
"Aku takut kehilangan Rita, Nil," kata Ney tertunduk lemas.
Arnila yang membacanya menaikkan satu alis matanya. Takut? Yakin lo? Arnila tertawa membacanya begitu juga Imron. "Takut apanya dia? Dia sendiri suruh siapa berperilaku minus selama ini, ya kan?" Tanyanya pada calon suaminya itu.
"Iya. Si Ney memang aneh banget ya dia menyakiti orang tapi setelahnya seperti bertingkah dia yang disakiti. Kamu pernah tidak menyarankan dia periksa ke psikiater atau semacamnya?" Tanya Imron yang memang merasa Ney tidak normal.
"Sering kali sampai waktu itu Rita saja langsung bilang kalau dia sendiri yang gila! Dia yang butuh penanganan psikiater bukan Rita," kata Arnila menatap Imron yang membelalakkan kedua matanya.
"Widihhh! Serius? Hahaha tapi aku setuju sih. Yang butuh pertolongan dokter itu menurut aku memang Ney bukan Rita apalagi kamu. Kamu juga kan dibilang gila sama Ney dulu, aku langsung ingin nonjok tuh orang! Eh malah langsung diserang sama Rita hahaha!" Kata Imron.
"Rita nanti berubah jadi lebih tegas sama orang macam Ney. Masalahnya aku lihat dia sama Alex jadi lho," kata Arnila tersenyum.
"Alhamdulillah, kamu jangan berhenti mendoakan Rita semoga dia mendapatkan yang terbaik meskipun nanti Ney berbuat yang aneh - aneh," kata Imron membelai rambut calon istrinya itu.
"Dia masih saja tidak sadar kalau Rita mulai memudar di sampingnya. Lu sudah kehilangan Rita sejak kita bully dia, KITA sudah mulai kehilangan jejaknya. Dan gue menyesal dengan bodohnya mengikuti apa yang lu sarankan! Lu mengerti? Hati dia sudah lebih hancur karena ulah lu, kalau gue memang bukan temannya makanya gue tidak masalah dia tidak pernah anggap gue ada pun. Tapi lu? Itu berbeda. Dia percaya lho selama ini sama lu meski memang lu kurang baik buat dia," kata Arnila panjang.
"Gue kurang baik apa lagi sih? Selama ini gue maksimal banget lho menghadapi errornya dia," kata Ney dengan sebal membaca balasan Arnila.
"Rita itu normal yang aneh itu lu sendiri selama ini. Gue juga heran selama ini gue lihat Rita anaknya baik kok, dia juga jarang macam - macam sama gue terus kenapa gue harus bully dia? Gue baru sadar kalau lu orangnya suka memanipulasi. Ngaku lu! Teman - teman gue, bahkan teman - teman lu yang sama sekali jarang jahatin lu, lu manipulasi mereka juga. Teman SD lu, bayangkan!" Kata Arnila mengingatkan.
Ney terdiam berpikir bagaimana kelakuannya pada teman semasa SD-nya sendiri. Temannya itu diberi saran yang di luar nalarnya karena dia putus dengan kekasihnya. Dan Ney memberikan saran yang tidak banget deh dia beritahu saat temannya sedang sedih. Arnila tahu karena teman SD-nya itu pun menceritakan soal saran dari Ney. Saat temannya itu curhat soal pacarnya, Ney malah mengatakan sesuatu.
"Ya menurut gue sih lu tidak pantas sama Jodi. Coba deh lu ngaca ya sama sekali jelek, sifat lu juga yang manja minta beli ini itu ke dia, gue kasihan saja sih lihatnya. Lu dandan lebih mirip ke badut mendingan lu cari deh yang setara jelek mukanya sama seperti lu. Asal lu tahu saja ya Jodi itu selingkuh tahu, gue pernah lihat dia mengantar perempuan yang cantik ke Mall. Biar deh Jodi buat gue, kan gue cantik lebih cocok sama dia."
__ADS_1
Setelahnya, Arnila memarahi Ney habis - habisan. Ney merasa tidak salah karena itu kebenarannya. Jodi pacar teman SD-nya itu memang lumayan tampan dan pastinya Ney menaruh hati namun sayang Jodi tidak pernah tertarik padanya.
