ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(69)


__ADS_3

"Merlin dan Anggara juga bilang begitu," kata Rita sambil memperhatikan jalanan di depan.


"Apalagi mereka berlima juga kan," kata Prita yang fokus menyetir.


"Tahu toh?" Tanya Rita tidak heran kadang adiknya ini senang membuka chat WA miliknya.


"Tahulah mereka kan cerita. Heboh juga soal dulu itu,"


"Aku saja sekarang sudah suntuk sama dia. Tidak sadar apa fisik sama penampilan jauh dari Merlin," tawa Rita disusul dengan Prita.


"Hahahaha orang seperti itu sih tidak akan pernah sadar. Dipikirnya dia yang paling cantik sekecamatan. Bagus sih rasa percaya dirinya tapi kalau sampai tidak lihat orang lain, ya bahaya. Dibandingkan dengan kita saja dulu jangan lihat Merlin, kan sudah jauh. Parahnya dia jarang mandi ya?" Tanya Prita. Rita kaget kalau soal begitu juga Prita sangat teliti.


"Memang kenapa?"


"Aku pernah bertemu ada bau asin gitu dari badannya. Gila apa ya? Apa orang lain tidak mencium bau lain?" Tanya Prita sambil geleng kepala.


"Hahaha makanya sampai sekarang yang ada di dekatnya hanya orang itu saja. Mungkin mereka mengalami yang paling parah. Entahlah, jarang pakai parfum juga," Rita pun tak paham kenapa sampai dia malas mandi atau malas melakukan perawatan diri sendiri. Setidaknya tidak suka mandi tapi suka bersih - bersih badan sendiri seperti sekedar memakai handbody.


"Tai mata dia itu lho kelihatan banget kalau kamu perhatikan ya sedang mengobrol sama dia. Jijik banget! Kok bisa ya lelaki nempel sama dia padahal orangnya aja seperti itu," Rita ngakak parah pada pernyataan adiknya.


"Bukan hanya itu saja aku sering memperhatikan ada aliran jejak ilernya dia berbekas dong di pipi," mereka berdua lalu tertawa keras dalam mobil.


"Tapi kamu sering kan kasih tahu dia?"


"Ya sering waktu aku kasih tahu baru dia yang buru - buru bersihkan semua. Beberapa orang kadang ya sama seperti kita lihat dia itu jijik. Dia pernah juga tidak gosok gigi jadi aku jaga jarak waktu pergi sama dia,"


"Ih jorok banget! Dia bukan anak seni tapi anak Administrasi Negara. Kuliah saja penampilan seperti perempuan murahan apalagi tar kalau nikah,"


"Ih, aku sama sekali tidak ngurus dia lah. Orang tuanya juga entahlah pasti sering cerewet tapi yah sama sekali tidak dipedulikan,"

__ADS_1


"Pacar dia yang dulu bagaimana tanggapannya?" Tanya adiknya heran.


"Ya kamu bisa lihat kan mantannya seperti apa. Jijik juga kali tidak ada yang bisa you know merawat diri. Jadi ya pas banget kan pacaran juga siapapun orangnya ya dia mau saja. Making Love sama siapapun juga dia tidak peduli yang penting masa birahi dia terpenuhi," adiknya langsung memasang wajah jijik mendengar penjelasan Rita.


"Untung lu bisa jaga diri, Ri. Kacau banget hidupnya ya. Adik kakaknya sama juga pasti kan. Biasanya tidak beda jauh,"


"Kakaknya temper banget kalau marah suka lempar barang - barang sampai mengasari lawannya makanya tidak punya teman sama sekali di kampusnya. Adiknya yah setiap hari sama saja sih dengan Ney, heran aku kok bisa ya seperti itu? Apa salah asuhan orang tuanya?" Tanya Rita.


"Bisa jadi. Ibunya suka foya - foya entah bagaimana dengan bapaknya. Meski orang yang banting tulang tapi kalau hampir semuanya kelakuan negatif, patut dipertanyakan juga bapaknya. Yang seperti itu kasihan banget sebenarnya tapi dia sudah dewasa bukan tanggungjawab kamu lagi, Ri."


"Ya iyalah enak saja kalau tanggung jawab aku,"


"Kamu pernah mencium bau mulut dia tidak kalau kebetulan dekat?" Rita memasang wajah datar pada Prita yang dibalas ngakak.


"Gue tidak tahu ya dia suka gosok gigi apa tidak kalau pergi kemanapun. Tapi meskipun tidak juga, lihat saja sehari - harinya, jarang mandi, jarang pakai parfum, dan aku tidak berminat ya sampai memeriksa bau badan dan mulutnya. Stres!" Mereka berdua lalu tertawa keras didalam mobil dan akhirnya sampai juga ke tempat tujuannya.


"Setidaknya kalau pergi ke pesta seperti ini, dia pasti pergi ke salon kan," tunjuk Prita melihat Ney yang baru saja turun dari angkot menuju gedung pesta.


"Kebayang kalau sudah menikah juga dia tidak akan bisa merawat diri buat suami, apa - apa suaminya harus menghasilkan banyak uang untuk kebutuhan dia hanya dia sendiri. Masih suka main serong dia?"


"Masihlah. Katanya mau nikah sama mantannya. Sekarang saja dia tidak bisa setia apalagi nanti,"


"Masuk yuk. Biarkan saja deh tuh orang menata hidupnya nanti lebih sulit," kata Prita.


