rita berbeda dia tidak seperti kebanyakan teman - teman kamu. Coba lebih membuka mata hati kamu dan bisa lebih menerimanya. Kalau kamu memang malu ya sudah tidak perlu dekat atau berteman dengannya kan. Buat apa?" Tanya Dins.
"Kalau Rita sama Alex jadi, aku kan hik bisa jadi terkenal juga. Bisa terkenal jugaaa..." kata Ney membuat Dins miris mendengarnya.
"Baiklah hanya lihatlah Rita dengan baik dia selalu menjaga perilakunya. Kamu sendiri? Bagusnya Rita, dia bisa menjaga dirinya sendiri dari hal yang bisa merugikan waktu dan dia sendiri. Kenapa kamu tidak mencoba hal yang dia lakukan?" Tanya Dins.
"Apaan sih lu! Sok tahu banget! Lu tuh siapa sih? Suka juga sama yang namanya Rita!? Sana!" Usir Ney pada Dins.
Dins menarik nafas dia ingin Ney berhenti memaksakan dirinya untuk selalu sesuai dengan Rita. Karena Rita lebih menerima siapapun dengan diri mereka yang alami. Bukan yang penuh pura - pura kalau saja Ney tahu Rita ingin dirinya lebih terbuka kepadanya bukan hanya karena ada Alex saja. 'Soal Alex ini nampaknya Ney penuh harap ya, apa aku salah menantinya?' Pikir Dins dalam hati. Dia memandang sendu Ney selama ini dia sengaja menjaga jarak dengannya. Dan Ney benar - benar fokus dengan kuliah susulan nya bahkan Ney pun tak nampak ada pacar baru.
"Kamu suka Alex?" Tanya Dins ingin kepastian.
"Yaa hik suka sih dia ganteng, tajir 10 turunan tidak akan habis tuh hartanya, bisa dipamerkan kepada banyak orang. Siapa sih yang tidak mau sama dia? Rita saja yang bodoh sampai sekarang dia tidak tahu kalau Alex ada hati ke dia," kata Ney sambil masih terpejam kedua matanya.
"Lalu kamu masih ada hati dengan mantan kamu, Dins?" Tanya Dins.
"Masih. Tapi aku bimbang, dengan Dins sudah lebih lama tapi aku juga ingin dengan Alex," katanya sambil berusaha mengelap air matanya.
Dins menghela nafas, jadi antara Kenyataan dan Khayalan ya. "Kenapa Alex ini menyukai Rita karena Rita juga berhak mendapat kebahagiaan kan? Kenapa kamu harus tidak senang?"
Ney terdiam karena mabuknya membuat dia juga bisa terdiam. "Iya aku mengakuiiii Ritaa bisa bahagiaaa tapiii jangan dengan Alex. Terlalu bagus buat diaaa dan dia itu mengerikan keluarganyaaa,"
"Mengerikan karena kamu yang seharusnya di posisi dia?" Tanya Dins.
__ADS_1
"Kamu tahu tidak sih? Keluarganya tuh superrr hik! Tazir nya tidak terhingga, aku tidak yakin Rita mampu bertahan apalagi godaannya pasti besar juga," kata Ney sambil memperagakan keadaan.
"Kamu tahu dari mana info itu?" Dins penasaran apa Ney masih bermain - main dengan dukun?
"Ya aku tanya ke teman aku yang jadi Paranormal lah. Aku sudah biasa kok bertanya ke dia," kata Ney yang masih mabuk.
"Buat apa sih kamu percaya? Saya memang jauh dari agama dan jarang sholat tapi soal dukun? Lalu?" Tanya Dins semakin penasaran. Kebetulan sekali Ney mabuk dan tampaknya dia minum alkohol bukan hanya 1 gelas.
"Yaaa katanya si Rita jodohnya luar biasa tapi aku merasa tidak adil banget sih? Aku kan yang berdoa supaya dapat jodoh yang luar biasa kenapa malah Rita yang dapat?" Tanya Ney mengomel - ngomel lalu menangis lagi.
"Lalu Rita bilang sesuatu? Apa kamu ceritakan itu pada dia?" Tanya Dins yang kini masih duduk di sampingnya.
"Iya. Kata Rita, itu pasti Dins, kamu kan sudah cinta mati sama dia, Ney. Mau sampai kapan kamu sakiti dia. Katanya begitu, aku jadi menyesal sudah banyak menyakiti Dins," kata Ney dengan wajah yang sedih sambil dirinya memeluk tiang rumah.
Dins tersenyum pada komentarnya dan memandang Ney yang memeluk tiang rumah. "Lalu bagaimana?"