"Lu ngapain sih bicara seperti itu? Bukannya menenangkan teman sendiri malah lu ejek?" Tanya Arnila yang berkacak pinggang pada Ney.
Dengan wajah watados tanpa merasa bersalah, Ney membela dirinya sendiri. "Gue tidak salah kok! Si Jodi juga ada main sama perempuan lain! Gue lihat sendiri. Sumpah!"
"Itu sepupunya dari Jogjakarta! Dia minta Jodi buat anterin dia ke Mall di Jakarta! Makanya sebelum judge orang, cari tahu dulu! Oh, pantas ya selama ini gue mikir - mikir kenapa semua teman lu meninggalkan lu sendirian," kata Arnila menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Mereka tidak meninggalkan gue kok. Jangan sembarangan ya!" Ancam Ney mendorong telunjuknya ke dahi Arnila, lalu Arnila menepis dan memperlihatkan sesuatu padanya.
...Admin was Kicked out Ney from Group....
Setelah itu Ney kaget lalu memeriksa sendiri. Dan benar saja dia dikeluarkan dari grup teman SD-nya secara tidak terhormat. Arnila tentu saja masih ada di dalamnya dan itu membuat Ney menitikkan air matanya di hadapannya Arnila. Arnila sama sekali tidak iba padanya, senjata rahasianya untuk dikasihani adalah keluarnya air mata dia.
Ney diam di tempat saat Arnila sudah cukup jauh, dia melihat Ney yang bicara dan menyumpah melemparkan ponselnya sendiri. Lalu setelahnya dia mengomel - omel sendirian! Ney juga mengacak - acak rambutnya sendiri lalu marah - marah lagi. Arnila memperhatikan Ney dari jauh dengan menghela nafas. "Kenapa gue bisa punya teman gila seperti dia ya?"
Semua temannya dia juga memblok nomornya sehingga, dia menghubungi mereka pun sudah tidak bisa. Lalu menunduk duduk berjongkok dan menangis tapi ya itu menangisinya hanya menangis membuat air mata keluar berderai. Suaranya pun lumayan terdengar, itulah kebiasaannya kalau ada orang, dia akan menarik perhatian untuk mereka sayangnya saat itu sepi.
Ney memiliki kemampuan yang bisa sesuka hatinya mengeluarkan air mata. Kalau kita sebagai manusia normal menangis saat menghadapi masalah berat, kesedihan ditinggalkan, dikhianati atau hal lain. Kalau Ney sudah sering ditinggalkan banyak orang apalagi teman - temannya. Masalahnya adalah dialah yang menjadi biang keroknya. Dia yang berbuat, dia juga yang menangis merasa menjadi korban. Alhasil semua orang yang kenal dia, lambat laun memilih untuk meninggalkannya dan itu termasuk Rita. Pada akhirnya beberapa hari kemudian, Ney tidak sengaja bertemu dengan teman SD-nya dan melihat dia sedang bersenda gurau dengan kekasihnya yaitu Jodi. Karena Ney penasaran kok bisa mereka jadian lagi, diam - diam dia mendekati temannya itu. Duduk di belakang mereka.
"Jadi kamu sudah tidak pernah bertemu dengan teman SD itu lagi kan?" Tanya Jodi pacarnya.
"Hmmm sudah tidak pernah. Dia menjelekkan aku, kamu tahu kalau dia ada hati sama kamu?" Tanya temannya eh mantan temannya.
__ADS_1
"Tahu dong. Kentara banget itu. Kalau kamu tidak ada, dia suka menggoda aku. Bilang hal - hal menjijikkan, makanya aku kemarin maksudnya kamu jangan dekat sama dia. Teman kamu kan lebih banyak kenapa sih sampai milih yang jelek? Heran tahu! Sudah kelihatan kok kalau dia itu tidak butuh teman dan dia mendekati kamu, hanya agar kamu putus sama aku!" Kata Jodi membuat terkejut pacarnya itu.
