ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(184)


__ADS_3

"Pernahlah. Gila banget justru yang aku alami. Sewaktu dia semester akhir kuliah, pernah minta aku nemenin dia ke fotocopy-an katanya buat memperbanyak buku skripsinya. Ya aku ikutlah awalnya dia memperlihatkan hasil skripsinya yang tebal. Tebal seperti buku Harry Potter, aku sih positif saja mikirnya sama sekali tidak berpikir itu hasil Plagiat. Sudah kan itu ditinggal seharian, kita main ke BIP, nah sore kita ke sana lagi. Jadikan. Ya sudah, beberapa hari kemudian Ney minta antar lagi katanya skripsi yang kemarin kena tolak. Ya aku sih masih tidak mikir apapun. Ada tuh sekitar 4x akhirnya aku sadar dan si pegawai toko sana juga makin curiga. Aku nanya ke dia, 'Kok lu sering kena tolak sih? Aku saja kena tolak sekali itu juga karena Judulnya kurang pas. Aneh lu,'," kata Rita.


"Dia jelaskan kenapa?" Tanya Arnila. Dia baru tahu kalau Rita mengalami keanehan dari Ney.


"Dia cuma bilang kalau ada yang sama judulnya dengan yang dia punya. Aku mikir kok sering banget ya? Yang pertama juga dia bilang begitu, kedua, ketiga, sampai yang ke 4x. Nah akhirnya, yang kelimanya dia itu lagi ada halangan jadi minta tolong ke aku. Sebenarnya aku tuh sudah malu banget harus ke toko itu lagi, sampai pegawai sana itu marah - marah sama Ney. Tapi aku tidak tahu kenapanya," jelas Rita.


"Hah? Wah, itu mah si Neynya yang buat masalah pasti. Lanjut," Arnila semakin penasaran.


"Aku datang bilang mau ambil skripsi teman. Eh, si pegawainya tub bilang gini,


Pegawai : 'Mbak, kasih tahu ya ke temannya jangan fotocopy lagi disini deh, di tempat lain saja,'


Rita: 'Lho, kenapa? Dia mau disini katanya karena murah per lembarnya,'


Pegawai : 'Iya memang murah tapi teman mbak itu keterlaluan! Kita sudah beri dia diskon karena buat bukunya 5 tapi dia maksa kita buat kasih lebih murah lagi. Kita sampai dimarahin sama dia. Terus kan dia kesini sampai berkali - kali revisi skripsinya, mbak tidak curiga kenapa dia ditolak terus?'


Rita : 'Ya curiga dong, aa. Saya saja ditolak skripsi tidak sampai empat kali, itu juga karena judulnya ada yang kurang. Memang kenapa?'


Pegawai : 'Judul yang dia ambil itu punya adik pegawai saya. Tapi teman mbak maksa bilang dia yang duluan yang dapetin judulnya. Sampai kita semua pegawai disini muak sama teman mbak. Maaf ya kok mbak mau sih temenan sama orang kaya gitu? Amit - amit deh mbak! Mana dia ada hutang juga ke kita, mbak tahu kalau setiap ke sini dia selalu kurang uang? Sampai menggadaikan ipod punya dia?'


Arnila kaget bukan main setelah mendengarnya. "Serius, Ri! Ney sampai ngutang?!"


"Lah itu kata si pegawainya buat apa dia bohong. Dikasih dong aku kwitansi sisa hutangnya si Ney," kara Rita yang masih menyimpan kwitansinya.


"Lah, lu yang bayar? Ney tahu?" Tanya Arnila kaget banget.


"Lanjut ya ceritanya nih," kata Rita.


Rita : 'HAH!? Mana kutahulah aa, saya nanya ke dia kok bisa kena tolak dosen skripsinya? Kamu duplikat ya. Dia bilang tidak, oalaaa ternyata iya,'


Pegawai : 'Nih saya ada buktinya. Ini judul adik pegawai saya dan ini judul punya teman mbaknya. Mirip persis sama kan hanya adiknya tuh lulus di tahun 2000. Kalau teman mbak angkatan 2014 kan bedanya disitu tapi ya pantas saja dia kena tolak. Toh Plagiat,'

__ADS_1


"Ituuuu buktinya diperlihatkan sampai isi dari cover depan sampai belakang! Duh, aku superrr maluuuu banget!" Kata Rita yang masih teringat.


"Terus uang kamu dia kembalikan tidak?" Tanya Arnila.


"No. Kata terima kasih pun tidak ada. Sampai sekarang mungkin dia malu banget, Nil. Akhirnya terbongkarlah kebohongan dia semuanya, kan dari situ juga aku mulai jaga jarak. Mana sekolah almamater aku seberangan sama toko itu pula," jelas Rita.


