ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(150)


__ADS_3

"Soal hal aku yang sepele kamu baru tahu sekarang. Hitung berapa tahun ya kita kenal? Alex saja langsung tahu aku bagaimana kok bisa yo. Kalau tahu begini sih lebih baik Alex sekalian jadi pengganti kamu. Berantem sama dia langsung berantem juga dia selalu kasih saran soal kamu, soal Arnila, soal Anggara, siapapun! Kamu tidak malu? Bilang ke Alex kamu sahabat aku tapi kamu tidak tahu apa - apa. Sue lu!" Rita tertawa mengatakannya. bukan dengan nada mengejek ya tapi santuy sekali.


"Parah hahahaha!" Diikuti oleh Arnila yang tertawa.


"Ya aku itu sibuk makanya mana sempat kepikiran tahu kamu semua," jawab Ney akhirnya.


"Sibuk? Oh iya ya kamu sibuk buat plagiat, terus sibuk cari lelaki buat jadi selingkuhan, sibuk kejar Alex yang ternyata ga minat sama kamu, iya ya sibuk juga kali buat ngembangin toyol,"


Arnila berpikir seperti ini lah cara Rita membalas perlakuan Ney dari tahun dia kenal Ney sampai akhirnya dibully parah oleh Ney. Belum terjadi pada Feb dan satunya lagi yang Author juga lupa namanya.


Maklumlah itu dua makhluk sudah lama tidak Author ceritakan karena lebih berfokus pada empat orang ini. Akan ada bab untuk mereka bertiga, Ney dan kedua temannya yang laknat, Arnila dan kelompoknya lalu Rita dan sahabat beserta saudara sepupunya, kemudian pada Alex dan keluarganya. Wuiiih! Tugas Author banyak banget! Belum nanti ada bab buat Review isi chat - chat yang terlewati, jadi ditunggu saja ya.


"Busyet!" Arnila keceplosan menanggapi apa yang Rita kobarkan. Itu sih sudah jelas terlihat kalau Rita sebenarnya berusaha menahan emosinya supaya tidak meledak. Untung kalimat terakhir dia katakan dengan suara rendah tidak tahu deh kalau keras. Toyol oh toyol..


"Di grup yang sebelah semuanya sama kok dan aku nyambung sama mereka tapi memang aneh sih kenapa sama kalian saja yang susah? Kalian berdua sama - sama lemot sih ya dan Rita apalagi leboh lemot dan lamban dari Arnila," Ney tahu kalau Rita sedang berusaha membalas dirinya tapi Ney juga seorang penyerang yang handal, dia tahu kekurangan Rita dan Arnila apa dan memang benar setelah tahu akan dia jadikan senjata.


"Kalau kamu lebih nyaman sama grup kamu, kenapa kamu harus buat grup sama kita? Aku sih tidak masalah, aku juga punya grup sendiri. Ya silakan saja kamu dengan grup kamu yang sama - sama tukang pamer, tidak ada manfaatnya kamu dengan kita. Pantas saja sih kelakuan kamu semakin bobrok soalnya grup sebelah kamu lebih condong ke materi sih," balas Rita. Arnila hanya memberikan minum kepada keduanya. Dan menyimak saja karena kalau Rita dan Ney sudah bertarung, itu seru banget!


Pertarungan mulut menjelang makan siang nih tenang saja pemirsah pertarungan mereka tidak akan ada damage karena salah satu lawannya tembus pandang alias mau Rita bicara apapun, tampak seperti tidak punya telinga pada lawannya. Meski begitu Arnila juga kesal banget mendengar kalau dirinya dibilang lemot sama dengan Rita. Dia juga sudah lama sekali berteman dengan Ney tapi ternyata todak pernah dianggap apa - apa oleh Ney.

__ADS_1


"Ya soalnya aku bosan lama - lama di grup itu," kata Ney yang menatap Rita dengan kesal.


"Bukan bosan sih menurut aku karena kamu sudah selesai memuaskan hasrat kamu pamer banyak barang dan banyak yang memuji. Lalu kamu membuat grup ini dengan tujuan untuk melancarkan aksi kamu juga yah, pastinya lebih berharap kita berdua sama dengan yang teman kamu lakukan. Tapi sayangnya karena kamu terlalu meninggikan Pride kamu, tidak terduga kota berdua sama sekali tidak tertarik dan kamu lagi - lagi terus berusaha memamerkan apa yang kamu punya," Rita menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kedua tangannya.


Arnila tertawa mendengarnya sampai memukul - mukul karpet rumput. Dia sama sekali tidak tahan lagi meskipun dalam keadaan diinjek oleh Ney ternyata Rita membalasnya dengan telak. Rita melihat Arnila dengan keheranan tapi tidak menghiraukannya.


"Intinya sih pernah tidak kamu berpikir apa kamu tidak merasa bersalah atau tidak enak karena setiap orang memiliki kondisi yang berbeda?" Tanya Arnila.


"Aku sih lebih memilih lemot ya daripada menjadi orang seperti kamu yang bisanya menyakiti perasaan orang pantas sih kemana - mana orang yang jadi teman kamu palsu semua. Kamunya juga palsu," kata Rita yang kalau orang lain mendengarkan terasa mengiris hati tapi tidak dengan Ney saudara - saudara.


"Iya aku juga lebih memilih jadi lemot tapi pas dapat suami dan menikah bahagia ya. Daripada yang pura - pura kaya ternyata hidupnya hanya puas dengan pamer kekayaan sih,"


"Ya tidak apa - apa sih kalau kebanyakan orang yang berduit tapi masalah di akun Pacebok beraneka macam kondisi terus kamu pamer barang. Kalau mereka jenuh ya sudah pasti kamu di banned mereka," Arnila buka suara karena lelah menyimak.