Sesampainya, tentu saja sudah agak memasuki malam ya karena memang jalanan macet! Dan Rita sebelum sampai, Ney chat menanyakan warna baju apa yang harus dia kenakan, Rita tahu mungkin dia berpura - pura saja bertanya. "Jangan diberitahu biarkan saja dia pakai baju apapun," kata Prita kesal.


"Janganlah. Untuk hari ini dia akan dapat banyak pelajaran, Pri. Kita longgarkan sedikit ya,"


Sesampainya di tempat yang dituju, sudah begitu banyak teman - teman mereka yang memakai baju warna biru, ada yang bersama pasangan atau dengan temannya. Saat Rita dan Prita memasuki aula resepsionis, dengan sengaja Rita menyikut seseorang.

__ADS_1


"Oh maaf! Tidak sengaja!" Kata Rita pura - pura dan Prita menahan tawa.


"Oh tidak apa - apa. Aku juga maaf ya," suaranya tertahan saat melihat Ritalah yang menyikutnya. Dengan wajah yang sangat kaget, Ney bahkan sampai tergagap. "L-lho Rita! Kok-kok kamu disini?!"


"Wah ada Teh Ney! Kok ada disini juga? Janjian ya," kata Prita. Ney pun terkejut dua kali melihat adiknya Rita ada. Prita memperhatikan gaun biru yang dikenakan oleh Ney memiliki belahan dada yang pendek dan roknya sampai paha. Berani juga nih orang naik angkot dengan gaun seperti itu! Pikir Prita. Dengan sepatu crock berwarna biru juga dengan kaos kaki jaring putih. Yah lumayan, mungkin keseksiannya akan dia tunjukkan pada Anggara kali ya?


"Ya aku diundang makan malam sama Anggara. Kalian sendiri?" Ney memperhatikan gaun pesta milik Rita dan Prita dengan wajah sinis dan jutek.


"Ooh kak Anggara mengundang makan malam? Bukannya Anggara mau..." Rita mengedipkan sebelah matanya lalu mengajak adiknya itu memasuki aula.


"Aku dapat undangan makan malam dari Merlin dan Anggara, karena aku yakin kamu sudah dapat undangannya dari Anggara ya, jadi aku ajak Prita,"


Ney tampak terkejut menatap mereka berdua dan orang - orang.


"Tapi katanya dia undang aku untuk makan malam. Kok kalian juga diundang datang? Wah jangan - jangan... " kata Ney yang lalu disela oleh teman perempuan Merlin yang kalah cantiknya.


"Kita semua diundang serentak sama mereka, kamu tidak tahu? Buat makan malam juga,"


"Sudah masuk saja deh. Kali Teh Ney memang benar makan malam sama kak Gara," kata Prita yang menarik tangan kakaknya untuk masuk. Ney masuk dengan beranggapan bahwa dirinyalah yang akan makan malam bersama Anggara.


Sampailah mereka di gedung utama, tatanan dalamnya sangat heboh dengan nuansa biru, putih dan hijau. Membuat yang datang semua terkesima bukan itu saja mereka juga mendapatkan oleh - oleh kotak perhiasan yang antik.


"Teh Merlin memang asli khorang khayah," kata Prita memandang kotak perhiasan yang dipenuhi batu kristal.


"Banget," Ney juga sangat takjub dengan hiasannya dan mencari tempat duduk. Makanan prasmanan dengan menu - menu Eropa, dessert yang super mantap juga dengan minuman tentunya semua tidak ada alkohol. Datanglah yang ditunggu - tunggu, Merlin dengan gaunnya yang indah dihiasi batu kristal berwarna biru dan sepatunya pun kristal biru, kedua tangannya dikelilingi dengan bunga - bunga sakura kecil berwarna biru pudar. Sudah seperti seorang peri hutan, rambutnya dia buat menjadi kepang dua yang menyandar pada bahu kirinya dan rambutnya dipenuhi dengan bunga - bunga kristal berwarna putih. Riasan wajahnya sangat cantik sekali, semua lelaki takjub padanya dan dia tersenyum dengan manis dan lembut.


Lalu datanglah Anggara yang memakai tuxedo dengan warna yang lebih pudar dari Merlin. Keduanya tampak seperti Ratu dan Raja Kristal ( penampilan Merlin seperti pemeran tokoh dalam komik Cardcaptor Sakura Clear Card, Sakura Kinomoto dalam balutan baju mengembang yang dipenuhi hiasan kristal kecil. Lalu Anggara seperti Tuxedo Mask dalam serial Sailor Moon, Raja Endymion dalam serial Sailor Moon Millenium ).


Rita iseng melirik Ney yang terdiam menatap mereka berdua, kedua matanya sempat memerah, Prita lalu sibuk memfoto mereka lalu Rita menghampiri Ney dengan penuh iba. "Aku bilang jangan terlalu berharap kan," Ney tidak menjawab dan mulai terisak - isak. "Buat apa kamu menangis? Sudah punya Dins, sadar dong siapa sebenarnya yang kasihan. Kamu sama sekali tidak punya hati, hati buat Dins sama aku. Sekarang kalau bisa sadari mana ada Anggara punya hati sama kamu yang tipenya jauh banget," kata Rita sambil berlalu dari hadapan Ney. Ney hanya kesal kalau niatnya mendapatkan Anggara ternyata sama sekali tidak mulus dan masih kejutan lainnya. Ney kesal dengan apa yang Rita katakan, dalam hati mereka baru bertunangan belum menikah tapi apakah dia bisa?

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2