"Aku ingin bahagia bersama Dins dan aku harap Rita baik - baik saja dengan Alex. Aku tahu aku ini kasar dalam berkata tapi sebenarnya aku cemas karena Rita terlalu terbawa orangnya. Aku sadar memang aku ini hanya kenal dia dari luar, karena aku tidak suka dia yang dalamnya. Terlalu cengeng bagaimana nanti kalau dia bersama Alex?" Tanya Ney yang masih menutup kedua matanya.
"Coba kamu lebih jujur pada Rita dan katakan yang ada pada hati kamu. Rita butuh itu, selama ini kamu terlalu menyembunyikan segalanya sama dengan Rita. Tapi sebenarnya bagaimana sih perasaan kamu kenal Rita?" Tanya Dins yang merasa janggal.
"Memangnya kamu banyak teman waktu SMP?" tanya Dins memainkan kancing jasnya.
"Tidak ada juga sih. Meskipun mulutku ini selalu menyakitinya tapi dia tampak selalu ingin menemaniku, aku tahu sekali akulah yang membutuhkannya. Tapi..." kata Ney yang murung.
"Kamu terlalu gengsi kan? Jujurlah berkata, kurangi kamu menyakiti banyak orang dengan kata - katamu. Lalu soal kamu jelekkan Rita depan teman - temnnya bagaimana?" Tanya Dins yang ingin tahu komplit soal semuanya.
"Yaa aku menguji saja sih apakah mereka benar - benar teman yang baik apa tidak, maksudku hanya sedikit memancing tapi malah semakin keenakan. Jadinya malah runyam," jawab Ney yang mulai tiduran di lantai. Untungnya Dins segera menahannya dengan tas kerjanya. Meskipun kesal dengan segala kelakuan Ney, Dins masih sayang kepadanya. Meski... rasa sukanya adalah keterpaksaan dari suatu aliran yang menariknya namun lama kelamaan dia merasa sayang asli.
"Yakin hanya menguji? Tidak ada unsur memang kamu mau menjatuhkan Rita?" Tanya Dins memancing. Kalau memang hanya menguji berarti Rita memang sangat sensitif perasaannya.
"Yaa sebenarnya sih aku tidak suka juga dia punya lebih banyak teman daripada aku. Kan aku yang lama sama dia, buat apa dia cari teman yang lain?" Tanya Ney.
__ADS_1
"Karena kamu sudah banyak membuatnya kecewa. Batas kesabaran manusia itu tidak banyak, Ney. Kamu harus tahu itu dan sekarang bagaimana?" Tanya Dins lagi yang masih penasaran.
"Aku memang ingin merebut semua teman yang dia punya. Aku iri sama dia huhuhu dia punya segalanya yang aku tidak punya huhuhu kenapa aku harus bertemu dia? Meskipun aku banyak menyakitinya tapi dia tidak pernah sekalipun merasa sakit tapi ternyata... sakit sekali. Dulu aku sering menyakitinya karena bosan dia selalu mengekori tapi aku sadar, bukan dia tapi aku! Aku yang kesepian, saking bosan kesendirian tidak sadar aku membuat dirinya tersakiti. Aku hanya ingin dia melihat aku saja, mempercayai aku saja bukan teman - temannya apalagi orang yang bernama Diana," kata Ney yang menangis setulus hatinya dia. Berbeda yang Dins atau siapapun lihat tangisan buaya.
"Ceritakan saja supaya nanti kamu bangun lega," kata Dins yang memegang pinggang Ney mendekat kepadanya. Tenang... Dins tidak akan berbuat senonoh meski dia posesif juga.
"Yang namanya Diana itu temannya yang kaya kok bisa Rita berteman dengan dia? Padahal aku ini lebih setara dengan Diana tapi Diana menampar aku katanya aku sudah keterlaluan mengejek Rita. Aku salah apa? Aku sedih sekali bahkan Diana juga menolak aku. Aku iri Rita bisa menerima banyak orang dengan kekurangan dia. Tapi aku malah membuat kacau Rita hanya agar Rita melihat aku saja," kata Ney menangis terisak - isak.
Dins terdiam tampaknya Ney hanya ingin Rita menganggapnya sebagai satu - satunya teman baik dia tapi tidak bisa begitu. "Kamu tidak bisa seperti itu. Manusia yang hidup di dunia tidak ada yang bisa bertahan hanya dengan satu teman. Kita ini makhluk sosial kalau kamu hanya ingin Rita melihat hanya kamu saja, kamu egois! Kamu tidak boleh membatasi siapapun hanya agar mereka melihat diri kamu seorang. Kalau kamu ingin dilihat satu oleh Rita, bagaimana dengan aku?" Tanya Dins dengan suara parau.
