
"Tidak. Ya aku melihat kilatan kalau mama sama Rita duduk berdua terus seperti sedang mengobrol sesuatu," kata Ney yang sambil melihat casing hpnya.
"Terus kamu dengar kita bicara soal apa?" Tanya ibunya yang memang sudah tahu ada firasat kalau Ney pasti melihat soal itu.
Ney terdiam karena dia hanya melihat gambaran saja. "Kamu masih juga memakai yang seperti itu. Coba bisa buat kamu jadikan sebagai pembelajaran dan motivasi bukan malah menyalahi aturan," kata ibunya. Ini sekeluarga apa mungkin ya punya kemampuan spiritual?
"Rita juga bisa Mama tidak tahu saja," kata Ney yang malah memberitahukan soal kemampuan Rita yang lain.
"Mama tahu kok Rita bisa tapi dia tidak memakainya. Itu keluar dengan sendirinya tidak seperti kamu. Tolong jangan sampai kamu melakukan kesalahan yang sama seperti ayah kamu,"
"Kok mama jadi salahin papah sih?" Ney keberatan baginya, ayahnya adalah suri teladan yang paling dia kagumi.
"Menurut kamu? Mana ada ayah kandung mengajarkan kamu ilmu - ilmu dukun sampai santet? Kalau kamu beragama Islam, pelajari Al Qur'an, pelajari soal kehidupan. Kamu itu sudah besar mana nanti mau menikah. Masa kalau kamu nanti punya anak, mau kamu suap anak dengan ilmu dukun?" Jelas ibunya. Masih teringat bagaimana suaminya sendiri mengajari anak keduanya ilmu hitam yang membuatnya kini semakin lupa pada Tuhannya sendiri. "Kamu sudah terlalu parah menyalahi aturan alam, Ney. Tidak semua orang bisa kamu kendalikan seenaknya makanya tidak heran banyak orang yang enggan dekat dengan kamu. Berusaha lebih peduli dengan orang lain juga diri kamu sendiri,"
"Itu urusan aku. Bukan urusan mama!" Ney tidak mau kalah dengan ibunya sendiri. Tidak dengan teman, orang tuanya pun sering dilawan.
"Masih urusan mama karena kamu masih anak mama. Kecuali kalau kamu mau, mama keluarkan kamu dari Kartu Keluarga! Kamu juga masih hidup, kalau sudah tidak ada buat apa mama susah - susah mikirin kamu?!"
Lalu muncullah neneknya dan sempat mendengarkan sebagian obrolan ibu dan anak. Neneknya tidak habis pikir apakah kejadian di masa lalu Ney begitu buruk? Sehingga dirinya tidak ingin merasa kalah. Bahkan dengan ibunya sendiri juga.
"Dengarkan kata - kata ibu kamu, kamu ini harusnya sudah bisa berpikir dewasa mau sampai kapan kamu terus berbohong!" Ucap neneknya dengan ketus.
"Ih, apa sih urusan nenek? Ikut campur saja!" Ney tidak ingin menanggapi perkataan neneknya.
__ADS_1
"Karena nenek adalah ibunya ibu kamu dan kalau nenek mau, nenek bisa usir kamu dari rumah! Pulang kamu ke Jakarta jangan harap kamu diterima di rumah ini lagi! Mau kamu begitu?" Tanya neneknya yang bersabar besar menghadapi salah satu cucunya.
"Sudahlah, Bu. Kamu bisa tidak sih hargai orang uang peduli sama kamu? Mama atau nenek atau juga teman - teman kamu yang sekarang masih mau bersama kamu, dekat sama kamu. Kamu bisa menghormati kehadiran mereka?" Tanya ibunya sambil membimbing ibunya duduk di kursi goyang.
Ney hanya terdiam lalu pergi ke lantai bawah dengan kaki yang sengaja dihentakkan. Ibu dan neneknya saling berpandangan dan mengurusi urusan mereka masing - masing. Saat Ney menuju lantai bawah, ibunya berteriak,
"Jangan kamu anggap mama tidak tahu apa - apa soal masalah kamu yang merundung Rita ya dengan orang yang tidak kamu kenali. Kamu dengar?!"
