
"Hmmmm enak! Ini hasil kamu baru belajar? Tapi enak banget lho. Kamu juga sudah makan, Rita?" Tanya ibunya kemudian memberikan ke arah Rita.
"Belum sih, karena aku ingin Ney cicipi jadi nanti saja mencoba memakannya," kata Rita.
"Ya sudah kita bareng makan saja ya. Ini," ibunya memberikan satu sandwich pada Rita dan Rita memakannya. Oishii!!
"Enak!" Seru Rita sambil memegang kedua pipinya. Ibu Ney tertawa melihat tingkah Rita sedangkan Ney memandangi Rita dengan wajah yang seperti kebakaran api cemburu.
"Lumayan kalau kata aku sih," jawab Ney yang memakannya sambil berbunyi.
"Mada lumayan? Ini lezat banget! Tuh, Rita saja yang baru belajar masak sudah seenak ini. Masa kamu yang tidak bisa malah bilang lumayan? Maaf ya, Rita. Kalau sudah jago nanti bisa dong ajarin anak tante ini masak," kata ibunya sambil melirik Ney yang gaya makannya tidak menyenangkan.
"Hehehe siap tante kalau Neynya mau sih," itu baru pertama kalinya Rita bisa membuat sesuatu sendiri tapi rasanya memang sangat lezat!
Setelah itu, beberapa hari kemudian Ney menjapri Rita.
"Eh, aku juga buat sandwich lho. Enak banget. Lebih enak buatan aku daripada kamu!" ketus Ney membanggakan masakan ilusinya pada Rita.
"Oh ya? Boleh dong aku cicipi," jawab Rita dengan biasa.
"Yah tapi sudah habis tuh," balas Ney. Sebal sih apa gunanya dia pamer tapi makanannya tidak ada? Heran.
"Bilang saja kamu cuma mau pamer omongan tapi buktinya tidak ada. Sudah pasti kamu berbohong terus kok sama ya namanya?" Rita penasaran baru juga 2 hari Rita bilang pada Ney membuat roti lapis eeh besoknya yang dimana hari ini dia juga bilang buat roti lapis.
"Sori ya aku tidak bohong. Kamu tidak percaya?" Tanya Ney. Pertengkaran mereka berdua terlihat seperti anak SD pada umumnya. Kebanyakan Ney yang berbuat ulah dengan pemikiran berlebihan dan negatifnya.
__ADS_1
"Mana fotonya? Kalau kamu benar buat pasti kamu langsung foto. Mana?" Tantang Rita.
"Ada kok. Aku Sudah punya foto sebelum makanan itu jadi!" Rita bengong. Sebelum jadi dia sudah punya fotonya? Tidak salah tuh? Ney lalu mengirimkan foto sandwich yang katanya buatan dia. Setelah Rita lihat, tampak tidak asing lalu Rita membuka album hpnya dan melihat foto sandwich buatannya.
Astagah! Itu foto sandwich Rita! Rita sendiri tidak pernah lupa untuk memfoto buatannya menggunakan hp milik ibunya dan membandingkan dengan foto yang dikirim Ney padanya. Itu persis sama banget! Wong Edan, karya Rita dia sebut sebagai karya miliknya.
"Kok fotonya sama ya dengan sandwich buatan aku?" Tanya Rita memancing Ney.
"Sama bagaimana? Jelas - jelas itu foto yang aku ambil kemarin," kata Ney yang memperjelas kan bahwa dia mengambil foto sandwich milik Rita lalu diklaim sebagai punyanya.
"Nih. Aku sebelum mengantarkan makananku ke kamu, aku selalu foto dulu. Disimpan di album milik hp ibuku jadi tidak mungkin salah. Meski hpku tidak bisa memfoto, aku selalu pinjam punya ibuku. Mau bilang apa lagi kamu? Bisanya hanya menjiplak saja jadi tahu deh kebiasaan kamu salah satunya ini toh,"
Setelah itu Ney sama sekali tidak membalas. Dia mengutuki dirinya sendiri yang kelewat keceplosan dan dia juga membaca kembali apa yang dia kirimkan pada Rita. Itu sama saja dengan otomatis dia menggali lubang untuk kuburannya sendiri pantas saja Rita tertawa keras dan membalasnya sampai mati kutu!
"Eh, aku benar ya bisa membuatnya hanya ya memang sudah habis saja. Aku tidak cemburu ya enak saja lagian kamu aneh banget senang ya dipuji sama ibu orang lain daripada ibu kamu sendiri. Kasihan!" Ney bingung tidak tahu harus berkata apa lagi terhadap Rita. Baginya dia salah bermain kata - kata dengan Rita. Sudah kepalang tanggung juga.