"Oh iya ya kamu kan alumni SMA Pasundan. Ya Allah, sekarang pun kelakuannya sama saja. Terus ada kelanjutan?" Tanya Arnila menggelengkan kepalanya


Rita : 'Astagfirullah. Saya mah sama sekali tidak tahu, aa. Sudah deh saya bayar saja daripada tidak ada solusi. Jadi skripsinya bagaimana nih yang sekarang?'


Pegawai : 'Kami menolak mengerjakannya. Karena kalau kami lakukan, pasti dosen dari tempat adik pegawai saya kuliah akan datang mempermasalahkan. Jadi maaf ya mbak, dan ini tidak apa mbak yang bayar? Saya sarankan lebih baik mbak cari teman lain saja. Mana dia main mata juga sama pacar kakak saya. Ampun deh,'


"Aku sih cuma cengengesan saja mendengarnya," kata Rita tertawa keras.


"Wah, sempet ya dia main mata pasti ganteng," tebak Arnila.


"Banget. Kan waktu aku kesana juga ada lagi memperhatikan pegawai toko bekerja terus minta diajarin begitu. Pantas saja si Ney klepek - klepek, kinclong banget deh!"


"Terus setelah itu bagaimana? Ney menelepon?" Tanya Arnila penasaran.


"Gue yang menelepon dia saat itu juga coba di depan toko fotokopian. Sambil aku marahin juga! Aku bilang, 'Lu gila ya sampai ngutang di tempat ginian! Lu plagiat ya pantas ditolak semua. Heh, usah dong sendiri seenaknya otak lu bisa - bisanya duplikat karya orang! Kalau mau serba instan, kenapa tidak lu bayar orang buat kerjain skripsi sih? Tuh sudah aku bayar sisa hutang lu ke toko itu dan skripsi lu yang sekarang, mereka tolak soalnya ternyata ini skripsi punya adik pegawai disini. Lu benar - benar tidak punya malu ya! Karya orang lu bilang karya lu duluan. Jadi orang tuh yang pintar dong tertera banget tahunnya beda! Uh, gue malu ya temenan sama orang yang kerjaannya duplikat hasil orang.' Aku bilang begitu, sama sekali tidak kasih dia kesempatan bicara. Bodo amat dia ada di mana sepertinya dia pakai speaker juga sih," kata Rita.


"Dia di kampus ey dan memang dia pakai speaker alhasil dong kita semua dengerin ocehan lu! Hahaha kita semua bengong dengarnya mana itu kita lagi lesehan di lorong kampus yang ramai, dan banyak anak - anak juga jurusan lain juga. Jadi bisa dong lu bayangin seperti apa suara kemarahan lu," kata Arnila yang tertawa mengingatnya.


"Waduh! Hahaha syukurin! Lagian kenapa juga pakai speaker sih?" Tanya Rita waktu itu memang dia emosi banget mana bisanya Ney bisa main mata padahal kondisi dia lagi ada masalah sama orang. MAYGATT..


"Tidak tahu juga. Aku kan ada di situ terus lihat kamu menelepon, dia bilang kalau kamu disuruh dia ambilkan skripsinya kan. Sepertinya sih maksudnya mau pamer kalau dia punya teman dekat selain aku terus pamer soal skripsinya. Eehh... malah yang keluar nada lu marah - marah yang nyerocos tanpa koma titik. HAHAHA!!"


"Terus selesainya bagaimana respon semua teman kuliah? Aku benar - benar tidak tahu lho," kata Rita dengan malu.


"Mereka langsung pada bisik - bisik ada juga yang menyeletuk, ' Tuh ada yang baru nyadar temenan sama lu bikin malu,' gue aja yang dengar lu marah - marah gila banget dah! Sampai perihal hutang wah itu parah banget, Ri! Banyak sih yang nanya siapa yang tadi nelepon dia, aku bilang saja teman SMPnya tapi tidak bakalan bertahan lama sih. Mereka bilang kok bisa sih bertahan? Seperti itu. Kalau Neynya sih seperti kesal saja sama isi omongan kamu, dia kan langsung pulang. Kamu tidak diapa - apain sama dia?" Tanya Arnila yang cemas tapi kalau tidak salah kabarnya malah dosen yang jadi pengawasnya pun menolak lebih parah lagi.

__ADS_1


"Oh, setelah itu sih aku ke rumah dia. Tahu dia tidak ada, aku titipkan saja sama kakaknya. Kakaknya tanya kenapa kok seperti tidak diperbanyak, ya aku kasih tahu saja. Setelah itu, aku tidak tahu deh seperti apa nasib dia," kata Rita.


"Padahal dia langsung pulang lho sepertinya kalian tidak saling bertemu ya. Beberapa hari kemudian Ney aneh katanya sepertinya cuma beda 5 menit, kamu pulang 5 menit kemudian dia datang ke rumah. Keluarganya juga aneh kok bisa bersilangan, kata Ney bilang dari ibunya 'Kamu punya niat nyakitin Rita ya makanya Allah SWT membuat kalian bersilangan padahal cuma beda 5 menit.'" Kata Arnila.