Ney kaget dan menatap ibunya yang kini menatapnya dengan marah. Ney tidak tahu harus berkata apa dan langsung menuju kamarnya lalu menendang buku - buku yang ada di bawah kakinya.
"Sial! Bagaimana caranya mama bisa tahu sih? Pasti aku lupa mengunci hpku waktu itu. Sial!" Ney memandangi langit kamarnya kemudian rebahan. "Ini semua salah Rita! Kalau saja waktu itu aku tidak mengenal dia sewaktu SMP, kalau saja waktu itu ... " Ney tidak meneruskan kata - katanya. Dia berkenalan dengan Rita karena mungkin saja Rita akan lebih memahaminya tidak seperti temannya yang dulu. Dia banyak berharap tapi tidak seperti kehendaknya, ternyata yang dia kira Rita itu anak yang mudah dikendalikan nyatanya tidak. Ney muak melihat Rita yang sangat disenangi semua orang, baginya Rita hanya ingin dipuji dan diperhatikan.
Tapi... jauh di lubuk hatinya, dia cemburu pada Rita yang dengan mudahnya membuat orang lain nyaman bila di dekatnya. Ney pun begitu tapi dia terlalu mementingkan gengsi yang membuatnya banyak mengatakan hal yang membuat Rita sakit begitu juga Arnila. Arnila satu tipe dengan Rita, dalam hatinya dia tidak seimbang dengan mereka berdua. Padahal Ney tahu betul kalau Rita menerima siapa saja orang yang mau menjadi temannya. Ney takut dirinya dikhianati seperti waktu dulu, dia takut bisa percaya lagi dengan orang lain. Dia percaya Rita memang baik tapi melihat sisi kebaikan Rita, membuatnya tidak percaya diri makanya dia selalu membuat kebohongan atau khayalan agar bisa mengalahkan sisi Rita itu.
Tapi semua itu berubah... dia memandangi foto Alex yang memang dia simpan dalam hpnya dan tergugah rasa suka padanya. "Sayang kamu lebih suka menyukai Rita daripada aku, padahal aku bisa lebih membuat kamu puas. Rita itu norak dia sama sekali tidak setara kelasnya denganmu!" Ney terus memandangi foto alex satu per satu. Berubah saat tahu Rita kenal dengan Alex. Kecemburuannya, keiriannya, merasa lebih tersaingi. Mengapa sosok Rita yang kutu buku dan old fashion bisa membuat Alex tertarik? Ney tahu betul kalau Alex lebih suka dengan penampilan perempuan yang seksi, modis, super cantik. Dia membaca ke dalam pikiran Alex tapi tiba - tiba Alex seperti mengagumi sosok Rita. Dan itu yang tidak bisa dipahami oleh Ney.. Apa sih yang dilihat Alex pada diri Rita?
"Kalau saja aku terus bertahan dengan Alex, mungkin aku bisa merebut hatinya dan segalanya. Seharusnya aku waktu itu terus bertahan dengannya meski kata - katanya sangat tajam menusuk. Tapi Rita sampai sekarang masih kontak dengan Alex. Kenapa? Padahal dia juga disakiti sebegitu dahsyatnya tapi kenapa Alex juga masih terus memikirkan Rita? Aku tidak setuju! Kalau begini terus, Rita benar - benar akan jadi satu dengan Alex dan aku pasti akan ditendang Rita! Sebelum itu terjadi, bagaimanapun caranya aku harus memisahkan mereka!" Gumam Ney.
Ibunya mendengarnya kemudian menyingkir takut anaknya tahu kalau ibunya mencuri dengar. Kenapa ya Ney begitu berhasrat ingin memisahkan Rita dan kekasihnya? Sepertinya karena kekasih Rita tampan dan ... lebih kaya? Ibunya juga lebih mengerti soal anaknya dan Dino juga kaya dan sangat baik hati, meski kurang tampan tapi nyatanya Neylah yang selalu membuat banyak masalah. Pada akhirnya Dino memilih menikah dengan orang lain. Sekarang kembali lagi dengan Dins, semoga tetap dengannya jadi supaya Ney tidak perlu memikirkan Rita lagi.
Nah itulah yang terjadi di beberapa minggu lalu. Kembali ke saat ini, Ney masih saja menanyakan pada Rita mau membuat menu apa untuk piknik besok. Rita akan membuat pembalasan yang super halus pada Ney di saat dirinya masih duduk di bangku sekolah. Akankah Ney benar - benar mengambil umpan itu atau tidak, itu pilihan dia sendiri.
