
Ney agak tidak mengerti maksud dari perkataan Arfa, kalau begini siapa yang lemot coba ya.
Ney : "Maksudnya menolak keberadaan aku itu
bagaimana sih?"
Arfa : "Jadi dia mengganggap kamu itu sudah tidak ada bukan mati ya. Tapi kamu dianggap bukan siapa-siapa alias orang lain. Jadi lebih baik kamu tidak banyak berharap lagi sama dia apalagi jadi teman? Mana mungkin!"
Ney terdiam mendengarnya. Dia agak-agak mengartikan penjelasan dari Arfa dengan baik tidak memakai emosi.
Ney : "Jadi kami bukan teman? Atau atau teman biasa yang sekedar saling menyapa?"
Arfa mengangguk.
Arfa : "Ya tidak ada status apapun. Bagi dia, kamu sudah di luar wilayahnya. Ya orang asing juga, dia sudah menutup pintu pertemanan apapun dan tidak mau lagi berada satu jalan dengan kamu,"
Ney terdiam.
Arfa : "Padahal sayang lho kalau menurut aku ya orangnya tulus sekali. Dia suka sama pribadi kamu yang cuek dan menurutnya percaya diri. Sayang kamu melihat dia selalu negatif,"
Ney tidak menjawab apapun, ya dia tahu kalau Rita berpikiran bahwa dirinya cuek. Seharusnya dia tetap seperti itu dan tidak perlu menyerangnya dengan kata-kata.
Ney : "Tapi aku aneh sama dia. Setiap aku mencoba membaca isi pikirannya, isinya soal makanan, atau kegiatan yang sepele. Tidak ada yang penting,"
Arfa : "Kamu itu memang tidak tahu batasan ya. Kelewat kurang ajar apa hak kamu membaca pikiran dia? Ingin tahu apa yang dia pikir soal kamu? Soal orang-orang? Kalau kamu tahu mau apa? Mau sebar gosip dia?"
Arfa bertanya banyak membuat Ney tidak enak.
Arfa : "Dia itu punya kemampuan menyembunyikan apa yang dia pikirkan. Kok bisa? Dia tidak menyimpan pikirannya dalam hati, dia membuatnya melayang. Aku juga tidak mengerti tapi memang seperti itu,"
Ney : "Ya tapi kenapa? Apa aku bisa seperti dia?"
Arfa : "Sudahlah, kamu ini tidak punya bakat. Sama halnya seperti kemampuan meramal, bakat kamu hanya bisa melihat Hantu saja. Yang lainnya tidak ada kamu selalu memaksakan diri untuk memiliki kemampuan yang lain,"
Ney : "Kamu tahu kan caranya. Aku mau coba dong,"
Arfa : "Tidak bisa. Yang bisa melakukan itu hanya dia saja, kenapa tidak coba tanyakan? Aku yakin dia juga tidak akan memberitahukan. Kalau pun diberitahu, kamu tidak akan bisa,"
Ney : "Aku bisa! Memangnya kenapa kamu percaya diri sekali kalau aku tidak mampu,"
Arfa menghela nafas.
Arfa : "Kekuatannya melebihi aku, kemampuannya sangat banyak meskipun begitu, dia orangnya ramah tidak sombong. Siapapun yang kenal atau dekat dengannya akan merasa nyaman kecuali orang yang memang dari awalnya jahat,"
Ney merasa tersindir mendengarnya. Wajahnya berubah jutek pada Arfa.
Arfa : "Ya aku tidak menyindir tapi kalau kamu merasa tersindir, berarti memang iya kan. Lebih baik kamu berhenti mencoba sesuatu yang bukan keahlian kamu. Itu semua membutuhkan banyak energi yang tidak sedikit. Termasuk Astral Projection yang membutuhkan energi paling banyak,"
Ney diam, dia memang sering melakukan astral projection agar bisa memasuki mimpi Rita. Namun dalam pelaksanaannya, dia sering kali kehabisan nafas atau sesak.
Ney : "Kalau terus dilatih pasti suatu hari bisa kan? Apa menurut kamu Astral ini termasuk kemampuannya juga?"
Arfa : "Dia bisa melakukan Astral atau apapun itu semua kemampuan bisa. Kenapa? Karena dia istimewa makanya aku bilang kalian semua harus hati-hati dalam berucap. Karena kita tidak pernah tahu siapa yang ada di depan kita,"
__ADS_1
Ney : "Semua!? Jadi kemampuan mistis juga dia bisa?"
Arfa : "Bisa tanpa celah tapi orangnya sendiri lebih suka biasa saja. Bagus anaknya juga tahu diri kalau hal itu kan melanggar agama. Dia tidak suka melakukan sesuatu yang melanggar Islam,"
Ney : "Darimana dia mendapatkannya? Pasti berguru atau meditasi di gunung kan? Atau jangan-jangan turunan dari kakeknya. Rumahnya dekat dengan gunung Tangkuban parahu lho,"
Arfa : "Bukan. Dia tidak pernah meditasi atau melakukan hal yang diluar batas. Itu langsung dari Tuhannya. Keren sekali kan,"
Ney : "Dari Allah? Kok?"