"Oh! Aku tidak tahu soalnya aku kan ditunggu teman kuliah juga buat mendatangi perpustakaan besar di Cimahi. Jadi aku sedang dikejar waktu juga. Kalau sampai bertemu bagaimana ya?" Rita membayangkan.


"Bakalan rusuh sepertinya makanya kalian tidak dipertemukan. Tapi kamu tahu kalau dia akhirnya buat sendiri?" Tanya Arnila penasaran juga.


"Tahu dong. Setelah beberapa minggu dia bilang kalau lagi buat skripsi dengan kemampuan dia sendiri. Karena orang tuanya marahin dia, sampai ditanya kemana saja uang kuliahnya sampai tahun dulu itu dia tidak lulus. Katanya dapat hukuman dari ayahnya?" Tanya Rita mencari tahu kebenarannya.


"Iya. Karena ketahuan uang kuliahnya dia pakai buat bersenang - senang. Kamu benar tidak tahu kalau tengah malam dia sering keluar rumah? Waktu SMA di Bandung kan begitu sampai sekarang, Ri. Eh sampai kuliah, makanya uang kuliah selalu habis ya dipakai jojing. Setelah ayahnya tahu, ditebas setengah uang jajannya. Ayahnya keras banget lho,makanya akhirnya dia bersusah - susah buat skripsi pure buatan dia. Ayahnya sendiri yang meminta diberikan kesempatan terakhir kalau sampai terjadi lagi, dia dikirim ke Pesantren di Sukabumi. Hobi dan kebiasaannya kalau kamu tahu, itu parah banget! Kenapa dia selalu janjian dengan kita selaluuu datang terlambat, selalu bangun siang, kamu tidak pernah bertanya - tanya?" Tanya Arnila.


"Ya aku kan mikirnya positif saja. Aku pernah nanya dia bilang lagi mengerjakan tugas, jadi ya sudah. Kalaupun bohong itu kan urusan dia. Dan kena kan hukumannya karena suka melipat uang kuliah," kata Rita.


Arnila kagum dengan pemikiran positif Rita tapi kadang juga gemas karena terlalu percaya padahal aslinya jauh dari kenyataan yang dipikirnya.


"Ya itu karena tengah malam sampai jam 3 subuh dia ajojing. Keluarganya dia sama kita berdua itu berbeda 180 derajat, Rita. Kamu pasti belum tahu kan, memang kurang di didik dengan baik sih. Ibunya terlalu mentingin kebutuhannya sendiri kamu pasti pernah lihat kan, di kamar ibunya itu banyak tas mewah. Kasihan sih sebenarnya Ney itu, sama sekali mereka tidak pernah dapat kasih sayang dan perhatian seorang ibu. Tapi baik kok ibunya, semenjak lihat Ney dan dua anaknya tenggelam ke pergaulan salah, baru deh berubah. Tapi yah, penyesalan selalu datang belakangan. Ayahnya pekerja keras tapi masih percaya dukun, kekuatan ilmu hitam putih. Kalau kamu tahu, sudah pasti sih langsung menjauh,"


"WAH!" Kata Rita yang tidak bisa berkata apa - apa lagi.


"Kalau soal lingkungan rumah memang jauh sama aku, Rita. Dia itu dulu lingkungannya kelam banget nah waktu ketemu aku, baru berubah tapi susah ya kalau dulunya sudah menempel kehidupan kelam. Ya seperti yang kamu ketahui dia sekarang, jadinya begitu. Ayahnya bekerja keras akhirnya keluarga mereka naik tinggi malah semakin kelihatan bobroknya. Aku kasihan simpati banget ke Ney tapi setelah lihat sisi lain dan kedalamannya, asli kamu sebaiknya menjauh saja. Lebih baik kamu kembali ke sisi teman - teman kamu yang baik jangan deh pilih si Ney. Dia itu Anak yang Bermasalah banget, dia suka banget cari masalah sama orang,"


Wuuuh! Arnila panjang banget menjelaskan semuanya. Rita merasa ada perasaan akan jauh dari Arnila apalagi Ney juga. Dan mungkin itu yang terbaik untuk istirahat sementara waktu dari mereka semua.


"Kok aku ada perasaan sepertinya kamu juga akan mulai menjauh ya?" Tanya Rita langsung.


"Hah? Sama aku? Itu yang terbaik kan. Kamu dapat penerawangan kah?" Tanya Arnila. Dia tahu Rita memiliki insting yang sangat tajam mengenai sesuatu yang akan datang.


"Hmmm hanya kilatan saja sih terus ada perasaan kita semua akan menjauh sih," kata Rita yang memfokuskan perasaannya.


"Eh!? Wah. Terus apa kita akan seperti ini lagi?" Tanya Arnila.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2