"Aku mau buat sandwich goreng, kentang bakar saus keju dan orion cheese. Kamu mau buat apa?" Tanya Rita sengaja menyebutkan menu sewaktu di SMP dulu. Apakah dia ingat yang terjadi waktu itu?
__ADS_1
"Hah serius kamu mau buat itu lagi? Itu kan gampang banget! Kamu pernah buat itu waktu di SMP kan, " kata Ney. Owh! Ternyata dia ingat. Kira - kira bagaimana ya apakah dia juga akan membuat yang sama? Soalnya waktu kelas 3, dia buat bekal yang sama persis dengan Rita. Kebetulan kelas mereka berbeda, kabarnya banyak yang memuji masakannya meski keasinan. Kelas Rita tahu pelopor awalnya siapa dan hanya mencibir Ney yang hanya bisa menjiplak karya orang.
"Ya tidak apa - apa kan cemilan ringan namanya. Kamu?" Masih dengan pertanyaan yang sama tapi Ney masih belum menjawabnya dan Rita terus saja bertanya.
Ney lelah membaca pertanyaan Rita akhirnya dia pun menjawab sekenanya yah, siapa tahu nanti dapat ide mau buat apa. "Aku sih mau buat yang mewah dong. Gampang banget sih mana kemampuan memasak kamu yang katanya sudah jago masak. Ternyata cuma bikin yang sama dengan waktu SMP sih bukan saingan aku," kata Ney dengan sombong.
"Saingan? Kapan aku pernah mengumumkan bersaing sama kamu? Waktu SMP siapa ya yang menjiplak karya orang? Tapi tidak apa - apa toh tangan orang itu dan aku berbeda. Dapat kabar kalau masakan punya dia keasinan! Hahaha!" Jawab Rita senang.
Ney tidak menjawab soal itu tapi dia kesal karena Rita tidak mengira bisa tahu soal itu. Padahal kelas mereka berbeda tapi bagaimana caranya bisa tahu? Ney ingat kalau ketua kelas saat mereka kelas 3, kelas Rita ketuanya senang mencari informasi. Ney tepuk dahinya dan sadar waktu itu dia tidak cukup berhati - hati.
"Ini bukan ajang kompetisi MasterChef buat apa masak mewah, susah juga bikinnya. Memangnya kamu yakin akan enak hasilnya? Tidak ada chef Juna toh, jadi sesuka lah. Aku tidak jago masak hanya suka masak saja itu juga tergantung mood. Tapi kalau kamu bisa buat ya silakan asal jangan menjiplak lagi punyaku ya,"
"Idih buat apa aku jiplak menu kamu? Orang rasanya tidak enak," lagi - lagi dia salah membalas kalimat.
"Tidak enak? Yakin? Kamu loh yang paling banyak makan bekal aku. Lupa? Hahahaa," Rita tertawa keras. Masa iya dia lupa?
Tidak ada jawaban lagi pasti Ney sedang berpikir antara duplikat atau bikin sendiri. Kalau Ney ikut MasterChef bisa lah dia ikut dia ajang Duplicat Dish tapi agak disangsikan rasanya akan enak atau hancur. Bukannya bermaksud menjelekkan masakan orang tapi memang masakan yang dia buat, rasanya diluar nalar indera perasa. Hambar atau keasinan, mending sih kalau sekali dua kali tapi ini setiap masak ya begitu, jadi penasaran kalau nanti menikah bagaimana ya?
Pindah ke grup WA, Arnila menjapri mereka semua. "Ri, kamu sudah chat lagi dengan Alex?" Tanya Arnila.
"Sudah. Ternyata itu kakak perempuannya. Cantik bangeeeet!" Jawab Rita. Pasti Ney bete ternyata oh ternyataa...
"Oh, begitu," jawab Ney singkat.
__ADS_1
"Kamu pasti malu ya ketahuan belangnya lho sekaligus sama kakaknya pula. Awal kamu dukung aku eeh malah dukung kakaknya hahahaa!" Rita sangat puas sekali membalas perbuatan Ney yang menurutnya sangat keterlaluan.
BERSAMBUNG ...