Beberapa menit kemudian tampaknya Ney mulai menuju sadar dengan cepat Dins mengantarkannya masuk ke dalam rumah lalu bergegas pulang. Dia tak ingin Ney melihat dirinya menangis mendengar apa yang dikatakan oleh Ney. Sore harinya Ney terbangun dengan kepala yang amat sakit samar - samar dalam tidurnya dia seperti mendengar suara Dins dan tidak sebentar. Dicari olehnya menyangka Dins masih ada disana kemudian memeriksa ponselnya.
"Kamu ke rumah?" Tanya Ney mengirimkan pesan itu pada Dins namun tidak ada balasan sampai malam. Tidak ada pesan dari Rita dan Arnila juga lalu tiba - tiba masuklah sebuah chat. ALEX! "Ya ampun! Apes banget sih aku hari ini!" Lalu Ney membukanya dia teringat apa yang diperbuatnya dan agak sedikit takut juga.
"Why are you taking photos from my account? Stop messing around on other people's accounts! Have you never been taught manners!? ( Buat apa kamu mencatut foto dari akun saya?! Berhentilah berbuat keonaran di akun orang lain! Apa kamu tidak pernah diajarkan sopan santun!? )" Tanya Alex dengan marah tampaknya.
Ney minum air putih yang dingin sambil memakan beberapa es batu mulai On. "You yourself have trapped me and Arnila all this time ( Kamu sendiri ternyata menjebak aku dan Arnila ya selama ini! )"
"About what? ( soal apa!? )" Tanya Alex yang sedang menjauh dari semua sepupunya.
Diceritakan lah semua analisa Rita pada Alex. Dia menyengir akhirnya Rita sudah cerita juga. "How? I was right. It's true I did that to open her eyes to what you really are ( Bagaimana? Aku benar kan. Memang benar aku berbuat begitu untuk membukakan kedua matanya seperti apa kamu sebenarnya! )"
"God damn it! Rita is right, you really have no morals at all. I thought you seriously wanted to make a lesson for Rita ( kurang ajar! Rita benar kamu ini memang tidak ada akhlak sama sekali. Aku pikir kamu serius mau membuat pelajaran buat Rita )," kata Ney yang mulai marah.
"See? From your mind alone you are presumed. How come you've been friends for decades but how can you just agree when I ask you to bully her? ( Lihat? Dari pikiran saja kamu sudah berburuk sangka. Kok bisa sih kamu berteman berpuluh tahun tapi bisa - bisanya setuju begitu saja saat aku mengajak kamu untuk merundung dia? )" Tanya Alex menyengir. Ameera tentu saja penasaran dengan siapa dia chat tapi tidak bisa karena Ojon meneleponnya.
Ney terkejut membacanya dia tidak bisa berkata apapun. Dirinya pun tidak tahu harus menjawab bagaimana, ternyata Alex ingin menguji mereka bertiga akan ikatan pertemanan mereka. "You mean test us? Then what do you mean by saying like that? ( Maksud kamu menguji kita? Lalu apa maksud kamu berkata seperti itu? )" Tanya Ney sambil menggigiti kukunya. Sekarang Ney mulai merasa bersalah mengingat Alex nyatanya punya alasan yang baik.
"I just wanted to know what your reaction would be if I asked you to bully her, would you immediately threaten me like you did at the beginning when you found out that I liked Rita. The result turned out to be beyond expectations, you agreed without asking first why I bullied Rita. You sorry? ( Saya hanya bermaksud ingin tahu reaksi kalian bagaimana kalau aku mengajak kamu untuk merundung nya apakah kamu akan langsung mengancam aku sama seperti yang kamu lakukan di awal saat kamu tahu kalau aku menyukai Rita. Hasilnya ternyata diluar dugaan kamu setuju tanpa bertanya dahulu untuk apa aku merundung Rita. Menyesal? )" Tanya Alex sambil memakan beberapa kentang goreng.
"T...that...that... ( I... itu... itu... )," balas Ney terbata - bata. Jadi seperti itu iya Ney sadar kesalahannya kenapa waktu itu dia sama sekali tidak bertanya dahulu. Setidaknya berpikir dengan logis dan masuk akal bukan hanya langsung menerima saran Alex. Tapi sudah terlambat semua apalagi dia pula sudah mulai berbuat yang lain.
__ADS_1
"You know? Now I know that the real selfish ones are you and me, seeing Rita's daily life she never shows any selfish attitude. I've been wrong all this time, you should also apologize to Rita ( Kamu tahu? Sekarang aku tahu yang sebenarnya egois itu adalah kamu dan aku, melihat keseharian Rita dia sama sekali tidak pernah menampakkan sikap egois. Selama ini aku sudah salah, kamu juga harus meminta maaf sama Rita. Kita sudah bertindak jauh )," kata Alex menyarankan.
BERSAMBUNG ...