Arfa : "Iya. Dia itu senang berdzikir, senang melantunkan bacaan dari kitabnya, senang mendoakan orang lain yang dia kenal ataupun belum dikenal. Meskipun sholatnya masih belum disebut sempurna, tapi orangnya tidak angkuh. Dia banyak membaca surat apapun yang diberikan orang atau dia cari sendiri,"
Ney tidak percaya kalau Rita memiliki kekuatan alam yang alami dari Allah swt.
Ney : "Berarti dia tidak bisa kena hukuman dong? Kalau berbuat salah, tidak akan kena dosa?"
Arfa : "Dia itu tetap manusia biasa, Ney. Hanya karena dia senang berdoa dan mendoakan, Tuhannya memberikan keistimewaan. Kalau dia melakukan dosa, tetap saja kena hukuman. Dia manusia biasa, Ney sama dengan kita semua,"
Ney terdiam lagi. Sebal rasanya mendengar Rita memiliki kemampuan yang besar dari dia. Apalagi semua kemampuan bisa Rita kuasai tanpa celah. Ney merasa sangat kalah.
Arfa : "Kita lanjut ya yang tadi belum selesai. Namun dia bersedih karena tutur kata kamu yang menyerang dia dengan sadis. Itu mengubah kehadiranmu menjadi ketiadaan. Ya menurut aku parah juga,"
Ney : "Habisnya..."
Arfa : "Sudah kamu berkhianat terang-terangan kena tolak pertemanan dari pasangan laki-laki itu, eeeh kamu mengatai dia harus pergi ke psikiater dan menyebutnya kepribadian ganda. Kenapa sih anak sebaik itu kamu sia-siakan?"
Ney : "Ya memang benar kok kepribadian dia berbeda-beda. Yang aku tahu kalau dia itu pendiam, di rumahnya saja kan Introvert tapi kalau di luar kenapa jadi ekstrovert?"
Arfa : "Dalam hal apa tuh?"
Ney : "Dia pernah cerita dulu bekerja sebagai Event Organizer kan aku heran, memangnya dia bisa? Pendiam begitu ternyata dikenal banyak orang karena bekerjanya bagus. Jadi aku pikir dia punya pribadi ganda,"
Arfa : "Ney Ney, kamu bego juga ya ternyata. Hal begitu mudahnya kamu tidak bisa berpikiran luas. Itu semua orang juga melakukannya bukan hanya dia saja. Kalau saat bekerja di luar, aku juga jadi Introvert kan kantorku diharuskan hening kalau bekerja,"
Arfa tertawa sangat keras diikuti Asistennya yang menahan tawa. Ney sebal mendengar penjelasannya. Ya lah kalau memang begitu tidak heran, Ney sendiri yang di cap aneh.
Arfa : "Aku kan ekstrovert ya jadi disana aku harus berubah menjadi introvert demi pekerjaanku. Berarti semua orang yang seperti itu contoh aku dan orang itu, semua dianggap kepribadian ganda dong? Aku setuju sih kamu yang harusnya diperiksa ke psikiater,"
Ney : "Apa sih maksud kamu, Fa? Kenapa jadi aku yang harus ke psikiater?" ( marah )
Arfa : "Tuntutan pekerjaan yang otomatis harus membuat kita mengubah karakter kita sendiri. Tidak bisa kita mentang-mentang ekstrovert, bekerjanya harus ekstrovert juga. Yang ada kita sering dipecat dari pekerjaan. Kita harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan, Ney,"
Ney diam dia sangat kesal. Terjadi pada dirinya yang tidak lama bekerja dimanapun, selalu berakhir pemecatan. Karena perilakunya yang terlalu seenaknya.
Arfa : "Dan kamu itu memang aneh. Rita ini normal kok mana yang salah? Pemikiran kamu saja yang agak eror ya mengubah karakter dalam pekerjaan itu memang sangat penting. Dia sukses kan? Pribadi dia juga bagus sekali. Yang salah disini itu kamu dan laki-laki asing itu,"
Ney : "Lalu aku harus bagaimana?" ( jutek )
Arfa : "Ya kamu harus lepas Rita ini karena nanti juga dia tidak ada hubungan apapun sama kamu. Kamu sudah tidak ada dalam dunianya, sudah dia keluarkan. Dia menunggu pengganti yang bisa mengganti kamu di sisinya. Jadi tidak ada harapan,"
Ney tersentak, separah itukah keadaannya? Sampai dia memang sudah ditendang oleh Rita karena ketidakmampuannya sebagai teman.