"Aduh, maaf ya hasil masakanku semua anggota keluarga suka tuh, dan iya aku senang sekali ibu kamu memuji masakan aku yang tak seberapa. Berarti ibu kamu menghargai banget usaha orang tidak seperti anaknya sendiri. Aku aneh ya sama kamu, cemburu sama orang yang dipuji oleh ibu kamu sendiri. Harusnya bangga dong kamu itu anaknya tante atau bukan sih? Kok sifatnya tidak mirip ibu kamu ya? Kamu mungkin yang kasihan tidak bisa memasak tapi menilai masakanku lumayan. Coba sini aku nilai masakan kamu apa lebih enak atau tidak,"
Kesaaaal banget!! Setidaknya hargai dong orang yang baru belajar masak bukannya dimaki - maki untungnya masih ada 5 teman lain Rita yang selalu mendukung. Mereka sangat senang Rita akhirnya sadar ingin belajar memasak dan mereka masing - masing memberikan resep mudah untuk Rita pelajari. Dan Rita tentu saja menyimpannya karena siapa tahu suatu hari nanti, dia butuh sebagai rekomendasi. Tentu saja, Rita juga membuatkannya untuk mereka semua saat di sekolah dan mereka juga membawa bekal makanan kesukaan mereka untuk berbagi.
Saat istirahat, mereka semua berkumpul dalam halaman sekolah yang luas kebangetan. Mereka semua membuka kotak bekal masing - masing dan menaruhnya jadi sangat banyak dan beraneka ragam isinya. Membuat semua anak takjub melihatnya dan bergabung beberapa.
"Lebih enak kan kalau kita makan sama - sama," kata Popy yang membawa lasagna kejunya. Dibarengi anggukan yang lain, meski Rita kurang PD dengan cemilan pertamanya yang berhasil Rita buat.
"Selanjutnya aku akan buat resep cemilan yang kalian beri ke aku," mereka semua bukan hanya mendukung saja tapi juga menjelaskan bahan apa yang lebih baik digunakan. Ney hanya memandangi Rita dari kejauhan, dia mendengus kesal dan hanya bisa memandangi makanan mewah yang ada di sekeliling Rita. Bukan hanya mereka, teman - teman sekelas lain yang datang juga ikut bergabung dan mereka saling berbagi makanan yang mereka beli atau punya.
__ADS_1
Lalu kedua, saat Rita mulai bisa membuat kentang goreng yah, cemilan mudah tapi enak dinikmati bersama. Rita mencoba memberitahu Ney lagi ingin tahu seperti apa reaksinya.
"Aku buat kentang goreng nih. Mau tidak?" Tanya Rita.
"Tidak usah. Kenapa sih kamu nawari aku terus makanan buatan kamu? Aku tidak suka ya, makanan kamu tuh bukan tipe aku banget! Paling juga rasanya asin banget kamu kan pertama kali membuatnya," jawab Ney dengan kalimat yang menurut Rita kasar dan tidak pantas dilontarkan begitu saja.
Rita kesal dan sedih baginya, mungkin Ney mau setidak mencoba sedikit saja tapi ternyata diluar dugaan, dia sama sekali tidak berminat mencicipinya. Buat apa juga masih menawarinya.
"Bukannya bilang 'Mau' kek, rasanya mau asin atau tidak, tidak seharusnya kamu bicara seperti itu sama teman kamu sendiri. Harusnya kamu pikir ya, aku sukarela mau jadi teman kamu selama ini. Apa ada yang mau tahan bersama kamu? Aku tidak akab menawari kamu lagi untuk mencoba cemilan ku. Syukur banget kamu tidak berminat. Lagipula kentangku ini berbeda banget dengan yang sering kamu lihat."
Rasanya itu kesaaaal banget!! Benar - benar tidak ada kalimat bagus yang keluar dari otak Ney. Ibunya Rita memperhatikan anaknya yang sedang kesal seubun - ubun sambil menggerutu.
"Kenapa Rita? Ibu perhatikan dari kemarin kamu bete terus," kata ibunya.
"Ini nih Ney aneh banget! Aku baru belajar masak tidak bisa banget ya menghargai usaha orang. Bukan pamer tapi memberikan hasil usaha sendiri malah bikin tidak enak hati!"
Ibunya menghela nafas dan sudah tahu kalau Ney memang bukan tipe anak yang bisa menerima sukses orang. "Buat apa sih kamu beritahu segala? Lebih baik langsung saja kamu berikan hasil masakan yang kamu buat. Orangnya bukan tipe yang menerima baik usaha orang deh ya. Lebih baik cukup dengan mereka berlima. Mau dibawa ke sekolah juga?" Tanya ibunya yang ngiler melihat kentangnya.
"Iya. Mau aku simpan di Freezer dulu, besok aku tambahkan keju. Ibu kalau mau untuk bekal, besok aku pisahkan," Rita menyimpannya dalam kulkas atas dan menyiapkan saus kejunya.
"Nanti jadi lumer kalau disatukan,"
"Iya bagus! Itu tujuannya. Lihat saja besok!"
BERSAMBUNG...
__ADS_1