"Tapi kalian itu lemot! Aku tuh sebenarnya lelah banget ya sama kalian. Kamu juga Rita masa tidak mengerti sih maksud Alex? Aku saja langsung tahu," kata Ney membuat Rita sedikit naik pitam.


"Urusan aku sama Alex tidak ada urusannya kamu ikut campur ya dari awal memangnya aku bilang kamu boleh masuk? Kamu yang merasa dipentingkan padahal aku sama Alex tidak pernah kok mengistimewakan kamu. Apalagi Alex tahu kamu mulai ikut campur dalam urusan kita. Dan dia tidak suka apalagi ibunya. Kalau masalahnya lemot aku, kamu tidak suka ya pergi! Memangnya aku memaksa kamu untuk selalu ada di sisi aku? Maaf ya aku punya sahabat terbaik aku tidak butuh saran dari kamu, saran kamu itu menurut aku tidak tepat sih. Yang aku lihat bukan karena aku lemot tapi karena apa yang aku lakukan tidak sesuai yang kamu inginkan. Dari awal korban playing victim itu aku bukan kamu. Tapi kamu merasa sudah mendapatkan Alex lalu bertindak lebih jauh padahal Alex berbuat begitu karena untuk menyadarkan aku siapa kamu sebenarnya!"


Ney terkejut ternyata selama ini Alex hanya bermaksud untuk memperlihatkan siapa Ney yang sebenarnya. Well, memang Ney pintar tapi kurang teliti dan waspada karena Rita lebih cerdas.

__ADS_1


"Kamu harus hati - hati, Ney dengan ucapan kamu karena apa yang Rita ucapkan apalagi doa itu akan cepat terkabul. Tidak ada halangan dan soal kelemotan kita atau Rita kamu tidak berhak menyalahkan itu pada kita. Itu alasan kamu saja yang tidak mau menerima kekurangan kita. Nyamannya kamu itu berbeda dengan Rita atau juga aku. Kamu boleh merendahkan kita tapi ingat di atas langit masih ada langit, lebih baik jangan terlalu takabur," Arnila kesal sekali dikatai lemot yang bahkan Ney sendiri tidak peka dengan mereka.


"Grup kamu itu apa ada teladan baiknya? Kok bisa ya kamu lebih memilih orang - orang yang membawa efek buruk ke diri kamu sendiri?" Tanya Rita mempertanyakan soal grupnya. Ya sudah pasti anggotanya pasti 2 lampir itu.


"Mereka dulu pernah ejek aku sewaktu hpku Nokia jadul dan aku diusir dari grup mereka," kata Ney.


"Ya bagus dong itu artinya secara langsung ya membuat kamu menghindari dari perbuatan tercela dan tidak bermanfaat! Harusnya sih bersyukur terus kamu berpikir secara nyata. Memangnya ada manfaatnya pamer barang atau uang? Itu salah satu bentuk sayangnya Allah SWT buat kamu malah kami tolak. Aneh! Kalau sampai diusir ya kenapa kamu tidak merubahnya menjadi yang lebih baik dari mereka? Buat grup yang santai, yang isi anggotanya bisa lebih baik dari mereka. Bukan malah kamu termotivasi untuk upgrade barang jadi lebih mewah dari mereka," kata Rita yang mengomeli kelakuan Ney. Ney mendengar tapi tidak mendengar tahulah seperti apa itu.


"Kamu tidak pernah mengalami hal seperti aku sih. Tidak enak diremehkan hidup kamu itu selalu bahagia, Rita!" Kata Ney cemberut.


Rita tertawa mendengarnya, Arnila heran. "Salah? Aku pikir juga begitu, Ri,"


"Salahlah. Kata siapa hidupku selalu bahagia? Banyak ya yang meremehkan bahkan mengejek seperti kamu tapi ini dari kalangan keluarga sih. Makanya aku heran apa sih yang kamu kenal soal aku? Kamu tahu, kalau keluarga aku diremehkan oleh tante - tante dan om bahkan sampai anak - anak mereka yang selalu mencibir keluarga aku. Ada yang membela kami? NO. Apa aku jadinya seperti kamu? BIG NO. Aku malah tidak peduli dengan omongan mereka, Allah Maha Mengetahui biarkan saja sesuka hati mereka mengejek. Mereka pamer hp terbaru, kamera, mobil, baju apapun! Yang terpancing adik dan kakakku, kalau aku sih yah buat apa membalas? Mereka pamer, aku hanya bilang, "oh bagus ya." Pokoknya ejekkan mereka sering banget aku injek sampai menjadi debu!" Jelas Rita yang membuat Ney diam dan menundukkan kepala. Dia malu ternyata Rita sama dengannya tapi beda kasusnya.


"Kamu mengusahakan ejekkan mereka masuk ke hati ya?" Tanya Arnila.


"Iya. Karena kalau sampai masuk ya seperti adik dan kakakku pasti terpancing. Karena aku kan kuliah di area agama Islamis banget dan sering mendengar ceramah soal yang seperti diejek orang apapun, lebih baik diam jangan membalas kan. Karena pasti akan ada balasan tapi kadang balasan dari Allah itu mengerikan dan menyedihkan. Jadi setidaknya sedikit sajalah aku ingin balas sendiri. Meski sedikit," jelas Rita.


"Itu bagus sekaligus membuat diri kita jadi kuat ya," Rita mengangguk pada pernyataan Arnila.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2