Ney terdiam mendengarnya itu di belakang mereka. Dia tidak menyangka kalau Jodi benar tidak menyukainya dan perihal dia mengatakan hal menjijikkan, membuatnya tertunduk. Tanpa ekspresi hanya kesal atau sebal atau entahlah... raut wajahnya tampak aneh. Tampak tidak menerima semua perkataan pacarnya itu.
"Hah, serius? Aku pikir anaknya baik waktu SD dia suka ajak makan bareng. Terus banyak cerita soal orang tuanya, dia juga ceria," Kata temannya tidak percaya tapi masa iya juga pacarnya bohong?
"Makanya aku heran. Kemarin kita bertengkar kamu seperti membela dia banget! Aku juga yang salah sih tidak menjelaskan kenapa, banyaklah jeleknya dia. Dan satu lagi, aku cinta kamu bukan karena penampilan jadi jangan pakai kosmetik berlebihan ya nanti aku malu kenalkan kamu ke orang tua aku," kata pacarnya dengan wajah yang memerah.
Pacar wajahnya pun memerah, akhirnya mereka berdua bergandengan tangan dengan bahagia. Ney yang mendengarnya masih terdiam duduk di situ. Mereka akan menikah saran yang Ney berikan ternyata menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Lagi - lagi menitikkan air matanya dan tersedu, beberapa orang yang melihatnya hanya memandangi iba tanpa berani menanyakan. Beberapa orang yang sudah tahu hanya mencibirnya. Dia sendiri pun heran apa yang salah?
Kembali ke dunia nyata yang sekarang, Arnila dan Ney masih membicarakan soal Rita. Kejadian dengan Rita pun sama dengan yang terjadi dengan teman SD-nya itu. Dan ada kemungkinan juga Rita akan berakhir sama karena setiap hari setiap waktu setiap bulan, Ney akan melakukan hal yang sama berulang - ulang. Seperti mixer yang mengolah adonan agar halus berulang - ulang berputar di tempat yang sama dengan perilaku yang sama.
"Saat lu lakukan bully, itu langsung meletus begitu saja. Rita memasangkan petasan spiritual untuk mengukur batas sama lu. Rita yang sekarang, dia butuh banyak teman yang bisa membimbingnya ke jalan benar dan lu sama sekali tidak cocok. Lu sama sekali tidak mau meminta maaf, lu gengsi? Siapa yang salah?" Tanya Arnila greget juga tahu kalau Ney berusaha menghindari kesalahannya.
"Ya yang aku lakukan itu tidak sepenuhnya salah. Buat kebaikan dia juga kok! Lu harus tahu ya keluarganya Alex tuh edun banget! Ya gue sebagai teman dekatnya dia malu dong kalau dia sampai bertingkah di luar ekspektasi," kata Ney yang tidak mau kalah berargumentasi.
"Iya memang baik tapi lu salah tekniknya! Lu malah menjatuhkan dia di depan yang sama sekali tidak lu kenal. Lu bilang ya teman dekatnya kalau iya, lu hargain dia, hormati keputusannya meski berlawanan arah dengan yang lu punya. Lu jangan suka maksa kemauan yang lu punya ke Rita. Mau dia buat lu malu, ya terima saja karena teman - temannya Rita lebih baik menerimanya dengan santai. Lihat saja deh mereka sekarang bagaimana, gue yakin Rita mau menerjang lu pun, mereka tahan kan. Rita punya banyak backup lho. Mau Rita sendiri juga lu bakalan kalah," kata Arnila yang akhirnya puas banget mengatakan semuanya.
"Tapi..." kata Ney yang lalu terpotong oleh Arnila.
"Satu lagi berhenti bersikap kekanakkan dan merajuk pada orang yang baru kamu kenal. Kalau Rita, mereka sudah mengenalnya dengan baik jadi wajar kalau Rita akan lebih diperhatikan. Lu bukan teman mereka kalau melakukan hal yang sama pada teman - temannya, mereka malah melihat lu itu sebagai orang yang mengganggu mereka," kata Arnila. Dia juga lelah sekali kadang kala Ney datang di saat yang tidak diharapkan. Menghadapinya memang mengurangi banyak energi karena Ney bukan orang yang mengerti kesusahan orang lain.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1