Ney : "Pengganti? Aku? Memangnya sama sekali aku tidak bisa kembali sama dia?" ( agak cemas )
__ADS_1
Arfa : "Ya mana bisalah sudah mengkhianati dia. Hati bila sudah terluka apalagi sampai menembus ulu hati, siapapun akan sulit untuk menyembuhkannya bahkan orang itu sendiri,"
Arfa menghela nafas, tidak heran karena Ney selalu melakukannya kepada siapa saja termasuk kawan-kawan Rita dahulu. Dengan niat menghancurkan hubungan mereka yang nyatanya, dia sendiri yang di usir oleh kelompok Rita.
Arfa : "Aku heran selama kamu berteman dengannya, masa sih kamu sebegitu teganya menyerang dia dengan kelemahan yang dia punya? Aku juga nyablak kan orangnya tapi masih bisa mengerem sesuatu,"
Ney hanya memandangi sepatunya enggan menjawab.
Arfa : "Aku pikir kebiasaan jelek kamu yang selalu menghancurkan orang-orang sudah berhenti karena berteman dengan Rita. Ternyata masih? Dan kamu sebarkan sesuatu yang dia jaga ke Arnila? Kamu ini tidak malu? Dia juga bisa lho menyebarkan sesuatu yang kamu jaga kalau dia niat membalas,"
Nada Arfa sangat kesal dan marah pada Ney. Arfa juga orangnya keras, bicara lebih nyelekit dengan kadang menggunakan bahasa Mandarin. Arfa agak ditakuti dalam grup apalagi kalau sudah berantem dengan Ney.
Ney baru berpikir dan dia teringat sesuatu. Ya, memang benar dia secara terang-terangan menggemborkan sesuatu yang Rita simpan di dalam grup. Dengan rasa puas menjatuhkan Rita di depan Arnila, Rita saat itu tidak membalas chat apapun.
Akhirnya Arnila terus bertanya soal itu. Ney merasakan kemarahan yang sangat besar ke arahnya dan dia malah terus menantang Rita. Rita sudah mencapnya sebagai Tukang Sihir yang berkolaborasi dengan Iblis.
Sempat dikatai begitu oleh Rita, giliran Ney yang terdiam . Terkejut dengan sebutannya, membuat Ney tidak chat selama berhari-hari. Arnila menenangkannya dan memarahi Ney kalau perilakunya sangat jahat.
Arfa : "Wow! Tukang sihir hahahaha kasihan,"
Ney : "Oh yang itu. Tahu tidak justru ya dia yang tukang sihir lhooo. Dia itu dukun! Mengerikan tidak sih?"
Arfa : "Hahahaha tidak terima dikatai tukang sihir?"
Ney : "Iyalah! Aku tahu sekali soal dia soal kemampuannya juga, dia kan pasti tidak tahu, Fa jadi aku beberkan semua begitu. Supaya dia sadar kalau kelakuannya itu kan bertentangan dengan agama ( nada manja dan agak sok tahu ). Aku tanya soal kebenarannya tapi dia sama sekali tidak jawab. Ya aku hanya ingin semuanya jelas sih,"
Arfa : "Tapi kamu salah semua soal dia,"
Ney : "Apanya? Yang mana?" ( agak bingung, terkejut tapi wajah pura-pura ).
Arfa : "Dia bukan dukun, Ney. Dia tidak pernah mempelajari ilmu-ilmu hitam atau soal ghaib. Tidak seperti kamu yang belajar dan meditasi demi memiliki kemampuan di luar diri kamu. Yang dia sembunyikan soal yang aku sebut tadi. Dan kamu tidak perlu deh sok sebut nama Tuhan kamu, toh agama kamu juga jauh dari Tuhan,"
Ney : "Pastinya dia juga bakalan sama kaya aku. Berakhir sombong dengan kekuatan begitu,"
Arfa : "Unik sih kekuatannya,"
Ney : "Unik bagaimana?"
Arfa : "Kekuatannya itu jarang lho. Mungkin hampir tidak ada manusia yang diberikan keistimewaan seperti ini,"
Arfa berdecak sangat kagum.
Ney : "Manusia jarang dapat? Jelaskan dong!"
Arfa : "Tuhannya memberikan hadiah itu karena dia senang mendoakan orang, membaca apapun ayat yang bagus, dia suka doa yang istimewa berusaha mendapatkan Cahaya dari Tuhannya. Mungkin karena itu dia diberikan sebutan anugerah yang lebih besar. Kemampuannya itu disebut Karomah,"
Ney : "Karomah? Sebutan kekuatan seperti apa?"
Arfa : "Nih, kamu baca ya Karomah apa. Keren ini mah kalau dia diberi kado seperti ini. Manusia sedikit sekali bisa mendapatkan gelar agung ini,"
Arfa memberikan ponsel berlayar lebar pada Ney, dia sudah mengetikkan kata itu pada layarnya. Meskipun Ney malah membaca apalagi yang berhubungan dengan Rita, tapi kali ini dia dibuat penasaran juga.
Bersambung ...
__ADS_1